
Di Italia.
Ardhen sibuk dengan study yang ia ambil, tataboga tentunya. Ia ingin menjadi Chef terkenal dan terfavorit seperti chef idolanya, Granfiance Massimo memiliki kemampuan yang hebat. Ia ingin membuat masakan setiap daerah dan negara mana pun, agar bisa memanjakan lidah wanita yang ia cintai, yaitu ibu dan adik perempuannya, Sakinah dan Jamila.
Seorang gadis cantik berjalan mendekat ke arah Ardhen, ia memiliki rambut sepanjang bahu berwarna merah. Rambut awalnya pirang kemerahan, namun ia warnai menjadi merah pekat.
Ia berumur 19 tahun, 3 tahun di atas Ardhen, namun ia satu jurusan dan satu kelas bersama Ardhen. Ia cukup pintar, namun tidak bisa mengalahkan sosok sigenius Ardhen tentunya, jika Ardhen bisa dikalahkan oleh Abangnya Arsen, tetapi di sini, ialah bintangnya.
“Wah, indah sekali!” pujinya menatap Ardhen yang telaten mencabut duri ikan tuna dari badannya, mengiris tipis membentuk bunga teratai.
Matanya terus menatap makanan yang telah siap di susun Ardhen dengan mata berbinar. “Hei, ini bagaimana membuatnya sebagus ini?” Ia menunjuk goreng ikan yang bisa dibentuk terlihat seperti rebus jagung. Belum lagi potongan buah dan sayur yang dihias sangat indah seperti ular naga dan burung phoenix.
“Nanti kuajari,” jawab Ardhen tanpa menoleh pada wanita Italia yang cantik itu.
“Iya,” sahutnya tersenyum, ia terus memandangi wajah tampan Ardhen.
“Ekhem!” Terdengar suara seseorang berdehem, mengejutkan dirinya yang menatap Ardhen.
“Wah, sudah hampir selesai, ya, butuh bantuanku tidak?" tanya Abraham.
“Telat, aku bahkan hampir selesai, kemana saja dirimu bersama Cleo sejak tadi?” Ardhen mengangkat wajahnya yang sejak tadi merunduk fokus pada tulang ikan yang ia cabut, kini ia menatap Abraham.
“Biasalah!” jawab Abraham tersenyum, ia melirik wanita cantik di samping Ardhen.
Wanita berambut merah ini bernama Rufia Norah, teman satu jurusan dan satu kelas bersama Ardhen, Abraham dan Cleo.
“Cleo mana?” tanya Ardhen lagi, pandangannya sudah kembali turun menatap masakan yang ia hias.
“Lagi beli sesuatu, lupa apa namanya!” jawab Abraham menggaruk kepalanya karena lupa, lalu dengan santainya mencabut daging ikan tuna yang sudah dihias berbentuk bunga teratai itu dengan sumpit, kemudian mencelupkan ke dalam kuah, dan melahapnya.
Ardhen menatapnya tajam, yang ditatap hanya tersenyum tanpa dosa.
“Abraham! Ardhen 'kan capek menghiasnya, kok dirusak sih! Kenapa gak ambil yang ini aja!” Rufia memukul bahu Abraham dengan sendok goreng yang ada di dekatnya dengan cukup keras.
“Auwch, aduh! Astaga, wanita memang sangat kejam!” seru Abraham.
Abraham Holt dan Cleo Nathan adalah teman dekat Ardhen di sekolah sebelumnya. Mereka berdua termasuk anak yang cerdas, hingga bisa mengimbangi Ardhen dan bisa masuk dengan umur yang masih 16 tahun di universitas terbaik jurusan tata boga di Italia ini.
“Ardhen bantu aku, Rufia sepertinya ingin membunuhku!” teriak Abraham terus berlari menghindar, berputar-putar di sekitar Ardhen karena di kejar dan dipukul Rufia dengan sendok goreng.
“Woy!" Nathan baru saja masuk dan meneriaki mereka. “Kau ngapain, Abraham?” Menatap Abraham tajam.
__ADS_1
“Nih, Rufia mengejar dan mukul aku!” Abraham membela diri.
“Heh, aku memukulmu karena kau pantas untuk dipukul!” Rufia berkacak pinggang.
“Sudah, sudah, kalian jangan ribut dan mengganggu konsentrasi Ardhen dong! Seharuskan kalian itu membantu, bukan berisik seperti ini!” ujar Cleo melotot.
“Ini, kalian bantu potong dan bersihkan! Jangan sampai tugas kelompok kita gagal dan mendapatkan nilai buruk gara-gara kalian berdua, ya!” ujar Cleo garang.
Abraham dan Rufia pun dengan patuh membuka kantong plastik yang berisi bahan makanan dibeli Cleo tadi, mereka berdua membersihkan dan memotong-motongnya. Sedangkan Cleo berdiri disamping Ardhen membantunya menghias makanan itu.
“Berapa jam lagi?” Ardhen bertanya pada Cleo sambil menyusun kembali daging ikan tuna yang dirusak Abraham tadi, menjadi bunga teratai kembali.
“Masih tersisa waktu 1 jam lagi kok. Aku yakin ini bisa! Ya ... jika dia tidak jahil!” Menunjuk Abraham dengan sudut bibirnya.
Ardhen hanya tersenyum kecil dan menggeleng. Semenjak menjadi remaja, Abraham semakin jahil dan rese, sedangkan Cleo semakin pemarah dan emosian, Ardhen masih seperti biasa, hangat, ramah, murah senyum, tetapi ia seseorang yang tidak peka akan perasaan perempuan.
Mereka di berikan ruangan khusus untuk memasak, dengan durasi waktu 6 jam, mulai dari membeli bahan, memasak dan menghiasnya.
Abraham, Cleo, Ardhen dan Rufia telah berdiri di pojok, di atas pentas. Makanan yang tadi mereka kerjakan itu telah dihidangkan di depan juri dan 50 orang tamu undangan di ruangan itu.
Setelah mengikuti tes dan seleksi, ada 10 kelompok dari universitas terbaik di Italia yang mengikuti, salah satunya di tempat Arsen kuliah.
Mereka berempat berdebar-debar. Juri tampak mencicipi makanan yang di buat oleh Ardhen dan teman-temannya sedikit demi sedikit secara keseluruhan, lalu menulis beberapa kalimat di catatan mereka.
Beberapa saat kemudian, pemilihan melalui vote dan point dari tamu dan juri menghasilkan keputusan kelompok Ardhen memiliki peringkat 2 terbaik. Perangkat pertama membuat hidangan rendang dan ayam betutu salah satu masakan andalannya dari 11 masakan yang mereka buat. Ardhen berdecak kesal dan menyesal, seharusnya ia memasak masakan Indonesia saja.
Awalnya karena ia mengira jurinya orang Italia, makanya Arsen menyesuaikan dengan menu masakan Italia. Rupanya kelompok peringkat 1, membuat rendang selera Italia, lebih terasa manis dari pada pedas dan asin seperti cita rasa Indonesia punya. Ayam betutunya juga mereka lelehkan madu, sehingga ada kreasi unik di sana.
__ADS_1
“Tak apa Ardhen, lain kali kita harus menunjukkan pesona sate dan mi gomak, aku suka itu! Aku terkejut dengan rasa mi gomak, mengalahkan pasta!” Rufia menepuk pundak Ardhen.
“Iya, lain kali kita akan meraih posisi pertama!" Cleo dan Abraham memeluk Ardhen, mereka semua saling menguatkan.
“Ya, tentu, aku bahkan berencana membuat dodol gandum.” Ardhen tersenyum cerah.
“Hei, gandum untuk roti, emang bisa buat dodol yang kenyal, oleh-oleh dari Jakarta itu?” tanya Cleo penasaran. Ia pernah memakan dodol yang dibawa Ardhen sebagai oleh-oleh dari Indonesia.
Ardhen terdiam sejenak setelah menatap wajah Cleo dengan pikiran melayang. “Dodol yang kamu makan itu namanya 'Kalamai' itu dari daerah Momku, dibuat sendiri oleh Bibiku. Kalo dodol hampir sama sih, tapi lebih cendrung banyak tepung ketannya dari pada gula merah dan santan, sedangkan kalamai, makanan itu fokus banyak santan pati dengan gula merah.” jelas Ardhen.
“Aku tak mengerti, rasanya sama saja, manis dan kenyel.”
“Iya, sebenarnya, makanan di daerah Asia itu hampir sama, bahkan di daerah Eropa ini juga, hanya saja, di daerah Eropa lebih mengutamakan gandum, sedangkan Asia beras,” sahut Ardhen.
“Aku semakin tidak mengerti!” Abraham menggaruk kepalanya.
“Ya sudah, jangan bicara lagi, makanya, banyak belajar, baca buku atau baca situs masak diinternet, jangan nonton xxx aja!”
“Hei! Aku ti-tidak, kok!” seru Abraham dengan wajah memerah, ia melirik Rufia, merasa malu.
__ADS_1
...----------------...