Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Membeli Sesuatu


__ADS_3

Irfan langsung diam menghentikan obrolannya, Dedrick juga diam tak mengangkat handphonenya. Ia mendiamkan suara panggilan. Lalu, mengetik pesan agar tak menghubunginya lagi.


Perlahan Irfan mendekat, berusaha mencari siapa yang berada dalam kamar toilet umum itu, yang pasti ia tak akan pernah menyangka jika itu adalah Dedrick. Masalahnya toilet kusus CEO itu ada di dalam ruangannya, bukan umum seperti ini.


Saat ia berjalan mendekat, seseorang memanggilnya.


“Meneer, onze cliënt is gearriveerd.” (Tuan, Kliennya sudah datang.) ucap seseorang yang baru masuk ke dalam toilet itu memberitahukan pada Irfan.


Akhirnya ia keluar dan mengurungkan niatnya mencaritahu siapa yang mendengar pembicaraannya.


Ada satu orang yang seharusnya ia takuti dan waspadai, bukanlah seseorang yang berada di dalam toilet. Tidak akan pernah ia mengira seseorang itu berbahaya, bahkan jika bertemu dengannya langsung. Seorang anak laki-laki genius berumur 6 tahun.


Sebelumnya anak itu sudah meretas handphone dan laptop yang ia gunakan saat mencaritahu data Sakinah saat itu. Saat Irfan mencoba melacak sumber pengirim video Arhen waktu itu.


Arsen duduk dikamarnya, sebuah komputer menyala. Monitornya menampilkan nada suara, itu bukanlah suara rekaman nyanyi Arhen, tetapi itu suara Irfan. Beberapa pesan dan suara telepon Irfan yang ia dengar berkali-kali.


Inilah Arsen. Anak yang sangat mencintai dunia IT. Ia akan selalu meminta jenis-jenis laptop pada Jimi, Billa atau Sakinah sebagai hadiah. Ia tak peduli baru atau seken. Ia sangat menyukai merakit dan memainkannya, layaknya anak perempuan yang suka membongkar pasangkan baju pada boneka berby, begitupula Arsen mencintai benda-benda IT.


Arsen bersaudara memang sangat fasih dalam bahasa Inggris karena sejak kecil telah terlatih oleh Billa dan Jimi. Namun untuk bahasa Belanda, ia sungguh belum belajar. Ia sedang belajar secara otodidak dengan mengunggah aplikasi kamus digital.


Ia dengar berkali-kali apa yang diucapkan Irfan. Jujur, Arsen tertarik belajar bahasa Belanda sejak ia mencurigai Andrean dan Dedrick sebagai ayahnya, lalu kejanggalan yang ia dapatkan dari meretas handphone dan laptop Irfan.


Arsen berdecak kesal. Saat ia menerjemahkan pesan, ia bisa. Namun saat mendengar audio sangatlah susah.


“Aku yakin keluarga mereka bukanlah keluarga yang rukun. Aku harus menjaga Mom. Aku curiga pada pria ini.” gumamnya.


“Apa aku minta bantuan Miss dan Daddy saja untuk mencarikan guru privat bahasa Belanda?” Ia berpikir keras.


“Ah, baiklah. Kalau begitu, aku akan mencari guru. Jika aku sudah fasih bahasa Belanda, aku akan mencari cara untuk membantu Mom.” ucapnya semangat, “aku juga akan membeli sesuatu untuk Mom.” sambungnya lagi.


Arsen keluar dari kamar, menemui Sakinah yang sedang berberes. Ia sedang melipat pakaian Ardhen dan menyiapkan makanan dirantang nasi.


“Apa masih ada yang harus disiapkan Mom?” tanyanya.


“Gak ada, kamu sudah selesai mandi?” tanya Sakinah balik.


Arsen hanya tersenyum kecil. Sakinah melotot. “Sana mandi, cepat!” suruhnya.


“Ok Mom.”


_________________


Sakinah dan Arsen telah sampai di rumah sakit, mereka kini telah duduk bersama di kamar inap Ardhen.

__ADS_1


Di sana bukan hanya ada Jimi dan Billa serta Arhen dan Ardhen tetapi juga ada Wizza dan Sekar.


“Mari kita bicara diluar dulu Kinah.” ajak Sekar.


Mereka duduk di bangku taman samping rumah sakit. Beberapa orang berlalu lalang dihadapan mereka.


“Semua berkasnya sudah siap, seminggu lagi kita akan melakukan operasi transplantasi ginjal.” tutur Sekar.


“Iya, Tante. Semoga saja operasinya berjalan lancar.” harap Kinah.


“Iya. Oh ya, jangan panggil Tante lagi dong Sayang. Kamu akan segera menikah dengan Andrean, jadi harus biasakan diri memanggil Mama dan Papa mulai sekarang,” katanya dengan tersenyum.


“Kapan kamu libur? Sudah minta cuti?” sambungnya lagi.


“Besok saya akan meminta cuti.”


“Bagus. Kita bisa segera pergi membeli dress pernikahan kalian.” ucapnya antusias.


“Tidak usah Tan, eh Ma ... Maksudnya gak usah beli dress segala, bikin repot. Aku pakai baju kurung biasa aja, Ma.”


“No, no, no. Bagaimana mungkin menikah pakai baju kurung biasa saja? Aaaaahh ... Andrean tidak mau party, sekarang kamu juga tidak mau beli dress. Mama tidak setuju! Kalau kalian tidak mau pesta, ok! Tetapi harus beli dress, harus mewah dong!” sewotnya.


Sakinah tersenyum kikuk, ia mengelus lengannya sendiri turun naik. “Baiklah kalau begitu, setelah mendapatkan cuti, saya akan mengabari Mama segera.”


“Hm ... lebih bagusnya sih, kamu minta surat recent aja. Setelah menikah kalian akan ke Belanda juga.”


“Tidak bisa Ma, soalnya sisa kontraknya sisa 2 bulan lagi. Lagian aku juga sudah sepakat dengan Andrean, aku dan anak-anak akan menyusul setelah kontrak kerjaku habis Ma.” jelas Sakinah.


“Oh, begitu, baiklah.


______________


“Miss temani aku belanja dong,” pinta Arsen.


“Wow! Abang minta belanja? Tumben, pasti lihat laptop keluaran terbaru ya di internet? Atau handphone baru?” celetuk Arhen.


“Miss belum gajian,” jawab Billa cepat. “Ajak Daddy aja sana!” tunjuknya dengan sudut bibirnya. Ia masih sibuk melihat handphonenya.


“No Miss, only whit you! Please.” Muka dingin dan jutek itu memohon sekarang.


Billa meletakkan handphonenya lalu tersenyum penuh makna. “Baiklah, tapi ada syaratnya.”


“Apa?” tanya Arsen.

__ADS_1


Billa menunjuk pipinya, membuat kening Arsen berkerut. “Ya sudah kalau tak mau.”


“Ok, cup!” Arsen mencium pipi Billa cepat, lalu menghapus bibirnya dengan punggung tangannya


“Astagaaaa!! Dasar ya, anak ini! Kamu kira pipi Miss ini ada virusnya!”


“Miss sudah janji,” ucapnya, tak peduli Billa menggerutu.


“Baiklah, aku kalah. Ayo!” Billa menyandang tas selempangnya.


“Honey, aku pergi dulu ya sama Arsen, cup!” pamitnya pada Jimi dengan ciuman manis di pipi diakhir kalimat.


“Don't forget to buy Madura satay!” teriak Arhen. (Jangan lupa beli sate Madura!)


“Okey!” sahut Billa membentuk bulatan dari jari telunjuk dan jempolnya, sedangkan tiga jari lainnya berdiri.


Billa dan Arsen menuju parkir, mereka pergi dengan mobil berlaju sedang.


“Memangnya kamu mau beli apa sih? Miss gak bisa belikan laptop loh! Miss belum gajian!” Billa kembali mengingatkan agar Arsen tak meminta itu saat belanja nanti.


“No. I just want to buy something for Mom.” sahutnya. (Tidak. Aku hanya ingin membeli sesuatu untuk Mom)


“Really?” tanya Billa. Ia masih tak percaya. Arsen mengangguk.


“Ok.”


Tak lama, mereka pun sampai di pusat perbelanjaan. Arsen terus berjalan mendekati busana khusus hijab.


“You want to buy this?” tanya Billa memegang hijab yang dipegang Arsen. (Kamu ingin membeli ini?)


“Ya.” jawabnya. Ia melanjutkan memilih beberapa hijab.


“Hei, seleramu terlalu jelek. Biar aku pilihkan!”


Arsen dan Billa memilih beberapa hijab.


“Hei! Apa-apaan yang kau pilih ini?!” seru Billa. Ia kembali tercengang dengan pilihan Arsen.


“Mom butuh ini Miss. Dia mulai sekarang harus pakai ini.”


“What?” Billa ternganga, tak percaya dengan pilihan Arsen.


...***...

__ADS_1


__ADS_2