
Jay mengayuh sepeda dengan emosi. Salah satu anak yang mengenal anak laki-laki berambut ikal tadi mengantarkan Jay.
Tadi, Jamila tampak melamun saat dia mengunjunginya. Anak itu menangis, berkata dia tidak berniat selingkuh. Tapi dia sudah menjadi istri orang lain dengan mahar layang-layang. Arhen sudah menjelaskan jika menikah bukan seperti itu. Menjadi istri tidak secara sepihak, harus ada wali dan orang besar. Akan tetapi, Jamila masih terpikirkan.
Menurut gadis kecil itu, Kakak dan Uda nya saja bisa menikah sembarangan tanpa dihadiri keluarga. Jamila tidak pernah melihat proses pernikahan dua kakak laki-lakinya, jadi menurutnya menikah itu jika diberikan sesuatu dengan perkataan kau istriku, itu sudah menikah.
“Malam Tek, Bilal Ado di rumah?”
“Bilal, kawan ang mancari a!” Ibu Bilal pun berteriak memanggil Bilal.
“Yo, tunggu sabanta!” Terdengar sahutan dari dalam.
“Oi, apo?” tanya Bilal setelah muncul.
“Ini, aku kembalikan layanganmu, jangan berkata seperti itu lagi. Besok minta maaflah pada gadis kecil yang kau katakan istri itu!” ancam Jay dengan sorot mata tajam, meletakkan layangan di atas meja teras.
“Katakan jika itu bercanda!”
Bilal, anak laki-laki berambut ikal itu terkekeh. Memegangi dagunya dan berkata. “Siapa bilang aku bercanda. Aku menyukai Jamila Ryker Van Hallen itu. Aku sudah mengagumi dirinya sebelum dia lahir ke dunia ini!”
“Apa kau bilang!” teriak Jay.
“Aku bilang! Aku akan menikahi Jamila Ryker Van Hallen binti Andrean Ryker Van Hallen!”
__ADS_1
Jay langsung menarik kerah baju anak laki-laki itu.
“Woi, apo ko?” Ibu Bilal datang. Diantara tiga anak laki-laki itu, Bilal, Jay, dan anak laki-laki yang mengantar Jay tidak menyahut.
“Bacakak gara-gara layang-layang?” tanya Ibu Bilal, dia mengira anaknya bertengkar karena layang-layang. Ibu itu mematahkan layangan bintang yang sudah diantarkan Jay.
“Ang masuak ka rumah, baraja! Kalian pulang!” usir Ibu Bilal pada Jay dan kawannya. Sedangkan dia menyuruh anaknya masuk dan belajar.
Jay sangat marah sepanjang perjalanan.
“Heh, makasih kamu sudah antar aku. Besok kalau kau jumpa dengan dia. Katakan pada dia, jangan ganggu Jamila.”
“Oh, Iyo!”
***
“Umi, benar yang Kakak bilang?” Jamila menatap Rukhsa.
“Iya, menikah itu jika orangtua dan keluarga saling mengetahui, terkhususnya pihak perempuan. Harus ada ucapan janji, tanda tangan, dan ada saksi minimal dua orang yang mendengarkan, ada penghulu yang tukang nikahkan, tentu saja maharnya bukan layang-layang.”
“Jadi, mahar itu berupa apa Umi?”
“Tergantung keinginan perempuan seikhlasnya,” jawab Rukhsa kurang fokus sambil mengaduk-aduk makanan.
__ADS_1
“Berarti bisa jadi layang-layang dong, kalau sesuai keinginan. Nces 'kan suka layang-layang itu!” protes Jamila.
“Tapi 'kan, layangan itu sudah dikembalikan Jay padanya. Sekarang Nces tenang ya, lebih baik kita makan, lauk umi enak loh!”
“Iya, ayo, makan!” Rukhsa mengajak mereka makan.
***
Di rumah Bilal.
Anak laki-laki yang lebih tua dua tahun dari Jamila, setahun lebih kecil dari Jay. Dia melihat foto seorang pria.
Pria itu adalah Shaleh Yusuf. Bilal adalah anak dari Tante Yusuf paling kecil. Dia menemukan surat tangan yang sudah kusam serta beberapa foto berwarna kuning dan hitam putih dari rumah gubuk kosong yang sudah lama ditinggalkan.
Di foto itu tertulis nama Sakinah. Beberapa surat yang bertuliskan tangan dengan tulisan tegak bersambung. Surat yang ditulis tidak pernah sampai pada pemiliknya.
Bilal anak nakal yang cukup pintar, berani dan keras kepala. Setelah dia membaca surat-surat yang sebagian telah termakan rayap itu, dia menjadi sedih dan tersentuh. Dia mulai bertanya siapa Sakinah.
Hingga ibunya bercerita, jika Keponakannya yang sama besar dengan umurnya jatuh hati pada wanita cantik di desa ini, tetapi gadis itu menikah dengan orang lain. Ibunya juga menceritakan tentang Arhen superstar menjadi anaknya dan perusahaan sawit itu adalah milik suaminya.
Tak lama, terdengar kecelakaan superstar itu, lalu kedatangannya ke desa. Diam-diam Bilal menyelidiki dan mencari tahu, akhirnya dia bertemu dengan Jamila.
Dia benar-benar terkesiap melihat gadis kecil yang cantik itu. Wajah seperti boneka hidup, bola mata biru abu-abu.
__ADS_1
“Jika Kak Shaleh tidak mendapatkan ibunya, maka aku akan merebut putrinya!” gumam Bilal membayangkan wajah imut Jamilla.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...