Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Sarapan Pagi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali. Aini telah terbangun, rupanya Arhen juga terbangun lebih dahulu, pemuda itu telah mandi dan tampak memakai pakaian rapi, mengambil sarung dan sajadah dalam lemari.


“Mau sholat, ya?” tanya Aini, dia masih duduk malu-malu di ranjang.


“Iya, kamu mau sholat denganku?”


“Iya!” Aini segera mencuci muka dan berwudhu.


Setelahnya, mereka shalat berjamaah di kamar hotel itu. Arhen mengaji beberapa ayat, setelahnya ia bergegas mengganti pakaian, mengeluarkan beberapa lembar kertas dan membacanya.


“Hm, Nur, sebentar lagi Lucas akan masuk ke dalam kamar, apakah kamu mau mandi sekarang? Atau mau mengganti pakaian saja?” Arhen bertanya.


“Aku akan segera membersihkan diri!” Aini segera mandi dan memakai pakaiannya di dalam kamar mandi. Setelahnya dia keluar dari sana.


Arhen masih tampak serius membaca kertas-kertas itu. “Kau sudah selesai? Aku akan menyuruh Lucas segera datang!” Arhen kemudian langsung menelfon Lucas.


Tak lama, Lucas masuk bersama tiga orang, satu orang masih berdiri diluar dengan dorongannya, sedangkan dua orang lagi bergegas mengganti seprai baru dan merapikan ranjang, menyapu kamar dan memeriksa kamar mandi, menukar aromaterapi baru dan handuk baru.


Setelahnya, orang yang diluar tadi mendorong troli yang ia bawa. Di atas troli meja itu banyak makanan yang tertutup. Dua orang lainnya tadi langsung menghidangkan di atas meja di bagian pojok kamar hotel yang berdinding kaca, yang mempertontonkan indahnya pemandangan di luar sana.


“Silahkan dinikmati Tuan, Nona, permisi!” Mereka bertiga pun berlalu pergi.

__ADS_1


Arhen langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah meja yang dihidangkan makanan. “Ayo, kita sarapan dulu, Nur!” ajak Arhen, Aini pun berjalan mendekat.


Aini melirik Lucas yang tampak merapikan kertas yang berantakan karena dibaca Arhen tadi, lalu tampak merapikan pakaian yang tadi ia bawa ke dalam lemari, kemudian memasukkan beberapa alat make up, handuk kecil, tisu, minyak kayu putih, obat, dan pakaian ganti ke dalam sebuah tas.


“Apa dia tidak ikut makan?” Aini bertanya.


“Tidak! Dia sudah sarapan di kamarnya. Mari kita makan!” Arhen tampak serius melahap sarapannya, tak banyak bicara dan tersenyum seperti semalam.


“Oh, ya, aku akan pergi untuk syuting dan pertemuan setelah ini. Mungkin pulangnya malam atau besok, tetapi aku usahakan cepat untuk pulang setelah syuting nya selesai. Makanan akan diantarakan setiap jam 11, jam 2, dan jam 6 sore ke kamar ini. Jika kau ingin pergi kemana-mana, tolong kabari aku.”


“Iya.”


“Lucas, kau sudah membuatkan kartu itu 'kan?”


Lucas langsung mengambil kartu debit dan kartu ATM, memberikannya pada Arhen. “Nih, pegang dan bawalah kemanapun kamu pergi, kartu ini untuk kamu berbelanja dan membeli sesuatu.” Arhen meletakkan dua kartu di atas meja, lalu dia berdiri, merapikan penampilannya.


“Bagaimana tampilanku? Masih ada yang perlu dirapikan?” tanyanya pada Lucas.


“Kau bangun tidur saja sudah tampan, apa yang harus dirapikan!” celetuk Lucas.


“Ya sudah, ayo kita pergi!”

__ADS_1


“Aku kerja dulu, ya!” Arhen menatap Aini.


“Iya!” Aini juga berdiri, kaku, dan diam.


“Hm, kau tidak ingin menyalami tangan suamimu?”


“Iya!” Aini segera berjalan dan mencium punggung tangan Arhen.


“Aku pergi dulu, jaga diri baik-baik.” Aini mengangguk, mereka berdua pun kembali canggung.


Arhen dan Lucas keluar dari hotel. Hari masih jam 6.30 pagi. “Apakah tadi kita sarapan tidak terlalu pagi? Biasanya orang sarapan jam 7?” tanya Arhen pada Lucas.


“Aku sengaja memesan makanan pada manager karena kita akan menempuh perjalan darat cukup lama, kamu 'kan tidak bisa makan di atas mobil, Tuan Muda! Sedangkan kita harus sampai di lokasi jam 8, mana sempat beli sarapan dan berhenti dulu!” jawab Lucas.


“Hm, Oh ya, Tuan Muda. Kenapa tadi bukan Anda yang mencium tangan istri Anda?”


“Di Indonesia memang begitu, cara menghormati dengan mencium tangan suami, ibu, dan orang yang lebih tua dari kita, bukan hanya tangan seorang gadis atau lady bangsawan,” jelas Arhen.


“Oooh!” Lucas menganggukkan kepalanya.


Di depan hotel, sebuah mobil berwarna hitam dengan seorang sopir yang memakai jas hitam telah menunggu sejak tadi. Arhen dan Lucas masuk ke dalam mobil itu, lalu dua mobil mengiringi mereka, sepertinya mereka adalah orang yang di sewa untuk mengawal Arhen oleh panitia pelaksana acara.

__ADS_1


__ADS_2