Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Persiapan


__ADS_3

Dalam waktu dua minggu ini, semuanya terlihat sangat sibuk, Andrean mengejar semua target yang harus diselesaikan di kantor, sehingga seseorang harus datang ke kantor untuk fitting baju seragam mereka sekeluarga. Wizza dan Sakinah juga sibuk memilih perhiasan dan decor mana yang disukai oleh anak-anak.


Undangan di sekolah Arhen dan Ardhen juga telah disebar, sedangkan Arsen tak mengundang siapun, ia masih merahasiakan jati dirinya sebagai keturunan Van Hallen dengan sifatnya yang dingin itu.


“Paman, sudah dipastikan kalau mereka akan membuat topeng untuk kami bertiga 'kan?” tanya Arhen pada David.


Arhen baru saja sampai dikantor Andrean.


“Sudah, Tuan Muda. Kini, mereka sedang membuatnya agar senada dengan baju yang akan dipakai saat acara nanti.” jawab David.


“Baguslah.”


“Ah! Masih lamakah Papa keluar? Kapan selesainya, sih?” Arhen menatap jam tangan ditangannya.


“Sebentar lagi akan selesai, mohon tunggu sebentar lagi, Tuan Muda.” jawab David.


Cukup lama Arhen menunggu, baru Andrean keluar dari ruang dapat, ia beriringan berjalan dengan Sekretarisnya yang bernama Alvin, pemuda yang baru saja bekerja 6 bulan ini bersamanya.


“Hm, ada tamu rupanya. Kenapa kau datang kemari anak kecil, apa kau bolos sekolah?” sapanya. Lalu, mengibaskan tangan.


David dan Alvin pun menunduk hormat dan keluar setelah melihat tangan atasannya itu terkibas.


“Enak saja, aku ini murid teladan yang pintar! Lihatlah, sudah jam berapa sekarang, ini sudah sore, memang waktunya pulang!” dengus Arhen.


“Ohh! Jadi kau datang kemari menjemputku pulang kerja. Kau merindukanku, Bocah?” tanya Andrean berjongkok, menggoda Arhen.


“Mana mungkin aku merindukan Papa! Aku kemari karena disuruh Abang!” Arhen berucap dengan membuang muka. Andrean terkekeh.


“Oh, begitu ya. Padahal Papa berharap ada yang rindu.” goda Andrean lagi dengan mengacak rambut Arhen.


“Papa! Jangan mengacak rambutku, ini adalah rahasia pesonaku!” Marah, lalu merapikan rambutnya segera.


‘Seperti ini ya, rasanya, saat Kakak bersama anak-anak, mereka lucu dan menggemaskan, pintar namun tetap polos.’ Andrean bergumam senyum-senyum sendiri.


“Papa!”


“Papa!” panggil Arhen.


“Hm!” Andrean menoleh, ia tersentak dari lamunannya.


“Malah melamun!” sungut Arhen.


“Iya, ada apa?” tanya Andrean sembari melonggarkan dasinya.


“Hm, sebenarnya kami ingin Papa kedua juga hadir perayaan ulang tahun kami, waktu itu Papa janji akan merayakannya bersama kami.” Arhen menundukkan kepalanya.


Andrean langsung menggendong tubuh Arhen, memangkunya.

__ADS_1


“Papa kedua sedang terapi, dia sedang berobat di Amerika, kita tidak boleh menganggunya, tunggu sampai Papa kedua sembuh. Dia pasti juga rindu, dia juga ingin merayakannya. Bukankah kalian juga sangat sayang sama Papa kedua, apa kalian tega membiarkan Papa terus sakit?” Andrean menatap Arhen lekat.


“Tidak! Kami selalu berdo'a Papa kedua segera sembuh dari sakitnya, jadi kita bisa segera berkumpul kembali.” jawab Arhen, ia menempelkan keningnya pada kening Andrean.


“Tetapi Pa ... kenapa Papa kedua masih bekerja di Amerika? Bukankah orang sakit itu harus tidur dan dirawat? Kasihan Papa kedua tidak ada yang merawatnya.” ucap Arhen pelan.


“Tenang saja, ada Aunty Calista menjaga dia di sana.”


“Aunty jahat itu?!” Arhen mengangkat kepalanya, menatap Andrean.


Andrean mengngguk.


“Kenapa Aunty jahat itu sih?! Memangnya gak bisa bawa Maid kita ke Amerika?”


“Sebenarnya Aunty Calista tidak jahat, dia hanya terlalu manja dan keras kepala, sebenarnya dia itu baik, bisa menjaga Papa kedua.” jelas Andrean.


“Hm, begitu ya.”


“Iya. Ngomong-ngomong, kamu suka makan batu, ya? Kok berat sih?” seloroh Andrean.


“Papa tuh yang lemah! Aku mana berat! Bahkan lebih berat sekarung semen dari tubuhku ini!” seru Arhen.


“Hahahaha!” Andrean tergelak.


“Wah, bibirmu maju seperti angsa yang ada di jembatan flowie itu loh. Bisa buat foto model deh.” lanjutnya lagi dengan terkekeh.


Brak! Pintu terbuka lebar dengan keras.


“Kakak curang! Bukannya kita sudah janjian akan pergi bareng!” teriak Ardhen yang baru datang.


“Adek lama sih pulangnya, masa pulangnya lebih sorean, capek nunggu!”


“Huh!” Ardhen melipat tangan di dada dengan cemberut.


“Papa, Adek juga mau digendong!” Mengulurkan kedua tangannya kearah Andrean.


Andrean menggendong Ardhen juga.


“Aku turun saja Pa, nanti bisa jatuh!” cegah Arhen saat andrean hendak menggendong.


Hap! Andrean sudah menggendong dua anak lelaki itu.


“Kau meremehkan Papa, ya!?! Dulu, Papa memiliki sabuk hitam, dan bisa mengangkat alat berat loh.”


“Ish, Papa narsis!”


“Bukan Narsis Dek, tapi hidup pameran!” celetuk Arhen.

__ADS_1


**


“Ma, bagaimana kalau yang ini.” Sakinah menunjuk salah satu gambar yang mereka lihat-lihat sejak tadi.


Sekar melihatnya seksama.


“Ya, ini bagus. Warna biru dengan perpaduan warna silver, bertema Doraemon.” ucapnya.


“Tapi ... cuma Arhen dan Ardhen yang suka ini. Sedangkan Arsen lebih suka warna merah dan hitam.” jelas Sakinah.


Sekar nampak terdiam cukup lama.


“Kalau begitu, mari kita cari lagi tema berwarna gelap dengan campuran merah.”


Sakinah diam sejenak, lalu kembali memilih.


Selang beberapa belasan menit, Sekar menunjung gambar dekor. “Bagaimana kalau ini.”


“Bagus, Ma.” jawab Sakinah.


“Hei!” Sekar memanggil seseorang yang sejak tadi sudah terkantuk-kantuk menunggu.


“Aku mau dekor biru silver ini untuk siang, lalu gelap ini saat acara malamnya. Bisa 'kan?”


Orang itu dian sejenak, lalu mengangguk. “Bisa Nyonya.” ucapnya kemudian.


“Kami akan mengadakan acaranya di Van De Utrech Hotel.” Sekar menyodorkan sebuah kartu tanda pengenal agar mereka bisa mensurvei alamatnya.


“Baik, kami akan melakukan yang terbaik.” Meraih kartu tanda pengenal itu.


“Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya, Nyonya Muda.” pamitnya.


Setelah orang itu berpamitan, Sakinah bertanya, “Kenapa Mama meminta dua dekor?”


“Karen cucu-cucu Mama memiliki karakter dan selera yang berbeda. Tidak masalah, ini adalah perayaan pertama cucu Mama, selama ini belum pernah dirayakan.” tutur Sekar.


“Seperti yang sudah Mama bilang sebelumnya, jangan terlalu bersifat sederhana, buat orang-orang otu mengunci mulut mereka, kau harus belajar tampil memukau, acara mewah dan megah. Lalu, bersenang-senanglah, habiskan uang Andrean. Siapa lagi yang akan menghabiskan uangnya jika bukan kamu dan anak-anak?” Sekar tersenyum, menampakkan deretan giginya yang rapi.


**


Arsen langsung pergi ke kantor bersama pengawalnya Xander Pim setelah pulang sekolah. Hans sepertinya sedang kewalahan akhir-akhir ini. Perusahaan Ar3S semakin berkembang, mereka membuka lowongan besar-besaran.


Jujur, Arsen dan Hans juga sama-sama baru, belum terlalu berpengalaman dalam mengelola perusahaan dalam lingkup besar. Tak pernah Hans berpikir karwayan yang awalnya ia pimpin 50 orang menjadi 500 orang, kini malah lebih dari 5000 orang. Untung saja Barend memiliki jaringan yang luas.


Ia awalnya seorang preman, lalu berhenti sejak ketua mereka tiada, namun Barend masih melebarkan sayapnya dan mengumpulkan orang-orang, sehingga ia memiliki banyak teman yang bisa mengintai, mencari orang-orang yang memiliki kemampuan.


Kini, Hans memiliki 2 orang bawahan yang bisa dipercaya, mereka rekomendasi dari Barend, lalu 3 orang lagi Hans pilih dari test.

__ADS_1


__ADS_2