
Di Sekolah Jamila.
Putri kecil yang sering dipanggil Princess oleh para kakak laki-lakinya itu, kini tengah duduk dengan wajah masih menatap tajam dua orang anak perempuan yang duduk berhadapan dengannya. Orang tua gadis itu juga menemani putrinya, lalu seorang anak laki-laki kecil yang tampak culun tengah menangis dalam pangkuan ibunya. Jay dan King juga tengah tertunduk.
“Omg!” Seorang pemuda yang ditugaskan Calista untuk mengurus King telah datang sambil mengelus keningnya yang berkerut setelah mendengar cerita dari guru padanya. “King, why?” Ia menatap King, putra sulung Dedrick dan Calista.
“Paman, kau jangan hanya mendengar pembelaan sepihak! Mereka yang salah!” King menunjuk dua anak perempuan dan satu anak laki-laki.
“Dasar kurang ajar! Kau sebagai bapaknya, tolong ajarkan putra mu!” Ibu dari salah satu anak perempuan itu berdiri sambil berkacak pinggang.
“Bu, tolong tenang!” Guru wali kelas melerai perdebatan itu.
Tak lama, Sakinah, Clara, dan Hans sampai juga. Orang bisa mengenali Hans, namun tidak dengan Sakinah, Clara, dan Jamila, karena mereka jarang tampil di publik, sering di rahasiakan oleh Andrean dan Arsen. Tiga orang Ibu itu tampak hormat pada Hans, bahkan guru wali kelasnya tampak tersenyum akan kedatangan Hans.
“Putriku, ada apa ini, Nak?” Sakinah mengelus Jamila dan bertanya lembut. Jamila hanya diam saja dengan mode cemberutnya.
“Jay, King?” Sakinah menatap dua anak laki-laki yang juga duduk di samping Jamila.
Sakinah memang sudah bisa bahasa Belanda dan Inggris, namun ia belum terlalu fasih, sehingga membawa Clara kemanapun ia pergi.
“Mom kedua, dua anak gadis itu menjahati princes, tentu saja aku dan Jay sebagai kakak laki-laki akan melindungi adik!” King yang menjawab dengan menggebu. Sakinah mengelus kepala King.
“Alasannya apa? Kenapa mereka sampai menjahati Jamila?”
__ADS_1
King diam tak menjawab. Tak ada yang menjawab. Guru wali kelas pun juga bingung, menurut yang ia dengar dan ketahui, untuk sementara Jamila lah yang salah, Jamila memukul salah satu anak perempuan itu, sehingga temannya menolong. King yang melihat mencoba melerai, tetapi anak laki-laki yang terlihat culun itu nampak membela, sehingga Jay juga turun tangan.
Tiga orang itu kalah. Kemudian, Jamila membakar taman bermain itu dengan mengamuk, Jay, dan King yang tak ingin Jamila saja yang dimarahi, sehingga membantu Jamila melihat api agar tidak menyebar ke bangunan, tapi membiarkan taman belakang sekolah itu habis terbakar.
“Mila, ini sudah sekolah yang kelima kamu pindah dan ini sekolah terakhir yang bisa menerima kamu, Nak,” tutur Sakinah pelan. Dulunya, Jamila di sekolahkan di sekolah Arsen waktu kecil, tapi dia tidak menguasai pelajaran, sering kabur.
Akhirnya dia dipindahkan di sekolah Ardhen waktu kecil, pelajaran di sana tak terlalu sulit, dia malah membakar dapur praktek. Lalu, dia pindah ke sekolah dimana Arhen kecil dulu belajar, dia malah membuat temannya tenggelam saat praktek akting di kolam.
Sakinah pun meminta Andrean memasukkan Jamila di sekolah umum biasa. Dia memukul kepala guru dan berkata guru itu bodoh, sehingga Kepala Sekolah tidak bisa menerima murid nakal seperti dia. Kini, Jamila sekolah ditempat Jay dan King sekolah. Sekolah Negri terbaik.
Apa lagi ini? Anak perempuan itu membakar taman dan dibantu oleh kedua kakak laki-laki yang diminta untuk menjaganya. Sakinah tampak sedih.
Melihat Sakinah sedih, Jay langsung berkata pada guru. “My Teacher,” panggil Jay. Sang guru pun menoleh padanya.
“Silahkan Bu Guru lihat!” Jay menyerahkan rekaman video.
Semua yang ada dalam ruangan tercengang, kecuali Hans. Dia tahu, Arsen membekali Jay dan Jamila sesuatu. Sayangnya, Jamila tidak tahu, sedangkan Jay mengetahui hal tersebut.
Jay anak yang sangat pintar, kedua orangtuanya Shalsabilla dan Jimi bukan orang sembarangan, mereka juga pintar. Anak semata wayangnya ini, bukan hanya tampan dan pintar, tetapi juga mengidolakan sosok Arsen. Apapun benda yang dimiliki Arsen, maka ia juga menginginkan nya, termasuk jam balck mag dan cincin blue safire yang selalu di pakai Arsen.
Jamila masih menatap tajam mereka semua, ke tiga ibu itu sudah mulai tampak melunak, menyadari posisi mereka akan berbahaya, Jamila, Jay, dan King rupanya bukan anak sembarangan. Putri bungsu dari Andrean Ryker Van Hallen yang selalu di tutupi dengan pakaian cadarnya, tetapi saat di sekolah, gadis manis itu hanya memakai hijab santai yang dimasukkan ke dalam baju sekolahnya, mirip seperti wanita-wanita pekerja di bank.
King adalah putra sulung Dedrick bersama Calista, lalu Jay, entah siapa pula anak pintar itu. Membuat nyali mereka mulai menciut.
__ADS_1
Guru pun menyelesaikan perundingan, masing-masing saling meminta maaf. Akan tetapi, Sakinah harus tetap membayar biaya kerusakan yang dilakukan oleh Jamila. Hans telah membayarkan semuanya dan menyelesaikan urusan itu. Ini semua adalah peringatan, untuk ke depannya, Jamila akan dikeluarkan dari sekolah jika melakukan kesalahan yang sama atau lebih.
Semua pun pulang setelahnya. King bersama pria yang diutus Calista, Hans kembali ke kantor, Clara, Sakinah, Jay, dan Jamila masuk ke dalam mobil yang sama.
Clara duduk di depan, di samping supir. Sakinah di bangku belakang bersama Jay dan Jamila. Di dalam mobil, Sakinah menangis, membuat semua orang yang ada di dalam mobil hening tak bersuara.
Hingga mobil sampai di mansion Van Hallen. Sakinah terus masuk ke dalam kamarnya, tak pernah keluar hingga malam pun menjelang. Jay termenung diam di depan pintu kamar Sakinah, Jamila sudah menangis sejak tadi tiada henti di sana.
Ardhen dan Arsen pulang hampir beriringan, lalu Andrean juga tak lama pulang dengan membawa sebuket bunga yang tadi dibelinya. Langkahnya terhenti saat melihat 4 orang di depan pintu kamarnya.
“Ada apa ini?” tanyanya. Dia lihat Jamila menangis. “Sayang, Putriku tercinta, kamu kenapa?” Dia cemas dan langsung menggendongnya.
“Jay, ikut denganku!” Arsen berkata dingin, lalu berjalan ke ruang kerjanya.
“Pa, biar Ardhen yang gendong Princes, Papa masuk ke dalam ya, temui Mom!” Ardhen mengambil Jamila dari gendongan Andrean.
“Mom? Mom kalian kenapa?” Raut wajah Andrean semakin tegang. Buket bunga yang tadi ia beli telah tercampak begitu saja.
“Sayang, buka pintunya, ini aku?” ucapnya mengetuk pintu dengan tergesa-gesa karena cemas.
Sayangnya, tak ada sahutan.
Akhirnya Andrean menelpon pelayan yang ada di lantai bawah, meminta kunci cadangan.
__ADS_1