
Arsen tak sabar, dia khawatir. Dia menghubungi Ardhen, tak ada jawaban, dia menghubungi sopir khusus Jamila dan Jay, tak ada jawaban juga.
“Sial! Lebih cepat lagi, Paman!”
Saat sampai di Mansion, Arsen terkejut melihat para pelayan telah terikat dan disumpal mulutnya, empat orang satpam di pintu gerbang depan masih pingsan, dengan tangan yang terborgol. Dua satpam di halaman belakang terluka di bagian tangan dan bekas tembakan peluru di perutnya, mereka berdua pun tampak pingsan.
Arsen dan Xander membebaskan ikatan mereka, menyuruh mereka yang terluka berobat, yang terluka parah diminta antar oleh Arsen ke rumah sakit pada mereka yang sudah dia bebaskan.
Arsen berlari ke dalam, ke ruang khusus ibunya, lalu ke kamar. Tak ada Sakinah di dalam. “Mom....” Arsen langsung memeriksa cctv melalui laptopnya, semuanya sudah di clear. Tak ada yang bisa dilihat di sana. “No!” Arsen frustasi, dia menghubungi Vindo, tetapi tak diangkat.
“Sial, apakah ini semua sudah direncanakan? Mereka sengaja membagi-bagi!” Arsen mencoba tenang, dia memilih mencuci wajahnya dan membasuh kepalanya agar dingin dan bisa berpikir ke kamar mandi.
“Sebenarnya mereka mengincar apa?” Arsen mengotak-atik laptopnya kembali setelah kepalanya terasa dingin.
Arsen sudah sedikit tenang, dia memeriksa laptop lainnya, ada beberapa titik koordinat berbeda-beda. Menunjukkan dimana posisi Hans dan Roselia. Mata Arsen terbelalak.
“Di-dia memakai cincin itu?” tanya Arsen. Selama ini, dia sudah memberikan Roselia hadiah untuk berjaga-jaga, tetapi gadis manis itu malah menyimpannya, apa yang bisa dilihat di dalam laci?
“Tunggu, aku jangan GR dulu! Mungkin saja dia pakai gelang atau kalung yang aku berikan untuk aksesoris bajunya pergi ke kampus.” Arsen menyadarkan dirinya dari rasa sikap percaya dirinya, tetapi dia tak bisa menipu, hatinya begitu senang, rasa cemas tiba-tiba menghilang berganti jadi debaran.
“Hah?” Arsen tersentak kaget. Posisi Sakinah dan Jamila serta Jay sama, lalu posisi Hans dan Roselia juga sama tetapi mereka terus bergerak. Sedangkan titik koordinat milik Ardhen tiba-tiba menghilang.
“Apakah terjadi sesuatu pada Ardhen?” Arsen langsung khawatir. Saat ini dia merasa yakin posisi ibu dan adik-adiknya aman, karena tampak pergerakan Andrean dan David menuju ke arah sana.
“Paman, kumpulkan pengawal yang tersisa, ayo kita cari Ardhen dulu. Aku yakin, Papa dan Paman David akan menyelamatkan Mom dan Princes.”
__ADS_1
“Baik Tuan Muda.”
Setelah berkata seperti itu, Arsen langsung meninggalkan pesan pada Vindo. Mengatakan jika mereka juga mendapatkan masalah serius.
***
Pagi ini, Ardhen masuk ke kantor, bekerja seperti biasa. Tetapi tiba-tiba Haizum, penjaga kasirnya datang ke kantor.
“Pak, ada wanita bernama Haizum, dia berkata seorang pekerja di Vend Beutique, ada yang ingin dia sampaikan, hal penting.”
“Haizum? Baiklah, suruh dia masuk!” perintah Ardhen pada Sekretarisnya.
“Wah, wah, ada wanita baru nih!” celetuk Cleo yang satu ruangan dengannya.
“Ya, karyawan pun bisa jadi demen sih! Cuit, cuit!” goda Cleo.
Ardhen mengabaikan godaan Cleo. Pintu perlahan terbuka, masuklah Haizum, tampilannya sedikit berantakan, badannya penuh dengan peluh.
Ardhen menatapnya teliti. “Ada apa Haizum?”
“Tuan Muda, ayo kita pergi menyelamatkan diri! Banyak penipu dan mata-mata!” Haizum menatap tajam Cleo.
“Hah? Kenapa kau menatapku seperti itu gadis?” Cleo menegur Haizum yang berkata seenak jidat menurutnya.
Haizum dengan berani menarik paksa Ardhen. “Tuan Muda, ayo, ini sangat gawat dan genting, ayo, cepat!” Air mata Haizum tiba-tiba menetes. “Percayalah padaku, dengan seluruh nyawaku, aku persembahkan untuk menyelamatkan dirimu Tuan Muda!” Berkata serius.
__ADS_1
“Heh? Kau di tembak cewek lagi, Bro!” kekeh Cleo. “Gila, cewek yang ngungkapin cinta sama kamu, pada unik-unik ya!”
“Hah?”
“Ayo kita pergi! Aku mohon, Mom dan adik Tuan Muda sudah mereka tangkap, aku mendengar semua yang mereka katakan, ayo!” Haizum menarik Ardhen sekuat hati sampai pria itu tersungkur.
“Ayo!” Haizum tak peduli, dia memaksa Ardhen.
“Hei, Nona, sabar, ada apa ini?” Cleo mencegat tangan Haizum yang memaksa Ardhen.
“Tuan Muda harus pergi dari negara ini secepat mungkin! Ada bahaya!”
“Cih, bahaya apa sih? Keluarga Van Hallen itu bukan keluarga sembarangan, Gadis Kecil! Siapa orang bodoh yang mau cari masalah?!” Cleo mendorong kening Haizum. “Kamu kalo suka sama temanku, jangan a-” ucapan Cleo terpotong.
“Ayo!” Ardhen bangkit setelah melihat pesan dari ayahnya. [Son, save your self]
“Aku percayakan semuanya padamu!” ucap Ardhen menepuk pundak Cleo.
“Apa!!” Cleo terbelalak.
Ardhen dan Haizum berlari, menuju lift. Mereka naik menggunakan lift sampai ke atas.
Mereka berdua pergi dari sana menggunakan helikopter tanpa sepengetahuan siapapun tujuan mereka, kecuali yang menjalankan helikopter. Jika pun Cleo tahu mereka pergi, tapi dia tak tahu kemana tujuan Ardhen, tak ada siapapun juga yang tahu ada helikopter di atas gedung ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1