Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Pergi


__ADS_3

Mentari telah menampakan rupanya, menyapa semua makhluk ciptaan Tuhan.


“Hei, tunggu, Jim.” Sakinah menarik ujung lengan baju Jimi.


Pria itu berhenti dan menoleh. “Ada apa? Apa ada yang ingin kamu titipkan?” tanya Jimi.


Ia sudah berpegangan tangan dengan Arsen, hendak keluar. Sedangkan Arhen dan Ardhen sudah berteriak tidak sabar di dalam mobil.


“Berhati-hatilah dijalan, jangan terlalu lama pulang.” ucap Kinah, ia menatap pada Arsen.


“Ok, tenang saja, kami tak akan lama.”


“Jangan khawatir, aku akan menghukumnya kalau pulang lama.” Billa menepuk pundak Kinah. Ia baru saja sampai, menyusul Kinah dari ruang televisi.


Dedrick masih tercenung, diam menatap Sakinah yang bercengkrama.


‘Sepertinya dia bukan jijik padaku saja, tapi pada pria itu ... dia juga bersikap sama.’ gumam Dedrick.


“Ekheeem,” Suara batuk jaim terdengar dari mulut Andrean yang berdiri di belakangnya.


“Sampai kapan Kakak melihat istriku? Apakah sampai tangga ini roboh?” tanya Andrean berbisik di telinga Dedrick.


Dedrick berdecih, lalu berjalan turun dari tangga ke meja makan.


Maid telah menyiapkan sarapan untuk dua Tuan Muda itu, “Tumben kalian terlambat turun? Bahkan Papa sudah pergi sejak tadi.” tutur Sekar melap bibirnya dengan tisu. Ia sudah selesai sarapan.


“Mama tidak berangkat bareng Papa?” tanya Dedrick.


“Tidak, aku ingin pergi bersama Billa dan Kinah.” jawab Sekar.


Sakinah telah sampai dan berdiri di samping Andrean, setelah melihat pria itu turun dari tangga.


“Mama bersiap dulu,” ucap Sekar pada Kinah, ia berjalan pergi meninggalkan tiga manusia di meja makan itu.


Sakinah memegang piring, hendak mengambilkan Andrean sarapan. “Kau bukan pembantu, sudah berapa kali aku ingatkan, jangan lakukan ini lagi!” Andrean menghardik Sakinah.


Sakinah berdiri diam, meletakkan kembali piring itu.


“Kenapa kau masih berdiri di sini? Bukankah Mama bilang mau pergi bersamamu dan temanmu itu.” Andrean terus berkata sembari mengambil sarapannya sendiri.


Dedrick kesal saat melihat Andrean bersikap begitu pada Sakinah.


“Aku ingin menemani suamiku sampai selesai sarapan dulu.” jawab Sakinah.


“Disini begitu banyak Maid, pergilah!” usir Andrean mengibaskan tangan.

__ADS_1


“Baiklah, jika begitu inginmu.” Sakinah pun pergi, ia masuk ke dalam kamar tamu bersama Billa untuk bersiap.


“Kenapa kau bersikap seperti itu padanya?” tanya Dedrcik disela sarapannya setelah Sakinah pergi.


“Tidak ada yang salah dengan sikapku. Dia istriku bukan pembantu, sikap yang dia lakukan itu seperti pembantu saja.” balas Andrean.


_______________


Setelah Arhen dan Ardhen tiba disekolah mereka masing-masing, Arsen dan Jimi diantar berkeliling oleh sopir pribadi keluarga Van Hallen.


“Ik wil de beste school voor informatietechnologie in de stad zien.” (Aku ingin melihat sekolah IT terbaik di kota ini) pinta Arsen pada sopir itu.


“Oké, ik zal Young Master naar die school begeleiden.” (Baiklah, saya akan mengantarkan Tuan Muda ke sekolah itu.) balasnya.


Mereka melihat 3 buah sekolah terbaik di dalam kota ini, Arsen tertarik dengan sekolah yang paling dekat dengan sekolah Arhen. Ia menandai sekolah itu dan memberitahukannya pada Jimi.


Setelah mereka melihat sekolah, mereka langsung membeli beberapa barang di pusat perbelanjaan, kemudian kembali lagi ke Mansion.


Saat tiba di Mansion, tak ada siapapun, semua orang pergi, sibuk dengan urusannya masing-masing, hanya para Maid yang siap siaga menyambut mereka. Arsen menyimpan barang belanjaannya di dalam kamar, kemudian mengajak Jimi pergi kembali.


“Hé, je heet toch Amy?” tanya Arsen. (Hei, namamu Amy bukan?) Maid itu menjawab dengan mengangguk.


“Zeg tegen jongedame dat we teruggaan om het huis van Jimi's vriend te bezoeken.” pintanya. (Katakan pada Nyonya Muda, jika kami pergi kembali, kami akan mengunjungi teman Jimi.)


“Ik zal dat bericht doorgeven aan Young Lady.” jawabnya. (Saya akan menyampaikan pesan itu pada Nona Muda.)


“I will pick you back up, let me know soon.” ucap sang sopir pada Jimi. (Saya akan menjemput Anda kembali, segera kabari saya)


“No need, we will be delivered by my friend.” jawab Jimi. (Tak perlu, kami akan diantarkan kembali oleh temanku)


Arsen dan Jimi masuk ke dalam apartemen, lalu Jimi menghubungi temannya.


Tak lama temannya pun datang. Ia membawa mereka berdua mengelilingi beberapa tempat, memperkenalkan beberapa orang pada Jimi dan Arsen.


“Kenalkan dia adalah teman baikku dan dia putranya.”


Tak terasa malam pun telah datang, hp Jimi sejak tadi sudah beberapakali mendapatkan panggilan dan belasan pesan dari Billa.


“Hallo, Miss. Jangan marahi Dad, aku memintanya menemaniku.” jawab Arsen mengangkat hp. “Dad sekarang sedang tertidur karena kelelahan.”


Billa tak bisa berkata lagi, ia hanya bisa mengalah.


“Kita harus segera ke Mansion, Paman tolong antarkan kami.” pinta Arsen.


________________

__ADS_1


Arsen dan Jimi telah sampai di Mansion, beberapa kali Jimi menyapu wajahnya dengan tangan, matanya memerah karena bangun tidur.


“Abang! Kau dari mana saja? Kenapa lama sekali pulang?” tanya Arhen.


“Sudah, biarkan Abang membersihkan diri dulu.” ucap Sakinah lembut pada Arhen. “Abang bersihkan diri dulu, ya!” lanjut Sakinah, mengusap kepala Arsen lembut.


Arsen patuh masuk ke dalam kamar.


Ia mengambil barang yang telah ia beli tadi, Arhen dan Ardhen yang mengikutinya dari belakang langsung mengerubunginya dengan antusias.


“Ini untukmu.” Memberikan Arhen satu buah jas, “Ini untukmu.” Kemudian memberikan Ardhen celemek.


Dua anak laki-laki itu menatap, mereka memiliki banyak jas dan celemek yang telah dipersiapkan oleh Sekar.


“Kalian hanya boleh memakainya saat acara tertentu saja, seperti lomba besar, ini untuk safety aja.” jelas Arsen.


“Hm, ini....” Arhen sejenak berpikir. “Makasih, Abang.” sambung Arhen riang, mengecup pipi Arsen.


“Menjijikan!” Arsen mendorong tubuh Arhen, namun adiknya itu tak peduli, terus-menerus memeluknya.


“Makasih, Abang.” ucap Ardhen lembut, tersenyum melihat kedua kakak laki-lakinya. Ia segera melipat dan menyimpan celemeknya.


“Bang!” panggil Arhen.


“Hm.”


“Kau beneran suka pada anak perempuan gemuk itu?” tanya Arhen, membuat Ardhen cepat berputar, lalu duduk kembali dengan cepat. Penasaran!


Arsen hanya menjawabnya dengan mengernyitkan kening.


“Aku membuka laptop Abang tadi, di sana ada pesan tentang keluarga anak itu.”


Pletak! Jitakan ngenes dikepala Arhen.


“Siapa yang menyuruh kau memainkan laptop itu?!” tanya Arsen marah.


Ia bergegas memeriksa laptop itu. “Jangan pernah buka laptop ini lagi! Di sini banyak rahasia, kalian berdua hanya boleh memegang yang lain!” ucap Arsen serius. Ia segera mengubah kata sandi dan memberikan sidik jarinya.


“Jangan menatapku seperti itu! Kau tak akan paham jika ku beritahu, tunggu kau lebih besar dan lebih pintar!” ucap Arsen Sianak kecil yang gak sadar dirinya kecil itu.


“Iya, aku gak akan buka lagi...” sahut Arhen lirih.


“Kita ini masih kecil, rasa suka hanya untuk Mom seorang. Aku memeriksa keluarga Roselia hanya penasaran, dia cukup tulus daripada yang lain. Hanya itu, jangan terlalu banyak berpikir, pikirkan saja pelajaranmu.”


“Iya, Bang.”

__ADS_1


...***...


__ADS_2