Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Menikahi Aini


__ADS_3

Dua hari setelah Arhen bertemu dengan Aini saat itu, surat menyurat sudah selesai di urus oleh Lucas karena bantuan beberapa pihak tertentu. Tak terkecuali dari kekuatan Andrean dan Hans, yang membantu Lucas bisa bertemu dengan orang-orang penting untuk mengurus surat-surat menikah ini.


Arhen kini telah memakai baju menikah berwarna putih dengan corak bunga-bunga di bagian dadanya, di dekat celananya memakai selendang batik berwarna senada juga. Ia memakai kopiah putih bersama aksesoris jam dan cincin permata miliknya.


Ia tampak menunduk, wajahnya tertekuk ke bawah. Ia nervous dan sedikit sedih karena tak ada keluarga yang menemani. Pernikahan yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya, namun ia selalu berhayal akan menikah dengan cukup meriah seperti ala princess film kesukaannya waktu kecil. Ya, mungkin itu hanya mimpi dia masa kanak-kanak yang sering diejek Arsen, karena kakak laki-lakinya tidak suka film itu.


‘Cih, film pangeran berkuda menyambut putri, penyihir yang berubah jadi kodok! Mana ada dunia seperti itu, lebih baik menonton yang masuk akal saja! Nih, berita dan ini!’ Arsen malah menukar siaran Bolang.


Arhen tersenyum kecil saat mengingat moments bersama saudara kembarnya, kadang hanya karena film, mereka berdebat. Kini, dia akan menikah, apakah akan sama seperti waktu mereka kecil lagi?


‘Ya Allah, tolong kuatkan aku, tolong pimpin jalanku menjadi Imam yang baik dalam rumah tangga, bismillah.’ Arhen bergumam dalam hati sambil mengusap tangannya ke wajah, menetralkan perasaan yang berkecamuk.


Lagi dan lagi, perasaan dan kenangan masa lalu berkelebat dalam ingatan, saat ia syuting dan meniti karier. Mulai teringat dengan ibunya, teringat juga tentang beberapa kesalahan masa lalunya.


Aini keluar dari kamar, duduk di samping Arhen. Tubuhnya dibaluti dengan baju kebaya berwarna putih dengan hijab senada. Baju ini adalah pilihan Arhen melalui katalog. Saat itu, dia bertanya pada Aini, warna apa yang disukai wanita itu, lalu Aini menjawab jika dia menyukai warna putih. Makanya, Arhen memilih warna putih dan pemilik busana pun mengantarkan, tetapi syukurlah, karena Aini berbadan langsing, baju itu pas untuknya, walau terlihat sedikit longgar di bagian perutnya, namun masih cantik dan cocok.


Penghulu memberikan sedikit ceramah kepada mereka berdua, tentang hubungan suami istri, bagaimana sikap suami dan istri, tentang hak dan kewajiban masing-masing.


Mereka akan melangsungkan pernikahan ini di kontrakan Aini. Tak banyak yang datang. Arhen hanya meminta izin pada Pak RT dan RW, lalu 2 orang saksi, perias dan asisten perias, Ramadhan dan teman dekatnya yang mengajak ia bekerja di pasar, 2 tetangga disampingnya, lalu Lucas dan 4 orang pengawal.


Semua ini sengaja disembunyikan, agar tak mengundang keramaian dan kerumunan. Saat memakai pakaian dan berias tadi saja, periaslah yang datang sendiri ke rumah kontrakan Aini.

__ADS_1


Arhen menitikkan air mata saat mendengar nasehat penghulu, ia masih terlalu banyak salah pada saudara dan orangtuanya, ia menjadi takut jika tidak bisa menjadi suami yang baik, namun dalam air mata itu, ia berkata pada hatinya, walaupun pernikahan ini tanpa cinta, pernikahan yang diawali dengan kesalahan besar, dia ingin memperbaikinya, akan belajar mencintai istrinya dengan baik dan benar.


Lucas tampak meletakkan laptopnya dengan keadaan menyala menghadap ke arah dimana Arhen dan Aini duduk bersama penghulu.


Sebelumnya Sakinah dan Andrean telah memberikan nasehat juga untuknya. Untuk pertama kalinya, dia sangat ingin memeluk ayahnya terlebih dahulu, ia ingin bersujud dan meminta maaf karena sejak kecil selalu ketus padanya, selalu menyalahkan sang Papa, dan berpihak pada Dedrick.


‘Nak, kini kau telah besar, Papa merestui keputusanmu, jadilah pria yang paling baik semampumu, perbaiki semua kekuranganmu, walaupun perlahan, tetapi kamu harus selalu belajar, karena belajar tidak pernah mengenal waktu, anak-anak, masa muda atau pun masa tua. Petiklah pelajaran dari semua yang pernah kamu lihat, dengar, dan rasakan. Jagalah wanita yang kamu nikahi, karena pernikahan adalah sumpah kita kepada Tuhan, bukan hanya janji yang di ucapkan semata pada penghulu dan saksi, tetapi ada Allah dan Malaikat di langit yang mendengarnya,’ Suara Andrean terdengar berwibawa.


‘Papa tidak pintar dalam ilmu agama, tidak seperti Mommu, jadi papa belum sempurna bisa memberimu nasehat, namun ilmu dunia bertanyalah pada papa. Ingat, hati wanita itu lembut dan dia selalu mengandalkan perasaannya, jadi imbangi perasaan dia dengan penggunaaan otak dan pikiran kita sebagai pemimpin rumah tangga. Papa percaya padamu Sayang. Selamat menikah!’ Arhen menitikkan air mata mendengar itu beberapa saat lalu.


Di layar laptop, tampaklah wajah Mereka semua yang berkumpul di ruang tengah, ruangan keluarga, ada Andrean dan Sakinah duduk berdekatan, Jamila di peluk oleh Arsen, sedangkan Ardhen memeluk Jay yang tampak tak suka dipeluk, beberapa kali merosot ingin turun, tapi Ardhen masih memeluk dan mendudukkan di atas pahanya.


Seperti yang dikatakan oleh Andrean dan Sakinah kemarin. Mereka harus menyelesaikan urusan di perusahaan dulu, baru bisa pulang ke Indonesia, seperti rencana awal sebelumnya, baru berlibur ke Indonesia, khususnya ke kampung halaman Sakinah. Rencana Arhen menikah yang mendadak hanya bisa mereka saksikan melalui panggilan video.


Penghulu dan Arhen mulai bersalaman dengan Al-Qur'an di antara tangan mereka. Pernikahan pun akan di mulai.


“Arhen Ryker Van Hallen,”


“Iya Pak, saya Arhen Ryker Van Hallen.”


“Saya nikahkan engkau dengan Nuraini Putri binti Amirul Mukminin dengan seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar dua ratus ribu rupiah dibayar tunaaaai,”

__ADS_1


“Saya nikahi Nuraini Putri dengan seperangkat alat sholat-” Arhen di serang gugup. Tangannya menjadi berkeringat, Aini tak kalah berdebar dan berdo'a di dalam hati.


Arhen diam sejenak, menghirup nafas, mengaturnya dengan baik, lagi, ia berjabat tangan dengan penghulu.


“Saya nikahkan engkau dengan Nuraini Putri binti Amirul Mukminin dengan seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar dua ratus ribu rupiah dibayar tunaaaaai,”


Arhen langsung menyambut ucapan itu sebelum ucapan tunai selesai. “Saya nikahi Nuraini Putri binti Amirul Mukminin dengan seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar dua ratus ribu dibayar tunaaaaai!”


“Sah?”


“Saaaaah!” jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


“Alhamdulillah!”


Penghulu pun memimpin do'a bersama setelah mereka sah, lalu Arhen dan Aini menandatangani berkas-berkas menikah, melakukan sesi berfoto antara Aini dan Arhen, lalu foto bersama sebagai dokumentasi.


Sakinah sekeluarga di Belanda pun juga mengucap rasa syukur karena Arhen telah menikahi Aini dengan lancar.


...----------------...


Terimakasih telah selalu setia membaca cerita ini Arlove, love you All...

__ADS_1


__ADS_2