
Andrean duduk di kursinya kerjanya sebagai Manager Personalia. Ia menatap layar monitor komputer yang berada didepannya, rekaman CCTV yang memperlihatkan Dedrick menggendong Arhen penuh kasih sayang berjalan di koridor kantor menuju kearah luar.
‘Kalian terlihat saling menyukai dan menyayangi.’ gumamnya sendu. Ada rasa cemburu terbesit dihatinya. Bukankah itu anaknya? Kenapa terasa jauh?
Ia memilih bersandar sejenak di kursinya sembari memejamkan mata, kemudian ia berdiri dan berjalan keruangan free smoking. Membakar cerutu di sana, beberapa kali mendesah sembari menghisap cerutu itu.
Ia tatap punggung tangan yang di cium Sakinah tadi, terukir senyuman kecil dibibirnya saat mengingat itu.
“Dasar wanita bodoh, kenapa dia malah mencium tanganku?” Berkata sendiri, tersenyum, menatap tangan itu terus.
Setelah menghabiskan cerutunya, Andrean beranjak pergi ke restoran, di sana ia memesan menu makanan kesukaannya.
Saat makanan telah terhidang, datang seorang wanita dengan body aduhai, padat berisi, tinggi mulus, montok markotop.
“Honey, i miss you. Cup!” Dengan santai, tak tau malu disiang bolong, wanita itu mengecup bibir Andrean.
“Bibirmu masih saja manis, aku sangat menyukainya.” Mengecup kembali bibir Andrean.
Tak puas, wanita tak punya malu itu duduk diatas Andrean dengan posisi meng*ngkang, padahal roknya sangat pendek. Ia letakkan tangan Andrean dipinggulnya. Mencoba menciumi bibir Andrean kembali. Cukup lama ciuman itu terjadi.
“Honey, aku menginginkanmu, bagaimana kalau kita bercinta setelah makan, aku sudah tak tahan.” ucapnya dengan tatapan lapar, bibirnya terus saja menggoda mengeluarkan suara yang dibuat-buat sexsy.
Siapa sangka kejadian itu dilihat oleh Arhen, padahal Dedrick sudah mencoba menutupi pandangan Arhen dengan tubuhnya. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Andrean di sini.
Arhen bangun, membuat Dedrick mendesah, menggenggam tangan Arhen. “No!” ucapnya saat melihat Arhen memegang gelas berisi minuman berjalan kearah Andrean duduk.
Arhen meletakkan gelas itu. “Ok. Tapi aku ingin menemui Papa pertama. Jika Papa melarang, aku akan membenci Papa!” ucap Arhen mengancam.
Sontak reflek tangan Dedrick terlepas, ia tak ingin dibenci oleh Arhen. Ia telah jatuh hati pada anak dan Ibu anak itu.
Arhen menepuk ****** wanita itu. “Hai Tante!”
Sontak mata Andrean yang tadi terpejam menikmati ciuman wanita itu menyalang sempurna, suara anak kecil yang sangat ia kenal.
Wanita itu masih saja melanjutkan aksinya, turun menciumi leher Andrean, ia masih mengira Andreanlah yang menepuk pant*tnya. Wajah Andrean memerah, merasa tak enak disaksikan anaknya sendiri. Ia mencoba mendorong wajah wanita itu dari lehernya.
“Honeeey...”
“Stop!” ucap Andrean.
Plak! Lagi Arhen menepuk ****** wanita itu. “Tante!” panggilnya.
Wanita itu menoleh.
“Ghooossst!!!” pekik Arhen dengan wajah ketakutan.
“Dia wanita iblis, mukanya sangat jelek dan hancur!” teriak Arhen lagi.
Wanita itu langsung bangun dari duduknya diatas pangkuan Andrean, bajunya yang berantakan saat berdiri tersangkut, entah kenapa bisa tersangkut? Sepertinya itu ulah Arhen saat mereka terlena berciuman.
Prank!! Piring dan gelas hancur saat wanita itu berdiri.
__ADS_1
“Ya Tuhan, dia adalah wanita jadi-jadian.” teriak Arhen kembali, lalu berlari menuju meja Dedrick.
Semua tamu yang tadi merasa malu dan jijik melihat kelakuan wanita itu, kini tertawa terbahak-bahak.
“Anak sial*n!” Wanita itu hendak mengejar Arhen. Namun tangannya dicegat oleh Andrean.
“Honey, aku harus menghukum anak itu. Dia telah mengganggu kesenangan kita!”
“Kau yakin?” tanya Andrean. Ia melihat kearah dimana Arhen dan Dedrick duduk.
“Tentu saja!” Wanita itu langsung berjalan, namun setengah perjalanan, ia langsung berdiri, melihat wajah anak kecil itu tersenyum mengejeknya. Wajah yang sangat mirip dengan pria dewasa disebelah anak kecil itu, kini pria dewasa itu sedang menatapnya dingin dan tajam.
“Tuan Muda Dedrick.” gumamnya. Ia lihat lama wajah anak kecil itu. Mirip, sangat mirip!
Ia kembali pada Andrean. “Honey, dia keponakanmu?” Andrean hanya diam tak menjawab.
Ia memilih pindah duduk dan meminta menu kembali.
“Honey, bukankah kau mengatakan kalau dia tak suka wanita? Kenapa dia memiliki anak?”
“Lalu?” Andrean menatap wanita itu tajam. “Kau menyesal mendekatiku dan ingin mendekati Kakakku yang posisinya CEO?”
“Bukan begitu Honey, aku hanya kaget saja.”
“Honey, bajuku kotor karena keponakanmu, aku harus membeli baju baru lagi.” Menjulurkan tangan pada Andrean.
Andrean memberikan kartu untuknya. “Belilah baju yang cantik.”
Arhen menatap jijik pada Andrean.
“Kenapa bukan kau saja yang menjadi Papaku, dia tidak pantas menjadi papaku!” Menoleh pada Dedrick.
“Itu sama saja 'kan, Papa kedua tetap Papa kalian. Ayo, sekarang kita makan.”
“Aku sudah tak bernafs* makan lagi.” ketus Arhen.
_____________
Di Mansion.
“Pak, ayo ganti letak CCTV itu! Apa kalian ingin mengintip aku tidur? Mengintip aku mandi?” Ardhen berkacak pinggang.
“Sayang ada apa ini?” tanya Sekar, ada Sakinah yang juga berdiri disampingnya menyusul.
“Grandma, aku tak suka CCTV itu di sana! Suruh dia memindahkan!”
“Bagaimana kalau ranjangnya di rubah, lalu lemarinya juga dimiringkan ke arah sini.” jelas Sekar.
“No, no, Grandma! Ranjang di sini sudah cocok banget. Di sana terlalu dekat dengan kaca, cahaya mentari langsung menembus mata kami.” Ardhen membuat alasan.
“Jadi, Ardhen maunya dimana?”
__ADS_1
“Pindahkan di sana, Grandma!” tunjuknya.
“Itu tidak bisa, bagaimana jika terjadi sesuatu.” Sekar tak setuju.
“Kalau begitu di sana saja.” usul Ardhen lagi.
Sekar terdiam cukup lama. “Baiklah.”
Sekar menatap Kepala Pelayan, mengangguk menyetujui.
Ardhen tersenyum kecil, rencana yang mereka susun berjalan sempurna. Arhen bisa mencaritahu tentang Andrean dan Dedrick, Ardhen menemukan seri CCTV.
Pekerja pun datang dan mengambil CCTV.
“Sini, Paman. Aku mau memegangnya.” Ardhen Memutar mutar kamera itu, menajamkan matanya, mengingat semua yang tertulis di kamera itu.
Ia tersenyum bahagia karena telah berhasil.
“Hm, tapi kalau dipikir-pikir Grandma, bagus juga di sana. Bagaimana kalau ada orang jahat yang ingin mencelakai kami, menculik dan menjual kami. Aku jadi takut Grandma.“ Ardhen memeluk Sekar seraya merengek seperti anak-anak ketakutan.
“Jadi, kita letakkan CCTVnya ditempat semula saja, boleh?”
“Boleh, Grandma.”
Petugas pekerja itu sempat mendesah kesal. Tapi bagaimana lagi, inilah pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian, semua orang telah pergi dari kamar, hanya tinggal Sakinah dan Ardhen.
“Apa Arsen meminta sesuatu dari CCTV itu?” tanya Sakinah.
“Ti-tidak Mom.” jawab Ardhen.
Sakinah menatap Ardhen lama, anak itu terus saja mengusap hidungnya, menggaruk ujung hidungnya.
“Mom tahu kamu sedang berbohong Ardhen.”
“Adik tidak berbohong Mom.” Semakin cepat Ardhen menggaruk ujung hidungnya.
“Sebentar lagi hidungmu akan membesar seperti hidung Petruk, panjang seperti hidung Pinokio.”
“Tidak! Adik gak mau Mom!” rengek Ardhen.
“Kalau begitu katakan pada Mom. Apa Abang meminta kamu melakukan sesuatu?” tanya Sakinah.
“Iya.” jawabnya menunduk.
“Abang minta Kakak dan Adik temukan seri CCTV, Abang khawatir sama kita. Jangan marahi Abang ya, Mom.” pintanya memelas.
Sakinah mengusap kepala Ardhen, memeluknya.
...***...
__ADS_1