
Malam hari.
Dedrick tidur di pangkuan Sekar, wanita itu mengusap kepala Putranya lembut dengan penuh kasih sayang.
“Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu ini?” tanya sekar masih membelai rambut Dedrick.
“Ini yang terbaik, Ma.”
Sudah sejak tadi Dedrick memilih tidur dipangkuan Ibunya, membuat Wizza sejak tadi mendengus kesal.
“Hei, sampai kapan kau akan tidur dalam pelukan istriku?!”
“Dia ibuku, milikku juga.” Membalas ucapan Wizza dengan kesal.
“Kami mau tidur, sudah, jangan cengeng, cepat pergi!”
“Hm, Honey! Jangan berkata seperti itu.”
Wizza duduk kesal di sudut ranjang, masih menatap tajam ke arah balkon kamar, dimana Dedrick tiduran di paha istrinya, mengesalkan!
Tak lama Dedrick bangun. “Ma, aku pergi ke kamar dulu.”
“Iya, Sayang.”
Dedrick berjalan sambil melirik kesal pada Papanya, Wizza. “Baguslah, akhirnya kau pergi menjauh juga dari istriku.” ucap Wizza tersenyum mengejek.
Dedrick hanya tertawa kecil mendengarnya, lalu ia beranjak pergi meninggalkan kamar orangtuanya.
Ia menuju ke dapur, mengambil air dingin dalam lemari es. Di taman belakang ia melihat Andrean duduk membakar cerutunya.
“Senang bertemu denganmu disini, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu, lebih baik aku katakan sekarang saja dari pada besok. Mungkin saja besok kau akan lebih sibuk lagi.” ucap Dedrick sembari menghenyakkan pantatnya di kursi, disebelah Andrean.
Andrean menoleh sebentar, masih menghisap dan meniup asap rokok yang mengepul keluar dari mulutnya ke atas.
“Aku juga ingin bicara denganmu, Kak!” sahut Andrean.
“Hari ini aku bertemu deng-”
“Aku tau!” jawab Andrean memotong pembicaraan Kakak laki-kakinya.
__ADS_1
“Oh, kau mengetahuinya, kau menyuruh pengawalmu mengikuti untuk melindungiku lagi. Kau benar-benar keras kepala, ya.” Dedrick tersenyum.
Dedrick menerawang, mengingat masa lalu.
Beberapa orang tiba-tiba menghajar seseorang karena Dedrick di pukul seseorang, ia ingin dipalak preman kecil. Lalu, ia selalu diselamatkan saat akan ada kesulitan, Dedrick remaja yang belum mahir bela diri pun akhirnya memutuskan untuk belajar bela diri setelah ia tahu jika orang-orang itu adalah teman seperguruan Andrean ditempat ia belajar bela diri.
Setelah mereka dewasa dan kisah percintaan mereka yang pahit, Andrean lagi dan lagi melindunginya, ia menyadari kalau Andrean mengutamakan keselamatannya dan menetapkan banyak pengawalan untuknya sehingga Dedrick juga melakukan hal yang sama diam-diam. Mereka berdua saling menjaga satu sama lain.
Wizza dan Sekar pun bermusyawarah tentang kepemimpinan salah satu perusahaan mereka suatu saat, setidaknya diantara mereka harus belajar bertanggung jawab menyandang hak waris mereka. Di situ, Andrean memilih Dedrick.
Setiap ada masalah di perusahaan, Andrean diam-diam menyelesaikannya, mulai dari pertemuan dengan rekan bisnis, perjamuan dengan rekan penting, itu bukanlah ajang yang membahagiakan, tetapi ajang kewaspadan dan kekuatan. Di sana, banyak jebakan, mulai dari godaan muka dua, sindiran halus, menjaga keanggunan dan wibawa, uji kepintaran dan kelayakan, hingga cara curang.
Andrean sering menggantikan pertemuan bisnis dengan pejabat yang licik, ujung-ujungnya memasukkan obat pada makanan dan minuman. Entah dari mana adiknya itu memiliki pengalaman, tetapi Andrean menikmati peran itu, ia tak terjebak dalam obat. Walaupun ia bercinta, namun ia dalam keadaan sadar tidak dalam pengaruh obat.
Jika ditanya kelicikan, Andrean sangat licik, ia sudah menyiapkan langkah selanjutnya dan langkah cadangan.
“Oh, ya, bagaimana dengan wanita itu?”
“Dia sudah kubereskan, kenapa? Apa kakak menyayangkannya?”
“Iya. Menyayangkan kau tidak terlalu kejam padanya, padahal itu bukan anakmu!”
“Aku tahu semua yang kau lakukan Andrean, kau melempar dirimu pada wanita-wanita itu karena aku sakit. Huffttt...!” Menghembus nafas panjang. “Penyakit traumaku, aku tahu kau mengetahui dan merahasiakan semuanya, tak ada yang musti kita tutupi lagi.”
“Aku juga tahu kau selalu mengalah padaku, jadi kini aku ingin kau berjuang seperti dulu . Adik laki-lakiku yang pintar berlari ke arahku, memamerkan betapa hebatnya dia, adik laki-laki terbaikku.” Dedrick menerawang masa lalu, saat Andrean kecil membanggakan hadiah dan pialanya karena menang dan juara.
“Aku akan pergi ke Amerika, aku akan mengurus perusahaan yang disana, menyerahkan PT. Wilzplant group padamu dan Papa.”
“Apa maksudmu, Kak?!” Andrean berdiri, melempar cerutunya yang belum habis ke rumput.
“Aku ingin ke Amerika, sekalian memeriksa apakah penyakitku itu sudah sembuh total. Rasanya keadaanku akhir-akhir ini jauh lebih baik.”
“Apa itu karena Sakinah?”
Hm? Dedrick menoleh pada adiknya.
“Ya, benar. Dia adalah wanita yang sangat baik. Aku setidaknya mengerti apa itu cinta yang sebenarnya.”
Andrean tersenyum kecut. “Apa dia menolak Kakak?”
__ADS_1
“Tentu saja. Aku memang menyukainya, tetapi aku sadar, rasa sukaku adalah kesalahan, dia adalah istrimu, dia pasti akan mempertahankan hatinya untukmu, dia wanita yang baik dan setia.”
Jujur, sebenarnya Andrean lega mendengar pengakuan Kakaknya, menjelaskan bahwa Sakinah wanita setia yang baik tak seperti wanita yang menyakiti mereka kala itu, tetapi hatinya sedih, ia tak mau kakaknya memilih pergi karena penolakan.
“Kalau begitu ... aku akan melepasnya untuk Kakak. Jadi ... Kakak jangan pergi.”
Dedrick tersenyum pilu.
“Andrean, sudah cukup aku merebut yang seharusnya menjadi milikmu untukku. Aku tahu semua yang kau lakukan untukku. Aku mohon padamu, untuk kali ini saja, jangan pernah mengalah padaku, tolong egoislah! Berjuanglah, buat dia mencintaimu.”
“Dia membuka hatinya dengan lebar menyambutmu datang, bukan untuk menyambutku. Ia belajar dan berjuang untuk mencintaimu, tolong ajari dia jatuh cinta padamu, hingga kalian berdua saling jatuh cinta dan bahagia bersama. Jadi, jangan mengalah untuk kali ini padaku.”
“Aku merasa sangat buruk jika kau terus menerus mengalah. Apa kau tak ingin melihatku merasa bangga atas diriku sendiri?”
“Aku memilih pergi untuk menemukan jati diriku, menemukan cintaku.”
“Sudah malam, kau besok akan bekerja, aku juga akan bersiap-siap. Selamat malam.” Dedrick berdiri dan hendak pergi. Andrean hanya diam saja tak menjawab.
“Oh, ya Andrean. Aku lupa memberitahumu, waktu itu kau bertanya padaku tentang peretas. Hm, sepertinya peretas itu berada disekitar apartemen kita. Kemarin saat aku pulang bersama Calista, hp lamaku berkedip, bahkan sampai dini hari.”
“Calista?” tanya Andrean.
“Ya, katanya kamu sudah tau.”
“Tau apa?”
“Tau, kalau pengawalmu membuntuti aku pergi kepantai bersama Calista, padahal aku berbohong padamu aku tidur diapartemen.” jelas Dedrick.
“Ya, sudahlah, aku tidur dulu. Aku akan meminta Alex menyerahkan semua berkas penting pada David nanti.” Setelah berkata seperti itu, Dedrick langsung beranjak pergi ke kamarnya.
‘Bersama Calista? Bukan di apartemen? Lalu, siapa yang ditemui Sakinah?’ gumam Andrean.
“Kalau begitu, aku harus menyelidikinya!” Andrean beranjak pergi masuk ke kamar.
Ceklek! Andrean membuka pintu kamar.
Sakinah menyambut dengan tersenyum manis, wajahnya terlihat lebih cantik dari sebelumnya dengan rambut panjang yang terurai basah.
Deg! Dada Andrean semakin berdendang, terpesona.
__ADS_1
...***...