
Kinah tersenyum, menepuk pundak Billa. “Jangan khawatir, tidak apa-apa. Dia memang seperti itu!”
Kinah memijit keningnya, Billa menatap Kinah. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku sepertinya semakin tua semakin tidak becus menjadi seorang ibu, Bil. Aku tidak layak, Jamila bener-bener bandel.”
“Bagaimana mungkin, anak seimut dan selucu Jamila disebut bandel! Kamu ini ada-ada aja. Ini mungkin karena selama ini kamu punya tiga putra kembar yang genius, jadi saat dapat putri yang gak jenius kamu mikirnya bandel,” ujar Billa.
“Bu-” ucapan Kinah terpotong karena Kepala Pelayan telah sampai.
“Iya, Nyonya Muda. Anda memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Kepala Pelayan yang telah berganti, bukan lagi Kepala Pelayan yang dulu, karena Kepala Pelayan itu sudah meninggal dunia.
Kepala Pelayan ini adalah Pelayan lama yang juga terpercaya, ia diangkat Arsen menjadi Kepala Pelayan baru satu tahun ini. Sekarang, keputusan tertinggi ada pada Arsen, walupun anak itu dulunya sedang kuliah di Inggris, Andrean memilih putra sulungnya itu yang memutuskan segala hal.
“Tolong periksa Cctv, Jamila hilang lagi!” pinta Kinah.
“Baik, akan segera saya lakukan Nyonya.” jawabnya dengan membungkuk hormat, lalu beranjak pergi.
Kepala Pelayan ini masih muda, seusia dengan Clara, namun karena ia dan keluarganya telah lama mengabdi dengan Van Hallen, jadi ia sangat bisa diandalkan. Ia cukup pintar, salah satu murid tamatan sekolah terbaik di Belanda.
Ia langsung memeriksa Cctv dan menemukan Jamila berlari ke arah taman belakang. Ia kembali ke tempat Sakinah dan Billa duduk, lalu memperlihatkan video Jamila berlari ke sana.
“Terimakasih, Alan,” sahut Sakinah. “Ayo, kita ke taman belakang, Nani!” ajak Sakinah pada Nani yang sudah menciut sejak tadi. Billa juga mengikuti.
Sesampainya di taman belakang, anak gadis itu juga sudah kabur, ia memanjat pohon, lalu meniti dahan pohon yang menjulai ke arah kamar yang ditempati Jay sekarang.
Pas sekali, Jay sedang membuka pintu kaca balkon kamar itu, setelah Clara selesai merapikan barang-barang miliknya.
Hap! Jamila langsung melompat dari dahan itu, tepat mendarat di balkon kamar Jay. Ia mendelik ke arah Jay, saat anak laki-laki itu memperhatikan dirinya.
“Ah, kemana lagi dia?” Terdengar suara-suara dari bawah. Jay menjulurkan kepalanya, melihat ke arah bawah balkon kamarnya, ia melihat ada Kinah, ibunya dan seorang Pelayan sedang mencari-cari sesuatu.
Billa menatap ke semua arah, hingga matanya bersirobok dengan Jay yang mengulurkan kepala di pagar pembatas balkon kamar.
“Sayang, apa kau bisa melihat Jamila di bawah ini dari atas? Ia harus belajar tata krama sore ini!” teriak Billa pada putranya.
“Sssssst!” Jamila telah masuk ke kamar Jay, dan duduk di atas kursi, ia tempelkan jari telunjuknya di bibir, melarang Jay mengatakan tentang dia.
__ADS_1
“Sayang,”
Jay hanya diam menatap.
“Haaaaah! Seharusnya tadi aku tidak bertanya padanya.” Billa menghela nafas, Kinah malah terkekeh mendengarnya. “Kau senang melihat sahabatmu ini menderita, ya?” tanya Billa manarik-narik ujung hijab Kinah.
“Mana mungkin, kau sudah tahu putramu seperti itu. Masih saja bertanya padanya. Sudahlah, ayo, kita cari Jamila sebelah sana!” ajak Kinah, mereka melanjutkan mencari Jamila di taman belakang, mengintip taman bunga, pohon, dan lainnya.
“Hei, apa-apa an ini?!” Jamila menunjuk-nunjuk poster, gambar yang ditempel, figura, foto, bahkan bantal, selimut dan seprai yang ada di dalam kamar Jay.
Jamila langsung mengacak semuanya. “Kau gila, ya! Abang Arsen milikku!” teriak Jamila pada Jay.
Jay hanya mengernyit tak bicara, namun tangannya gesit menarik semua yang dipegang oleh Jamila.
Prank! Prank! Brak! Jamila merusak semuanya, walaupun Jay telah mencoba mengambil dan menyelamatkan barang-barang pribadi miliknya.
“Keluar!!” Satu teriakan yang cukup nyaring membentak Jamila. Foto pigura Arsen dan dirinya yang ia pajang di atas meja belajar dipecahkan oleh Jamila.
“Apa? Kau mengusir ku di mansion ku sendiri? Kau yang seharusnya keluar dari sini!” Jamila membalas teriakan tak kalah nyaringnya, dengan berkacak pinggang.
Jay menatap tajam Jamila, ia sangat kesal.
Jay masih diam. “Huh!” Jamila mendengus, kemudian menarik seprai milik Jay, menggulung hendak membawanya.
“Lepaskan!” seru Jay.
Jamila mengabaikan dan terus melanjutkan berjalan dengan menggendong seprai itu. Hingga....
Greb! Jay menggenggam tangan Jamila kuat dengan tatapan tajam. “Kubilang lepaskan!” ancamnya.
“Apa kau mengancam ku?” Jamila mengibaskan tangannya, namun cekalan tangan dari Jay sangat kuat. Hingga gadis kecil itu mengibas dengan sekuat tenaga, tetapi masih saja tak bisa lepas.
“Lepaskan tanganku! Sakit!” ringis Jamila.
Mendengar itu, Jay berniat melepaskan cekalan tangannya. Namun, apa yang terjadi? Karena Jamila masih mengibaskan dengan sangat kuat tangannya, hingga anak gadis itu terjatuh.
Brak! Dan ... kejadian itu serempak dengan Billa dan Kinah masuk membuka kamarnya. Dua wanita itu bergegas masuk ke kamar Jay karena mendengar suara ribut dan pecahan, mereka juga sudah curiga kalau dua anak kecil itu pasti bertengkar.
__ADS_1
“Jay!”
“Jamila!”
Dua orang ibu itu sama-sama memelototi anaknya masing-masing.
“Apa yang kamu lakukan Jay?”
“Apa yang kamu lakukan Jamila?” Mereka berdua sama-sama mengajukan pertanyaan yang sama dengan serempak.
Dua anak kecil itu tak ada yang menjawab, Billa memeluk dan membantu Jamila, sedangkan Kinah memeluk dan mengelus Jay.
“Kau tidak apa-apa, Sayang?”
“Kamu tidak apa-apa, Cantik?” Lagi, dua orang ibu itu saling mencemaskan. Sakinah duduk di tepi ranjang, lalu meminta dua anak kecil itu juga duduk di ranjang. Billa juga ikutan duduk di samping Jamila.
“Clara tolong rapikan dan bersihkan lgi, ya!” pinta Sakinah pada Clara yang tadi juga mengikuti dia.
“Katakan pada Mom, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Kinah. Dua anak itu masih saja diam. “Baiklah, kalau begitu, Mom akan meminta Abang kembali ke Inggris.” ancam Sakinah dengan memainkan hp nya.
“Jangan Mom!” teriak Jay. Billa dan Kinah langsung mengulum senyum melihat reaksi Jay.
“Tadi ... Dik Jamila ngumpet di kamarku, merusak barangku, aku marah,” jelas Jay singkat padat dan berisi.
“Lalu?” tanya Billa, berharap penjelasan yang lebih panjang mendiskripksikan kejadian sesungguhnya.
Jay kembali dalam mode diamnya, menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi, menganggap pertanyaan barusan angin.
“Mila?” Kinah menatap putrinya.
“Itu benar, Ajo memegang tanganku agar aku tidak melakukannya, tapi aku menepisnya dengan kuat, sehingga aku terjatuh.”
Billa menatap pergelangan tangan Milla, kemudian...
“Ya ampun, Jaaaay! Apa yang kau lakukan pada tangan menantuku yang halus lembut imut begini, ya Tuhaaaaan! Kinah, ayo, kita harus segera mengobati tangan Mila. Sayang, sakit banget gak?” Billa langsung menggendong Jamila tergesa-gesa.
“Billa, tidak apa-apa, jangan cemas begitu, turunkan saja! Mila itu berat, Bil!”
__ADS_1
“Kinah, jangan sepele. Mila itu anak perempuan, kulitnya harus mulus, tak boleh ada luka, ayo!”
“Hm.” Kinah akhirnya menurut saja, begitu lah Billa. Dulu, dirinya juga diperlakukan seperti itu oleh Billa. Ia adalah salah satu wanita yang sangat menjaga diri dan penampilan.