Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Puloh


__ADS_3

Jimi dan Billa sedang dalam perjalanan ke Belanda.


Barend telah meminta bawahannya untuk menjemput ke Bandara pagi ini, karena ia akan sangat sibuk mengurus sesuatu yang berhubungan dengan atasan kecilnya.


Tadi pagi, Sakinah telah berdandan dengan rapi, namun Andrean tak mengizinkannya keluar rumah untuk menjemput Billa dan Jimi ke bandara. Apapun alasannya, tidak boleh. Ia masih khawatir akan keselamatan Sakinah semenjak kasus penculikan waktu itu. Pakaian Sakinah itu sangat mencolok di Belanda! Jadi, sangat mudah jika ia ditargetkan.


Musuh keluarga Van Hallen bukan satu atau dua orang saja, mulai dari rekan bisnis, keluarga, musuh terang-terangan hingga diam-diam menghanyutkan. Sakinah masih terlalu polos untuk dunia bisnis, tidak cekatan seperti Sekar, walaupun sudah diajarkan oleh Sekar, tetapi Sakinah bukan tipe wania yang memiliki kepintaran dalam dunia bisnis, ia akan selalu menjawab. ‘Jangan berburuk sangka!’


Saat sarapan tadi pagi dimeja makan,


“Aku akan meminta David menjemputnya!” cegah Andrean saat Sakinah mengulang meminta izin untuk kedua kalinya. Pertama tadi, ia telah minta izin saat memasangkan dasi di dalam kamar, Andrean menjawabnya dengan menggeleng saja.


“Tidak, Pa! Ada Paman Barend yang akan menjemput!” Arsen berkata pada Andrean.


“Daddy datang ke Belanda ada keperluan Mom, masalah perusahaan. Daddy dan Miss akan langsung datang ke mansion jika semuanya sudah selesai.” jelas Arsen.


“Lalu?”


“Sementara ini, Daddy dan Miss akan tinggal di apartemenku dulu.”


“Oh,” jawab Sakinah pasrah. Suami dan anak pertamanya sudah melarang, yang artinya kedua anaknya Arhen dan Ardhen pasti juga akan ikut-ikutan melarang.


Ia hanya bisa mendesah. Redha suami adalah redha Tuhan!


**


Anak-anak sudah sampai di sekolah masing-masing. Ardhen sibuk dengan bahan-bahan olahan. Kini mereka sedang belajar bagaimana membuat makanan Jepang. Bisa dibilang, Ardhen hanya belajar pelajaran umum hanya 4 kali dalam seminggu dalam durasi 2 kali mata pejaran, kurang lebih 70 menit satu kali pertemuan. Selebihnya sampai sore hari ia pulang, setiap harinya hanya belajar tentang memasak!


Arhen tengah meletakkan jarinya di piano, beberapa kali ia mendesah.


“Kenapa kami harus belajar alat musik, Guru?” tanya Arhen menatap sang guru.


“Menjadi artis, sesuatu yang cukup berat, kita yang tampil didepan umum, dituntut untuk sempurna, penampilan, kepintaran, keahlian dan kelincahan.” terangnya.


“Mungkin kalian akan menjawab, aku hanya seorang model, tugasku hanya berfoto, jadi aku hanya merawat tubuh, tak perlu merawat suara. Lalu, jika kalian menjadi penyanyi, apa kalian hanya akan merawat suara?” tanyanya.


“Tentu saja harus merawat penampilan juga Guru, kita harus menyanyi diatas panggung, dilihat banyak orang!”

__ADS_1


“Begitu pula dengan model, suara yang dirawat akan terdengar seksi, bukankah jika model akan sering diwawancara juga? Akan bertemu dengan banyak orang juga? Lalu ... seorang yang memainkan drama, apa mereka cuma harus mengandalkan aktingnya?”


“Menjadi artis, harus menjaga semuanya. Artis diperuntukkan untuk kalayak ramai. Sikap, tampilan, suara, semuanya akan dicontoh dan ditiru masyarakat. Semakin populer, semakin banyak fans, semakin tinggi pengaruhnya. Apakah kamu ingin menjadi artis yang selalu bersinar? Dengan menjadi Artis berbakat?”


“Kamu mengerti maksud Ibu 'kan?”


“Iya Bu, aku mengerti. Walaupun aku tidak suka bermain musik, setidaknya aku harus mencoba, mengenal dan mengetahuinya karena aku adalah artis, orang yang akan tampil di depan umum.”


“Jika aku ingin bersinar lama, aku harus memiliki bakat dan kemampuan lebih.”


“Pintar!” pujinya mengelus kepala Arhen.


Sedangkan Arsen, ia duduk santai dibangku paling belakang kelas. Di depannya ada dua laptop! Satu laptop sekolah, yang satu lagi laptop pribadinya. Ia sejak tadi telah menyelesaikan tugas yang diberikan guru.


Teman-temannya yang lain belum ada yang selesai, pelajarannya sangat mudah bagi Arsen, membuat table di Microsoft Excel dengan beberapa data-data angka.


Ia di izinkan memainkan laptop karena telah selesai melakukan tugas, namun tidak boleh berisik menganggu teman yang belum selesai membuat tugas.


Ia memeriksa aplikasi game yang ia rancang, kemudian beberapa email. Namun tiba-tiba ada info bahwa seseorang mencoba masuk ke akunnya! Ia klik tanda pengingat itu, terpampang titik peretasnya. Di peta menunjukkan titik peretas berada di Perusahaan Antaman Wizgold!


Arsen mulai mengotak-atik laptopnnya! Ia klik enter!


Ia langsung menyerang situs nakal yang mengintipnya! Ya, Andrean, ayahnya sendiri.


“Pengintip adalah pencuri!” Ia kirim pesan.


**


Wanita yang bernama Jesylin itu telah menghubungi Barend sejak semalam, namun pria itu baru tahu setelah paginya karena ia sibuk bermain cinta sepuasnya bersama Sopia.


Barend bertemu dengan wanita itu di restoran Morning Fast, ia telah memesan minuman Capucinno hangat, bersama roti bakar mayones.


“Silahkan duduk, Tuan Barend. Mari pesan makanan dulu, saya sudah memesannya terlebih dahulu tadi.”


“Cofffee Late tiramisu!”


Mereka berbincang-bincang cukup lama, sesuai intruksi Arsen, Barend harus menggoda Jesylin hingga wanita itu membeberkan beberapa hal penting ditempat ia bekerja.

__ADS_1


“Apa hari ini kamu libur sehari penuh?” Barend bertanya dengan tatapan mautnya menatap manik mata Jesylin penuh damba.


“Iya, saya hari ini libur! Kenapa?” jawabnya masih dengan jual mahal.


“Bagaimana kalau setelah dari sini, kita jalan-jalan! Mungkin melihat baju, sepatu atau tas yang kamu suka.” ajak Barend.


“Baiklah, jika itu maumu!”


Setelah itu, mereka jalan-jalan di Mall, berhenti dibeberapa toko, Jesylin memilih beberapa dress untuknya, tas dan sepatu bahkan ia meminta cincin emas segala!


‘Matrealis juga!’ gumam Barend. Ya, barang-barang yang ia ambil bukan main harganya.


Tentu saja, ada barang, ada sipenjual dan pembeli 'kan? Ada pemberi dan penerima! Begitulah kamus Barend.


Setelah puas berbelanja, ia langsung mencium bibir Jesylin saat memasang sabuk pengamannya, benar-benar modus! “Kau cantik dan sexsy, aku sungguh terkesima melihatmu, rasanya aku tak ingin jauh darimu, maukah kau menemaniku lebih lama lagi, Cantik?” tanyanya saat melepaskan pagutan bibirnya.


Jesylin mengangguk, Barend tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ya, setidaknya uang keluarnya setimpal dengan rasa baru bukan? Wanita ini belum pernah ia cicipi.


Dan ... berakhirlah mereka di atas ranjang bergoyang hotel!


“Puloh itu bagaimana memperlakukanmu Cantik? Apa dia juga pernah menyentuhmu? Dimana?” tanya Barend masih menggoda Jesylin yang terkulai lemah, ia menunjuk dada wanita itu.


“Hm.” jawabnya, sepertinya ia sangat kelelahan.


“Apa kamu pernah bercinta juga dengan Puloh?” tanya Barend.


“Pernah, awalnya aku diperkosa, tapi lama kelamaan aku suka.” jawabnya.


“Apa kamu tidak marah?”


“Marah, tetapi aku tak berdaya!”


Barend terdiam, berpikir keras.


“Apa dia pernah bermain bersama wanita lain selain kamu?”


“Kenapa bertanya dia terus, aku sungguh tak menyukai dia, jangan cemburu lagi!” Jesylin langsung merengkuh ceruk leher Barend, lalu mencium bibir pria itu.

__ADS_1


“Dia itu lelaki buruk, hampir semua karyawan yang menurutnya cantik, akan ia paksa bermain bersamanya.” lanjut Jesylin setelah melepaskan peraduan bibir mereka.


__ADS_2