Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Uang Jajan


__ADS_3

Hans menjemput Arsen yang baru saja keluar dari sekolahnya. “Kenapa Kakak yang menjemputku, Paman Xander kemana?” tanya Arsen.


“Ada, Tuan Muda, itu dia. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Anda penting dan terdesak.” jawab Hans menunjuk Xander dan dua bodyguard lainnya sedang berdiri tak jauh dari mereka.


“Baiklah, mari kita bicarakan di dalam mobil.” Arsen beranjak terlebih dahulu dari sana.


Setelah masuk ke dalam mobil, Hans menghidupkan laptopnya dan menunjukkan beberapa data penting untuk Arsen. Kening anak itu berkerut beberapa kali.


“Aku kurang paham, akan lebih baik aku bertanya pada Papa terlebih dahulu!” jawabnya.


Arsen menghubungi Andrean yang sedang berada di kantor, mendapati putra sulungnya yang menelfon, Pria dewasa itu langsung bercermin, merapikan rambutnya, kemudian jasnya, agar terlihat keren.


David hanya bisa mengulum senyum, tindakan konyol ini pasti berhubungan dengan Sakinah dan tiga putra kembarnya.


“Hei, tumben, ada apa kau menelfonku, Anak Kecil?” ucapnya sok cool.


“Papa, bantu aku, aku kesulitan.” Wajah tampan Arsen berpura-pura kasihan dan butuh bantuan.


Andrean langsung serius dan mendekat, “Ada apa? Papa pasti membantu.”


“Janji?”


“Iya, papa janji.”


“Tolong kirim uang jajanku, 300 Milyar ke rekeningku Pa dan tolong bantu tekan perusahaan Puloh, ya.” Masih memakai wajah memohon.


“Dasar anak kecil pelit! Kau mau memerasku? Aku baru saja mengirimi kalian jajan beberapa hari lalu.”


“Papa, tadi 'kan sudah janji!”


“Dasar anak kecil licik!”


“Oh, karena Papa bilang aku licik, tolong ya Pa, beli kalung even jewelryku, ya.” sambung Arsen lagi.


“Hah, baiklah, aku kalah, aku akan mengirimnya sekarang dan membeli kalung itu sekarang!”


“Papaku emang paling tajir melintir dan baik hati. Hitung-hitung ini hanya baru sedikit uang dari uang yang Papa buang-buang untuk wanita-wanita tidak jelas itu loh, dulu... di masa lalumu.” ucap Arsen menyinggungkan senyuman, kemudian mematikan telepon secara sepihak.


“Astaaagaaa! Mulut bocah itu memanglah pedas! Sudah memalakku, setelah mendapatkan keinginannya, ia mematikan teleponnya sepihak.” gumamnya, tetapi malah tersenyum.


Ia senang jika Arsen bersandar padanya, Arsen meminta bantuannya. Bagaimanapun, harga dirinya sebagai Ayah akan hancur jika tak bisa membantu sang anak.


~~


“Woooooow, so sweeeeet!” seru Ardhen sambil memakan potongan buah apel dengan garpu.


“Issh, berisik tau gak Dek!” jawab Arhen. “eh, Abang kok belum pulang ya, Dek?”

__ADS_1


“Woy, kok diam aja?”


“Tadi kan Kakak bilang berisik, jadi sekarang diam.” jawab Ardhen.


“Kamu sejak memiliki banyak teman mulai durhaka sama kakak, ya!” Arhen langsung mendekat dan menjitak lembut kening Ardhen.


“Siapa yang mengajarimu membangkang? Abraham Holt? Cleo Nathan, huh?” Ia langsung menghenyakkan pantatnya di samping Ardhen.


“Gak membangkang kok, Adik lagi serius nih nonton.”


“Nonton apa sih?” Arhen melihat ke arah layar hp Ardhen.


“Eh, Paman Berend melamar wanita jahat itu?” Mata Arhen terbelalak.


“Kata Vindo, wanita jahat itu cinta pertama Paman, makanya Paman Berend kena cambuk sama Abang waktu itu.” jelas Ardhen.


“Cinta pertama?”


“Iya, jadi mereka udah saling suka gitu Kak sejak kecil, terus ada suratnya juga gitu.”


“Seperti Roselia?” tanya Arhen. Ardhen mengerutkan keningnya.


“Roselia 'kan cinta pertama Abang juga. Waktu itu, pertama kalinya Abang tersenyum mendapatkan hadiah. Bukankah itu juga disebut cinta pertama?”


“Hei, hei, anak kecil baru mau masuk umur 8 tahun sudah bahas cinta pertama, apakah itu tidak terlalu cepat?” Sakinah menyela ucapan dua anak kecil itu.


“Cinta pertama itu hanya boleh pada Allah, Rasulullah, kemudian kedua orang tua, keluarga. Jika nanti sudah dewasa, barulah boleh cinta pada makhluk Allah, itupun cinta karena Allah.”


Dua anak kecil itu malah semakin melongo, tidak paham.


“Kalian tidak paham, ya?” Sakinah tersenyum kecil.


Ia juga bingung menjelaskan, ia pun tak pernah berpacaran, masalah cinta, saat ia mencintai Ardi, itu hanya mengalir seiring waktu, begitupula kepada Andrean juga mengiring seiring waktu.


“Cinta itu sebuah perasaan yang terasa namun tak bisa dijabarkan, ia ada tapi tak tampak. Seperti perasaan kalian sama Mom. Kalian rindu, teringat, tak bisa jauh sama Mom.”


“Oh, begitu, berarti Roselia bukan cinta pertama Abang dong! Mereka saja berjauhan, gak saling rindu.” gumam dua bocah itu.


“Iya, cinta itu harus pertama pada Allah dulu, baru makhluknya, maka cinta itu akan menjadi indah.”


“Iya, kami paham Mom, karena Mom cinta Allah, makanya kami lahir, karena kami cinta Allah juga, Mom juga cinta sama kami 'kan?”


“Iya juga ya, kita bahkan setiap hari baca surat cinta Allah. Pantesan.”


Sakinah malah mengernyit tak paham. “Ah, besok, kita harus sering-sering baca surat cinta dari Allah, biar rasa cinta selalu ada di dalam dada kita.” Dua anak itu mulai mengangguk penuh semangat.


“Kalau begitu, sebelum tidur nanti aku harus baca 10 halaman surat cinta dari Allah, agar kita memiliki cinta yang indah.”

__ADS_1


Barulah Sakinah paham dan tersenyum kecil setelah mendengar kata sebelum tidur. Anak-anak akan mengaji beberapa ayat Alquran sebelum tidur biasanya.


~~


Arsen dan Andrean sama-sama baru pulang.


“Kok malaman pulangnya?” tanya Sakinah menyambut mereka berdua.


“Itu ada hal penting Mom.” Arsen menggaruk kepalanya. Andrean juga terlihat sama.


“Ya sudah, bersihkan tubuh dulu, terus makan ya, Mom tunggu.”


“Clara, bantu Arsen, ya!” perintah Sakinah.


“Baik, Nyonya.” jawabnya.


Andrean langsung masuk ke kamar dan diikuti oleh Sakinah.


Ia membantu Andrean membuka baju, lalu pria itu langsung masuk ke kamar mandi. Sakinah menyiapkan baju santai yang akan dipakai Andrean sembari menunggu.


Setelah selesai mandi, Andrean segera memakai pakaian yang telah disiapkan Sakinah. Jika awal menikah, dia sering memarahi Sakinah, karena menganggap pekerjaan seperti itu tugas pelayan. Kini, sikap Sakinah yang menyiapkan pakaian dan barang pentingnya adalah hal yang sangat menyenangkan baginya, ia merasa diperhatikan.


“Andrean, ada apa? Kenapa Arsen terlihat seperti berbohong? Kamu juga? Ada apa?” tanya Sakinah penuh selidik.


“Itu ... rahasia!”


“Hm?”


“Hehe, bukan begitu, bercanda, cuma masalah perusahaan, ada masalah, tapi sudah kami tangani kok.”


“Benarkah?”


“Iya, Sayangku.” Andrean mengelus wajah Sakinah, “Ayo, turun, aku sudah sangat lapar.” ajak Andrean.


Di bawah, Arsen sudah terlebih dahulu menunggu, sedangkan Andrean dan Sakinah baru turun. “Wah, kau cepat juga turunnya Nak, apakah kamu cuma cuci wajah dan tidak mandi?” celetuk Andrean.


Arsen mengabaikannya dan malah mengambil piring, lalu mengisinya dengan makanan.


...----------------...


Hai, terimakasih banyak ya, masih setia membaca anak genius itu anakku... Jangan lupa, tinggalkan like dan komentar 🌹


Oh, ya...


Mari baca juga ceritaku yang lain dengan judul Berondong Nakalku, cerita seorang remaja yang jatuh hati pada gadis yang jauh lebih tua darinya, cerita bergenre romantis (17+ bukan 21+) dan lucu. Cerita ini sudah tamat dengan 129 bab.


Cerita selanjutnya bergenre romance, hanya kisaran 60 bab sudah tamat, cerita sangat ringan, tanpa ada pelakor ataupun pebinor dengan judul Suami Dadakan (Janji masa kecil)

__ADS_1


Kedua cerita diatas juga sudah diaudibook loh,🎧


__ADS_2