
Selama Sakinah di rumah, adiknya Salwa tidak pernah berkunjung ke rumah, ia mengurung diri, bahkan ia semakin jengkel, kenapa ayah dan adiknya Rukhsa tidak memberitahu jika foto besar yang dipampang di jalan-jalan, balai adat dan lainnya itu adalah Arhen Ryker Van Hallen, anaknya Sakinah. Mereka juga tidak mengatakan kalau Sakinah sangat beruntung hingga menikah dengan pria hebat. Ia cemburu dan kesal.
“Salwa, ayo, kita berkunjung ke rumah ayah.” ajak suaminya.
“Aku tidak mau! Kenapa sekarang Abang ingin sekali ke rumah? Apa karena ingin bertemu dengan Kak Kinah? Apa Abang masih suka dengannya? Apa artinya aku yang sudah menikah bertahun-tahun denganmu?! Huhuhuhu... Apa artinya aku yang sudah memiliki 4 orang anak, bahkan sekarang sedang hamil anakmu? Apa artinya?” serunya, tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu.
Suaminya terdiam.
“Salwa, jika kau tidak ingin berkunjung, baiklah, jangan menangis.” jawabnya lembut.
“Huhuhuhu! Kau jahat, Bang! Kau jahat! Kenapa masih ada Kakak ku di hatimu?!” Salwa menangis, ia sakit hati.
Suaminya masih diam, hingga anaknya yang nomor empat datang memeluk Salwa. “Ibu, Ibu tenapa? Ata Ayah ahat ma, Bu?” tanya anak kecil berumur 3 tahun itu dengan latahnya.
“Ah, pergi sana!” Salwa mendorong anaknya, hingga sang suami segera menyambut dan menggendong putri kecilnya itu.
“Salwa, aku sudah cukup sabar menghadapi dirimu, aku sudah cukup sabar dan menjelaskan padamu. Berapa kali aku katakan, sampai kapan kau tidak percaya padaku? Sampai kapan hatimu dipenuhi dengan rasa iri dan cemburu pada keluargamu sendiri?” Suaminya pun berbicara dengan lantang.
“Salwa yang kukenal bukan Salwa seperti ini! Salwa yang ingin kunikahi bukan Salwa yang seperti ini! Salwa yang aku cintai, bukan Salwa seperti ini, tetapi Salwa yang ceria, percaya diri, lembut dan berani. Salwa yang menyayangi keluarga dan bisa mencairkan suasana. Salwa yang sangat keibuan, yang membuatku percaya meninggalkan banyak anak dan hartaku padanya.” Pria itu perlahan mulai melambatkan ucapanya, sambil mengelus punggung putri kecilnya yang sedang menangis karena di dorong Salwa.
“Salwa, tidakkah kau ingat, saat itu, kau berkata kau jauh lebih baik dari Kakakmu, kau jauh lebih cantik, kau lebih hebat, dan saat itu kau melamarku?!” Pria itu meletakkan sang putri di kasur, mengelus punggungnya lembut.
Salwa terdiam, ia masih ingat, ia membuang dan merobek semua surat cinta yang dikirim suaminya pada dirinya untuk Sakinah.
Ia benci saat menjadi tukang surat, ia suka dengan pria itu, tetapi sang kakak sangat sombong tak melirik surat, hingga ia membalasnya sendiri.
“Aku tahu, kau sendiri yang membalas surat itu Salwa, karena aku tahu bagaimana sikap dan cara menulis Kakak Ipar. Berapa kali aku katakan, memang awalnya aku jatuh hati pada Kakakmu, tetapi kemudian aku menyukaimu, membutuhkanmu, nyaman bersamamu dan mencintaimu. Jika tidak, untuk apa aku menerima lamaranmu yang meminangku dengan bunga berwarna ungu dari bunga enceng gondok sawah?” Suaminya mengingatkan moment Salwa yang melamarnya, ia bahkan tersenyum saat mengingat itu.
“Salwa, jika aku tidak menyukaimu, untuk apa aku melamarmu? Aku bisa saja mengejar dan melamar kakakmu. Akan tetapi, aku tidak melakukannya.” Ia mulai mendekat ke arah Salwa yang terduduk di sofa, meninggalkan sang putri yang sudah tertidur.
__ADS_1
Ia menempelkan kepalanya di ceruk leher Salwa. “Aku sungguh mencintaimu, di mataku kau sangat cantik dan imut, aku suka wajahmu dari wajah Kak Kinah yang hanya terlihat manis, sedangkan wajahmu sangat imut tidak membosankan. Aku suka.”
Salwa masih diam.
“Sayang, percayalah, hanya kau seorang yang aku cintai sejak mulai aku meminangmu hingga detik ini. Atas nama Allah dan Rasulullah, aku bersumpah, Salwa.” Ia genggam tangan istrinya erat.
Salwa langsung membalik badannya, berhadapan dengan suaminya, kemudian memeluknya, menangis terisak-isak. Hatinya memang dipenuhi dengan rasa iri dan cemburu, tak pernah percaya diri jika dibandingkan dengan sang kakak.
“Mulai sekarang, tolong percayalah, bukalah hatimu, bersihkan rasa tidak percaya diri dan cemburumu, aku hanya melihatmu seorang. Tolong bersikap baiklah padanya, dia pasti sangat merindukan adik baiknya yang pemberani seperti dahulu.” Suami Salwa mengelus rambut Salwa lembut.
Tiba-tiba Salwa langsung mengecup bibir suaminya. “Asin!” ucap Suaminya, membuat Salwa terkekeh kecil, menghapus sisa air mata yang ada di pipinya.
Membelai lembut dan mengecup kembali pipi Salwa. “Aku mencintaimu, Sayang. Cup!” Ia mencium bibir Salwa mesra. Lalu, ciuman lembut itu berganti jadi adegan panas.
“Pelan-pelan, Sayang!” pinta Salwa memegang lengan suaminya.
~~
Sore hari, Salwa dan Suaminya serta empat orang anaknya berkunjung ke rumah.
“Eh, Nak Usman. Ayo, masuk. Libur ya, hari ini?" sapa Ayah Sakinah pada menantunya.
“Iya, Ayah, sekali-kali.” jawab Usman Syafril, suami Salwa. “Apa kabar Kakak Ipar, maaf baru sempet kami berkunjung. Kabarnya, Kakak pulang bersama suami dan anak-anak 'kan?” tanya Usman berbasa-basi.
“Alhamdulillah baik, iya, saya pulang dengan suami dan anak-anak, Bang, eh, Usman.” jawab Sakinah, ia merasa segan memanggil orang yang lebih besar darinya dengan nama saja.
Usman Syafril adalah pria tertampan nomor satu dulunya, ia sering mengirim surat cinta pada Sakinah, mengikuti diam-diam, namun kemudian mengalah, membiarkan Ardi sahabat karibnya mendekati Sakinah, lalu dia melamar adik Sakinah, Salwa.
Tak lama, Andrean juga muncul bersama tiga putra kembarnya dari pintu belakang dengan ceria.
__ADS_1
“Mom, lihat, kami dapat ikan ular, eh, ikan belut!” Ardhen pamer. “Eh, ada tamu!” ujarnya, kemudian menoleh pada dua kakak laki-laki dan Papanya, Andrean. Mereka bertiga sangat kotor, dipenuhi dengan tanah.
Sakinah tersenyum. “Sana, mandi! Biar bisa kenalan sama Bibi pertama kalian!” pinta Sakinah pada anak-anak.
“Wa, Man, pamit dulu, ya, ngobrol sama Ayah dulu saja.” Sakinah berdiri dan berjalan ke arah Andrean yang masih diam mematung, padahal sikembar sudah berlari duluan ke bak mandi.
“Sayang, padahal aku mau pamer dan minta hadiah karena sudah dapat belut!” Andrean cemberut.
“Iya, nanti aku kasih hadiah, biar belut besar kamu bisa masuk sarangku.” bisik Sakinah. Andrean mengerutkan alisnya, sedetik kemudian, ia tersenyum puas, ia sudah mengerti maksud istrinya.
“Harus tiga kali ronde, ya!” pintanya.
“Tidak, dua kali saja!” tolak Sakinah.
“Empat kali!”
“Sayang!” Sakinah mendelik tajam, “Aku bisa encokan!”
“Lima kali!”
“Atau gak jadi saja!” jawab Sakinah cepat.
“Loh, loh, Sayang, kok, gak jadi sih!” seru Andrean merengek mengikuti Sakinah yang berjalan ke bak mandi satunya lagi.
“Ini handuk, cepat mandi yang bersih sana, belutnya akan dimasak Rukhsa dengan cabe hijau. Sekalian setelah mandi dandan yang ganteng ya, biar bisa kenalan sama adik dan adik iparku!” ucap Sakinah dengan terkekeh.
“Aku tidak cemburu tuh dengan suami adikmu!” Andrean mengecup pipi Sakinah, lalu masuk ke bak mandi.
“Hehehe! Semoga saja, kau kan tukang cemburu gak jelas!” Sakinah terkekeh.
__ADS_1