
Arsen kini sering tidur di perusahaan, jarang pulang ke mansion, terkadang ia tertidur dengan bertumpu meja, Vindo memindahkannya ke atas sofa atau kamar tidur kecil khusus, di dalam ruangan presdir itu. Tugasnya semakin banyak, mulai dari perusahaan yang semakin melebar dan sukses, hingga masalah perasaan cinta terpendam nya.
Semakin tinggi dan sukses seseorang, semakin tinggi pula ujian dan cobaan, ibarat pohon yang tumbuh, semakin ia tumbuh tinggi, semakin kencang angin menerpanya, menghembusnya, ia harus menguatkan akarnya berpijak di tanah, agar saat tertiup angin kencang tak tumbang. Begitu pula Arsen, ia semakin memperkokoh kekuatannya, kemahiran dan kelihaiannya dalam mengelola perusahaan perhiasan dan game milik pribadinya.
Belum lagi anak-anak perusahaan yang ia ambil alih seperti Lawsen yang semakin berkembang dan produk-produk nya laris, perusahaan besi miliknya di Batam, Indonesia juga. Beberapa perusahaan kecil yang menaung dibawah nama Ar3s. Akan tetapi, ada beberapa pihak yang sengaja mengacau jaringan perusahaan, membobol data. Arsen berupaya melakukan pencegahan itu agar tak terjadi hal berbahaya.
Arsen termenung keras, dulu waktu ia masih kanak-kanak, ia ingin menjadi orang besar, dewasa, memiliki kehidupan dan kekuatan tanpa menyusahkan orang lain. Namun, kenyataan nya ia tetap saja membutuhkan orang lain, tak ada manusia yang tak membutuhkan orang lain seberapapun kuat, kaya, hebat, dan pintarnya dia.
Dia memijat keningnya sejak tadi, kepalanya terasa sakit sebelah, karena semalam begadang lagi, ia belum tidur sepicing pun, padahal kini sudah jam 8 pagi. Vindo bahkan tertidur dengan keadaan laptop menyala bertumpu meja.
Hans sudah datang, ia semalam di suruh pulang ke apartemen oleh Arsen, ia khawatir pada Roselia yang sering diantar jemput oleh Rayyan, ia sangat sebal sekali, tapi ia tak bisa berkutik, memangnya dia siapanya Ros? Begitulah harga dirinya terus muncul, bertanya-tanya tentang siapa dia!
“Tuan Muda, silahkan istirahat, Anda harus tidur, setidaknya 6 jam. Akan tetapi, lebih baik Anda tidur 8 jam lamanya. Anda harus tetap sehat, mari istirahat, saya sudah membersihkan dan merapikan kamar kecil itu!” Hans mengingatkan Arsen.
“Pesankan sarapan dulu. Aku akan makan dulu sebelum tidur!” jawab Arsen kemudian.
Wajahnya sudah sangat lesu, mata pandanya tampak jelas, rambut hitam legamnya sudah mulai panjang, melewati alis matanya, karena ia tak sempat merawat diri. Ya, Arsen memiliki rambut dan bulu-bulu yang lebat dan subur, sehingga setiap minggu, dia harus memotong rambutnya.
“Baik, Tuan Muda,” Hans pun segera memesan makanan.
__ADS_1
Arsen memastikan jaringan yang ia kerjakan bersama Vindo semalam, sudah aman dan terkunci. Kini, ia mematikan laptop, serta laptop yang ada di depan Vindo juga. Arsen berjalan ke arah sofa di ruangan itu, memilih bersandar, meluruskan pinggang dan punggungnya.
Matanya masih sayu, bahkan terasa perih karena belum tidur. Hatinya selalu saja tak tenang, lagi-lagi, ia melihat media sosial, melihat sosok Ros yang tersenyum bahagia membuat senyumnya terkembang pula, rasa lelah pun menguap, tetapi saat menscrol foto selanjutnya, pasti ada nyamuk pengganggu yang membuat ia berdongkol, siapa lagi kalau bukan Rayyan, dan kali ini pria itu berfoto dengan merangkul bahu Ros.
Arsen menghela nafas panjang, menyandarkan kepalanya juga di sofa, memejamkan mata sambil memijat kening, mengingat kejadian di masa lalu.
‘Apa alasan Paman menukar target?” tanya Arsen menatapnya Barend Elmo tajam.
‘Jawab! Kenapa diam saja!’ Plak! Arsen melempar beberapa lembar berkas yang ia pegang ke wajah Barend.
Mendengus kesal. 'Apa Paman tertarik dengan wanita itu?' Arsen bertanya kembali, Barend tetap diam, ia tak bisa menjawabnya.
Kini, ia baru menyadari apa itu cinta? Perasaan apa yang dirasakan orang kepercayaannya, Barend Elmo. Membuat seseorang berpikir kacau. Dulu, ia selalu mengatakan cinta Mom, cinta yang ia rasakan itu berbeda antara pada Ibunya dengan wanita ia taksir.
Roselia, ia ingin memiliki wanita itu sepenuhnya.
“Ya Allah, aku sangat sombong dan angkuh dulu pada Paman, kini sepertinya aku dapat karma! Aku merasakan yang namanya cinta dan aku terjebak akan cinta itu, aku terjatuh terlalu dalam, hingga aku tak bisa bangkit dan kabur dari jeratan itu!” gumam Arsen pelan.
Ia menghela nafas panjang, “Belum lagi aku sering memarahi Kak Hans, meminta kesempurnaan dalam kerjanya, aku menganggap semuanya gampang. Kini, aku merasakan apa itu bekerja yang sesungguhnya! Dulu, aku hanya menyuruh, memerintah, dan mengatur, Kak Hans dan lainnya yang menjalankan. Sungguh berdosanya aku!” ucapnya mengeluh pada dirinya sambil mengeluarkan helaan nafas kasar.
__ADS_1
Kalimat terakhir itu terdengar oleh Hans yang sedang memegang sarapan. Dia tersenyum.
“Tuan Muda, menjadi dewasa itu adalah sebuah proses, tidak ada seorang anak yang akan langsung bersikap bijak dan benar, dia pasti akan melakukan beberapa kesalahan sebagai pengalaman dan pelajaran dalam hidupnya. Selama proses itu berlangsung, hati dan pikiran kita akan selalu mempertimbangkan, mengingat beberapa kejadian di masa lalu, itulah kenapa kenangan selalu membekas dalam pikiran dan relung hati. Sesuatu yang buruk atau indah, akan selalu tersimpan.” Hans duduk di samping Arsen, meletakkan makanan di atas meja di depan sofa itu.
“Di sini, untuk memikirkan mana yang buruk!” Hans menunjuk kepalanya. “Dan di sini, untuk menimbang, apakah pantas dan tidak pantas, apakah bisa dan tidak bisa!” lanjutnya meletakkan tangannya di dadanya sendiri.
Arsen menoleh padanya, Hans pun tersenyum. “Dan di sini, tumbuh rasa kasih sayang serta cinta. Cinta kepada Tuhan, Makhluknya dan sesuatu hal. Proses dewasa itu, menggunakan pikiran untuk menilai baik dan buruk sesuatu, menimbangnya dengan hati, apakah pantas dan tidak pantas. Jika sudah bisa, berarti Tuan Muda sudah dewasa.”
“Hm,” Arsen hanya menjawab dengan bergumam.
“Sekarang, ayo, makan!” Hans pun mulai membukakan kotak makanan yang ia letakkan di atas meja tadi. Memberikannya pada Arsen bersama sendok di dalam kotak itu.
“Kakak juga makan!” Arsen menatap makanan yang masih tertutup satu lagi, tak di buka Hans.
“Tidak, tadi aku sudah makan nasi goreng buatan Ros, dia membuat nasi goreng tadi pagi. Aku akan memakan makanan ini nanti saja!” jawab Hans.
Arsen menatap Hans lama dengan serius. “Kakak tahu 'kan kalau aku suka nasi goreng? Nanti kalau Ros buat nasi goreng lagi, tolong bawakan untukku. Aku sangat jarang memakan nasi goreng sejak di Belanda ini, jika tidak request pada Ardhen, maka tak akan bisa memakannya. Berbeda saat di Batam dulu, siang malam, kapanpun bisa cari nasi goreng, kadang Mom juga buatkan kami nasi goreng putih dengan telur yang dikocok di dalamnya!” ujar Arsen pada Hans.
‘Dan tentunya aku sangat ingin mencicipi makanan wanita yang aku sukai,' gumam Arsen dalam hati melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Baik, Tuan Muda. Maafkan saya yang lupa ini, tetapi malah menceritakannya pada Anda.”