Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kembali ke Italia


__ADS_3

Abraham telah sampai di Jepang beberapa pekan yang lalu, ia tak pernah lagi menghubungi Rufia, Ardhen dan Cleo, dia bak batu jatuh ke lubuk, hening dan diam, tak terdengar kabarnya.


Sikap Ardhen yang terang-terangan menjauhi Rufia, membuat ia merasa sedikit terluka, hingga Rufia memutuskan menemui Ardhen di rumah belakang, saat membuat makanan baru bersama Tuan Samber.


“Boss Muda, bisakah kita bicara sebentar,” Rufia berkata dengan sopan, layaknya pada atasan yang memberinya pekerjaan.


“Ada apa?” ketus Ardhen tanpa menoleh.


“Bisakah kita bicara hanya berdua, sebentar saja!”


“Tidak, tidak baik, aku tidak suka berbicara berdua saja dengan lawan jenisku!” Ardhen masih ketus.


“Baiklah, kalau begitu.” Rufia mengeluarkan surat yang di lipat duanya dari dalam kantong, ia luruskan surat itu sampai terlihat rapi dan bekas lipatan itu memudar.


“Saya sangat berterima kasih kepada Tuan Samber, Boss Muda, Abraham, dan Cleo, karena telah memberiku kesempatan untuk belajar dan mengenal daerah-daerah di Belanda ini. Aku hanya ingin menyerahkan surat pengunduran diri ini, mulai besok aku ingin berhenti bekerja, aku akan kembali lagi ke Italia.” tutur Rufia.


Deg! Ardhen terkejut. Barulah ia melirik dengan wajah yang masih saja dingin pada Rufia.


“Kenapa? Apa alasannya?” tanyanya kemudian melirik Tuan Samber sekilas.


Koki tua yang sangat peka itu pun berkata, “Tuan Muda, sebentar ya, saya kelupaan sesuatu, saya keluar dulu sebentar, lanjutlah perbincangan nya!” Pria tua itu pun segera berlalu dari sana.


Rufia masih diam dan belum menjawab, sampai Tuan Samber benar-benar keluar.


“Maaf, karena sebuah perasaan yang tak berpunya tuan ini, persahabatan kita semua jadi hancur. Kau, Cleo dan Abraham, yang sudah kenal sejak dulu, sedangkan aku baru bergabung dengan kalian sejak kuliah, itupun karena Abraham yang mengenalkan.” terang Rufia.


“Abraham kini telah pergi, hubungan kita pun tak terasa sama, padahal ... Abraham adalah teman yang paling dekat denganku, jika memang dia suka aku, kenapa dia tidak memberitahuku, dan aku juga tidak pernah mengatakan cintaku padamu. Ya, pada akhirnya, kau tahu sendiri aku suka padamu, tetapi aku menahannya.” Rufia meneruskan ucapannya.


“Aku menahan, aku sadar diri. Aku memang belajar agamamu, benar awalnya aku berniat lebih dekat dan mengenal agamamu, tapi aku tak ada niat menukar agamaku karena sebuah ketertarikan pada makhluknya. Aku belajar agamamu karena aku merasa nyaman dan suka, aku senang melihat Mom Kinah, aku suka cara dia bicara, aku suka lihat keluargamu... Aku tak punya itu, karena itu aku belajar.”


“Ya, aku bertanya padamu tentang wanita kriteriamu, aku memang ingin tahu, karena aku menyukaimu, tetapi aku tak kuasa dengan perasaan yang tak pernah aku minta itu. Perasaan yang muncul tiba-tiba tanpa ku harapkan, aku tak ada niat menyakiti pihak manapun, kamu ataupun Abraham. Demi kebaikan semua, menjernihkan pikiran masing-masing, mengikis kesalahpahaman ini, lebih baik aku pergi dari sini.”

__ADS_1


“Jika aku masih di sini, Abraham akan berpikir aku selalu berusaha mendekatimu yang jelas-jelas menolakku. Aku tak ingin kau berpikiran aku adalah wanita yang tak punya harga diri yang terus mengejarmu, jika aku masih berada di sisimu. Aku tersenyum dan bicara padamu, karena sebelumnya kita adalah teman yang saling kenal satu sama lain, bagaimana mungkin aku akan melemparkan kebencian dan tatapan murka jika berpapasan dengan orang yang ku kenal.”


“Tak ada niatku menggoda, mohon maaf jika kau dan Abraham saling salah sangka.” Rufia langsung berjalan pergi dari sana tanpa menoleh pada Ardhen.


Ardhen hanya diam menatap kepergian Rufia, masih mencerna ucapan-ucapan yang dilontarkan gadis itu tadi.


***


Arhen mendorong cincin berlian itu menjadi lebih dekat pada tangan Aini, dengan wajah yang masih merona. “Apakah aku boleh menyorongkan cincin lamaran ini dijari tanganmu?”


Aini tak menjawab, dia hanya mengulurkan tangan kirinya dengan jari-jari yang dibuka melebar, Arhen tersenyum kecil, ia ambil cincin itu dari kotaknya, ia pasangkan di jari manis Aini.


“Em, bolehkah aku meminta data-data mu seperti kartu keluarga dan KTP? Aku akan segera meminta tolong pada temanku untuk mengurus surat-menyurat pernikahan kita secepatnya, kalau bisa dalam minggu ini.” terang Arhen setelah cincin terpasang.


Masih dengan wajah merona, Aini tiba-tiba melotot mendengar menikah seminggu lagi. “Se-seminggu lagi?” tanyanya.


“Iya, Nur!” jawab Arhen mengangguk.


“Bukankah itu terlalu cepat?” Aini menatap Arhen.


Aini terdiam sejenak, berpikir, setelahnya barulah ia bangun, berjalan ke kamar dan mengambil surat-surat penting.


“Lucas!” panggil Arhen, setelah Aini menyerahkan data-data pribadinya.


“Urus surat ini secepatnya!” Arhen memberikan kertas-kertas penting itu.


“Emm, bisakah aku minta nomor telepon mu?” tanya Arhen kemudian.


Bukankah sangat lucu, setelah dilamar baru tahu nomor hp orang yang di lamar, Aini terkekeh kecil saat memikirkan itu. Arhen hanya menaikkan sebelah alisnya, karena melihat reaksi Aini yang sedikit lucu, tertawa sendiri.


‘Apa dia senang aku melamarnya?’ Arhen juga tersenyum kecil.

__ADS_1


“Hm, apa kau tahu siapa aku Nur?” Arhen bertanya setelah Aini menyodorkan hp Xiaomi miliknya. Lalu mengetik nomor hpnya dan melakukan panggilan.


Ia save nomor Aini dengan nama Nur, istriku.


“Aku kenal, Anda adalah artis papan atas,” jawab Aini. Arhen menatapnya. “Ini nomor Anda ya, saya akan menyimpannya.” ucap Aini kembali.


Arhen masih menatap Aini yang tertunduk sambil menekan tombol hp untuk menyimpan kotak Arhen.


‘Jadi, dia tahu, tapi kenapa reaksi dia biasa saja? Apa sebenarnya dia haters ku? Makanya tadi dia tertawa saat aku melamarnya? Apa dia berpikir ini aneh dan lucu, saat haters menikah dan idola para fans, hm?’ Arhen jadi berfantasi ria.


“Aku sudah menyimpannya, Tuan Muda.”


“Jangan panggil aku Tuan Muda mulai sekarang, panggil aku Kakak, Mas, Uda, Akang, Kanda, Suamiku, atau Sayang, karena aku adalah calon suami mu,” pinta Arhen. “dan aku pun juga akan memanggil dirimu dengan Nur, Istriku atau Sayang juga!” lanjut Arhen.


Deg! Deg! Deg! Jantung Aini berdendang bertalu-talu mendengarkan itu, ia tak bisa membayangkan telinganya mendengar Arhen memanggil dirinya dengan Istriku, Sayang, rasanya dunia berputar saking senangnya.


“Bagaimana, bisa 'kan?" tanya Arhen lagi menatapnya.


“I-iya, boleh su-su-suami!” Aini diserang gugup.


Arhen tersenyum dengan pipi merah merona saat mendengarnya.


“Kalau begitu, aku pamit dulu Sayang, aku harus istirahat, besok ada pertemuan penting, secepatnya aku akan mengurus pernikahan kita, dan aku akan menelfonmu segera!”


“Hu'um!” Aini mengangguk malu-malu.


Akhirnya, Arhen dan Lucas pun pergi dari kontrakan Aini, mereka menuju hotel utama dimana mereka menginap. Lucas telah mengirimkan data surat-menyurat melalui pdf kepada temannya yang akan mengurus, lalu mengirim data juga pada Vindo.


“Semua sudah kau atur, Lucas?”


“Sudah, Tuan Muda!”

__ADS_1


“Baguslah, kini kita bisa tenang beristirahat hingga besok!” Arhen berkata dengan tersenyum.


...----------------...


__ADS_2