
Aini berjalan kaki sendirian jam 8.30 malam dari laundry ke kontrakannya, beberapa orang menyapanya iseng, menggoda dan sebagian ramah. Sejak Ramadhan berteman dengan pemuda preman pasar itu, lalu adiknya itu juga ikut bergabung menjadi tukang angkat di pasar, beberapa orang mulai mengenal Aini.
Terkadang jika Aini pulang larut malam, mereka akan mengiringi Aini pulang sampai aman di kontrakan, mengingat ramadhan dan temannya cukup berpengaruh di pasar dan sekitar pasar, kini. Jadi, para preman di jalanan yang sering bertemu dengan Aini pun menjadi bersikap cukup baik.
Bukan hanya itu, jika Aini punya rezeki lebih, dia akan memasak cukup banyak, membagi makanan kepada para preman itu, hingga mereka pun segan. Walaupun menggoda, mereka hanya iseng dan bercanda tidak rese sampai nakal seperti mereka pada wanita-wanita lainnya.
Saat Aini sampai di depan kontrakan, ia melihat mobil Avanza hitam terparkir di sana. Jujur saja, ia mulai khawatir, apakah adiknya Ramadhan melakukan kejahatan?
Ia mulai menatap penuh selidik mobil itu, melihat plat mobil. Plat mobil itu berwarna hitam, tidak berwarna merah. “Hm, sepertinya-- bukan mobil polisi,” Aini bergumam.
Perlahan ia berjalan ke depan, tampaklah di sebalik mobil itu, dua orang pemuda memakai jacket, topi, dan masker tengah bersandar di kursi usang, di depan terasnya.
Deg! Jantungnya berdetak kuat. Dia bisa memastikan salah satunya adalah Arhen, walaupun pemuda itu menutupi dengan masker, topi, dan jacket, namun hatinya bisa menebak. Perlahan Aini berjalan terus ke teras.
Tampak Arhen dan Lucas rupanya tertidur dalam posisi tidak nyaman, beberapa detik kemudian Lucas terbangun karena mendengar suara langkah kaki semakin mendekat. Ia menegakkan duduknya saat melihat Aini sudah berdiri di dekat mereka.
Lucas menepuk Arhen. “Tuan Muda, bangunlah!” ucap Lucas membangunkan Arhen.
“Hm,” Arhen perlahan membuka matanya, lalu duduk tegak saat melihat Aini, kemudian berdiri tegak, sedikit menundukkan kepala.
__ADS_1
“Hallo, aku Arhen, bisakah kita berbicara?”
Aini menatap pemuda tampan itu, kemudian meneruskan langkahnya ke depan pintu, membuka pintu itu dengan kunci dan membuka pintu lebar. “Silahkan masuk!”
Lucas dan Arhen mengangguk, lalu mengikuti Aini masuk ke dalam kontrakan. Akan tetapi, Lucas kembali keluar setelah dua langkah kakinya masuk, ia mengambil dua kantong kresek dari dalam mobil Avanza hitam itu.
Ya, dia sengaja memakai mobil Avanza hitam milik kru, karena mobil itu umum, mobil yang banyak dipakai orang, tidak mencolok, jadi mereka bisa bebas ke sana kemari. Tadi, saat Ramadhan pergi, menunggu Aini pulang tiga jam lagi cukup membosankan, sehingga mereka berputar-putar sebentar, membeli makanan dan cemilan, beberapa minuman botol juga.
Setelah masuk, Lucas duduk dan meletakkan dua kantong makanan di hadapan mereka, mengeluarkannya satu persatu. Lalu, dia membuka jacket, masker dan topinya, sedangkan Arhen sudah sejak tadi membukanya terlebih dahulu.
“Hm, aku akan duduk di pojok sana!” Lucas menunjuk sudut yang tak jauh dari Arhen dan Aini saling duduk berhadapan, ia membawa tiga botol minuman dan dua bungkus besar snack dengan tersenyum. Sedangkan Arhen hanya membalasnya dengan mengangguk.
Saat mereka tinggal berdua, Aini semakin berdebar, walaupun Lucas terlihat, namun berhadapan berdua seperti ini, membuat darah Aini berdesir.
“Nur?” Aini bergumam pelan, namun Arhen masih bisa mendengarnya. Ia sedikit kecewa mendengar Arhen memanggilnya dengan sebutan Nur, bukan kah saat itu ia memperkenalkan dirinya Aini, bukanlah Nur.
“Ah, itu ... saya bertanya pada manager hotel dan penanggungjawab tempat Nona bekerja, waktu itu bet nama Anda terjatuh di ranjang, jadi saya membaca nama Anda dari sana, Nuraini Putri, dan manager hotel beserta sekretaris nya menyebutkan panggilan Anda Nur, maaf saya lancang menyebut nama Anda sebelum kita berkenalan," jelas Arhen.
‘Pantes, tadi saat aku kerja, bet namaku gak ada, untung teman-teman lindungi aku tadi, jadi hari ini aku masih diberi maaf,’ Aini bermonolog di dalam hati saat mendengar penjelasan Arhen.
__ADS_1
Melihat reaksi Aini yang diam tak menjawabnya, Arhen semakin cemas dan takut. “Nona, Anda boleh memukul saya, tetapi mohon maafkan saya dan--” Arhen menghentikan ucapannya sesaat, menghirup nafas dengan sangat banyak sampai memenuhi rongga dadanya.
“Bismillah, Nona, tolong menikahlah dengan saya, saya akan bertanggungjawab dengan kelakuan saya yang telah merenggut kehormatan Anda, tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki diri,” ujar Arhen menatap Aini serius.
Aini terkesiap, matanya melotot besar, dadanya berdetak tak karuan hebatnya. Apa yang ia dengar barusan? Pemuda tampan yang ia rindukan itu melamarnya?
‘Ya Allah, apa ini? Apakah aku boleh egois?’ Aini terus berpikir dan bertanya-tanya dalam hatinya. ‘merenggut kehormatan saya dia bilang, apa maksud dia, saya telah ternodai olehnya?’ Aini menatap Arhen dengan penuh tanya.
“Apa maksud Anda, Tuan?”
Arhen meraih sesuatu dari kantong celananya. “Nona, tolong menikah lah dengan saya.” Ia mengeluarkan sekotak cincin, membuka kotak itu, memperlihatkan cincin berlian yang cantik dan indah, cincin itu terlihat sangat berkilau dan imut.
“Tolong beri aku kesempatan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan hinaku pada Anda, sungguh sangat berdosa aku telah menghancurkan hidup Anda, kehormatan yang seharusnya Anda berikan pada suami Anda kelak, malah saya merampasnya. Tolong, izinkan saya menjadi suami Anda, karena telah merebut hadiah itu terlebih dahulu sebelum waktu yang pantas tiba. Saya mohon, izinkan saya menebus semua kehinaan saya,” Wajah tampan Arhen tampak serius menatap Aini, tak ada sedikitpun keraguan saat ia mengucapkan itu.
Tak sadar, Air mata Aini menetes. ‘Ya Allah, aku sungguh mencintai pria di depanku ini, aku sungguh ingin menikah dengannya. Akan tetapi, aku masih gadis, benar dia melecehkanku, mencium bibir dan dadaku, tetapi aku masih gadis dan aku tidak marah apalagi menyesal dengan kehinaan itu. Ya Allah, bolehkah aku egois, berbohong? Membohongi dirinya dan menerima lamaran darinya?’ Aini terus berkata dan bertanya-tanya pada hati dan pikirannya, ia menangis sampai bahunya bergetar. Menyadari hina hatinya, keegoisan yang muncul dalam pikirannya.
Arhen menyodorkan tisu pada Aini. “Nona, maafkan saya, jangan menangis, maafkan saya.” Arhen langsung tertunduk.
Sekian menit, hanya terdengar suara isakan Aini, Arhen hanya diam menunduk, hanya memberikan tisu tanpa menghapus airmatanya. Dia takut, jika ia membantu menghapus, bukankah dia akan menyentuh wanita itu lagi. Bagaimana jika perempuan itu semakin takut dan marah padanya? Begitulah pikir Arhen.
__ADS_1
“Bismillah, baiklah, aku akan menerima pinangan Anda, Tuan,” jawab Aini setelah berpikir panjang sejak tadi. Ia ingin egois, ia tak ingin kehilangan pemuda itu, walaupun nanti hanya menikah sebentar, tidak apa, setidaknya ia pernah hidup bersama, menikah dengan pria yang ia sukai sejak kecil.
“Alhamdulillah,” ucap Arhen melega, ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk, sambil mengusap dengan kedua telapak tangannya, karena dari tadi ia sangat cemas, bagaimana jika dirinya ditolak.