
“Sialan!!!” Empat orang yang menunggu ditengah jalan itu berlari kembali sambil menembak ke arah mobil, saat melihat kabut berwarna ungu.
Sedangkan 3 orang yang berada di atas atap hanya bisa menonton, pandangan mereka terhalang oleh kabut, sehingga tak melihat kejadian. Yang mereka lihat dua orang pria berjas hitam dengan badan kekar menarik 8 orang bawahannya yang sudah terikat, lalu kembali masuk ke dalam mobil setelahnya.
“Sialaaan! Ayo, hubungi Boss! Sepertinya Andrean itu lebih sayang pada uang dari pada anaknya!”
“Cih, dia memang pria bajingaan! Mungkin saja dia memiliki banyak anak, dia 'kan hobi menebar benih dimana-mana! Mungkin saja Boss salah target! Seharusnya yang kita culik itu Arhen! Jelas dia disayang oleh Dedrick! Pasti seluruh keluarga Van Hallen turun tangan dan memberikan kita uang yang banyak, serta investasi itu pasti akan diserahkan pada Boss!”
“Boss, bagaimana ini? Apakah kita salah mangsa? Andrean itu tidak datang dan memberikan uang, malahan dia menantang! Dia menyuruh anak buahnya menyerang.” Ketua preman itu menelfon pria yang mempekerjakan mereka.
‘Sialan! Bunuh saja anaknya, biar dia tau rasa!’ teriak pria yang dipanggil Boss oleh mereka itu dengan kesal.
“Siap!”
“Kalian berdua, seret anak kecil itu ke sana!” perintahnya pada dua orang bawahannya, kemudian berseru pada bawahan lainnya. “Dan kalian semua, ayo kita ke sana menghajar bawahan Andrean itu, lalu menembak putranya di depan matanya!”
~~
Hening, hanya tersisa asap bekas tembakan peluru dan deru nafas lelah.
Bawahan Berend tak ada yang terluka, namun para preman terluka parah dan ada yang langsung tewas seketika. Kepala mereka yang masih sadar langsung dipelintir hingga mereka pingsan.
Berend dengan sigap membuka pengikat tubuh Vindo.
“Ayo!” Mereka kembali ke jalan rahasia, namun sebelum itu segerombolan preman datang kembali.
Mereka awalnya hendak menjemput Vindo dan diseret ke arah mobil Arsen yang mereka kira Andrean, namun baru setengah jalan, mereka mendengar suara saling tembak, sehingga mereka berlari dan mendapati teman-teman mereka terluka.
Lagi, terjadilah tembak-menembak.
“Ayo!” Berend menarik Vindo agar segera keluar dari lokasi ini.
Sebelum keluar, Vindo mengambil pistol.
“Berat!” gumamnya. Walaupun pistol benda kecil yang terlihat mudah digenggam, aslinya benda itu berat, bukanlah mainan anak-anak!
“Siaal! Apa yang terjadi?!” pekik ketua preman itu. Ia mendengar suara saling menembak dari ruang Vindo ditahan.
~~
“Coba lihat kembali! Apa mereka hendak kamari?” tanya Arsen sembari memelototi hpnya.
“Sepertinya tidak, mereka menuju ke arah Tuan Vindo disekap.” jawab pengawal.
“Paman, bersiap! Tekan tombol ring ganda, lalu aktivkan!”
“Kita harus segera menyusul Paman Berend!”
__ADS_1
Ring ganda diaktifkan! Mobil terasa meninggi, lalu melaju.
“Aktifkan protection ganda!” perintah Arsen lagi.
“Baik, Tuan!”
“Belok kiri!” Mobil berbelok. “Stop!” Mobil berhenti.
Suara tembakan memekakkan telinga. Bisa dilihat apa yang terjadi di sana dari dalam mobil.
“Hidupkan klakson tiga kali!”
Pengawal menghidupkan klakson tiga kali, Berend mengerti akan pertanda itu, ia bergegas ke sana bersama Vindo, namun saat ia hampir sampai, ketua preman dan yang lainnya menodongkan senjata pada Vindo dan Berend.
“Jatuhkan senjata kalian!” perintahnya.
Berend menjatuhkan senjata, Vindo juga. Namun apa yang terjadi? Dor! Dor!
Untung saja arah pistol itu ke depan, jika tidak mungkin saja nyawa Berend dan Vindo melayang. Kenapa? Vindo yang tidak mengerti dengan pistol, saat menjatuhkan senjata itu, senjata sedang aktif dan siap ditembakkan. Jadi, saat pistol itu jatuh, dia menembak dengan sendiri.
Saat pistol itu menembak, tentu saja menjadi gaduh, konsentrasi pecah, di sanalah anak buah Berend yang berada dibelakangnya menembaki musuh.
“Tuan, cepat selamatkan dirimu dan Tuan Muda!” teriak salah satu diantara mereka.
“Cepat bantu!” ucap Arsen saat melihat ada celah.
Mereka ngos-ngosan, ditambah harus duduk di mobil yang sempit! Karena mobilnya dimodifikasi hanya untuk tiga orang oleh Arsen.
“Telepon polisi, suruh segera kemari!”
“Baik, Tuan Muda!”
Arsen mengeluarkan kembali benda yang terlihat seperti vitamin rambut itu, namun warnanya sekarang berwarna merah. Ia memutar benda kecil yang mengkilat itu, terlihat sayang sekali untuk melepasnya.
“Hargamu cukup mahal, bekerjalah dengan bagus!” ucapnya pada benda kecil itu, kemudian berkata pada pengawal. “Masukkan benda ini ke dalam lubang ring! Lalu, tunggu sampai aku bilang aktivkan!”
“Hidupkan klakson 5 kali!” perintah Arsen lagi setelah mengamati sekitar.
“Baik, Tuan Muda!”
Mendengar klakson 5 kali, semua bawahan Berend yang masih baik-baik saja segera berlari menjauh.
“Ayo!” teriaknya pada yang lain, kemudian mereka berhitung dalam hati masing-masing! “1 2 3 4 5 6 7 8 9 10!” Mereka langsung memilih tengkurap dimana saja.
“Aktivkan!”
Asap tebal berwarna hitam menembak ke semua arah yang keluar dari roda mobil. Tembakannya dari bawah roda mengarah perlahan keatas. Maksimal posisi tembakan setinggi orang berdiri. Jadi, semua bawahan Berend yang telah tengkurap tak akan terkena dampak asap tebal berwarna hitam itu.
__ADS_1
Asap itu tidak membunuh, namun melumpuhkan selama 3 jam, badan akan terasa pegal dan melemah.
Lalu, di susul tembakan asap berwarna ungu. Perlahan semuanya terkapar pingsan.
“Tangkap dan borgol ketuanya.” Arsen memberikan jarum suntik pada Berend.
Berend dan satu orang pengawal keluar, mereka mencari tubuh ketua preman itu. Namun tak bersua.
Krek! Pintu mobil Arsen terbuka, rupanya ketua preman itu cukup cerdik, dengan setengah tenaga yang masih tersisa karena efek asap hitam, ia menutup mulut dan hidungnya dengan bajunya, kemudian merangkak ke bawah mobil Arsen. Saat melihat Berend dan pengawal keluar, ia masuk ke dalam mobil Arsen.
Ia todongkan pistolnya dikepala Vindo.
“Sangat ceroboh! Meninggalkan dua anak kecil di dalam mobil. Sopir cepat jalan!” ucapnya masih menodongkan senjata dikepala Vindo.
Bukannya takut, Arsen malah berkata, “Kau masuk ke sarang harimau, Paman!” Lalu menekan sesuatu di jam tangannya.
Teropong kecil sepanjang telunjuk yang digunakan tadi untuk mengintai berubah bentuk, langsung memanjang dan mengeluarkan jarum suntik.
“Aaaaaa!” pekiknya. Lalu terkulai lemas.
Berend dan pengawal langsung berlari kencang karena mendengar suara teriakan keras dari dalam mobil Arsen.
“Tu-tuan Muda. A-” Berend terdiam saat melihat Vindo memborgol ketua preman, keadaan pria itu sudah tak sadarkan diri. Lengannya terlihat membiru bekas suntikan.
Berend dan pengawal menelan salivanya.
“Katakan pada mereka yang masih sadar, segera bawa yang lainnya pergi, polisi akan segera datang!”
“Baik!”
“Ayo! Non aktivkan semuanya, Paman. Jalankan dengan normal!”
Berend dan lainnya segera pergi dari tempat itu setelah melihat mobil Arsen melaju membawa Vindo dan ketua preman itu. Sedangkan para preman lainnya ditangkap oleh polisi.
“Kemana tujuan kita Tuan Muda?!”
“Ke apartemen!”
Mobil melaju ke apartemen membawa ketua preman dan Vindo. Hans telah menunggu dilorong apartemen setelah mengetahui Arsen telah berhasil membawa Vindo.
Tak lama mereka sampai, Hans menyambut Arsen.
“Kunci mobil!”
Hans memberikan kunci mobilnya pada Arsen.
“Pindahkan dia dan bawa mereka berdua ke markas Paman Berend!” Arsen menyodorkan kunci mobil Hans pada pengawal.
__ADS_1
Pengawal mengangguk, menyerahkan kunci mobil Arsen, kemudian mengambil kunci mobil Hans. Bersiap memindahkan tubuh ketua preman yang masih tak sadarkan diri yang diikuti oleh Vindo dari belakang.