
Ardhen dan Arsen telah sampai di Indonesia. Lebih tepatnya di bandara. Rukhsa bersama suaminya dan Jamila menjemput mereka dengan mobil. Tak ada pengawalan ketat, karena tampilan kedua pria itu cukup berubah dari pada biasanya, hingga tak banyak yang mengenali mereka.
“Abang, Uda!” Jamila menghambur ke dalam pelukan kedua pria itu secara bergantian.
“Nces tambah berat ya sekarang, pasti banyak makan 'kan?” goda Ardhen.
“Enggak juga, itu karena Nces tambah besar Uda, bukan karena banyak makan!” protes Jamila cemberut.
“Hai, Kak!” Jamila melambaikan tangan pada Haizum.
“Hai Nona kecil.”
“Sekarang jangan panggil aku Nona lagi Kak, 'kan Kakak sekarang jadi Kakak ipar ku, iya 'kan Uda?” Jamila mencubit kedua pipi Ardhen.
”Nanti pipi Uda melar tahu!”
“Biarin, blek!”
“Sini, gendong sama Abang aja!” Arsen meraih tubuh Jamila dari Ardhen. “Kau pegang saja istrimu, dia belum terlalu pandai bahasa Indonesia loh! Nanti hilang!” Arsen mengingatkan.
Kurang lebih 4 jam perjalanan dari bandara menuju desa Sakinah.
Tadinya mereka sampai di bandara jam 2 siang, kini mereka baru sampai di rumah saat adzan magrib berkumandang.
Salwa sekeluarga bersama Arhen dan Aini telah menyambut mereka. Menurunkan barang bawaan. Lalu, mereka terburu-buru ke musholla untuk sholat berjama'ah bersama. Setelah itu, Suami Rukhsa mengajar anak-anak mengaji, sedangkan Rukhsa libur hari ini, dia pulang kembali bersama yang lainnya.
Mereka makan bersama dan berbincang-bincang.
Tak terasa waktu berlalu hingga jam 10 malam, Jamila sudah di gendong Rukhsa masuk ke dalam kamar tamu, dia juga sudah merapikan tempat tidur untuk Arsen di sebelah Jamila. Serta kamar kosong satu lagu untuk pasangan suami Ardhen bersama Haizum.
__ADS_1
“Loh, kalau kamar ini untuk kami, Kakak dan Kak Aini tidur dimana?” tanya Ardhen.
“Di rumah kami!” Arhen menunjuk rumah kecil di samping rumah Rukhsa.
“Iya, itu tanah pembagian Ibu kalian. Tante Salwa di depan, di ujung Kak Kinah, sedangkan Bibi ditengah-tengah karena menghuni rumah utama. Jadi, jatah ibu kalian Bibi berikan untuk Arhen dan Aini,” jelas Rukhsa.
“Oh, Aku mau lihat!” Arsen bangun dari duduknya. Padahal tadi dia sudah duduk di atas tempat tidur yang sudah disiapkan Rukhsa.
“Eitz, tidak bisa!” tolak Arhen.
“Kenapa tidak bisa?” Ardhen pun menimpali.
“Karena kamarnya cuma satu! Dan kamar itu adalah tempat privasi kami! Dasar yang belum nikah, mana tahu!” sindir Arhen. Ardhen tergelak sambil membekap mulutnya.
Aini mencubit lengan Arhen. “Aduh Sayang. Aku 'kan bilang kenyataan. Aku sedang menyadarkan Abangku saja. Kalau kami bukan lagi kembar yang nempel kemana saja, sekamar dan sama semuanya, tetapi kita punya privasi masing-masing dan pasangan masing-masing,” ringis Arhen karena dicubit Aini sambil menjelaskan.
“Tapi itu kasar!”
“Hm,” Arsen bergumam, kemudian langsung membuka bajunya dan memilih tidur menelungkup.
“Abang! Kau gila! Pamer tubuh depan istri kami!” jerit Ardhen.
“Aku bukan buka celana, cuma buka baju! Pergi kalian sana pasangan suami istri!” usir Arsen.
Mereka pun pergi, Ardhen ke kamar yang sudah disiapkan, sedangkan Aini dan Arhen berjalan ke rumah mereka.
“Tidak apa-apa. Semoga tampan Bibi akan segera ketemu jodohnya, cup!” Rukhsa mencium rambut Arsen yang membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Kemudian menutup pintu rapat.
“Sayang, kenapa bicara seperti itu tadi? Abang pasti sedih, kamu harus mengerti perasaannya, orang yang dia cintai meninggal dunia karena insiden itu, mom juga.” Aini menggenggam tangan Arhen.
__ADS_1
“Aku tahu Aini. Aku tak ingin dia terlalu lama larut dalam kesedihan, aku ingin dia membuka hati untuk wanita lain. Ini sudah setahun lebih berlalu, dia masih seperti itu. Ardhen bilang padaku kemarin, dia berniat mencari Mr. J.”
***
Setelah Rukhsa pergi, Arsen mengeluarkan cincin dan buku diary berwarna pink.
Cincin yang diberikan Vindo pada Arsen. Cincin itu sedikit rusak, dan cincin itu dilepaskan dari tangan Roselia saat dia dikuburkan. Buku diary ini sudah belasan kali dibaca Arsen sampai habis, namun dia tetap saja membaca buku diary itu.
‘Hai Diary, Hari ini aku bahagia sekali, aku mendapatkan nilai bagus dan dapat hadiah dari Kakak. Yang lebih bahagia lagi, aku mendapatkan ucap selamat dari Tuan Muda Arsen. Pemuda tampan yang cool itu, pemuda tampan yang dingin dan keren itu.’
‘Diary, aku sedih saat kedua orangtuaku meninggal, tapi aku kuat saat kakak membawaku bersamanya, aku bertemu kembali dengan pangeran tampan pintar pujaanku. Namun aku sedih, dia tidak ingat denganku, hari ini ulang tahunku. Kembarannya Arhen memberikanku hadiah, Rayyan teman baruku juga memberikan hadiah.’
‘Diary, hari ini aku senang dan merasa lucu. Aku baru saja menerima hadiah sekotak dari Tuan Muda Arsen, kemudian bunga 99 tangkai dari Kak Hans. Tumben sekali Kak Hans perhatian, aku merasa lucu.’
Arsen membalik lembar demi lembar diary yang bertuliskan tulisan tangan Roselia itu. Ingatannya melayang pada semua yang ditulis Roselia, tentang bunga yang dia kirim, tapi dikira Ros pemberian Kakaknya Hans. Dari semua yang tertulis di diary, tampak banyak kesalahpahaman dan miskomunikasi diantara mereka.
Arsen yang tak terbuka, terlalu menjaga image dan harga diri, terlalu percaya diri hingga menunggu Roselia sendiri yang mendatangi, sedangkan Roselia juga sedang menunggunya, karena dia tidak punya nyali mengganggu apalagi mengucapkan cinta pada atasan Kakaknya.
Hingga dini hari, di lembaran paling terakhir.
‘Diary, aku tak percaya dengan semua ini! Sungguh! Pangeran yang aku impikan juga merasakan cinta sepertiku? Dia melamarku. Oh diary, betapa bodohnya aku, aku malah melarikan diri dan meninggalkannya sendirian di luar, membiarkan dia pergi begitu saja. Oh tidak, aku bodoh sekali!’
‘Saat dia sudah tiada, aku lihat kotak cincin itu di depan pintu kamarku, aku langsung membuka dan memakainya, kuciumi permata itu sambil menangis. Lihat, airmataku bahkan terjatuh sekarang, saking bahagia dan senangnya aku menulis ini. Diary, aku mencintai dia, sangat mencintai dia. Aku bersedia menikahi dia, sungguh.’
‘Diary, aku mencintai dia, mencintai Arsen Ryker Van Hallen, Arsen Ar3s CEO dingin itu, Arsen Elmo bermuka datar itu, Arsen kecil yang kala itu mengucapkan terimakasih padaku saat aku memberikan hadiah padanya. Aku mencintai dia sejak dulu. Saat dia menolongku yang didorong anak laki-laki di depan jalan ke toilet umum di sekolah.’
‘Saat itu dia membantuku berdiri dan bertanya aku baik-baik saja dan pergi berlalu. Wajahnya seperti malaikat, punggungnya seperti kuda poni yang berlari, indah. Aku benar-benar mencintai dia. Aku sangat-sangat bersedia menikah dengannya. Oh Tuhan, terimakasih. Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku biarkan aku menjalani mimpi manis ini.’
‘Pagi diary, hari ini aku ingin menemui dia. Aku akan menjawabnya, membisikkan katakan cintaku yang menggebu padanya, akan kucium pipinya yang terlihat kenyal itu, akan aku rangkul lengannya yang kekar itu. Aku akan meminta dia memasangkan kembali cincin ini ditanganku padanya. Diary, tunggu aku, ya. Tunggu aku memberi kabar baik, heheheh!’
__ADS_1
Arsen menutup diary itu. Wajahnya tertunduk sedih. Menatap cincin indah yang sudah lama dia buat untuk Roselia, perlahan dia pasang cincin itu di jari kelingkingnya.
Kukuruyuk! Ayam pun mulai berkokok, dan suara toa mengaji dari musholla mulai terdengar, Arsen menyimpan diary itu kembali.