Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Makanan Paman Samber


__ADS_3

Masalah terselesaikan dengan cepat, Eline Fey di bawa ke luar negri, tepatnya Amerika, oleh ayahnya, karena ia mengalami syok berat. Vindo tak percaya hasilnya akan seburuk itu, ia pikir hanya membuat gadis itu sedikit takut, sehingga tak mengganggu lagi. Akan tetapi, gadis itu kemungkinan besar tidak akan pernah mengganggu lagi untuk selamanya, ia benar-benar mengalami gangguan mental.


Arsen telah mengumpulkan bukti menjatuhkan usaha ayahnya, semua kejahatan, sehingga satu-satunya cara untuk mereka bertahan harus pergi dari negeri ini.


“Hei, kau tampak menyesal! Sejak tadi kau memegang berkas wanita itu, apa akhirnya kau kasihan padanya?” Arsen menepuk bahu Vindo yang sejak tadi masih memegang berkas tentang Eline Fey sekeluarga.


“Hm, sedikit, tetapi itu tidak akan mengganggu Tuan Muda. Saya hanya tak menyangka dia akan mengalami gangguan mental begitu, padahal para wanita itu hanya menggertaknya saja. Foto dan video yang kita ambil ini, bahkan tak ada gunanya.” Vindo meletakkan flashdisk yang berisi foto dan vedio Eline Fey yang diganggu dua wanita pecinta martabak vs martabak.


Arsen menghela nafas. “Semuanya sudah terjadi bukan, yang penting tujuan akhirnya tercapai 'kan, selebihnya ... itu takdir dia!”


“Iya.” sahut Vindo dengan suara lambat. “Hm, bulan depan, apakah Anda jadi pulang ke Indonesia, Tuan Muda?” Vindo bertanya, ia teringat dengan jadwal Arsen.


“Ya, Tentu. Aku sudah sangat lama tidak pulang, bagaimana kabarnya keluarga di sana, aku juga rindu Kakek.” Arsen menerawang, ia merindukan sosok kakek yang penyayang itu. Ia bisa berkunjung ke pusara Wizza, Irfan, dan Sekar di sini, jika ia merindukan kakek dan nenek itu, namun jika ingin bertemu kakek pihak ibu, ia harus pulang ke Indonesia. Ia juga merindukan Miss Billa dan Dad Jimi.


Di lokasi syuting.


Hari ini adalah hari syuting Arhen, ia telah mengakhiri dan menyelesaikan semua kontraknya dengan drama, iklan dan sesi foto. Ia ingin istirahat dari panggung hiburan. Setelah ia berbincang saat itu dengan Arsen, ia juga berbincang dengan Andrean dan Sakinah, lalu Ardhen. Semua keluarga mendukung, jika ia rindu kembali dunia hiburan, dia bisa kembali dan semuanya akan mendukung seperti biasa.


Dengan lembut Sakinah berkata padanya saat itu. ‘Nikmatilah hari-harimu dengan sesuatu yang baik dan menyenangkan, ikuti kata hatimu yang terdalam, jika kau tak nyaman dan lelah, maka istirahatlah dari aktivitas dunia hiburan. Kamu bisa memulai dengan hal lain, Sayang. Kami semua sangat menyayangi dan akan selalu mendukungmu.’


Setelah mendengar dukungan, Arhen sangat bahagia, namun ada satu hal yang membuat ia masih terikat hubungan kerja sama, tepatnya dengan produk Indonesia, ia menjadi ambasador brand salah satu lotion.


Semua orang bersalaman, tentu saja ada acara makan malam bersama dan lainnya, sayangnya Arhen tak bisa hadir dan ia meminta maaf, karena harus cepat pulang ada urusan mendadak.


“Kita langsung pulang, Tuan Muda?” tanya Lucas.


“Tidak, kita harus ke Vend Boutique dulu, kemudian berbelanja beberapa barang,” jawab Arhen.


“Baiklah!” Lucas segera menyetir mobil ke arah Vend Boutique.

__ADS_1


Sesampai di Vend Boutique, seperti biasa, ia akan menggoda Rufia dengan kerlingan matanya. Duduk di depan meja resepsionis, meminta minuman segar pada Rufia.


Rufia segera memberikan air putih dingin dengan bongkahan es. “Panggilkan Ardhen dong!” pinta Arhen pada Rufia. Biasanya ia akan menggoda Rufia lebih lama, sebelum ia bertemu dengan Ardhen, tapi kali ini ia langsung menanyakan adiknya.


“Maaf Tuan, Tuan Ardhen belum datang, mungkin ia masih di kantor.”


“Hah? Baiklah, aku akan segera menghubunginya.


Arhen pun langsung menelfon Ardhen. “Oh, ok, aku akan menunggumu!”


“Apa? Kau bersama Abang juga?”


“Ok!”


Arhen pun menyimpan hp nya setelah usai menelfon.


“Ini Tuan!” Rufia menyodorkan kertas dan pulpen. Tampak Arhen menulis banyak tulisan sampai satu halaman kertas itu penuh, kemudian ia memanggil Lucas.


“Lucas, tolong beli dan cari barang-barang ini ya, aku akan menunggumu di sini, Ardhen dan Abang juga sedang dalam perjalanan kemari!” pinta Arhen, ia menyodorkan kertas yang telah ia coret itu.


“Baik, Tuan Muda!” Lucas mengambil kertas itu, membacanya sekilas, kemudian menyimpannya dalam saku dan berlalu pergi dari sana menggunakan mobil.


“Ruf, minta pada Paman Samber kalau aku ingin makan spaghetti full cream dengan daging sapi steak lada hitam.”


“Baik, Tuan.” sahut Rufia sopan. “Hai, Haizum, tolong jagain meja ini sebentar ya, aku mau menemui Tuan Samber dulu di dapur!”


“Ok!” jawab Haizum dari meja sebrang sana.


Tak lama, hanya 10 menit saja, makanan itu telah dibawa oleh Tuan Samber.

__ADS_1


“Ah, Paman, di sini saja! Aku makan di sini saja!” teriak Arhen, agar makanan itu di bawa ke meja resepsionis.


“Selamat menikmati Tuan Muda, semoga Anda menyukainya.” Tuan Samber tersenyum.


“Tentu, tentu aku akan sangat menyukainya, karena ini adalah buatan Paman, bahkan spesial untukku sampai diantarkan sendiri, hehehe.” Arhen tersenyum.


Tuan Samber pun kembali ke dapur. “Apa kau mau mencicipi ini gadis manis?” Arhen menyodorkan satu sendok makanan pada Rufia.


“Tidak, terima kasih Tuan!” tolak Rufia sopan.


“Hm, kalau begitu, aku makan ya, aku soalnya lapar sekali, tadi ditempat syuting, makanannya tidak enak, jadi aku hanya minum air mineral saja!”


Arhen memakan spaghetti dan daging steaknya lahap, sebentar saja semuanya ludes.


“Alhamdulillah, kenyangnya, ini baru namanya makan!” Arhen mengelus perutnya.


“Kau makan di sini, Kak? Begitu banyak meja dan ruangan khusus pun juga ada. Kenapa kau makan di sini?” Tiba-tiba suara Ardhen terdengar memarahinya dengan intonasi sedikit keras.


“Karena wanita!” Malah Arsen yang menjawab pertanyaan Ardhen itu dengan wajah datar dan sorot mata yang dingin.


Rufia menatap pria berambut hitam itu, bola matanya yang hitam legam dan sipit, pandangan mata yang tajam dan dingin. Sesaat, Rufia terpesona dengan ketampanan Arsen.


“Aduh Bang, kau sekali ngomong langsung jleb banget ya! Hahahaha!” Arhen terkekeh kecil. “Perut ku sudah kenyang dan kalian sudah datang, ayo, kita bicara di dalam!” ajak Arhen.


“Aku juga lapar!” Arsen langsung beranjak dari sana, memilih pergi ke ruangan khusus untuk mereka.


“Ruf, tolong minta pada Paman Samber, buatkan Abang makan!” Setelah berkata seperti itu, Ardhen dan Arhen juga langsung mengikuti kakak laki-lakinya itu


‘Abang?’ gumam Rufia dalam hati. Lalu, dia langsung pergi kembali ke dapur menyampaikan pesan Ardhen pada Tuan Samber.

__ADS_1


__ADS_2