
Disebuah ruang pertemuan, Irfan dengan Asitennya duduk, lalu seorang pemuda nan tampan berjalan mendekat ke arahnya bersama bawahannya sekaligus menjadi sopir dan bodygourdnya.
Irfan menatap pemuda yang ada dihadapannya dengan wajah terkejut. Pemuda itu terlihat sangat muda, lemah dan bodoh. Apakah benar, pemuda ini yang akan berinvestasi dengannya? Apakah benar pemuda ini orang kepercayaan Perusahaan Ar3s? Apakah pemilik Perusaahaan itu bodoh? Ya, begitulah dia bergumam pada dirinya.
Irfan sama sekali tidak pernah memikirkan pemuda seperti ini yang menjadi teman berinvestasinya sekarang. Namun siapa sangka, pemuda itu malah menanyakan pertanyaan yang sama sekali tidak ia sangka-sangka sebagai pembuka pembicaraan.
“Apakah perusahaan Anda membutuhkan suntikan dana,Tuan Irfan?” tanyanya dengan tatapan yang terlihat lembut namun tegas. Irfan menatap pemuda yang ada di hadapannya itu, lalu bertanya dengan bingung.
“Memangnya kenapa?”
Bagaimanapun, untuk berinvestasi, bukan hanya mengurus surat-surat lalu mencucur uang, namun butuh kecerdikan dan ketepatan dalam bertindak. Jika ia sampai salah melangkah, ia bisa hancur sehancur-hancurnya.
Pemuda itu adalah Asisten pribadi Arsen, ia adalah Hans.
“Bagaimana, kalau aku memperbaiki pertanyaanku lagi, mungkin caraku berkata kurang tepat! Bagaimana jika seandainya ... kami memberikan Anda suntikan dana 20 Triliun untuk 55% dari saham yang kami investasikan? Apakah Anda setuju?” Hans melihat kearah Irfan dan bertanya.
Jujur, Irfan rasanya sekarang ingin mencekik leher Hans saat ini, berani sekali pemuda didepannya menawarkan sesuatu yang mencekik, namun apa daya, perusahaannya memang semakin merosot sekarang, dia memang butuh suntikan dana yang besar.
“Boleh aku tahu kenapa Anda menawarkan hal seperti itu?” Irfan menatap Hans tajam, bagaimanapun, perusahaannya ini, telah ia bangun sejak dulu dengan jerih payah yang ia mulai dari nol, bagaimana mungkin orang bisa meminta 55% haknya? Bukankah artinya Atasan Pemuda itu akan lebih berkuasa diperusahaannya dari pada dirinya sendiri nanti?
“Jika tidak ada alasannya, aku tidak berani untuk menyetujuinya!” lanjut Irfan lagi, setidaknya ia ingin tahu alasannya.
“Hm, Atasan saya merasa Anda dan perusahaan Anda memiliki sesuatu yang membuat ia sangat tertarik. Anda memiliki kemampuan mengamati yang bagus, sementara kami memiliki banyak uang dan masih baru bergelut dalam dunia bisnis ini, sehingga Atasan saya ingin melakukan sedikit investasi.” ucap Hans sambil menatap Irfan yang ada di hadapannya dengan sangat serius.
“Jadi, Atasan saya ingin berinvestasi diperusahaaan Anda. Anda tetap menjadi Bosnya, namun Atasan saya yang memiliki wewenang mengambil keputusan, bagaimana?”
“Hah? Bicaralah dengan jelas!” sahut Irfan dengan wajah yang kurang bersahabat.
__ADS_1
“20 Triliun untuk membeli saham perusahaan Anda. Lalu, Anda masih menjadi atasan diperusahaan Anda yang berada dibawah wewenang Atasan saya. Seperti, Anda mengatur dan membeli sesuatu untuk keperluan, kami yang menyediakan uangnya.”
“Membeli barang dan bahan?” tanyanya, ia sangat kesal mendengar penuturan itu, namun ia sedikit tertarik. “Tetapi, investasi barang dan bahan dibutuhkan dana yang sangat besar!” lanjut Irfan lagi.
“Itu tidak masalah, Kami bisa mengawasi Anda!” jawab Hans. Mendengar itu, Irfan tersenyum kecut.
“Jadi, intinya, kalian akan membantuku untuk membeli bahan ataupun barang yang dibutukan, tetapi saham itu milik kalian 55%, itu 'kan intinya?”
Hans tersenyum mendengarnya, seolah memberikan jawaban, ya.
“Ini terdengar sedikit kejam untukku. Tetapi, kenapa atasanmu begitu tertarik dengan saham 55% di perusahaanku?” Irfan masih kekeh dengan pertanyaannya.
“Baiklah! Jika Anda sangat penasaran, saya akan menjawabnya! Menurut Anda ... kalau kami berinvestasi di perisahaan Anda, maka kami bisa menghemat berapa banyak uang?” Hans malah melemparkan pertanyaan dengan tersenyum ke arah Irfan.
Tentu saja Irfan tak tahu jawabannya, ia hanya diam saja menatap Hans.
“Investasi yang sangat besar? Saham bernilai tinggi?” ulang Irfan kembali. Ia memutar otaknya untuk berpikir sejak tadi, ia masih saja tidak paham.
“Sekitar 100 Triliun!” ucap Hans menyebut angka nominal uang yang akan ia guyurkan secara keseluruhan untuk investasinya, Irfan begitu terkejut mendengarnya, itu terlalu banyak, banyak sekali!
“Hahahahaa! Anda sedang tidak bercanda 'kan?” Irfan tergelak, tak percaya.
Mendengar itu, Hans tersenyum tipis, lalu berkata. “ Kalau Anda menerima uang 20 Triliun ini, aku akan segera mentransfernya kapanpun itu! Percaya atau tidak percaya, Anda bisa memeriksanya sendiri.”
Irfan berpikir, terdiam cukup lama.
“Perhitungan kalian lumayan juga!” ucap Irfan setelah lama ia diam.
__ADS_1
“Beri aku waktu untuk memikirkanya!”
“Baiklah, kalau begitu.” jawab Hans masih dengan wajah tersenyum.
**
Arsen, anak kecil yang licik itu masih menyimpan dendam pada orang-orang yang berani menyentuh ibunya tercinta kala itu. Perlahan ia masuk dalam jaringan perusahaan-perusahaan besar yang saling berkaitan dan bersekutu dengan perusahaan Irfan.
Masih tentang kerangka kalung, even itu bertepatan dengan acara ulangtahun mereka yang akan diadakan di Van De Utrech Hotel.
Pria yang memotong rambut Ibunya telah mendekam dipenjara, semua harta yang dimiliki pria itu diambil alih semua oleh Arsen. Ia hanya meninggalkan satu buah rumah dan usaha Bakery untuk istri dan dua orang anaknya.
Kejam? Ya, anak kecil polos itu hanya menyerahkan semuanya pada Barend. Jadi, mantan preman itu meniyita semua harta milik pria itu dan meninggalkan rumah serta usaha bakery saja dengan cara menyuntik pria itu dengan obat, memaksanya menandatangani surat alih kepemilikan, lalu pria itu perlahan menjadi pikun dan pelupa.
Apa kabar wanita yang menjebak ibunya?
Wanita itu juga dipotong rambutnya oleh Arsen hingga kepalanya gundul, lalu ia menyerahkan sepenuhnya pada Barend.
Barend, mantan preman yang sudah berkecimpung dengan hal seperti itu, mengantarkan wanita itu kerumah bunga, untuk dijadikan wanita pemuaas!
Apakah Arsen tau dengan hal seperti itu? Anak kecil itu awalnya tidak tahu apa-apa, namun perlahan ia sedikit mengetahuinya, namun ia tak peduli, selama Barend tidak membahayakan dirinya dan keluarganya.
Arsen selalu menghadang rencana apapun yang akan dilakukan Irfan. Lelaki itu masih belum mengetahui jika laptop dan hp nya sudah di sadap oleh Arsen. Perusahaannya mulai merosot akhir-akhir ini. Saat ia butuh bahan, Aesen dengan sengaja membeli bahan itu juga!
Orang-orang yang bersekutu dengannya perlahan mulai pergi dan menjauh, itu semua ulah anak kecil yang akan berumur 7 tahun beberapa hari lagi.
“Bagus, kamu memang sangat bisa diandalkan Kak!” pujinya pada Hans yang telah mendapatkan tandatangan Irfan.
__ADS_1
“Selanjutnya kita harus mulai mengganggu perusahaan kecil ini, dia juga salah satunya!” tunjuknya dengan bibir sembari menggerakan cursor laptop, menunjukkan profil tentang keseluruhan data perusahaan itu.