
‘Kau mau kemana Pa? Aku ada di apartemen!’ Sebuah pesan masuk ke hp Andrean saat ia telah sampai di lokasi, ia hanya melihat para preman telah dibawa dan yang tersisa hanya garis polisi di sana.
“Anak ini benar-benar membuatku tak bisa bicara lagi!” gumam Andrean tersenyum tipis. “Ayo, kita pergi ke apartemen anakku, David!” ajak Andrean.
“Siap, Tuan Muda.” jawab David.
“Kalian semua! Dengar, semua sudah diselesaikan putraku. Kembalilah ke markas!” perintah Andrean pada team sniffernya.
“Siap, laksanakan, Tuan Muda!”
Brum! Brum! Mobil pun melaju dengan gesitnya ke apartemen milik Arsen. Setibanya di sana, ia bergegas masuk, ingin melihat keadaan putranya, apakah anak laki-laki itu tergores atau terluka. Dihatinya memang terasa bangga karena anak kecil itu menyelesaikannya namun dilubuk hati terdalam tetap saja ada kekhawatiran!
“Apa kau baik-baik saja, Nak?” Andrean langsung mengelus dan memeriksa tubuh Arsen.
“Tentu saja! Ada do'a Mom di setiap langkahku!” jawabnya santai sambil mengemut permen tangkai, matanya masih saja fokus pada tablet yang menunjukkan kurva jual beli pasar internasional.
Andrean juga ikut melihat kurva itu, kemudian tersenyum tipis.
“Kau benar-benar penuh ambisi putra kecilku.” Andrean mengusap kepala Andrean kemudian memeluk nya. Putranya sungguh menggemaskan.
“Lepas! Kau menjijikkan, Pa!” Arsen mendorong tubuh Andrean. Pria dewasa itu tak peduli, masih saja memeluk bahkan mencium pipi putranya.
“Menjijikan!” Arsen mengusap-usap pipi bekas ciuman Andrean.
Bukannya tersinggung, Andrean malah terkikik, ia bahkan menciuminya beberapa kali lagi.
“Pa, kau itu sudah dewasa, jangan meniru Arhen yang kekanak-kanakan!” dengus Arsen, tapi tak separah tadi penolakannya, ia sudah mulai membiarkan Andrean memeluk dan menciumnya, bahkan sekarang pipinya sudah menunjukkan semburat merah.
“Ya ... bagaimana lagi, Papa adalah salah satu fans berat Arhen. Jadi, Papa akan meniru penampilan dan sikapnya.” goda Andrean dengan tersenyum.
“Cih, kekanak-kanakan!”
Andrean hanya terkekeh mendengarnya.
“Pa!”
“Hm?” Andrean menatap Arsen yang juga menatapnya dalam pangkuannya.
“Menurut Papa, Kakek Irfan terlibat sejauh mana?”
__ADS_1
Andrean melepaskan pelukannya, berdiri dan berjalan ke depan, tepat dipapan tulis kecil yang terletak di depan mereka duduk tadi. Kemudian tangannya membuat sketsa.
“Paman Irfan itu tidak terlalu pintar, buktinya ia dengan mudah menandatangani jual beli saham denganmu saat terdesak, yang masalah utama pria ini!” Andrean menunjuk nama asisten pribadi Irfan.
“Jadi, maksud Papa sebenarnya pria ini sumber masalah?” tanya Arsen.
“Ya, sejak dulu, dia selalu memprovokasi hubungan antara Kakek Wizza dan Kakek Irfan.”
“Hm ... karena Kakek Irfan kurang pintar makanya mudah terhasut?!” Andrean mengangguk menjelaskan penuturan Arsen.
“Bukankah kita seharusnya menolong Kakek Irfan, bukan membiarkannya!”
“Benar, tetapi jika orang tersebut yang ingin mendekat dan tak berniat ditolong, kita mau apa?!”
“Oh...” Arsen bergumam sembari menganggukkan kepalanya.
“David, coba hidupkan infokus! Putar video dan beberapa rencana yang telah kita susun!” perintah Andrean.
Beberapa rekaman telah berputar, Andrean mulai menjelaskan, David, Hans dan Arsen menatapnya dengan serius.
“Ini adalah beberapa saham mereka, hubungan kerja sama, dan ini,” Andrean menggeser gambarnya. “Ini adalah info pribadi mereka!” lanjutnya menjelaskan lagi.
“Wah, jadi Puloh memiliki wanita simpanan yang berhubungan dengan Jonathan Rhys?” tanya Hans terkejut. “Dasar otak mesum!”
“Wanita itu adalah istri ketiga Jonathan Rhys.” jelas Hans.
“Maksudnya, Jonathan memiliki tiga orang istri?” tanya Arsen. Hans mengangguk.
“Ini adalah salah satu kelemahan yang bisa mengadu domba mereka.” ucap Hans.
“Benar, tepat sekali. Jadi, info ini, ditambah bukti yang telah terkumpulkan dari Berend, itu sudah bisa membuat Puloh terjebak. Tetapi sebenarnya pemimpin utamanya adalah Jonathan Rhys!” jawab Andrean.
“Ruang gerak Puloh sudah kita ketahui, kemana saja uang yang ia investasikan serta rumah baru yang ia beli di Hawai juga sudah kita ketahui. Namun, Jonathan seperti memiliki jaringan yang cukup luas dan hebat, pergerakannya tidak bisa dilacak, atau mungkin ia mengalihkan uangnya pada akun lain.”
“Bisa jadi Tuan Muda, seperti Tuan Muda Arsen, ia memiliki tiga data dan tiga bisnis yang sulit untuk dilacak!” sahut Hans.
“Jadi, apa kita akan melakukan hacker besar-besaran?” tanya Arsen menatap Andrean, “Tetapi jika ketahuan, kita akan bisa terlacak! Dan itu sangat bahaya!” gumam Arsen.
“Serahkan itu semua pada Papa!”
__ADS_1
~~
Malam sudah larut, terdengar suara mobil yang sangat familiar, Sakinah langsung berdiri dan mengintip dari kaca kamarnya. Terlihat mobil Andrean, ia turun dari mobil sambil menggendong Arsen. Sakinah bergegas berlari, ia sangat khawatir.
“Arsen!” ucapnya saat sampai.
“Ssst! Dia lagi tidur!” Andrean langsung memasukkan Arsen ke dalam kamar, yang dibantu oleh Kepala Pelayan membuka pintu. Sakinah juga mengikuti dari belakang.
Andrean mengusap kepala ketiga putranya, kemudian mengecup kening mereka bergantian, terlihat Arhen dan Ardhen tertidur sambil berpelukan. Andrean menyelimuti sikembar, kemudian keluar dari kamar anak-anak, lalu menuju ke kamar mereka bersama Sakinah.
“Kenapa belum tidur?” tanya Andrean saat Sakinah membantunya melepaskan bajunya.
“Tak bisa tidur.” jawab Sakinah. “Apa mau mandi?” tanyanya kemudian.
“Iya.”
“Aku bantu siapkan airnya, ya.” Andrean mengangguk. Ia kemudian meraih handuk melepaskan celananya dan melilitkan handuk di pinggang. Sedangkan Sakinah sudah masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air mandi.
Andrean masuk ke kamar mandi dan memeluk Sakinah dari belakang, menciumi tubuh istrinya penuh kasih Sayang.
Sakinah mengelus pipi Andrean yang memeluknya dari belakang. “Kenapa? Apa ada masalah? Ceritalah, jika aku tak bisa membantu, setidaknya aku bisa menjadi teman curhat.”
“Baik-baik saja, tidak ada masalah. Tadinya memang sedikit masalah, ada yang menganggu putra sulung kita. Namun anak itu sangat pintar dan jagoan, sebelum aku datang, dia sudah membereskannya. Terimakasih, kau telah memberikanku anak-anak hebat, telah mendidiknya menjadi baik. Muach!” Andrean mengecup ceruk leher Sakinah.
“Airnya sudah siap,” kata Sakinah, kemudian berusaha melepaskan pelukan Andrean.
Bukannya lepas, pria itu malah memeluknya semakin erat, bukan hanya erat, tetapi tangannya juga kelayapan. Ia cium leher, daun telinga dan pipi Sakinah beraturan, tangannya mulai mengelus paha, pinggul dan mulai meraba-raba area sensitif istrinya.
“Hmp, katanya mau mandi, udah, ya.”
“Mandiin.” ucap Andrean, suaranya sudah terdengar berat dan manja.
“Kalau begini, bukannya mandi, tapi malah....”
“Iya, boleh 'kan?” Andrean menekan tubuh Sakinah dengan tubuhnya. Jelas sekali sesuatu sudah terbangun dibawah sana, tegang dan keras menyentuh pinggul Sakinah.
“Tapi ini kamar mandi, ada tempat tinja juga, gak baik!”
“Aku cuma mau foreplay aja kok di sini, sambil mandi, Sayang. Gosokin, ya!” Andrean mulai meletakkan tangan Sakinah ditubuhnya yang kekar dan berotot itu. Ia tarik handuknya dan menggantungnya, mempertontonkan seluruh tubuhnya yang hanya berbungkus celana d*laam saja.
__ADS_1
Pemandangan yang sangat sexsy, membuat wajah Sakinah memerah.
Akhirnya, mereka berdua menikmati malam yang indah di atas ranjang yang disaksikan bulan purnama malam ini.