
“Baik, Tuan Muda.” balas Hans setelah ia melihat pesan masuk di hpnya dari Atasan kecilnya, Arsen.
“Siap, laksanakan, Tuan Muda.” balasan dari Branden pada Arsen juga masuk ke hp Arsen.
Ia langsung memasukkan hp nya kembali ke dalam saku celana. “Ada apa Sayang?” tanya wanita model yang menemaninya itu dengan manja.
“Tidak ada apa-apa, cuma sebuah pesan dari atasanku.” jawabnya mengelus wajah wanita itu, lalu melumaat bibirnya. Wanita itu pun menyambutnya dengan senang dan membalasnya.
Hans mendengus melihat kelakuan Barend.
“Maaf, Tuan Hans, dia memang sedikit-” ucap Irfan pelan hendak menjelaskan, namun ucapannya sudah dipotong terlebih dahulu oleh Hans.
“Ya, tidak apa!” potong Hans cepat.
Ya, Hans sudah sering melihat kelakuan Barend seperti ini. Pria itu sering mencumbui wanita-wanita bawahan yang ia percaya saat bertemu Hans. Bedanya sekarang, wanita yang ia bawa adalah orang luar, jadi Hans sedikit waspada.
‘Jangan percaya pada siapapun Kak, termasuk orang terdekatmu! Cukup percaya hal penting denganku saja!’ Begitulah kala itu Arsen berucap, jadi Hans membuat tameng kepada semua orang, memberi jarak jelas. Ya, dibandingkan dengan yang lain, pada Barend dan pengawal pribadinya ia cukup longgar dan dekat.
“Bagaimana kalau kita segera ke kamar?” bisik Barend pada wanita itu setelah melepaskan ciumannya.
Wanita itu mengedipkan mata, “ayo!” jawabnya.
Barend berdiri, “Sepertinya aku harus cabut duluan!” ucapnya pada semua orang yang ada di sana. Ia berjalan dengan memegang pinggang perempuan itu, berjalan melalui wanita yang menjatuhkan air pada Sakinah.
Ia berpura-pura tersandung, hingga wanita pasangannya terhuyung, lalu tanpa sengaja ia menubruk pelayan yang lewat. Dua wanita itu basah karena minuman. Ya, ini yang disebut sekali tepuk, dua burung yang mati, Barend memang keren!
Matanya sedikit memberi kode pada seseorang yang ada di sana, sebuah foto untuk dokumentasi telah berhasil di dapatkannya.
“Ah! Sialan!”
“Sialaaan!” gerutu dua wanita itu dengan marah.
“Maaf, maaf, Nona. Maafkan saya.” ucap pelayan itu.
“Kalau kau tidak becus bekerja, berhenti bekerja!” maki mereka berdua. Kasian sekali pelayan itu mendapatkan makian.
“Sudah, Sayang. Jangan marah lagi.” bujuk Barend menyentuh pinggang wanita itu. “maaf, Nona, saya yang salah. Anda bisa meminta ganti rugi pada saya mengenai gaun Anda yang rusak!” Barend memberikan kartu namanya. Wanita itu mengambil kartu nama itu dan membacanya.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu!” jawabnya masih dengan sombongnya.
“Sayang, bukan hanya baju dia yang basah dan kotor, aku juga!” ucapnya menggelayut manja.
“Iya, tenang saja. Ayo, kita pergi.”
Barend dan wanita itu telah tiba disebuah kamar, mereka berdua pun mulai bercumbu, saling melepaskan dahaga dalam diri masing-masing untuk mencapai kenikmatan semalam.
Entah berapa lama Barend bermain, yang jelas tubuhnya benar-benar lengket dan lelah. Wanita yang berada disebelahnya bahkan sudah tertidur pulas dengan tubuh polosnya yang sudah memiliki tanda-tanda merah.
Ia mengambil hpnya, duduk bersandar di sandaran ranjang. Satu persatu ia buka pesan dari bawahannya, ada beberapa foto dan informasi, bawahannya benar-benar bekerja dengan baik.
‘Tuan Muda, aku sudah membalas wanita itu!” Barend mengirim foto dan video pada Arsen saat ia membuat dua wanita saling bertabrakan dan saling membasahi gaun masing-masing.
‘Tuan Muda, wanita bersamaku bernama Sopia, dia putri pertama keluarga Jia yang memiliki distro di sebelah Ven Beutique. Aku hanya bersenang-senang saja dengannya, bukan salah satu orangku. Lalu, wanita yang menabrak Ibunda Tuan Muda tadi, perempuan itu bernama Jesylin, ia anak yatim piatu, tinggal bersama neneknya, ia menjadi Sekretaris di perusahaan Brilindor Siix.’ Barend menjelaskan dalam pesannya.
Pesan itu masih bercentang abu-abu, yang artinya belum dibaca, mungkin saja atasan kecilnya itu tengah tidur, karena sekarang sudah larut malam.
**
Rambut pendek Sakinah ia sibbakkan ke belakang, sehingga memperlihatkan kulit lehernya yang mulus. Andrean mendekat sembari membuka jas dan dasinya.
Sakinah juga mendekat dan membantu Andrean membuka kancing bajunya. “Apa kamu mau mandi?” tanya Sakinah.
“Apa lehermu sakit?” Bukannya menjawab, Andrean malah mengajukan pertanyaan.
“Leherku? Tidak! Aku hanya tersiram air dingin, bukan air panas. Memangnya anggur atau minuman beralkohol bisa melukai kulit, ya? Kalau bisa kenapa mesti meminumnya? Itu bisa membuat usus luka berarti 'kan?” tanya Sakinah dengan polosnya, menatap Andrean yang sejak tadi menatapnya.
Andrean langsung menjatuhkan kepalanya diceruk leher Sakinah.
“Maaf....” lirihnya.
“Maaf untuk apa? Aku baik-baik saja, leherku tidak terluka. Yang terkena cipratan air anggur itu hanya hijabku, tidak sampai melukai leherku. Hm ... dan juga, minuman itu haramnya jika aku meminumnya, jadi jika terkena air itu cukup aku cuci saja. Jadi jangan khawatir.” Sakinah menjelaskan.
“Aku baik-baik saja!” ucapnya sekali lagi mempertegas. Sakinah mencoba mengangkat kepala Andrean. Ya, setidaknya ia memang harus mengalah dan pandai-pandai membujuk suaminya.
Andrean berbeda dengan mantan suaminya Ardi! Andrean jauh lebih muda dari Sakinah, ia bukan Muslim dari awal, ia butuh banyak belajar. Ia juga pria bebas selama ini, menyukai banyak wanita dan suka meminum alkohol. Andrean harus banyak belajar tentang bagaimana hak dan kewajiban menjadi seorang suami, berbeda dengan Ardi yang benar-benar sudah siap. Pria itu banyak mengajarkan kebaikan pada Sakinah. Ya, diantara Andrean dan Ardi sungguh banyak perbedaan.
__ADS_1
“Coba lihat leherku! Apa ada bekas luka di sana?” pinta Sakinah, agar Andrean tidak khawatir lagi. Andrean menatap leher itu, kemudian mengecupnya.
Sakinah tersenyum geli. “Apa yang kamu lakukan, aku menyuruh melihatnya, bukan menciumnya!” ucap Sakinah sembari mendorong wajah Andrean.
“Aku hanya ingin menghapus cipratan air itu, agar lehermu tidak sakit lagi.” jawab Andrean.
Sakinah terkekeh kecil. “Kamu sedang menggodaku? Bagaimana mungkin cara menghapus air dengan bibir, tetapi seharusnya kamu menghapusnya dengan kain atau tisu.”
“Kamu suka main pakai tisu?”
Hah?
“Kali ini, baru aku sedang menggodamu, mengajakmu main pakai tisu!” ucap Andrean tergelak.
Mata Sakinah berkedip berkali-kali, tatapannya penuh tanda tanya.
“Aisssh! Istriku ini benar-benar polos seperti wanita perawan.” Andrean menangkap wajah Sakinah dengan kedua tangannya.
Ia menempelkan keningnya dengan kening Sakinah, lalu berkata...
“Jantung dan hatiku terasa berdenyut, sepertinya ... mereka berdua tengah sakit.” Sakinah melotot mendengar ucapan Andrean, wajahnya cemas.
“Hati dan jantungku berdetak cepat tak karuan!” Ia angkat kepalanya, lalu menekan ceruk leher Sakinah ke depan, sehingga kepala istrinya itu menempel di dadanya.
“Apa kau bisa mendengarnya, Kinah?”
“Iya, aku bisa mendengarnya!” jawab Sakinah polos. “apakah sangat sakit?” tanya Sakinah cemas, ia angkat kepalanya menatap manik mata Andrean lekat.
“Iya, sangat. Ia semakin berdetak cepat jika kita berdekatan, jika kita berjauhan rasanya jantung dan hatiku berkedut sakit.” Alis mata Sakinah mulai mengerut, ia tak mengerti.
“Maksudnya bagaimana?”
“Hatiku dan jantungku sakit jika jauh darimu, namun ia juga menunjukkan reaksi aneh saat bersamamu. Sepertinya mereka berdua mengalami masalah. Hatiku jatuh terlalu dalam, hingga ia tak bisa lagi keluar dari jeratmu.”
Sakinah yang awalnya cemas dan sedikit bingung, kini sedang tersenyum kecil, pipinya memerah. Ya, ia sedikit lola, lambat mengartikan perkataan Andrean.
...----------------...
__ADS_1