
Tiga anak laki-laki itu berpamitan hendak ke sungai dan memancing di rawa dekat sawah yang tak jauh dari rumah mereka. Tentu saja tak semudah itu mereka mendapatkan izin, mulai dari ceramah singkat Sakinah, hingga peringatan Ruksha.
“Baiklah, ingat, jangan terlalu sore, saat dengar adzan berkumandang harus berhenti dan sholat! Lalu, berhati-hati, jangan mandi ditengah sungai, cukup ditepi saja, harus melihat ke hulu! Ingat?!”
“Iya, Mom.” jawab mereka patuh.
Andrean dan Sakinah memilih berkunjung ke rumah Pak RT, rumah Billa.
~~
Di tepi sungai.
Ada beberapa anak-anak yang mandi, makan ditepi di atas batu.
“Hei, Arsen!” Terdengar suara memanggilnya. Seorang pemuda remaja, dia adalah adiknya Ardi.
“Hai, Bang. Apa kabar?” sapa Arsen menyapa pemuda remaja yang waktu itu dia kerjai dan curi darahnya.
“Alhamdulillah, baik. Lama tidak berjumpa, ya. Kok, akun kamu yang kemarin gak aktif lagi? Kamu kena banned, ya? Kamu curang sama sistem game Arbluefire nih, jangan-jangan?!” tanya Pria Remaja itu dengan terkekeh.
Arhen dan Ardhen mengerutkan keningnya, berniat menjawab, tetapi Arsen sudah menjawab terlebih dahulu.
“Enggak kok, Bang. Aku buat akun baru, Abang masih memainkan akun yang aku kasih? Sudah level apa?” Arsen berjalan mendekat.
“Nih, udah level tertinggi. Aku main tiap hari!” jawabnya jumawa. Arsen menyodorkan jempolnya. Ia tahu betul, untuk mencapai ke level tertinggi, harus toup up, beli senjata, skil, clothing, room dan lainnya. Tentu saja, itu membuat uangnya semakin bertambah banyak.
“Abang mau jadi admin untuk pulau Arkiller rows nggak?” bisik Arsen.
Mata remaja itu membulat sempurna. “Tentu saja aku mau!” serunya.
“Kalau Abang mau, ada syarat nya sih. Sebentar, ya!” Arsen mengeluarkan hp canggihnya. “Minta nomer wa, Abang!” pintanya.
“+62812xxxxxxxx.” Remaja lelaki itu menyebutkan nomornya.
“Sip! Aku save, Bang.” Arsen menggunakan WhatsApp kloning untuk nomor umum, lalu mengirim link ke nomor remaja lelaki itu. “Nah, Abang baca syarat dan ketentuannya di sana. Jika Abang setuju, kabari aku. Aku akan meminta temanku mendaftarkan Abang jadi admin di Arkiller Rows for Indonesian Palace.” ucap Arsen mengedipkan matanya.
“Ok!” jawabnya bersemangat, langsung membuka link tersebut dengan perasaan menggebu-gebu.
“Aku dan adik-adikku mandi dulu!”
“Iya!” sahutnya tanpa melihat Arsen, dia sudah sibuk dengan hpnya. Dia seseorang yang kecanduan game buatan Arsen.
Arhen dan Ardhen menyentuh air ditepi sungai. “Abang, airnya jernih banget, seger!” seru Arhen dan Ardhen.
__ADS_1
“Hahaha, iyalah, sungai ini langsung mengalir dari gunung hulunya. Tuh, lihat 'kan gunung tunggal di sana?!” Arsen menunjuk gunung yang terlihat jauh di sana.
“Wah, desa Mom sangat indah dan Asri. Adik suka banget di sini!”
“Kakak juga suka di sini!” sahut Arhen juga.
Mereka bertiga sibuk berbincang, hingga sebuah suara mengejutkan mereka.
“Woy! Eboh sajo dari tadi! Manggaduah sajo!” (Woy, kalian berisik, menganggu saja dari tadi!) Seorang anak lelaki berkacak pinggang menatap tiga anak lelaki itu dengan bahasa daerah.
Ardhen mendekat dan menggenggam tangan Abang dan Kakaknya. Arsen yang merasakan atmosfir permusuhan, mulai memutar otaknya. Ia melirik remaja pria yang asik main game di atas batu besar sana.
“Bang Hasan!” teriak Arsen. Remaja itu masih sibuk main hp. Arsen mengambil hp di kantong langsung melakukan panggilan, hingga Hasan menoleh padanya karena permainan gamenya di ganggu dengan panggilan telepon.
“Bang Hasan!” panggil Arsen lagi. Remaja itu turun.
“Ada apa?” tanyanya berjalan mendekat setelah melompat turun dari batu besar.
“Apa kami tidak boleh mandi di lubuk ini?” tanya Arsen. “Dia bilang kami mengganggunya!” adu Arsen. Hasan menatap tajam anak-anak itu.
“A mukasuik ang ngecek takah tu?!” ucap Hasan (Apa maksudmu berkata seperti itu?!)
“Paja-paja tu maheboh sajo dari tadi! Pasai den mandanga!” jawabnya. (Mereka berisik sejak tadi, membuatku kesal)
Anak laki-laki itu menciut, lalu berkata, “Aden kecekan ang ka Abang den! Ang bela paja-paja ko!” teriaknya, lalu berlari pergi dari sana. (Aku akan mengadukan pada abangku, kalau kamu membela orang asing!)
“Ha! Aduan lah! Ang kiro den takuik?! Pangadu pangadak, makan cirik sagarobak! Huuuu...!” sorak Hasan. (Ha! Adukan saja! Kamu pikir aku takut? Pangadu pangadak, makan eek segerobak! Hu...!)
“Pfft!” Arsen terkekeh kecil. “Pantun ya lucu ya, Bang. Makasih sudah bantuin, Bang.”
“Heh, sama-sama.” jawab Hasan dengan tersenyum bangga.
“Bagaimana nanti jika dia beneran mengadu pada kakaknya, Bang?” tanya Arsen.
“Gampangnya itu! Kalian mandilah, nanti ke buru magrib.” pesan Hasan. Ia kembali melanjutkan bermain game.
Hasan selalu bersembunyi ke sungai untuk bermain game dengan alasan mencari rumput untuk kambing dan sapinya. Memang benar sih, dia mencari rumput. Ia hanya membutuhkan waktu sebentar untuk mencari 2 karung rumput, lalu meletakkan di tepi sungai, kemudian asik bermain game.
Dirumahnya, Hanum dan Linda akan mengomelinya jika kedapatan bermain game lama, sampai tak ingat waktu.
Sikembar sudah selesai mandi. Mereka sempat berkenalan dengan kelompok Sudin. Bahkan, Arsen sempat-sempatnya promo game Arbluefire pada mereka. Dasar anak kecil mata duitan, asal ada peluang dikit, langsung cus!
“Nanti malam kita mancing bareng di rawa, ya, setelah sholat isya. Kita janjian ketemu di Mushola!” ajak Sudin.
__ADS_1
“Abang ikut juga gak?” tanya Arsen pada Hasan.
“Kalau nanti di izinkan sama Ibu, Abang pergi!” jawabnya.
“Baiklah, aku pergi bareng Bang Hasan deh nanti, soalnya kami gak tahu Mushola ada dimana.” jawab Arsen.
“Kalau begitu, biar kami jemput saja ke rumahmu, di rumah Ustadzah Ruksha 'kan?” tanya Sudin.
“Lah, ngapain bingung! 'Kan Ustadzah Ruksha yang ngajarin kami ngaji, Sen! Kamu ngikut aja sama Ustadzah Rukhsa. Biasanya kami mulai ngaji magrib sampai sholat isya.” jelas Agung yang berdiri di samping Sudin.
“Oh, begitu, ya. Ok deh.”
“Bibi, kami ikut Bibi, ya!” ucap Sikembar. Mereka sudah menyiapkan sarung, peci dan alat pancing.
“Kalian mau sholat berjamaah? Atau mau mancing?” tanya Sakinah menatap putra-putranya dan tas pancing yang sudah siap berangkat untuk di sandang.
“Dua-duanya Mom.” jawab Arhen dan Ardhen nyengir.
Sakinah hanya menggelengkan kepalanya, Ruksha pun juga. Berbeda dengan Andrean, dia malah bangga sendiri melihat kelakuan para jagoannya.
“Udah Sha, Kinah. Biarkan saja, mereka jarang pulang kampung, biarkan mereka bersenang-senang dan berteman dengan anak-anak desa di sini.” sambung Ayah.
“Iya, Yah.” jawab Rukhsa dan Sakinah lembut.
“Ya, udah. Sholatnya yang khusuk, jangan mikirin mancing pas Sholat. Lalu, jangan ganggu teman yang lagi ngaji, ya. Tunggu mereka dengan tenang sampai mereka selesai mengaji. Ok!” Sakinah menjulurkan kelingkingnya.
__ADS_1
“Ok, Mom.” Tiga jari kelingking sikembar menaut ke kelingking Sakinah.