Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Ciuman Posesif


__ADS_3

Andrean merapikan pakaiannya, menelfon seseorang yang tak lain adalah David.


“Aku ingin kau mencaritahu tentang anaknya teman istriku. Dan satu lagi, sewaktu kita mengurus surat nikah, kartu keluargaku ada kotak yang kosong dibawah nama Sakinah 'kan? Sedangkan nama Ardi sudah tertulis diatas. Pastikan kembali datanya, benarkah itu hanya kekeliruan dalam mengetik atau yang lainnya.”


Andrean duduk bersimpuh dengan tangannya menumpu dagu. Terus berpikir.


Waktu menikahi Sakinah, Ia dan David mengurus surat-surat, di sana terdapat info jika Sakinah memiliki tiga anak, tetapi tidak ada nama, hanya ada dua orang dengan nama Arhen dan Ardhen tapi diatasnya kosong.


Apakah sebenarnya yang terjadi?


Saat ia bertanya pada pria yang membantunya kala itu, katanya itu hanya kecerobohan pegawai baru dalam membuat format kartu keluarga. Jadi, Pria itu mengulang membuat format baru, mengganti nama Ardi dengan nama Andrean, lalu menaikan nama Arhen dikotak kosong itu, dibawah nama Arhen ada nama Ardhen, bahkan nama mereka juga di rubah menjadi Arhen Ryker Van Hallen dan Ardhen Ryker Van Hallen.


Ya, begitulah data mereka ditulis ulang oleh pria yang membantunya kala itu.


Andrean kembali melamun, berpikir dan berpikir, hingga ia mengingat beberapa kejadian, salah satunya saat ia mengajak Ardhen berbelanja.


‘Wah, Abang pasti suka ini, Papa belikan ini untuk Adik ya, Adik mau kasih buat Abang!’ seru Ardhen bersemangat.


Lalu, saat ia pulang bekerja melihat Arhen dan Ardhen berdebat, entah apa yang anak itu perdebatkan.


‘Abang pasti akan memarahi Kakak, kalau Kakak begitu! pekiknya pada Arhen.


‘Aku akan mengadukan perbuatan Kakak pada Abang! Lihat saja nanti!’ ancamnya pada Arhen.


Begitu banyak perkataan yang dilontarkan Ardhen tentang Abang, sehingga Andrean pun penasaran dan bertanya.


‘Abang siapa?’


‘Saudar kemb-’ Ardhen langsung diam, menutup mulutnya.


‘Saudara kami Pa, anaknya Miss dan Daddy Billa.’ lanjut Ardhen lagi.


‘Sungguh?’ Andrean bertanya penuh selidik.


Ardhen menggaruk ujung hidungnya. ‘Iya, Pa.’ jawab Ardhen, tetapi ia semakin menggaruk ujung hidung cepat.


Walupun Andrean belum terlalu dekat dan ahli mendekati anak-anaknya, tetapi perlahan ia mulai mengenal karakter Arhen dan Ardhen. Putranya yang satu ini bersikap lembut, patuh dan sedikit bodoh dalam berbohong, berbeda dengan Arhen yang hobinya berakting.


Ya, walau Arhen katanya riang, sering tersenyum dan manja-manja pada semua orang, tetapi anak itu gak pernah riang saat bersamanya, akan selalu jutek jika bertemu dengannya.

__ADS_1


“Apa benar kamu anak teman istriku? Lalu, kenapa kau menargetkanku? Kenapa membenci keluarga Van Hallen? Aku tahu kau memasukkan sesuatu di sakuku.” Andrean memegang benda kecil itu, mencabut kabel yang sangat kecil di benda itu, hingga benda itu tidak berfungsi lagi.


“Aku harus segera pergi dan pulang, pikiranku sungguh kacau, hanya wanita itu saja yang selalu terbayang olehku, aroma tubuhnya, gerakan tubuhnya, ucapannya, semuanya!” Andrean mengelus bibirnya.


“Karena kau berani menggodaku, aku akan membalasnya, aku akan segera pulang!” gumamnya tersenyum kecil dan bersiap pulang.


_________________


Andrean telah sampai di Mansion.


Ia masih tersenyum kecil, beberapa ide muncul dalam otaknya untuk ia tujukan pada Sakinah. Ya, ingin sedikit mengerjai istrinya yang membuat pikirannya terganggu akhir-akhir ini.


!!! Deg! Deg!


Nyeri! Nyeri di ulu hati.


Pemandangan pertama kali yang ia lihat, Kakak laki-lakinya memeluk istrinya!


‘Apakah kau wanita yang sama? Yang akan selalu tertarik dan tergoda pada Kakak ku?’ Andrean menatap mereka berdua dari kejauhan.


‘Apa aku terlalu berharap tinggi padamu yang terlihat diawal sedikit berbeda? Apa anganku terlalu tinggi karena kamu memiliki anak denganku?’ gumamnya.


Kali ini, Andrean salah paham lagi!


Cerita yang sebenarnya, Sakinah sedang belajar etika untuk berpesta. Lalu, cara menggunakan dress yang anggun dan memakai high hell yang tingginya ngeri-ngeri sedap untuk Sakinah.


Sebenarnya pembelajaran sudah selesai, guru tata krama pun juga sudah pergi, namun karena masih ingin belajar dan cepat bisa, Sakinah mencobanya sendirian. Tak disangka dua kali berputar, ia terpeleset dan hendak jatuh, bergegas Dedrick melompat, menyambut dan memeluk dirinya kuat, Sakinah karena kaget ia pun memeluk Dedrick erat.


Ya, Dedrick memang sejak tadi memperhatikan Sakinah diam-diam. Itulah kejadian yang sebenarnya.


“Maaf, maaf Kakak.” ucap Sakinah berusaha melepaskan tubuhnya.


“Hu'um.” Perlahan Dedrick melepaskan pelukannya.


Setelah pelukan itu terlepas, mereka pun saling canggung.


“Aku permisi dulu, Kak.” pamit Sakinah buru-buru, wajahnya memerah karena malu.


“Iya.” jawab Dedrcik.

__ADS_1


Dedrick menatap kedua telapak tangannya yang memeluk Sakinah tadi, ia jadi tersenyum kecil, Ia letakkan satu tangannya di dada, yang satu lagi masih ia tatap. Ia rasakan debaran di dadanya begitu hebat memompa.


Hati tak bisa dibohongi. Kelihatan biasa dari luar, tetapi di dalam sudah menggelora.


Andrean masih meneliti raut wajah dan sikap Dedrick dari kejauhan.


‘Apa kali ini kita masih memiliki perasaan yang sama pada wanita yang sama? Seberapa besar kau menyukai dia, Kak?’


“Eh, kamu sudah pulang?” tanya Sakinah, membuat Andrean meliriknya.


“Ya, barusan.” jawabnya, padahal sejak tadi ia sudah pulang dan melihat adegan pelukan.


“Aku bantu, ya.” ucap Sakinah.


“Aku sudah bilang, kau bukan pembantu!” Andrean mendorong kepala Sakinah dengan telunjuknya pelan. Lalu, berjalan pergi hendak masuk ke dalam kamar.


Sakinah mengikutinya dari belakang seperti biasa. Adegan ini terasa sangat familiar bagi Andrean sekarang, bahkan jika Sakinah tidak mengikutinya, itu malahan aneh.


Setelah masuk di dalam kamar.


Andrean langsung memeluk tubuh Sakinah posesif. Tidak ada hujan ataupun badai, ia langsung mencium bibir istrinya itu. Sangat dalam dan cukup lama.


Setelah melepaskan pagutan bibir itu, ia baru sadar akan sikapnya yang aneh, ia gugup, apakah Sakinah akan marah, menampar, mencekiknya, atau memakinya?


“Mau lagi? Atau mau aku bantu buka baju untuk mandi?” tanya Sakinah.


‘What?!!!’ Andrean memekik dalam hati.


‘Apa-apaan itu pertanyaan dia? Apa dia tidak menganggap ciumanku sama sekali? Lihat wajahnya ini? Terlihat menganggapku tidak berarti!’ Andrean geram sendiri.


‘Dia kenapa? Apa dia selesai bermain perempuan lagi? Ya Allah, kuatkanlah hatiku dan bukalah pintu hati suamiku. Aku telah memilih dan menetapkan pilihanku. Apakah jalan pilihan ini salah, Ya Allah. Hanya padamu lah aku berlindung dan mohon petunjuk.’ bisik Sakinah dalam hati dengan wajah datarnya menatap Andrean, namun pikirannya berkelana.


Karena merasa tak senang, ciumannya tak dianggap oleh Sakinah, Andrean pun mencium kembali bibir istrinya itu, lebih dalam, lebih posesif lagi.


‘Sepertinya dia benar-benar habis main perempuan, ciumannya lebih kasar dan liar daripada sebelumnya.’ pikir Sakinah dalam hati, matanya masih menyala terang.


‘Ya Allah, Engkaulah Maha Pembolak-balikan hati, maka balikkan hati suamiku pada jalan yang benar, sebagaimana aku memaksa hatiku mencintainya. Aamiin.’ Sakinah memejamkan hatinya, lalu menutup mata, menggelayutkan tangannya dileher Andrean, mencoba menikmati ciuman dari suaminya itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2