
★Dianjurkan membaca setelah berbuka puasa★
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arhen meminta pelayan hotel menyiapkan sarapan paginya di balkon kamar.
Wajah pemuda tampan berambut kuning keemasan itu tampak berbeda, dia sejak tadi hanya memilih diam, tak banyak bicara. Aini telah duduk di hadapannya, begitu banyak hidangan pagi ini, tiga kali lebih banyak dari pada sarapan sebelumnya, bahkan ini bukan lagi sarapan namanya, tetapi makan berat, ada beberapa macam jenis makanan mulai dari rebus, goreng, bakar, bersantan, dan kukus.
Arhen makan sarapannya dalam diam, dia makan lebih banyak dari sebelumnya, dia menghabiskan dua potong besar daging steak lada hitam dengan dua piring nasi, ikan gurami asam manis setengah ekor, ikan lele terasi, tumis kangkung dan sayur lalapan. Biasanya pemuda tampan ini menjaga porsi makanannya, tapi kali ini tidak.
Aini mengunyah makanannya pelan. Ia memilih mengambil nasi dengan ayam geprek pedas dengan sayur baby keyla.
“Aku hari ini tak ada kegiatan, aku sudah mengabari Lucas, hari ini aku ingin malas-malasan di kamar ini.” Arhen berbicara disela makannya, kemudian kembali diam.
Setelah makan, ia memutar kursi menghadap keluar, tak lagi saling berhadapan dengan Aini yang sedang makan. Aini buru-buru menghabiskan makanannya. “Makanlah dengan banyak sampai kenyang, jangan berhenti karena aku lebih dulu selesai makan,” tutur Arhen tanpa menoleh pada Aini. Ia masih menatap lurus keluar dengan menggenggam gelas yang berisi air putih.
Arhen menghabiskan air di dalam gelas itu, meletakkan gelas kosong di atas meja, kemudian dia berdiri dan memegang pagar besi dicampur aluminium balkon kamar itu. Hotel yang sangat tinggi, Ia mencoba membuka dinding kaca balkon itu dengan menggesernya ke kiri. Cukup lama ia berdiri di sana, membiarkan wajahnya di tampar angin yang berhembus karena kaca balkon di buka, tak lama kemudian menutup kembali kaca itu, sehingga balkon kamar hotel itu kembali aman berdinding kaca.
“Aku salut dengan arsitek dan para pekerja pembangunan hotel ini, mereka penuh perhitungan untuk keamanan tetapi juga menyediakan kemewahan yang sangat indah menakjubkan,” Arhen bergumam sendiri, tapi itu terdengar jelas oleh Aini, karena dia berbicara cukup keras.
“Sebagaimana aku menyukai orang yang bisa berakting. Artis dan model sangat ahli dalam berbohong dan memainkan perasaan, mengubah mimik wajah dan sikapnya, kapan dia sedih, marah, kesal, kecewa, dan bahagia, mereka sangat pandai menutupi dan mengganti-ganti perannya.” Setelah berkata seperti itu, Arhen memutar arah bangku yang tadi mengarah keluar kembali menghadapi Aini, lalu dia duduk di sana.
__ADS_1
Aini hanya diam mendengar, dia tak tahu harus menjawab seperti apa.
“Semalam tidurku sangat nyenyak, aku senang kau melayaniku dengan baik, terimakasih istriku,” tutur Arhen lembut dan tersenyum ke arah Aini.
Pipi Aini memerah, dia malu, jantungnya berdetak kencang. “I-itu adalah kewajiban ku melayanimu, su-suamiku,” jawab Aini gugup.
Arhen menatap Aini. “Semalam aku lihat kau meringis, apa terasa sangat sakit? Apakah saat aku memperk*osa mu waktu itu, terasa jauh lebih sakit dari tadi malam?” Arhen bertanya penuh selidik.
Aini merunduk, cukup lama baru ia jawab dengan suara pelan. “Perih.”
“Perih?” Ulang Arhen kembali. “Maaf ya, seharusnya malam pertama itu harus terjadi dengan sangat indah dan penuh perasaan. Sehingga menjadi moment yang bisa dikenang seumur hidup, karena itu adalah pengalaman pertama!”
Arhen menyunggingkan senyuman aneh. “Aku beruntung ya, kamu tidak marah dan kesal, padahal aku sudah memperko*samu waktu itu. Padahal aku sangat khawatir sekali, tak pernah aku berpikir bisa menghabiskan kejadian seperti tadi malam bersamamu karena perbuatanku yang sudah menyakitimu terlebih dahulu sebelum menikah. Biasanya, seorang wanita yang diperk*osa pasti akan merasa trauma, tetapi kamu wanita kuat dan baik ya,” ujar Arhen. Ia menusuk potongan buah naga, buah mangga, dan pepaya, lalu melahapnya sekaligus.
Aini diam tak menjawab apapun.
Waktu berlalu kurang lebih satu jam, Arhen dan Aini masih saling diam, ada pun bicara hanya satu dan dua kata lalu hening.
“Jika aku ingin bercinta lagi denganmu, apa kamu bersedia?” Arhen tiba-tiba bertanya sambil bangun dari duduknya. Berjalan ke arah Aini duduk.
Tanpa menunggu Aini menjawab, dia telah menciumi bibir istrinya itu, tangannya mulai nakal ke sana ke mari. “Aku ingin melakukannya kembali!” Arhen menatap Aini intens.
__ADS_1
Lalu....
Sekali angkat, Arhen telah menggendong tubuh mungil, kurus Aini. Dia membaringkan dengan lembut di atas ranjang, mulai memberikan kecupan lembut di sana sini, seluruh tubuh Aini, memberikan pemanasan yang mendebarkan, Aini tak menolak sedikitpun, bahkan dia membalas ciuman itu tak kalah antusiasnya dari Arhen.
Kegiatan pemanasan berlangsung cukup lama, hingga mereka berdua dalam keadaan polos tanpa busana. Seperti kejadian tadi malam, Arhen melihat tanda di dada Aini dan luka di pangkal pahanya.
Perlahan Arhen memasuki tubuh Aini, alisnya berkedut saat senjata pamungkasnya itu tak terlalu sulit masuk ke dalam seperti semalam lagi, cukup dua kali hentakan saja, semuanya sudah masuk dengan sempurna, dan raut wajah Aini tak merasakan kesakitan dalam lagi, dia juga tak terdengar berteriak seperti semalam.
Arhen melakukan penyatuan dengan pikiran dan perasaan yang bercampur aduk. Hingga ia mencapai puncak kenikmatan. Ia bertumpu dengan satu tangan karena lelah, menelusup kan wajahnya di ceruk leher Aini, menghirup aroma tubuh istrinya itu.
Beberapa menit berselang, Arhen pindah posisi, bangun dari tubuh Aini yang ia tindih, meraih celana pendek dan memakainya, kemudian bersandar di ranjang. Tak ada pembicaraan apapun, expresinya datar, membuat Aini yang sedari tadi mencuri-curi pandang bertanya-tanya, apakah suaminya tak merasa puas? Ataukah suaminya itu sudah sangat biasa bermain ranjang seperti yang digosipkan? Sehingga setelah melakukan hubungan badan, dia terlihat acuh tak acuh.
Arhen menghidupkan hp nya, bermain hp, memeriksa pesan yang masuk ke dalam, lalu melihat akun sosial media keluarganya, berkomentar, dan menyapa.
Kemudian...
Dia bukan hanya melihat itu, tetapi utama yang dia lihat adalah tentang hubungan badan, tentang malam pertama, tentang darah saat berhubungan badan, tentang pengalaman dan lainnya di internet, karena bagi Arhen, tadi malam adalah malam pertama yang dia ingat, dia tak pernah melakukan hubungan badan dengan siapapun sebelumnya.
Walaupun dia artis banyak scandal dan gosip suka ganti pacar sana sini, dia bukanlah pemuda penganut sexs bebas. Film, drama, iklan yang dia mainkan tak lebih dari sekedar pelukan dan cium sekedar. Dia selalu menghindari adegan berlebihan. Dia hanya perlu berakting, karena mencari agend, produser, dan lainnya serahkan pada Ayahnya Andrean, kakak laki-lakinya Arsen sebagai pendukung utama, dengan nama bangsawan yang ia miliki, garis keturunan Van Hallen, di tambah dia memang menjadi artis sejak kecil, dengan perawakan wajah dan tubuh yang sempurna.
Dia tak perlu susah payah panjat sosial dengan menerima job sana sini, dia bisa menolak dan menerima tawaran suka-suka, karena pekerjaan ya menjadi superstar hanya sebatas hobi.
__ADS_1