Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
TAMAT


__ADS_3

Di kamar sebelah, Ardhen dan Haizum tampak malu-malu. Walaupun sudah menikah 4 tahun yang lalu. Ardhen dan Haizum masih mengingat kejadian yang dulu, dimana Ardhen dengan agresif meletakkan tangan Haizum untuk memainkan miliknya. Kini, tangan Haizum tampak bergetar saat hendak memegang milik suaminya yang nyata terpampang di depan mata.


Pipi Ardhen juga memerah, namun karena perasaan yang sudah menggebu-gebu, dia membantu tangan Haizum menyentuh miliknya. Perlahan namun pasti, dia mulai menempelkan bibirnya dengan bibir Haizum. Perasaan mereka berdua pun mengalir, hangatnya cinta yang baru tumbuh di hati masing-masing, manisnya sentuhan dan belaian yang membuat mereka kecanduan.


Hingga perasaan memabukkan memuncak, mereka berdua pun telah menjadi polos tanpa busana dengan pergerakan tangan yang lincah, gesture tubuh yang menggoda, sentuhan hingga ciuman yang bertubi mengiri hangatnya kamar malam itu.


Inilah yang disebut lagi musim baru-barunya pengantin baru.


Ardhen yang tidak pernah pacaran, rupanya juga mendapatkan Haizum yang belum pernah pacaran. Awalnya Ardhen tidak menyangka, karena kehidupan *** bebas di belanda, asal suka sama suka boleh-boleh saja. Rupanya, Haizum wanita pekerja keras. Hidup bekerja tanpa melihat pria. Ada pun dia tertarik, hanya sekedar akan visualnya, seperti melihat Arhen, Arsen, dan Ardhen. Hanya sebuah ketertarikan karena tampan.


Akan tetapi, sekarang tentu saja berbeda.


Semenjak dia dipeluk, dimanja, dan Ardhen yang memanggilnya istri saat lupa ingatan, di sanalah, tumbuhnya rasa suka dan cintanya pada Ardhen, karena berawal dari sebuah kebersamaan bukan lagi sebagai atasan tempatnya bekerja.


***


Di kamar yang lain.


Arhen mulai menggoda dan merayu Aini, membelai rambut hitam panjang istrinya yang sudah hampir sepinggul.


“Sayaaaaaaang, boleh ya?” Mengecup tengkuk Aini dengan merengek manja.


“Tadi malam 'kan sudah, kok minta lagi? Apa gak capek?” balas Aini.


“Enggaklah, aku gak pernah capek, rasa sayang dan cintaku padamu terlalu besar, Sayang. Setiap detik selalu menggebu-gebu jika bersamamu, mendengar suaramu saja aku bergetar, apalagi jika kau membantu memanjakannya, mungkin seluruh tubuhku bergetar hebat.” Tangan Arhen yang tadi memeluk Aini di perut, terus mulai naik ke atas, menelusup ke dalam pakaian.


“Sayaaaang, aku mencintaimu,” bisik Arhen eksotis. Tak lupa diselingi ciuman di telinga Aini dengan tangan yang sudah menangkap dua gundukan daging kenyal.


“Sayang, aku merindukanmu, aku ingin memeluk dan menghangatkan malam ini bersamamu penuh cinta,” lanjut Arhen lagi dengan suara berat, jakunnya sudah naik turun, ciumannya sudah mulai liar dari telinga turun ke tengkuk dan leher.


“Sayaaang,” racau Arhen semakin menggila.


“Mmhmm...” Suara Aini sudah terdengar melemah. Arhen memutar tubuh Aini, menatap wajah istrinya yang sudah memerah dengan mata sayu.


Arhen pun langsung menciumi bibir Aini dengan buas, tangan nakalnya langsung menjelajah. Tak butuh waktu lama, dia sudah melepas semua pakaian istrinya, mengangkat satu kaki Aini dan menyeruput milik Aini seperti orang yang sedang minum americano.😆


Lidah dan tangan Arhen yang lincah sudah menguasai titik-titik sensitif Aini di bagian dada dan tengah paha. Hingga akhirnya, pergulatan seru itu pun terjadi dengan sangat mendebarkan.


***


Keesokan harinya, Arsen menggendong Jamila mengelilingi kampung, dia bertemu dengan Edy, kakak Eric. Mereka berbincang-bincang sebentar. Kemudian, Arsen ke rumah Billa.


Arsen duduk di depan teras seperti waktu dia kecil, menatap ke lapangan hijau. “Sudah lama ya Nek, aku tidak bermain kemari.”

__ADS_1


“Iya, sudah lama, dulu waktu pertama kali kamu kemari dengan Billa, Nenek senang sekali,” sahut Ibu Billa.


Mereka berbincang sebentar, sampai Jimi datang.


“Aku ke lapangan dulu sama Dad ya!” pamit Arsen pada semuanya.


“Ok!” jawab Billa merangkul bahu Jamila yang ditinggalkan Arsen bersamanya.


Beberapa menit mereka sampai di lapangan, duduk di bawah pohon pinang. “Dad, aku titip Mila, Arhen, dan Ardhen, ya. Aku cuma percaya sama Dad dan Miss. Masalah perusahaan aku percayakan sama Vindo, Paman Barend, David, dan Paman Alex.” Arsen berkata dengan serius.


“Arsen, kenapa kamu berkata seperti itu, Nak? Ingat, jika cintamu patah, masih ada cinta yang lain, tolong buka hatimu. Jangan berputus asa.”


“Setiap manusia pernah jatuh cinta dan patah hati, pernah kecewa dan sedih. Setiap insan selalu memiliki masalah dan ujian hidup. Tidak ada orang yang memiliki jalan yang tidak ada tantangan. Walupun jalan kehidupan lurus tanpa kerikil, banyak kendaraan yang menyerobot, menyerempet, adu balap dan kecelakaan. Sedangkan jalan yang bersemak, berkerikil, sedikit yang melewati, jalan buruk, susah, dan lama sampai, tetapi tujuan kita tetap sama, jadi jangan putus asa.”


“Iya, aku mengerti Dad,” jawab Arsen pendek.


“Kalau mengerti, jangan berkata seperti itu lagi.”


Arsen diam cukup lama. Lalu menghela nafas panjang dan berkata :


“Aku tahu ini bukan terbaik Dad, tetapi aku benar-benar ingin pergi menenangkan hati. Beberapa hari lagi aku akan ke Inggris. Aku titip adik-adikku pada Dad dan Miss ya.”


“Arsen! Look at me!”


Jimi terdiam lama, mengela nafas. “Baiklah, jika kau ingin seperti itu Nak.”


***


Terdengar di kolam belakang rumah Rukhsa, tiga pemuda tampan itu berdebat hebat.


“Tidak! Aku tidak mengizinkanmu pergi Bang!” pekik Ardhen.


“Apalagi yang akan Abang lakukan? Sudahi semua ini Bang. Aku tidak ingin kehilangan lagi, aku mohon....” lirih Arhen, suara pria tampan dengan lesung di pipi itu tercekat dan memelan, dia bersimpuh di kaki Arsen, memegangi kedua tangan kakak laki-lakinya itu agar berubah pikiran.


“Sayangnya, kalian sudah kehilangan sosok Abang sejak saat itu. Hatinya sudah mati.”


“Tidak, itu tidak benar! Aku tidak mau Abang pergi!” Ardhen memeluk Arsen meraung dengan keras.


Jay menggenggam tangan Jamila. “Ayo kita pergi, itu urusan orang dewasa. Kita tidak boleh mengintip. Ayo!” Jay sedikit menarik tangan Jamila.


Gadis kecil itu menangis, Jay memeluknya. “Its ok! Don't Worry Princes, semua akan baik-baik saja! Ayo, kita pergi dari sini!” Tadinya, Jamila hendak mengajak salah satu Kakak laki-lakinya bermain ke sungai, tetapi dia malah melihat dan mendengar tiga kakak laki-laki itu berdebat sambil menangis.


Selama ini, Jamila tidak pernah melihat Kakak laki-lakinya bertengkar, semuanya baik-baik saja. Kini, dia benar-benar merasa sedih, kehilangan orangtua dan Kakak-kakak yang terlihat tidak lagi akur seperti biasa.

__ADS_1


***


Beberapa hari kemudian, Arsen tetap saja memutuskan pergi ke Inggris.


Arhen memunggungi kepergian Arsen, dia menangis tanpa melihat kepergian kakak pertamanya itu. Jamila yang menangis dalam pelukan Billa. Sedangkan Ardhen, walaupun dia sedih, marah, dan kesal atas keputusan Abangnya. Dia tetap mengantarkan Arsen bersama Edi dan Eric ke bandara.


Ardhen melihat dua pria yang tidak dikenalnya sama sekali, menjemput Arsen di bandara memakai jet pribadi.


“Edy, Eric, terimakasih telah menjaga adikku. Mohon bantuan kalian lagi ya!”


“Tentu, Aini adalah temanku, Arhen suami temanku, dan kita juga saling kenal sejak kecil, kita tetangga dan juga saudara seiman. Jadi, jangan khawatir,” jawab Eric menepuk pundak Arsen.


“Jaga dirimu baik-baik!” Sekali lagi Eric menepuk pundak Arsen.


Arsen menoleh pada Ardhen yang matanya sudah berair. Kelopak matanya sudah menggenang air mata. Arsen memeluknya. “Maafkan aku, aku mencintai kalian, sungguh.” Air mata Ardhen pun tumpah ruah, dia memeluk Arsen dengan erat.


“Tolong kembalilah dengan selamat Bang, huhuhu, aku mohon, huhuhu, aku tak ingin kehilangan siapa-siapa lagi, uhuhuhu....” ucap Ardhen menangis sesungukan.


Arsen tak menjawabnya, wajahnya datar menatap adik laki-laki bungsunya itu menangis beberapa detik, dia tidak ingin memberikan janji apapun. Lalu, dia tersenyum mengelus lembut rambut coklat Ardhen.


“Jaga diri ya, jaga keluarga kita. Aku sangat menyayangi kalian, sampai jumpa!” Arsen memutar badannya dan pergi dari sana tanpa menoleh sedikit pun.


Ardhen menatap punggung Arsen sampai habis, sampai tak ada lagi bayangan kakak laki-lakinya.


‘Bang, aku takut, aku takut kepergianmu tak pernah kembali lagi, aku berharap Allah selalu menjagamu, mengembalikanmu utuh, dan kita kembali berkumpul bersama. Kembalilah dengan selamat, Bang....’


...TAMAT...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hehehehe... Cerita ini telah berakhir 💓😚


Terimakasih kepada Arlove tercinta yang sudah membaca novel ini sampai tamat.


Aku mencintai kalian😚


Terimakasih atas semua dukungan kalian, komentar baik dan hadiah-hadiahnya. Semoga terhibur. Ambil baiknya saja dalam cerita ini, buanglah buruknya🌹


Saya minta maaf atas kekurangan saya dalam menulis cerita ini, jika kurang memuaskan, typo dan tidak terlalu menarik... semoga bisa menemani hari-hari kalian yang membosankan menjadi berwarna...💓


Semoga setiap kebaikan yang kalian berikan untukku dibalas oleh Allah💓 Aamiin


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2