
Sakinah mengambil berkas dan kartu nama yang terletak di meja, ia simpan di dalam tas selempangnya. Ia tarik nafas dalam.
“Bismillah, ku serahkan semuanya dengan izinMu.” Ia bangkit dari duduk dan kembali ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, ketiga putranya menatapnya tajam. “Hai, Sayang. Apa kalian menunggu lama? Nih, Mom bawa cake pisang kesukaan kalian.” tunjuknya pada kresek yang ia jinjing.
“Mau Mom potongin langsung gak?” tanya Sakinah setelah membuka pembungkus cake yang ia bawa.
“Apa Mom tidak ingin mengatakan sesuatu pada kami?” Arhen bertanya dengan wajah cemberut.
“Hm ... tidak ada, memangnya apa yang mau Mom katakan?” bertanya balik.
“Mom bertanya pada kami kemarin, ingin menikah dengan Papa, tetapi Papa malah memiliki syarat.” Arhen menatap Sakinah, menggenggam jemari Ibunya yang hendak menyuapi potongan cake ke mulutnya.
“Demi kesembuhanku, Mom menandatangani surat kontrak dengan Papa.” lanjut Ardhen dengan suara serak, “kenapa Papa melakukan itu? Apa Papa sebenarnya tidak pernah menginginkan kami, makanya selama ini Mom merahasiakan ini dari kami....” sambungnya lagi dengan lirih.
Sakinah menelan salivanya, dadanya berdebar, darimana anak-anak mengetahui semua itu? Ia bahkan sangat berhati-hati. Apakah Arsen membuntutinya? Hanya anak itu yang paling berani.
Ia lama terdiam tanpa menjawab pertanyaan Ardhen, bagaimana mengatakan pada mereka, jika kehadiran mereka terjadi atas kesalahan, bukan dari sebuah hubungan.
Tak lama ia teringat dengan benda yang diberikan Arsen.
Sakinah menyentuh bros hijab permata biru itu, ia tatap lama. Perlahan ia lihat ada tanda lampu merah kecil hidup. “Apa ini Arsen? Kamu memasang kamera di bros ini?”
Arsen menunduk, ia tak menatap wajah Ibunya. Seberapapun beraninya dia, ia tetaplah anak yang patuh dan sangat mencintai Sakinah. Tak pernah ia melawan Ibunya.
“Maaf, Mom....” ucapnya sangat pelan.
Sakinah terdiam, duduk terhenyak di kursi. “Bukankah kalian menginginkan Papa? Mom sangat menyayangi kalian, Ardhen akan segera operasi, bukankah ini kabar bagus?”
Tak ada yang menjawab, semuanya diam.
“Apa kalian tidak menginginkan Papa?” tanya Sakinah lagi.
“Kami menginginkan Papa, Mom. Tetapi bukan dia, Papa yang satu lagi, Papa Dedrick.” jawab Arhen.
“Dedrick bukan Papa kalian, tetapi Andrean lah Papa kalian.” Ardhen senang mendengar itu, ia sedikit tersenyum, namun tidak untuk Arhen dan Arsen.
“Dia?” tanya Arsen dan Arhen kompak.
“Iya.”
Arhen dan Arsen cemberut. Mereka berdua lebih menyukai Dedrick.
__ADS_1
Sakinah membuka bros dihijabnya. “Jangan melakukan hal seperti ini lagi, Arsen. Perbuatan seperti ini namanya perbuatan tercela, ini sama saja dengan mengintip seseorang yang sedang mandi.”
“Aku tidak pernah mengintip orang mandi, Mom.” balas Arsen.
“Tapi cara seperti ini sama dengan mengintip orang mandi, memata-matai Mom berbicara dengan seseorang. Kamu tau 'kan, orang yang suka mengintip matanya akan rusak dan buta, di tusuk oleh besi panas diakhirat nanti, lalu orang yang mendengarkan sesuatu yang bukan seharusnya ia dengar dengan sengaja itu namanya menguping, telinganya akan ditancapkan kayu berduri, menembus ke telinga sebelahnya. Apa mau seperti itu?” tanya Sakinah.
“Tidak, Mom.” Arsen menutup telinga dan matanya karena ngeri membayangkan.
“Nah, kalau begitu, kamu tidak boleh lagi memata-matai Mom. Mengerti? Ia memberikan bros itu kembali pada Arsen.
“Mengerti Mom, aku tidak akan mengintip dan menguping Mom mandi.” jawab Arsen.
“Loh! Bukan itu, jangan memata-matai Mom lagi!”
“Hm.”
“Apanya yang hm? Mengerti gak?”
“Iya, Abang mengerti Mom.” sahut Arsen.
“Kalau sudah mengerti, ayo, makan cake. Sini, Mom suapin.” Sakinah menyuapi anak-anaknya cake pisang yang ia beli tadi.
__________________
“Apa?! Kau akan menikah dengan Ayah anak-anak? Siapa ayahnya?” tanya Shalsabila antusias. Ia senang mendengarkan temannya akan menikah dengan ayah sikembar.
“Yang mana? Aku tak tahu? Yang aku tampar itu atau yang mirip dengan Ardhen?”
“Yang mirip Ardhen.” jawab Sakinah.
“Wah, Sitampan itu. Tapi yang aku tampar juga tampan,” katanya terkekeh diakhir kalimat.
“Selamat ya, akhirnya Sikembar akan segera memiliki Papa, tampan dan kaya lagi.”
“Dasar mata, jaga tuh mata.” celetuk Sakinah.
“Dijaga kok, buktinya mata ini hanya tertuju pada suamiku tercinta.” balasnya, “Oh, ya. Apa anak-anak sudah tahu?” tanyanya kemudian.
“Sudah.”
“Apa tanggapan mereka.”
“Ya ... begitulah.”
__ADS_1
Shalsabilla menautkan alisnya. “Kenapa dengan respon mereka?”
“Ardhen sepertinya setuju saja, tetapi Arhen dan Arsen malah suka yang satu lagi.”
“Ahahahaha.” Shalsabilla terkekeh-kekeh sampai airmatanya keluar. “Sumpah lucu sekali!” Ia pegangi perutnya sambil tertawa.
Jimi dan tiga anak laki-laki itu mendengar gelak tawa Shalsabilla yang duduk diluar kamar bersama Sakinah. “Sepertinya Miss ngobrol begitu asik, sampai lupa padaku.” gumam Ardhen.
“Bukan begitu, biar Daddy panggil dulu deh.” pamitnya, kemudian Jimi keluar.
“Ngobrolin apa sih, sampai begitu senangnya?” tanya Jimi setelah mendekati mereka berdua.
“Ini Sayang, Sakinah mau nikah, tapi anak-anak gak kompak milih Papanya.” sahutnya masih saja terkekeh. Jimi yang belum mengetahui perihal itu cukup terkejut mendengar.
“Ah, benarkah? Selamat ya, Kinah. Semoga anak-anak bahagia bersama Papanya.”
“Lalu, jika kalian menikah nanti, akan pergi ke Belanda bersamanya?” tanya Jimi.
Shalsabilla yang tadi terkekeh langsung terdiam. “Iya. Kami akan pi-”
“Tidak!” potong Arsen cepat. “aku tidak akan pindah.”
“Arsen,” Jimi menatap Arsen yang sudah berdiri dibelakangnya. Rupanya anak itu mengikutinya.
“Miss, Daddy, aku akan bersama kalian.”
Shalsabilla dan Jimi terkesiap. “Apa maksudmu, Arsen? Kau tak mengizinkan Mommu menikah?”
“Bukan begitu. Aku tau Mom terpaksa menikah dengannya. Aku hanya ingin Mom bahagia. Jika mom tak bahagia, untuk apa kami memiliki Papa, bahkan tanpa Papa kami juga bahagia bersama Mom. Jadi, biarkan aku menjaga Mom seperti itu. Cukup bawa Arhen dan Ardhen saja, wajah mereka mirip, sedangkan wajahku tak akan dikenali. Jika, dia berbuat jahat, aku bisa melindungi Mom.”
“Jangan katakan tentangku, Mom.” Arsen memegang tangan Sakinah, menempelkan dikeningnya.
“Aku hanya ingin kebahagian Mom. Aku tau, Mom menandatangani surat itu demi keselamatan Ardhen. Bahkan dia mengancam jika tak menikah pun mereka akan merebut kami. Jadi, biarkan aku memikirkan cara jika dia berniat buruk. Aku akan mengambil surat itu setelah operasi ginjal untuk Ardhen dilakukan Mom. Izinkan aku sekali ini saja, Mom.”
Sakinah terenyuh. Ia tahu, Arsen memiliki kepintaran yang luar biasa, saat anak-anak seusianya mencintai mobil-mobilan, bermain tanah dan pasir, ia malah mencintai laptop, komputer dan handphone seken yang dibeli Jimi di Singapore. Ia juga sering mengintip apa yang dilakukan Arsen.
Saat anak itu berumur 5 tahun, ia mengacak-acak laptop, entah apa yang dimainkannya, sampai membobol data perusahaan elektronik. Sakinah saat itu ketakutan, merusak dan membanting laptop. Ia melarang Arsen setelah itu. Namun, anak itu sangat menyukai benda-benda itu, ia bahkan tak berselera makan, mau tak mau akhirnya ia memberikan benda-benda itu kembali dengan syarat jangan melakukan hal-hal aneh lagi.
Ia sering memperhatikan tingkah laku Arsen, memeriksa laptopnya. Ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada putranya. Namun, Arsen benar-benar diluar pemikiran Sakinah.
“Apa yang ingin kau lakukan, Arsen?” Sakinah menyentuh pucuk kepala Arsen.
“Melakukan yang terbaik, merebut surat yang Mom tandatangani itu.” Menyentuh punggung tangan Sakinah yang mengusap kepalanya.
__ADS_1
“Anakku.” Sakinah memeluk Arsen. Ia menangis, takut, haru dan gelisah menjadi satu.
...***...