
“Padahal aku belum selesai berbicara, kau sudah menyambar saja.” ucap Berend terkekeh kecil. Hans diam mengabaikan.
Pria bertatto ini tak terlihat seram jika dekat dengan Hans dan Arsen, padahal banyak orang takut pada tampang dan sikapnya. Jika ditanya kenapa Hans tak takut? Ayahnya lebih seram di Indonesia, setiap hari memakai skincare oli, pemarah dan para preman komplek adalah bawahannya. Ibunya juga tak kalah berani, emak-emak daster pemberani yang berani mengejar para preman dengan senjata andalannya, sapu dan sapu lidi.
Mungkin, karena terbiasa melihat tampang sangar orangtuanya atau ia terlalu terkejut mendapatkan atasan seorang anak kecil, bukankah itu adalah hal mustahil dalam otak normalnya?
“Kenapa anak ajaib itu bisa memilihmu menjadi Asiten pribadinya, ya? Aku penasaran apa sih kehebatanmu.” ucap Barend menatap Hans penuh selidik, melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki Hans.
“Hampir setiap kali kita bertemu, Tuan mengatakan itu, apa Anda tidak lelah mengucapkan kata yang sama setiap kalinya padaku?” sahut Hans.
“Hahaha, terkadang sikap kau hampir sama seperti Arsen. Apa itu yang membuat dia merasa cocok denganmu?” gumamnya masih menyelisik.
“Ya sudah, aku akan kembali.” sambungnya lagi setelah mendapati tatapan tajam Hans.
Berend pun memilih beranjak pergi sembari terkekeh. Hans hanya bisa menggela nafas panjang.
‘Apakah Orang Kaya dan Genius itu hidupnya seribet ini? Mengurusi semuanya, termasuk kehidupan orang lain? Main rahasia-rahasian?’ gumamnya sembari menghela nafas.
Hans kembali memilih mengerjakan pekerjaannya yang bisa ia lakukan di apartemen ini.
______________
Semenjak Andrean menjabat menjadi CEO di perusahaan yang dikelola orangtuanya itu diserahkan sepenuhnya padanya, beberapa orang ada yang meragu, namun beberapa orang mulai lebih merapat pada Andrean, apalagi para pebisnis licik dan perempuan yang mata duitan.
Menurut banyak orang, lebih mudah mendekati Andrean dari pada Dedrick, sehingga para pebisnis yang memiliki putri, mendekatkan putrinya dengan Andrean.
Hari-hari dilalui Andrean dengan sungguh-sungguh, ia bekerja dengan rajin dan giat, ibarat beban sudah ada dipundak, mau tak mau ia harus memikulnya jua. Malam ini, ia kembali pulang terlambat, Sakinah dengan wajah bangun tidurnya menyambutnya yang baru pulang kerja.
“Kembalilah tidur.” ucap Andrean pada Sakinah saat ia menutup pintu kamar setelah baru masuk.
Sakinah tak mengindahkan perkataan itu, ia masih berusaha menyambut Andrean, mendekat dan membantu melepas kancing bajunya.
“Aku bisa sendiri.” ucap Andrean lagi, ia menghindarkan wajahnya dari tatapan Sakinah.
“Kamu pulang bekerja?” tanya Sakinah masih menatap Andrean.
__ADS_1
“Iya, tetapi tadi aku diajak teman minum. Hanya sebentar sungguh, hanya 3 gelas, aku tidak bermain perempuan, sumpah!” jelas Andrean menegaskan.
Sakinah hanya diam, lalu ia tundukkan pandangannya, kembali melanjutkan membuka kancing kemeja.
“Maafkan aku....”
“Kamu tak salah padaku, hanya saja ... kamu melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Larangan itu bukan untuk Allah, semua itu untuk dirimu sendiri, untuk kesehatan tubuhmu. Allah tidak butuh, apakah makhluknya melakukan perintah atau mengerjakan larangannya, yang butuh itu kita sendiri. Minta maaflah pada tubuhmu sendiri dan mohon ampunlah pada Allah.”
“Minuman yang memabukkan banyak mengandung penyakit, ada yang bilang katanya bisa membunuh cacing dalam perut ataupun lainnya, minuman itu membuat tenang dan menghilangkan masalah, benar atau tidaknya aku juga tak tahu, tetapi coba tanya kembali ke hati dan pikiran kita sendiri. Apakah benar setelah minum masalah hilang? Tidak, masalah masih tetap ada. Masalah hilang itu jika kita punya penyelesaiannya, mungkin dengan cara mempelajari masalah itu apa? Atau minta maaf jika bersalah pada orang, atau jika terlalu berat, kenapa tidak memohon petunjuk dan berdo'a kepada Allah.”
“Sebenarnya sebelum adanya Larangan itu ada, pasti sebelumnya sudah ada perhitungan antara mana yang banyak baiknya atau buruknya.”
“Jika meminum sesuatu yang memabukkan sampai mabuk, seberapakah besar kemungkinan bahayanya? Apakah cuma sekedar teler? Jalan sempoyongan dan ngigau? Tidak! Tetapi orang teler atau setengah sadar itu bisa membunuh dan memperkosa orang.”
Deg!
Tentu saja perkataan itu membuat Andrean seolah tertampar hatinya, ia memperkosa Sakinah saat mabuk, sehingga istrinya itu memiliki dua orang anak kembar, Ibunya meninggal dunia, dirinya diusir saat sedang hamil dari kampung.
“Ya, syukur jika itu tidak membuatmu mabuk, tetapi akan jauh lebih baik kamu hindari. Aku tak memaksamu, tapi jujur, aku tak suka laki-laki yang suka melakukan larangan Allah.” tutur Sakinah.
“Maaf, aku belum bisa menjadi laki-laki impianmu.”
“Aku tidak sedang mencari pria impian, aku sudah memiliki pria pemimpin hidupku, aku sedang menunggu ia menggenggam dan menuntunku mengejar dan menyatukan impian bersama dalam kebaikan.” jawab Sakinah.
Andrean melepaskan pelukannya, ia pegang erat lengan Sakinah, ia tatap wajah wanita itu dalam.
“Apa kau mencintaiku?” tanyanya menatap serius.
Sakinah menatapnya, hingga hitungan beberapa detik, mereka saling menatap manik mata satu sama lain.
“Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.” sahut Sakinah.
Andrean terdiam, tangannya melemah, melepaskan pegangan dilengan Sakinah perlahan. “Lalu, apa maksudmu menunggu agar bisa meraih impian bersama?”
“Bukankah kita sudah menikah?”
__ADS_1
“Maksudmu, kita ... karena hubungan pernikahan?” tanya Andrean dengan senyuman hambar. “Pernikahan kontrak yang hanya akan terjadi selang dua tahun?” gumamnya pelan namun terdengar jelas oleh Sakinah.
“Aku lelah, aku mandi dulu.” ucapnya, ia raih handuk dan masuk ke kamar mandi.
Sakinah hanya menatap punggung Andrean yang masuk ke kamar mandi.
____________
Arsen sedang menatap 4 laptop yang sama-sama menyala. Ia menggunakan kacamata khusus yang ia pesan pada ahli optik. Kacamata yang terbuat dari lup, kaca pembesar yang bisa membuat mata lebih segar, rekomendasi dari sang ahli untuk Arsen yang sering menatap monitor laptop dan layar hp.
Laptop yang satu, isinya tentang data laptop Irfan yang tersalin otomatis, laptop satu lagi kosong melompong, seharusnya sudah ada data atau apapun yang masuk ke dalam laptop itu.
“Apa Papaku itu akhirnya menyadari jika laptopnya telah ... hm, apa yang harus aku lakukan selanjutnya lagi ya?” gumam Arsen.
Laptop berwarna keemasan, ia tatap itu, email dari Arhen, adik laki-lakinya. Ia buka pesan itu, beberapa foto Arhen dengan berbagai macam model gaya, bahkan adik laki-lakinya sudah memakai contoh cincin dan jam tangan buatan perusahaan Antaman Wizgold.
‘Aku tak bisa memakai kalung itu, kalung itu hanya digunakan untuk model perempuan.’ Pesan di bawah kiriman foto itu.
Kenapa Arhen, Ardhen dan Arsen lebih sering menggunakan pengiriman data penting, pesan penting atau foto penting ke email? Mereka menaruh curiga dan kewaspadaan tinggi, jika mengirim pesan melalui Wa. Menurut mereka, itu bisa saja kecolongan peretas atau diperiksa Sakinah. Email lebih aman, tak ada yang akan bisa membuka, jika ia memberi pola atau mengunci hp dengan rahasia yang tak diketahui Sakinah, Ibunya itu akan menanyakan banyak hal dan menaruh curiga pada mereka.
“Ok!” jawab Arsen.
Sedangkan laptop yang satu lagi, laptop tentang data perusahaan Ar3S, ia hanya memeriksa saja, semuanya telah diserahkan pada Hans dan Berend.
Arsen tersenyum, semuanya berjalan dengan baik, kemudian ia mematikan dan menutup keempat laptopnya itu.
“Paman, tolong ambilkan air untuk kompres.” pintanya pada Bodygourdnya Xander Pim.
“Siap, laksanakan, Tuan Muda. Silahkan tunggu sebentar.” jawabnya. Arsen mengangguk.
Arsen keluar dari ruangan, ia berjalan, duduk diruang santai, lalu memilih berbaring di sofa.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?” tanya Hans yang tiduran di bawah sofa yang dialas dengan tikar biludu.
“Tidak, silahkan istirahat Kak, kamu sudah lelah bekerja. Ada Paman Xander kok.”
__ADS_1
...***...