Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Rindu


__ADS_3

Sakinah berdiri dibalkon kamarnya, menatap langit berhias putih biru, indah, sungguh indah ciptaan Allah.


‘Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu, akan selamanya bersamamu hingga hanya maut yang akan memisahkan kita. Aku bukanlah pria yang mampu memberikanmu semua yang kau mau, ataupun pria berkuasa yang mampu memetik rembulan, pria yang romantis hingga membuat nuansa dan suasana manis. Yang ku miliki hanya kemampuan terbatas dengan cinta dan kesetiaan tanpa batas.’ Ardi memeluk Sakinah.


‘Aku jatuh cinta saat pertamakali melihatmu, waktu itu, kau masih kelas 6 SD. Hampir setiap sore kau pergi ke surau mengaji bersama teman-temanmu, semakin hari kau semakin bertambah usia dan beranjak dewasa, aku semakin jatuh hati pada akhlakmu yang baik.’ Ia berkata sembari mengelus-elus punggung Sakinah lembut.


‘Aku akui, hampir setiap hari, setiap malam aku berdoa agar dijodohkan Allah denganmu. Hingga akhirnya Allah menjodohkan kita. Jadi, bagaimana mungkin hatiku bisa berlabuh pada wanita lain? Apalagi hanya karena kita belum memiliki anak? Apa itu salahmu? Bukan, Sayang.’ ucapnya sembari melepas pelukannya perlahan.


‘Atau apakah itu salahku? Tidak, kita telah berobat, kita tidak diagnosa sakit apapun, kita berdua sehat dan baik-baik saja. Ini semua takdir, suratan dari Ilahi. Bagaimana mungkin itu salahmu? Sungguh tak pantas aku menikah kembali jika hanya karena kita tidak memiliki keturunan.’ ucapnya menatap manik mata Sakinah.


‘Aku tak ingin munafik, hingga hebat berkata bohong. Jujur, aku ingin memiliki anak, kamu juga pasti ingin. Bagaimana mungkin aku tega menikah kembali? Aku mohon, jangan minta aku menikah lagi, walaupun Ibu dan Kak Hanum sering meminta dan berkata seperti itu, aku tak peduli. Jika seandainya, aku diposisi itu? Kau menikah kembali karena aku tak bisa memberikan anak, aku pasti sangat terluka.’ Ia pegang dagu Sakinah.


‘Aku tak ingin kau terluka Kinah, aku sangat mencintaimu karena Allah. Jodohku telah kuminta padaNya dan aku percaya saat rohku ditiupkan dikala aku masih dikandungan Ibuku, aku telah memohon agar dijodohkan denganmu, aku yakin itu.’ ucapan Ardi masih terngiang-ngiang diingatan Sakinah.


Pria yang telah tiada, suami pertama yang telah dulu menghadapNya, pria yang masih mengisi rongga di dalam hatinya.


Tutur katanya yang lembut, akhlaknya yang baik, nasehatnya yang bijak. Hidup sederhana dengan bahagia. Sakinah memajukan 5 jarinya ke atas menghadap langit, seolah hendak menggenggam sinar matahari yang menyapu wajahnya.


‘Ya Allah, apakah benar jodoh itu telah ditetapkan saat roh baru ditiupkan dalam kandungan? Apakah jodohku tertulis dua orang? Benarkah ini pilihan terbaikku?’


Berapa waktu yang lalu, saat ia dilema akan penyakit Ardhen, saat ia mengetahui pria yang memperkosanya itu datang kembali, membawa penyelesaian dengan mengajaknya menikah dengan imbalan operasi ginjal untuk putranya. Ia memohon petunjuk dan berdo'a pada Allah.


Beberapa hari selanjutnya setelah ia berdo'a, jawaban dari do'a itu seolah menunjukkan ini yang terbaik, kondisi Ardhen tiba-tiba sangat memburuk, tak ada jua pendonor yang cocok karena darah Ardhen yang langka. Apalagi diketahui, penyakit ginjal yang diderita Ardhen itu penyakit keturunan.


Ia pun memilih dan memantapkan diri untuk menikah dengan Andrean.


‘Aku berserah diri padaMu ya Allah. Engkau yang Maha Mengetahui, yang tak aku ketahui, yang tak bisa aku lihat dengan mata, yang tak tertembus oleh akalku yang biasa. Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, padaMulah aku memohon perlindungan.’

__ADS_1


Perlahan air mata sakinah terjatuh menetes.


“Moooom!” Terdengar suara Arhen dan Ardhen menggendor pintu kamarnya. Bergegas ia menghapus air matanya, menepuk-nepuk ringan pipinya, bercermin sekilas agar wajah sedihnya tak terbaca oleh kedua putranya.


“Kalian sudah pulang Sayang, hoaaam!” Sakinah pura-pura menguap, menjelaskan pada anak-anak ia baik-baik saja dan baru bangun dari tidur.


“Kok Mom lama sekali buka pintunya sih? Lagian biasanya pintu tak pernah dikunci, kenapa sekarang pintunya dikunci?”


“Mom tadi tidur, makanya lama buka pintunya.”


“Biasanya kalau Mom tidur gak kunci kamar!”


“Ya, itu karena ada kalian. Kalau tadi kalian ke sekolah, jadi Mom kunci deh.” Sakinah meyakinkan anak-anaknya dengan alasannya.


“Oh.”


‘Biasanya, tak pernah mengunci kamar, ada ataupun kami pergi keluar, lalu mata Mom juga terlihat memerah!’ gumam Arhen dan Ardhen dalam hati, mereka anak genius yang sangat mencinta Ibunya, bisa melihat dengan sangat detail garis dan kerutan sekecil apapun diwajah Sakinah.


Ya, perbuatannya seperti ini membuat Arhen dan Ardhen semakin yakin dan sangat kesal pada Monessa.


Diantara mereka bertiga, hanya Ardhen yang paling tidak bisa berbohong, paling lembut dan gampang menangis, hampir persis menyalin sikap Sakinah, termasuk saat berbohong, akan refleks menggaruk hidung.


Arhen menyunggingkan senyum riangnya, ia dengan cepat mengubah sikapnya. Ya, ia benar-benar ahli dalam berakting, membalikkan suasana dengan cepat. Ia yang tadi marah-marah seperti orang kesurupan, kini terlihat riang dan polos.


“Aku tiup ya mata Mom, ufft! Uffttt! Dasar laler nakal, kenapa terbang kemata Mom. Bim salabim, kami kutuk laler jadi kentut!” ucap Arhen meniup-niup mata Sakinah.


Sakinah terkekeh, kemudian memeluk kedua putranya.

__ADS_1


‘Ya Allah, aku menerima dengan ikhlas semua yang terjadi. Jika wanita itu hamil, maka selamatkanlah ia dan anaknya, jika aku dan dia harus berbagi hati dan perasaan kemudiannya, maka kuatkanlah aku, sabarkan hatiku yang membara.’ bisik Sakinah dalam hatinya.


‘Hamba yakin ya Tuhanku yang Maha Bijaksana, Engkau yang Maha Adil, mungkinkah masalah ini datang karena Engkau telah menerima taubat suamiku? Hingga Engkau menunjukkan cara bertanggung jawab padanya atas semua sikapnya selama ini dengan cara begini.’


“Mom, kok melamun? Apa Mom sakit?”


“Enggak kok Nak, Mom hanya terpikirkan Kakek dan Bibi kalian dikampung, sudah lama tidak berjumpa jadi rindu.” jawab Sakinah.


“Kita sering melakukan panggilan video sama Kakek dan Bi Rukhsa, apa Mom tidak melakukannya?” tanya Ardhen.


“Ada kok, tapi masih saja rindu.”


“Kalau begitu, minta Papa menjemput Kakek dan Bibi saja Mom, atau kita izin pulang kampung setelah kami selesai ujian, akan ada hari libur yang cukup panjang.” usul Arhen.


“Wah, iya Mom.” Ardhen juga setuju.


“Iya, nanti Mom akan berbincang dengan Papa kalian.” sahut Sakinah mengusap kepala Arhen dan Ardhen.


“Apa kalian bertemu dengan Abang akhir-akhir ini, dia sudah tiga hari tidak menghubungi Mom.”


“Kakak bertemu kemarin, kalo Adik sudah seminggu tak bertemu Abang, Mom. Adik juga rindu Abang.” sahut Ardhen.


“Mom akan berkunjung ke apartemen Abang, apa kalian akan ikut pergi?”


“Sekarang Mom?”


“Iya, ayo, bersiaplah, Mom juga mau berganti baju dulu.” pinta Sakinah.

__ADS_1


“Ok, Mom.”


...***...


__ADS_2