
Desa Lubuak Nawa, nama desa Sakinah.
“Ondeh Mandeh, Etek bisa maangkek nyo, Anak Bujang!” tolak tetangga yang dibantu Arhen mengangkat ember air.
“Ah, indak apa-apa Etek. Awak senang bisa bantu Etek,” jawab Arhen yang masih belum lancar bahasa minang.
Aini dan Arhen dibawa pulang oleh Rukhsa dan Salwa ke desa. Berita meninggalnya Arhen Ryker Van Hallen telah dikonfirmasi benar. Semua alasan itu karena Arhen ingin menjadi masyarakat pada umumnya, hidup damai. Dia tidak ingin lagi berkecimpung dengan dunia hiburan.
Itu semua didukung juga oleh tampilan Arhen yang baru, wajahnya berubah setelah melakukan operasi, namun bola mata indah dan lesung pipinya masih saja memikat.
Semua penduduk desa melindungi Arhen dan Aini, apalagi setelah mendengar penjelasan dari Eric.
Eric sekeluarga sangat disegani dan ditakuti baru-baru ini, berawal dari kakak laki-lakinya yang menjadi leader di game yang dibuat Arsen. Membuat dia menjadi kaya dan memiliki banyak uang. Kedua orangtuanya membuka usaha, lalu Edi juga kuliah di UPPY jurusan komunikasi komputer.
Setelah itu, dia mendukung Eric untuk masuk pelatihan tentara melihat badan Eric yang tinggi dan berbobot besar.
Belum lagi, Rukhsa dan suaminya adalah Ustad dan Ustadzah di desa ini. Mereka berdua sama-sama guru mengaji, ramah dan baik. Keluarga mereka juga orang-orang yang cukup terpandang.
Yang lebih utamanya, mereka memang menyukai Arhen yang tampan, ramah, ceria dan suka tersenyum.
***
“Kakak!” seru Jamila berlari ke dalam pelukan Arhen, dia langsung digendong manja sambil berputar-putar. “Kakak, aku sangat rindu pada Kakak!” Jamila bergelayut.
Arhen menghentikan putarannya, mengecup wajah Jamila. “Kakak juga!”
“Ondeh, anak Umy alah tibo!” sapa Rukhsa yang baru muncul dari dalam rumah. Dia langsung mengelus kepala Jay lembut, menyambut tubuh Jamila dari gendongan Arhen.
“Umy, Mila gak ngerti bahasa daerah. Umy bilang apa sih? Jangan pake bahasa daerah dong,” protes Jamila.
“Umi cuma bilang, kalau kalian sudah datang.”
“Oh.”
“Ya udah, ayo masuk!” Mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Bi, awak panggil Aini dulu, nyo belum tahu Miss tibo!” ucap Arhen yang dijawab jempol oleh Rukhsa.
“Umi, kok Kakak panggil Bibi?”
“Karena dari dulu sudah panggil Bibi.”
“Seharusnyo panggil Uwaik, Bundo, kalo Ndak Mandeh tu!” Billa menyahut.
“Ba indak sekalian disuruah imbau biyai, Ndak iciak!” sungut Rukhsa membalas Billa.
“Aha! Rancak juo tu!” Billa mengangkat satu tangannya, menyetujui ide itu.
•••
Salwa dan Aini telah sampai di rumah Rukhsa, sedangkan Billa, Jay, dan Jimi pulang ke rumah orangtuanya yang tak jauh dari rumah Rukhsa.
“Ini Uni Aini, salam Nces!” pinta Arhen memperkenalkan Aini pada Jamila.
Jamila menyalami dan mencium punggung tangan Aini.
“Bibi sedang masak yo? Awak sama Mila pai dulu, Aini bantu Bibi Yo!”
“Kakak mau ajak Mila kemana?”
“Sungai, sawah dan lainnya!” sahut Arhen.
“Turunkan Nces aja, Nces 'kan bisa jalan, udah besar juga!” protesnya ingin turun karena masih digendong oleh Arhen.
“Gak bisa! Kakak 'kan masih rindu. Jadi Kakak gak mau pisah jauh-jauh! Ayo, Kakak akan bawa Nces ke sungai, kita melewati sawah-sawah dan kebun dulu ke sana!”
Di sepanjang jalan, Jamila melihat pemandangan yang asri menyejukkan mata, sawah hijau dan kuning terhampar, air parit yang sangat jernih, bahkan dasarnya masih tampak batu dan ikan kecil yang berenang. Banyak orang-orang yang sedang bekerja yang mereka lewati.
Ada yang membersihkan petak sawah, menjaga padi dari para burung-burung, menyabit rumput untuk hewan ternak, lalu setelah melewati sawah, mereka juga melihat orang mengikis kulit batang para untung mengambil getah karetnya.
“Akhirnya, kita sampai di sungai! Nces suka?” Arhen melihat wajah Jamila yang berbinar.
__ADS_1
“Iya, apa di sungai ini Abang, Kakak, Uda, sama Mom mandi?” tanya Jamila.
Darah Arhen berdesir setelah mendengar kata Mom, dia tersenyum, mengelus wajah Jamila. “Iya, sudah lama kita berencana ingin mandi bersama di sini 'kan? Nanti, jika Abang dan Uda sampai, kita akan mandi bareng di sini sambil bawa makanan!”
“Nah, sekarang ayo kita ke lapangan bola kaki! Di sana lagi musim layangan, banyak anak-anak yang main layangan,” terang Arhen, kemudian menggendong Jamila ke lapangan.
Jamila bersorak senang saat dia bisa menerbangkan layangan maco, layangan yang ekornya sangat panjang.
“Nah, Nces lihat itu, itu namanya layangan bulan, itu bulan sabit, sedangkan itu layangan merindu.” Arhen menunjuk banyak layangan.
“Wah, layangan merindu itu berbunyi dan berdengung ya Kak!” seru Jamila antusias.
“Iya Nces, layangan bulan sabit lihat tuh!” tunjuk Arhen lagi.
“Lebih keren layangan bintang!” Seorang anak dengan rambut ikal berkata dengan bangga di samping mereka “Nih, lihat!” Dia menyuguhkan layangannya yang besar.
Jamila menatap dengan mata berbinar. Layangan itu membentuk dua buah sudut melengkung seperti mata saling berhimpitan, di setiap ujungnya ada pernik-pernik. Di pinggang badannya berbentuk bintang, dan ekornya berbentuk segitiga sama kaki dengan rumbai-rumbai yang panjang berwarna warni. Bagian kepala layangan itu ada sudut melengkung dengan dawai yang bisa berbunyi.
Layangan itu berwarna ungu dengan corak bintang-bintang. “Gimana bagus 'kan?”
“Iya, bagus!” puji Jamila mengangguk.
“Kamu suka?” tanya anak itu lagi.
“Iya!”
“Kalau begitu, kau harus jadi istriku, karena Om yang menggendongmu ini sudah punya istri! Nih, layangannya untukmu.” Anak kecil itu meletakkan layangan dan benangnya begitu saja.
“Kau sekarang istriku gadis cantik!” Anak kecil itu melambaikan tangan dan pergi dari sana.
“Ckckck!” Arhen mendecakkan lidahnya sambil menggelengkan kepala. Tak percaya dengan tingkah laku anak kecil. Bisa-bisanya berkata seperti itu.
‘Ini efek sosmed kayaknya! Apa dulu aku juga seperti itu ya, waktu kecil?’ gumam Arhen.
Jamila terdiam mematung, dia tidak menyentuh layangan itu, padahal dia sangat suka sekali. Dia menarik baju Arhen. “Kak, bagaimana ini? Apakah aku selingkuh dan mengkianati Jay? Aku sudah menjadi istrinya sekarang, apa ini maharnya?”
__ADS_1
Jedeeerrr!!!
“Eh?” Arhen syok mendengar perkataan adik perempuannya.