Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Menangkap Kepiting


__ADS_3

Laut biru yang jernih berkilauan saat diterpa sinar matahari.


Ombak menghempas karang-karang dan tembok yang dibangun ditepi sebuah pulau yang bernama Lautan Kebebasan milik pribadi Berend Elmo. Arhen tengah berfoto ria, ia meminta para bawahan Berend memotonya.


“Ah! Paman, bukan seperti ini mengambilnya, ambil badan bagian atasku saja, fokus pada pemandangan nya!” protes Arhen. Sejak tadi ia protes dan berkacak pinggang karena hasil jepretan tidak sesuai dengan keinginannya.


Ya, karena tempat privasi ini hanya bisa dikunjungi orang-orang tertentu saja. Jadi hanya bisa membawa sikembar, tak boleh membawa manager, ataupun fotografer yang bekerja dibawah naungan manager Arhen.


Kalau Ardhen, sudah bisa ditebak, anak itu asik menjaring kepiting di tepi, disela-sela karang yang baru timbul karena air laut yang surut.


“Tuan Muda! Saya mendapatkannya!” seru Vindo. Anak itu senang jika menangkap kepiting dan berburu hewan laut, seperti ikan, udang dan lainnya.


“Wah, kau hebat Vindo!” puji Ardhen.


Sedangkan Arsen? Anak laki-laki itu duduk di kursi santai bak pangeran. Kelapa muda telah dihidangkan untuknya bersama jagung bakar, udang bakar dan ikan bakar dihadapannya. Dua wanita asik membakar makanan di samping Arsen, sedangkan Xander Pim setia berdiri disampingnya.


Ia menatap Arhen dan Ardhen yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing ditepi laut.


“Dasar dua bocah!” ucapnya, lalu menyedot minumannya.


Tak lama Berend datang bersama dengan Jesylin.


“Selamat pagi, Tuan Muda.” sapa mereka.


“Pagi menjelang siang!” sindir Arsen, karena cahaya panas sudah menyakitkan ke kulit, bukan lagi cahaya mentari yang sehat untuk tubuh.


Arsen hanya menatap ke arah mereka sekilas, lalu mengarahkan pandangannya kembali pada kedua adiknya.


“Bagaimana, apa Tuan Muda suka?” tanya Berend. Ia berharap atasan kecilnya ini menikmatinya.


“Lumayan!”


“Syukurlah.” ucapnya lega. Kemudian ia menghidupkan laptopnya, menggeser dan menghadapkannya pada Arsen.


“Ini datanya Tuan Muda.” tunjuk Berend.


Arsen menatap lama data yang diperlihatkan Berend, lalu bertanya, “Maksudnya Paman ingin menghabiskan semua uang yang kau miliki untuk pulau ini? Bukankah terlalu bodoh dan boros?”


“Selama ini, mereka aman dan nyaman di sini...” jawab Berend dengan suara rendah.

__ADS_1


“Baiklah, itu akan saya pertimbangkan. Walaupun kau adalah bawahan yang bekerja denganku, barang dagangan tetap barang dagangan. Aku hanya akan memberikan Paman diskonan saja!” Arsen melirik Berend.


“Perusahaan biji besi di Batam tak terlalu besar seperti Perusahaan perhiasan Ar3s. Tentu saja pengiriman barang juga memerlukan biaya yang cukup, seperti kapal pengangkutan barang dan surat menyuratnya.” lanjut Arsen.


“Tetapi... aku punya penelitian sederhana Paman! Tempat ini memiliki laut yang sangat luas dan jarak tempuh yang lumayan dengan daerah lain. Seperti yang dijelaskan, masyarakat disini bisa hidup aman, nyaman dan berkecukupan, terutama dengan makanan.”


“Masyarakat telah beternak ikan di sekitar sini, juga menangkap ikan di tengah lautan sana. Kerang-kerang yang terkadang menghasilkan mutiara. Benar-benar menakjubkan.”


“Bagaimana kalau masyarakat juga membuat kerajinan dari kerang untuk dijual, lalu menanam kayu akasia, agar pulau ini semakin luas! Sehingga tak perlu membutuhkan banyak besi.” jelas Arsen.


“Saya setuju dengan usul Tuan Muda, masyarakat harus mengembangkan kemampuannya agar bisa menambahkan penghasilan. Tetapi masalah menanam kayu akasia, bagaimana bisa? Tentu saja kita membutuhkan tanah, sedangkan lautan begitu dalam untuk menjangkau dasar tanah.”


“Jawaban yang bagus Paman! Kita bisa menanamnya melalu sampah!”


“Sampah?” Ingin rasanya Berend tertawa kerasa saat mendengarkan penjelasan itu, namun tak mungkin ia menertawakan majikan kecilnya itu. “Bukannya sampah bisa memusnahkan ekosistem?”


“Iya, sampah tak bisa diuraikan, bisa membunuh binatang jika memakannya. Tetapi sampah kita gunakan untuk menanam kayu akasia Paman, bukan untuk dibuang sembarangan.”


“Begini, sampah jajanan, sampah lainnya di cuci bersih, lalu dijalin, kita bisa membuatnya seperti jaring, mungkin dengan mengikatnya dengan tali yang kuat. Kemudian, diatasnya kita tempel atau ikatkan botol minuman bekas agar sampah itu mengapung.”


“Setiap lokasi yang akan dibuat untuk perluasan lahan, cukup menggunakan 5 besi untuk tiang penyangga. Di atas sampah yang mengapung itu, kita bisa menanam kayu akasia, karena tanah itu akan mengapung diatas sampah.”


Berend mengangguk, memahami.


“Terimakasih sarannya Tuan Muda.” ucap Berend, kemudian membuka file selanjutnya.


Arsen lama menatapnya, “Jadi Paman serius dengannya dan ingin menikah di sini dengannya?” menoleh ke arah Jesylin sekilas.


“Iya, Tuan Muda.”


“Baiklah. Semuanya bagus.” puji Arsen. Ia tak tahu jelas tentang sebuah acara pesta. Yang perlu ia lihat dan ketahui adalah, bahwa bawahannya ini akan sibuk beberapa hari lagi.


“Aku harap kamu menjaga kepercayaan Paman. Jangan pernah mengkhianati dia sedikit pun!” sarkasnya pada Jesylin. Arsen masih saja tak suka pada wanita yang menumpahkan minuman dipakai ibunya kala itu.


“Saya akan menjaganya Tuan Muda. Terimakasih banyak atas nasehatnya.


“Yuhuuuuu! Abang! Lihat, aku dapat banyak kepiting!” teriak Ardhen pamer, ia berlari bangga.


“Kau ini! Tak sopan! Aku sedang bicara dengan Paman, kau menerobos tanpa permisi.”

__ADS_1


“Maaf...” jawabnya sendu.


Suasana hening sesaat. Hingga Berend kembali berkata, “Hanya itu laporan saya hari ini Tuan Muda. Saya permisi dulu, ada yang mau saya urus.”


“Baiklah.”


Setelah Jesylin dan Berend pergi. Arhen juga datang mendekat, Ia langsung menepuk bahu Ardhen. “Wah, banyak juga adikku ini dapat kepiting!” sapa Arhen.


“Kenapa tu muka, kek gitu? Kamu dicapit kepiting?” tanya Arhen. Ia merasa aneh dengan raut muka adiknya.


Vindo dan Ardhen hanya diam saja, kemudian Arhen melirik Arsen yang tampak cuek.


“Hadeh, kamu sudah di ceramahi atau dimarahi Abang? Gak usah didengar! Abang 'kan mulutnya emang kayak gitu! Ya udah, ayo bikin kepiting asam pedas!”


Ardhen mengangguk kemudian mulai membersihkan kepiting bersama Vindo.


Ardhen dibantu oleh dua orang wanita itu memasak kepiting.


“Wah, wanginya!“ puji Arhen.


Setelah kepiting itu masak, Ardhen langsung memberikan pada Arsen dan Arhen, lalu untuk dirinya dan Vindo, selebihnya ia berikan pada para pengawal dan dua wanita yang menemani mereka.


“Hm, ini benar-benar enak, Dik!”


“Makasih, Kak!” jawab Ardhen tersenyum senang.


“Apa kau suka Vindo dengan masakanku?” tanya Ardhen.


“Iya, Tuan Muda. Masakan Anda enak sekali.” pujinya.


“Kepitingnya enak!” ucap Arsen tanpa Ardhen tanya. Ia tahu, adiknya itu tak ingin mengajaknya bicara, perihal ia memarahinya tadi. Jadi, dia menjawab sendiri. Ya, walaupun begitu, Ardhen tetap menghidangkan ia kepiting.


Setelah makan, mereka berjalan menyusuri beberapa rumah yang dibangun dipulau itu bersama Vindo.


“Heh, tukang ngambek!” bisik Arsen pada Ardhen yang mengabaikannya sejak tadi.


Ardhen masih saja diam.


“Aku mau balik! Paman, antarkan aku balik!” ucap Arsen kemudian karena kesal diabaikan sang adik.

__ADS_1


__ADS_2