
Mansion berdiri kokoh menyambut mata Sakinah, Arhen dan Ardhen. Mansion itu bercorak kuning keemasan ala Eropa.
Mereka baru sampai dan turun dari mobil panjang. Para Maid dengan baju berwarna putih hitam dengan rok sedikit kembang di bawah membungkuk hormat. Mereka memakai topi putih, dengan semua rambut disanggul seperti pramugari.
Satu orang pelayan laki-laki berdiri paling didepan diantara para Maid itu. Lalu satu orang laki-laki paru baya berjalan ke depan langsung menyambut Sekar, Sakinah dan anak-anak.
“Welkom, Mevrouw.” sapanya hormat. (Selamat datang, Nyonya.)
Sekar berjalan anggun, menaikkan dagunya dengan membusungkan dada berjalan layaknya nyonya besar.
Sakinah menganggukan kepala ramah pada lelaki tua paruh baya itu. Dia adalah Kepala Pelayan. Sedangkan Arhen dan Ardhen menatap semua orang, lalu berjalan mengikuti Sekar, begitupula Sakinah.
Beberapa Maid berbisik melihat pakaian Sakinah yang aneh, Sakinah menggunakan pakaian berhijab dengan masker kain.
“Breng dingen naar hun kamer!” suruh Sekar dengan menggoyangkan jari telunjuknya. (Bawa barang-barang mereka ke dalam kamar!)
“Kalian mau mandi atau istirahat langsung? Kalian boleh mandi dimana saja yang kalian suka, mau dimandikan oleh mereka atau mandi bersama Grandma?” tanya Sekar pada anak-anak.
“Ayo, mandi bersama Grandma!” seru Arhen.
Sekar langsung membawa Arhen dan Ardhen ke kolam dangkal yang berada di tengah mansion itu.
“Grandma, kenapa dua kolam ini berbeda warna?” tanya Ardhen menatap dua kolam mini yang berwarna putih dan biru.
“Oh, ini air tawar, ini susu. Kalian pilih mandi yang mana?”
“Susu?” gumam mereka berdua.
“Bukankah susu itu untuk diminum. Kata Mom, mubazir itu temannya setan, kalau minuman di buang begitu nanti kita jadi teman setan.” ujar Ardhen.
Sekar terkekeh. “Susu yang ini bukan untuk diminum, beda lagi, ini cuma untuk mandi, malahan gak boleh diminum.” jelas Sekar.
“Susu ini untuk melembutkan kulit.” Arhen dan Ardhen tampak tak tertarik dengan penjelasan Sekar.
“Susu ini untuk kesehatan, jadi kulit dan tubuh kita akan sehat, tidak gatal-gatal, jadi lebih bersih.” Sekar mencoba menjelaskan kembali.
“Apa Mom akan cantik jika mandi di sini?” tanya Ardhen.
“Tentu saja, lihat Grandma yang sudah tua masih terlihat sehat. Jadi kalian harus cepat mandi agar bersih dan sehat. Mom kalian pasti bahagia” ucap Sekar.
__ADS_1
Ardhen dan Arhen saling menatap dan mengangguk. “Baiklah, kami akan mandi, agar bersih dan sehat. Mom akan bahagia.” Mereka berdua berkata kompak.
Mereka berdua langsung membuka baju dan mandi ke dalam kolam susu mini itu.
Sakinah masih mematung, tak tahu apa yang harus ia lakukan dirumah besar ini. Rumah yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam otaknya. Istana yang sungguh megah, indah, luas dan besar.
“Kom, ik breng je naar je kamer.” (Mari, saya akan mengantarmu ke dalam kamarmu.) Seorang pelayan wanita dengan wajah sombong berkata.
“Sorry, i don't understand.” jawab Sakinah.
“Blablablabla.” Ia berkata kembali dengan bahasa Belanda. Sakinah masih tak mengerti.
“Blablablabla.” Ia mengganti bahasanya dalam bahasa Inggris, Sakinah tetap tak mengerti.
Sakinah mengerutkan keningnya berkali-kali, ia sungguh tak mengerti. Ia hanya bisa mengatakan ‘I don't Understand, Yes, No.’ Ya, hanya itu saja.
Perempuan itu kesal karena Sakinah masih tak mengerti, Ia menampar pipi Sakinah, menarik masker kain itu sampai memperlihatkan wajah Sakinah.
Merasa tak puas, ia menarik kembali jilbab Sakinah sambil berkata yang tak bisa sedikitpun dipahami oleh Sakinah. Ia lempar sebuah pakaian ke Sakinah.
Sakinah menatap pakaian itu, pakaian dengan rok pendek yang mengembang. ‘Apa dia menyuruhku memakai baju ini?’ gumam Sakinah.
Pelayan itu kembali berkata menunjuk-nunjuk lemari, melempar tas Sakinah ke dalamnya dengan kasar. Lalu berkata kembali menunjuk-nunjuk baju. Sakinah hanya bisa menggunakan instingnya, kemudian mengangguk.
Pelayan itu pergi, Sakinah pun mengganti pakaiannya dengan pakaian maid. Ia lapisi di dalamnya dengan mansait dan celana legging agar bisa menggunakan hijab.
Sakinah menghela nafas. Serasa seperti orang bodoh karena tak mengerti satupun ucapan orang. Ia duduk di ranjang, termenung.
Pelayan itu kembali masuk setelah sakinah mengganti pakaian. Ia membawa sapu dan pel, memberikan pada Sakinah. Dia berkata dengan kode yang seolah artinya menyuruh Kinah mengepel dan membersihkan rumah.
Kinah lama diam, berpikir, kenapa dia harus membersihkan rumah dan menjadi pelayan?
Kinah kemudian menurut, karena pelayan itu masih memaksa dan menarik-nariknya. Ia mengepel ruangan, lalu menyapu.
Beberapa Maid berlalu lalang membawa makanan.
Pelayan yang tadi kembali berkacak pinggang menghardik-hardik Kinah. Menunjuk arah dapur. Kemudian seseorang mengarahkan tangan menunjuk tumpukan piring kotor yang sangat banyak.
Kinah menghela nafas, apakah dia akan memberontak? Ataukah memang tugasnya seperti ini? Dia benar-benar tak mengerti dengan ucapan siapapun disini.
__ADS_1
Penat? Ya. Dia memang penat. Namun pikirannya yang kini penat. Sejak ia masuk ke mansion, ia berpisah dengan putra-putranya. Rumah ini terlalu besar untuk ia jelajahi, belum lagi orang-orang berkata dengan bahasa aneh baginya.
Ia duduk terperangah setelah mencuci semua piring kotor. Seorang maid tersenyum manis padanya, menyodorkan sepotong kue bertabur strawberry diatasnya.
Sakinah mengambilnya, kemudian tersenyum dan memakannya.
Mereka berdua tak berkomunikasi layaknya normal, hanya beberapa gerakan tangan dan senyum, seperti manusia bisu dan tuli yang berbincang.
Dikamar yang mewah dan megah.
Arhen dan Ardhen sedang dipakaikan pakaian yang bagus. Rambut mereka dirapikan, mereka dipakaikan perhiasan yang entah kapan dibelinya. Yang pasti semuanya sudah tersedia penuh dalam lemari mereka.
Kepala Pelayan membungkuk hormat pada mereka berdua, mempersilahkan mereka berdua kemeja makan. Arhen dan Ardhen telah bisa bahasa Belanda walaupun tak terlalu fasih.
Mereka memiliki IQ yang tinggi bisa belajar dengan cepat tentang bahasa Belanda, apalagi mereka memang sudah lancar bahasa Inggris sejak dini, jadi mereka dengan gampang bercakap dengan Kepala Pelayan.
Sekar telah duduk menunggu mereka dengan anggun dan berwibawa.
“Mom mana?” tanya Arhen dan Ardhen melirik semua penjuru ruangan itu. Kemudian menatap Sekar.
Sekar pun juga tidak mengetahui keberadaan Kinah semenjak mereka mandi bersama tadi, karena Sakinah tidak ikut mandi bareng.
“Bel hier Jonge Mevrouw!” suruh Sekar pada Kepala Pelayan. (Panggil Nyonya Muda kemari!)
Kepala Pelayan itu tampak bingung dan masih diam mematung, ia tak tahu Nyonya Muda yang mana yang dimaksud Sekar.
“Waarom sta je hier nog?! Breng hem snel hier, hij heeft al een tijdje niet meer gegeten!” hardik Sekar. (Kenapa kau masih disini?! Cepat panggil, dia belum makan sejak tadi!)
“I-Iy-Iya.” Kepala Pelayan itu segera pergi, ia meragu.
‘Apakah Nyonya bermaksud wanita berpakaian teror*s itu yang Nyonya Muda? Apakah itu istri Tuan Muda Andrean? Benarkah?’ Ia bermonolog dengan hatinya yang dilanda ragu.
Kepala Pelayan menemui wanita pelayan yang menampar dan menghardik-hardik Sakinah tadi.
“Mana wanita itu?” tanya Kepala Pelayan.
“Di dapur, mencuci piring, Tuan Kepala.” jawabnya hormat.
...***...
__ADS_1