
Sakinah yang mendengar malah tersenyum manis. “Alhamdulillah, saya bahagia, Bang.” jawabnya. Membuat Andrean yang tadi panas, kembali sejuk setelah mendengar jawaban istri tercintanya.
“Alhamdulillah, Kinah.” Ia tersenyum. Kemudian melanjutkan meminum teh es yang dihidangkan Ibu Billa tadi.
“Hm, bagaimana dengan Abang, kok sendirian aja kemari?” Sakinah balas bertanya.
“Maksudnya, kenapa gak bawa keluarga?” Shaleh menoleh pada Sakinah dengan tersenyum, lalu melanjutkan ucapannya. “Orangtua Abang 'kan sudah meninggal, Kakak Abang setelah menikah dia merantau. Jadi, memang sendirian sejak dulu.” Senyuman kecil di wajahnya berubah jadi melebar sehingga menunjukkan deretan giginya yang rapi, menatap manik mata Sakinah dalam. “Abang belum nikah, Kinah. Belum ketemu jodoh.” Ia menurunkan pandangannya saat mengatakan kata jodoh. Senyumnya perlahan hilang memudar.
“Maaf, aku gak tahu, Bang. Semoga segera ketemu jodohnya,” ucap Sakinah yang dibalas senyuman kecil oleh Shaleh.
Andrean semakin menatap tajam dan penuh selidik pada Shaleh, menatap pria itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia cemburu, ia kesal, jantungnya terus saja berdetak cepat.
‘Padahal dia biasa saja! Kerenan juga aku!’ gerutu Andrean dalam hati. Ia meremas ujung jari jemarinya sendiri.
“Oh, ya, Nak Andrean, ayo, kita lihat daerah itu.” ajak Pak RT. Daerah yang mereka bahas kemarin.
Andrean menatap Sakinah. “Aku di sini saja sama Ibu Billa. Pergilah, tak apa,” kata Sakinah.
Andrean kemudian menatap Shaleh. Yang ditatap hanya diam saja, masih menikmati minumannya dengan santai. Mau tak mau Andrean hanya bisa menggerutu dalam hati.
“Nak Shaleh, Bapak pergi dulu.” pamit Ayah Billa.
“Iya, Pak.”
Setelah Andrean dan Pak RT pergi, kini tinggallah Ibu Billa, Sakinah dan Shaleh.
“Kabarnya, kamu memiliki anak kembar, ya?”
__ADS_1
“Iya, Bang. Tiga anak laki-laki.”
“Alhamdulillah. Kamu pasti senang banget, ya.”
“Iya, Bang. Itu adalah anugrah paling terindah.” Sakinah tersenyum.
“Ya, Alhamdulillah. Kemarin Billa juga sudah besar perutnya, aku kemari sekalian bawa titipan Billa.” Shaleh bercerita sendiri tanpa ditanya mengapa dia datang kemari. “Sekalian mau lihat kamu juga, sudah lama tidak bertemu.” Shaleh tersenyum, membuat kening Sakinah berkerut, sedangkan Ibu Billa hanya diam membisu menjadi saksi pendengar.
“Kamu semakin sehat.” lanjutnya lagi. ‘Kamu semakin cantik’ bisiknya dalam hati. “Kamu bertambah alim.” sambungnya lagi. ‘Kau adalah bidadari hatiku.’
“Terimakasih banyak Bang, semoga benar-benar menjadi wanita alim. Aamiin.” balas Sakinah.
“Aamiin.” ucap Shaleh dan Ibu Billa serempak.
“Aku berharap kau selalu bahagia dan sehat Kinah. Jika kau tidak bahagia, katakan saja padaku, aku akan menempeleng kepala suamimu. Hehehe!” ucapnya terkekeh. ‘Aku tidak akan ikhlas, jika dia menyakitimu.’
Shaleh menumpang menginap di rumah ini selama seminggu dulu, karena rumah ini memiliki tiga kamar. Ia tak lagi punya tujuan, bahkan ia berencana menjual rumahnya pada penyewa yang menempati rumahnya sekarang.
“Silahkan istirahat Nak Shaleh, Etek sudah merapikan kamar dan kasurnya.”
“Makasih, Tek.”
Shaleh menuju ke kamar, memilih merebahkan diri di ranjang. Ia pejamkan matanya dan ia tutup wajahnya dengan satu tangan tertempel di kening, aimata mengalir turun di pelupuk matanya, terus turun membasahi telinganya.
‘Ya Allah, aku tidak meminta apapun, kecuali tolong jaga ia, bahagiakan dia, hanya itu.’
Shaleh termenung, beberapa ingatannya berputar-putar ke masa lalu.
__ADS_1
~~
‘Hai, aku Shaleh, kamu siapa?’ Shaleh mengulurkan tangan pada seorang gadis cantik berhijab yang berjalan sendirian melewati gerombolan mereka.
‘Wa'alaikumsalam. Aku Sakinah, Kakak Senior.’ jawab Sakinah, lalu berlalu pergi. Semua teman-teman menertawakan Shaleh. Ia adalah pria tampan nomor dua di daerah ini setelah Usman Syafril.
‘Leh, tu anak memang seperti itu. Alim, susah buat digoda, hampir semua cowok suka dia, Usman sama Ardi aja demen parah sama dia.’ jelas salah satu gerombolan yang ada bersama Shaleh.
Merasa tak yakin, Shaleh perlahan mendekati dan menjahili Sakinah. Gadis itu benar-benar teguh pada pendiriannya, bicara dengan lawan jenis saja merunduk, tak ingin saling bertatapan jika berserobon atau bicara. Dada Shaleh semakin berdebar semenjak itu. Ia telah jatuh hati akan sikap Sakinah.
Bukan satu atau dua orang yang mendekatinya, hampir siapapun yang pernah melihatnya akan jatuh hati.
Suatu hari, setelah mereka sedikit lebih dekat, Shaleh membuat janji pada Sakinah.
Sakinah sudah menunggu di depan kolam di persimpangan jalan bersama adik perempuannya Rukhsa yang masih kecil. Cukup lama Sakinah menunggu, hingga waktu magrib pun tiba, bahkan setelah sholat magrib dia kembali menunggu hingga waktu sholat isya, tetapi Shaleh tak datang.
Bukan karena ia tak ingin datang, tetapi hari itu, ia sangat bersedih. Ia adalah anak yatim yang hanya dibesarkan oleh Ibunya. Kemarin saat ia membuat janji dengan Sakinah, Ibunya meninggal dunia hanya karena kram perut. Sejak hari itu, ia diam dan berduka. Tak menjelaskan apapun, kenapa ia tak bisa datang menemui Sakinah.
Hingga masa berdukanya hilang, tepatnya setelah 6 bulan kemudian. Ia mencoba mendekati Sakinah lagi saat acara MTQ di Mushola saat bulan Ramadhan. Malam itu, ia melihat Sakinah menatap seorang pria dengan pandangan takjub dan terpesona. Shaleh menatap kemana arah mata itu, gadis cantik itu melihat Ardi anak juragan jengkol yang mengaji.
Shaleh merasa insecure, suaranya mengaji tak seindah dan semerdu suara Ardi. Hingga ia kembali mundur untuk belajar menjadi lebih baik. Akan tetapi, belum selesai ia belajar menjadi yang lebih baik seperti yang ia inginkan, Ardi sudah meminang Sakinah.
Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tekan dan pendam hati itu sekuatnya, hari-hari berlalu dengan rasa amarah memuncak dihatinya karena omongan tetangga dan keluarga Ardi yang sering menjelekkan Sakinah. Ia sangat kecewa, bahkan terbesit dalam hatinya ingin membawa Sakinah nikah lari, tetapi ia kembali tersadar itu adalah tindakan buruk dan hina.
10 tahun pun berlalu begitu saja, ia sudah dijuluki pria lapuk di desa, julukan pria tampan nomor dua telah hilang darinya. Cibiran dan hinaan mulai terdengar, ia tak peduli. Apalagi setelah mendengar kabar Ardi meninggal.
Hatinya semakin kuat ingin menikahi Sakinah, setidaknya penantiannya tidak sia-sia. Ia menunggu hari demi hari untuk mendekati Sakinah. Sayangnya, bukan hanya dia, begitu banyak lelaki yang juga mendekati Sakinah setelah dia menjadi janda ditinggal meninggal oleh suami.
__ADS_1
Gunjingan, hinaan semakin menjadi-jadi. Ia sering menasehati ibu-ibu yang bergosip, ia bahkan beberapa kali berniat membantu Sakinah, namun wanita itu selalu menolak dan menjaga jarak.