
Setelah acara menikah usai. Tetangga, Pak RT, RW, Perias dan asistennya mengucapkan selamat dan memberikan sedikit hadiah, lalu mencicipi hidangan kecil yang telah di sediakan oleh Lucas, setelahnya mereka pun kembali ke tempat masing-masing.
Setelah kepergian tamu, Arhen dan Aini berbincang melalui video call bersama keluarganya di Belanda. Lucas dan para pengawal juga tampak berbincang ringan sambil memakan cemilan dengan santai. Sedangkan Ramadhan tengah di sosor berbagai pertanyaan oleh temannya.
Pemuda remaja ini bernama Abdul Qodir. Di panggil Kadir.
“Dhan! Jawab dong!” Kadir menyikut lengan Ramadhan yang diam saja. Ia tak tahu harus menjawab apa, karena Aini sudah berpesan, jangan sebar-sebar.
“Hey! Kau masih menganggapku temanmu 'kan? Kau tak percaya padaku?!” Kadir tampak berwajah suram dan kecewa.
Ramadhan menghela nafas. “Berjanjilah padaku, kau tidak akan mengatakan pada siapapun!” Ramadhan menatapnya tajam.
“Tentu saja! Kau bisa percaya padaku Dhan!” jawab pemuda remaja berkulit sawo matang dengan badan berotot itu.
“Iya, kakak ipar ku itu adalah artis superstar yang baru datang dari Belanda, putra kedua dari Andrean Ryker Van Hallen, adik dari pemilik perusahaan Wilzplant Groups, Dedrick Ryker Van Hallen.” Akhirnya, Ramadhan juga memberitahukan.
“Oooh, ya aku ingat, Dedrick itu 'kan? Eh, tetapi Andrean itu juga pemilik perusahaan perhiasan Antaman Wilzgold dan Ar3s 'kan? Waktu itu aku menonton tayangannya di DMM!” Kadir berkata dengan antusias.
“Iya, dia pemilik perusahaan Antaman Wilzgold, tetapi Ar3s milik kakak laki-lakinya Arhen, yaitu Arsen Ryker Van Hallen, pemilik perusahaan game Arbluefire yang sering kita mainkan,” jelas Ramadhan.
“A-apa!!” Kadir merasa tercekat, dia terkesiap luar biasa. “Ka-kau tidak bohong 'kan?” Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Kenapa aku harus bohong!”
“Ya ampun Kawan! Kakak ipar dan keluarga Kakak Iparmu adalah idolaku! Aku sangat menyukai Arsen Ares itu!” seru Kadir. Dia adalah pecinta game Arbluefire. Menghabiskan separo uangnya hanya untuk toup up akun di Arbluefire.
“Em, lalu, kok bisa Kak Nur nikah sama dia?” Kadir memperbaiki raut wajahnya yang tampa mendamba tadi saat melihat Ramadhan berkerut wajah menatapnya.
__ADS_1
“Heeem, kamu jangan bilang-bilang ya!” Ramadhan berbisik pada Kadir. “Mereka itu sudah kenal sejak kecil, mereka itu sudah janjian, pas ketemu, Kak Arhen langsung melamar kakakku.”
Mata Kadir menyalang dengan binar-binar takjub, tak percaya dengan apa yang ia dengar untuk kesekian kalinya, namun matanya sudah menjadi saksi pernikahan Aini dan Arhen, bagaimana dia tidak percaya bukan?
“Astagaaaaaa! Aku jadi iri dan cemburu tahu, padahal aku dengar skandalnya buruk loh akhir-akhir ini, gonta ganti pacar! Rupanya dia sangat gantle man dan menepati janji. Padahal dilihat dari segi manapun, Kak Nur tak secantik wanita-wanita yang digosipkan dengannya!” celetuk Kadir tak menyaring ucapan.
Ramadhan menempeleng kepala Kadir. “Siaalaan kau! Kak Nur ku cantik tahu!” Ramadhan tak terima kakaknya diejek temannya, Kadir malah nyengir ditempeleng dan diketusi oleh Ramadhan.
Ya, tak sengaja, waktu itu, saat Ramadhan mencari-cari buku bacaan, ia menemukan diary Aini, di sana terselip surat kecil dari Arhen kecil dengan sebuah hadiah, lalu juga ada sebuah cincin lucu dari jalinan rumput yang sudah mengering.
Saat membaca diary dan surat Arhen, Ramadhan terkekeh dan senang, apalagi saat ia pulang dari pasar saat itu. Kakak perempuannya tampak jingkrak-jingkrak kesenangan mencium tangannya yang tersorong cincin di jari manisnya.
“Adikku! Dia melamar ku, dia melamar ku!” Aini tanpa sadar memamerkan cincin dan memeluknya, tampak sekali kakaknya sangat bahagia dan menantikan itu. Ramadhan sangat senang juga melihat nya.
Kadir merangkul Ramadhan yang tadi sesaat melamun mengingat Aini malam itu saat Arhen meminangnya. “Pantas saja ya, sejak dulu Kak Nur menutup diri, cuek, ketus, bahkan tampak tak peduli pada sekitar dan tampilannya, rupanya ini semua alasannya, mereka telah berjanji sejak kecil. Aaaaah, aku baru sadar, Kak Nur sangat cantik, setelah di make up, kecantikannya mengalahkan Dewi Sandra!”
“Memangnya rambut KaK Nur pendek, ya?” tanya Kadir.
“Kepo!” Ramadhan berjalan meninggalkan Kadir. “Ayo, kita isi perut dulu!” ajaknya tersenyum saat menoleh pada Kadir yang ia tinggalkan.
Kadir mengejar dan menjitak Ramadhan sambil terkekeh. “Dasar kau! Mana aku tahulah kakakmu rambut panjang atau pendek! 'Kan Kak Nur selalu pakai hijab, dia juga galak saat aku lihat dengan seksama!” Ramadhan hanya nyengir saja mendengar keluhan Kadir.
Setelah berbincang dengan keluarga tadi, Arhen melepaskan pakaian dan berganti pakaian dengan yang lebih nyaman.
“Nur, malam ini kita ke hotel ya? Aku akan berbicara dengan Ramadhan dan temannya dulu,” ucap Arhen. Lalu, dia beranjak pergi, membiarkan Aini berganti baju di kamar dengan bebas. Aini menjawabnya dengan mengangguk.
Arhen menemui adik ipar dan teman adik iparnya itu, mereka berbincang sesaat sambil diselingi kekehan kecil.
__ADS_1
Tak lama, Lucas dan para pengawal telah bersiap masuk ke dalam mobil, Aini dan Arhen juga.
“Dhan, Kakak pergi dulu ya, jaga rumah dan diri baik-baik,” pesan Aini.
“Baik Kak.”
“Tenang Kak, selamat bulan madu, heheh!” Kadir menyela sambil terkekeh.
***
Mereka telah sampai di kamar, kamar yang telah di sulap menjadi kamar pengantin, kelopak bunga, lilin, dan hidangan makan malam yang romantis di balkon kamar. Bathup dengan kelopak mawar juga sudah di persiapkan. Seprai dan gorden putih sangat cantik berpadu padan dengan kelopak bunga-bunga itu.
“Emm, aku harap kamu menyukainya, mengganti malam kita yang terlewat begitu buruk. Maaf.”
“Aku sangat suka, ini sangat indah dan luar biasa,” jawab Aini malu-malu. Kini, ia telah berganti baju tidur piyama pendek yang sangat mudah ditarik jika ingin melepaskannya. Rambut pendeknya yang kucel kurang terurus itu masih tampak sedikit lembab walau sudah ia coba keringkan tadi seusai mandi di rumah.
“Alhamdulillah, aku senang kau menyukainya. Mari kita makan malam dulu!” Arhen mengulurkan tangannya, Aini menyambut tangan itu dengan hangat. Berjalan beriringan dengan berpegangan tangan ke arah balkon.
Arhen menarik kursi dan duduklah Aini di sana. Pemuda tampan berambut kuning keemasan itu sungguh sangat menggoda iman. Wajah dan tubuhnya sangat rupawan di pandang, apalagi ia selalu tersenyum pada Aini, membuat debaran di dadanya tak karuan.
Aini sudah bersusah payah mengalihkan pandangannya, tetapi baju yang dipakai Arhen begitu seksi, menunjukkan otot dadanya yang sixpack.
“Ayo, kita makan!” ajak Arhen, dia telah memotongkan steak untuk Aini. Lalu memotong steak sapi miliknya juga.
“Mau aku suapi?” tanya Arhen saat melihat Aini hanya memandang steak sapi yang telah terpotong itu.
...----------------...
__ADS_1