Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Pemotretan


__ADS_3

Sakinah dan Sekar saling berpegangan tangan duduk di kursi panjang Rumah Sakit, tepatnya di depan ruangan operasi. Andrean duduk di seberang mereka sembari memainkan handphone.


Di dalam ruangan operasi, Dokter Bedah dan Dokter Anestesi sedang memastikan semuanya sudah membaik, lalu perawat menjahit luka toreh yang dibuat untuk transplantasi ginjal Ardhen dan Wizza.


Sakinah langsung berdiri saat melihat lampu ruangan operasi sudah padam. Tak lama, Dokter pun mulai keluar. Beliau menjelaskan operasi berjalan lancar dan baik, pasien akan kembali sadar beberapa waktu lagi dan akan dipindahkan ke ruangan inap setelah sadar.


“Alhamdulillah....” gumamnya lirih, tak kuasa airmatanya pun juga ikut mengalir membasahi pipi.


Sekar pun memeluknya.


____________


Di Sekolah Dasar.


Jimi duduk menunggu, ia memainkan laptopnya, mengedit beberapa foto dan video.


Foto dan video Arhen menjadi trending 3 dunia anak-anak di YutuzKidz. Ia tersenyum, kembali memposting satu foto Arhen yang diambil beberapa hari lalu di Taman Raya Batam.


“Dad!” teriak Arhen yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Sedangkan Arsen disampingnya hanya diam saja dengan wajah dingin, begitulah ciri khasnya.


“Daddy sudah lama sampai? Lama menunggu kami?” tanya Arhen, lalu memeluk Jimi.


“Hm, hampir 30 menit.” jawab Jimi melirik jam tangan di tangannya.


“Maaf, Dad. Tadi ada beberapa tugas sekolah, walaupun sebenarnya kami sudah selesai, tapi kami masih menunggu yang lain yang belum selesai.” jelas Arhen.


“Iya, Daddy tau. Lihat ini, bagus gak?” Jimi menyodorkan laptopnya kehadapan Arsen dan Arhen.


“Daddy, cup! Cup! Daddy memang the best. Keren banget!” seru Arhen riang, menciumi pipi Jimi.


Arsen berdecih, ia memilih duduk berpangku tangan. Kelakuan saudara kembarnya yang satu ini memang seperti itu, mau dikata apa lagi.


“Ayo kita segera ke rumah sakit, hari ini Adik operasi transplantasi ginjal 'kan?”


“Jangan sekarang, nanti aja!” tolak Arsen.


“Kenapa? Mom disana sekarang sendirian, Miss lagi ngajar, Daddy juga di sini sama kita.”


“Karena ada Nenek dan Andrean di sana.” sahut Arsen.

__ADS_1


Arhen menatap saudara kembarnya, Arsen.


“Aku sudah cerita bukan, kalau keberadaanku harus dirahasiakan, sebelum kita tahu sikap Andrean itu. Jadi, kita mendatangi Mom nanti saja, saat mereka sudah pergi. Kita bisa lihat dari sini dan juga mengabari Mom.” Arsen mengeluarkan handphonenya, menekan sesuatu, melihatkan hasil rekaman CCTV.


“Aku bingung sama pikiran Abang! Kenapa harus dirahasiakan segala?” tanya Arhen.


“Kau masih kecil, nanti aku kasih tahu.” mengacak rambut Arhen.


“Abang! Aku bukan anak kecil, jangan merusak tatanan rambutku! Kita hanya hitungan beberapa menit dulunya lahir, bukan hitungan tahun pun. Kita sama besar!” tampiknya. Ia ambil kaca kecil disaku tasnya, bercermin, lalu merapikan rambutnya.


“Abang harus tau, penampilanku harus menarik, ini adalah kekuatan dan sumber uangku. Aku akan membelikan Mom rumah mewah dan mobil keren dengan uang jerih payahku setelah besar nanti.” sambung Arhen menggebu-gebu.


“Aku bahkan kalau sudah besar akan membelikan Mom kapal pesiar, jet pribadi, perusahaan dan apapun yang Mom mau.” sahutnya tak mau kalah berdebat dengan Arhen.


“Abang! Kau harus mengalah sekali ini denganku, aku sungguh punya banyak uang, tanya saja pada Daddy! Hasil pemotretanku sedikit lagi bisa beli rumah mewah lebih cantik dari rumah Miss.” ucap Arhen menyombongkan diri pada Arsen.


Kalau urusan berebut perhatian dan memberikan hadiah untuk Sakinah, sampai sore pun mereka pasti akan berdebat. Walaupun Arsen tipe yang tidak banyak bicara, namun jika itu masalah Sakinah, dia tak pernah bersedia mengalah walaupun dengan saudara kembarnya.


“Sudah, kalian sampai kapan berdebat? Atau mau Daddy tinggalin?” Jimi telah memasukkan laptopnya ke dalam tas, bahkan ia telah berdiri dan bersiap pergi.


“Pintar! Nah, ayo kita pergi.” ucap Jimi setelah melihat Arhen dan Arsen diam, namun mereka saling melemparkan pandangan dengan tangan berlipat di dada.


“Kita muterin kota aja, lihat-lihat pemandangan.”


“Tumben?” celetuk Arhen.


“Daddy sudah mencarikan guru privat bahasa Belanda?” tanya Arsen mengabaikan ucapan Arhen.


“Wah, Abang memang selalu di depan, aku bahkan lupa untuk belajar bahasa Belanda, padahal kita mau tinggal di Belanda setelah ini.” ucap Arhen pelan, semangatnya sedikit menurun.


Arsen menepuk pundaknya. “Jangan khawatir, aku akan segera menyusulmu, kau dan adik harus menjaga Mom.” kata Arsen, “mari kita belajar bahasa Belanda.”


“Kamu sendiri tahu 'kan? Jangankan bahasa Belanda, bahasa Inggris saja Mom tidak bisa.” tanya Arsen.


Arhen menatap manik mata Arsen. Lalu mengangguk.


“Aku dan adik pasti akan menjaga Mom. Abang percayakan saja tugas ini pada kami.” Arhen memegang bahu Arsen.


Arsen mengedikkan bahunya, membuat tangan Arhen terlepas. “Huh!” Arhen mendengus karena sifat dingin Kakak laki-lakinya itu kembali muncul.

__ADS_1


Arsen berpangku tangan, menatap keluar kaca jendela mobil, mengabaikan Arhen.


“Masalah guru, Miss belum menemukannya, tunggu saja ya, pasti Miss akan mengabarinya nanti. Oh, ya, gimana kalau kita pergi ke daerah Galang, di sana ada pabrik yang tidak beroperasi lagi. Kita bisa melakukan pemotretan dan juga ... Arsen bisa meneliti tempat itu.” tutur Jimi.


“Meneliti? Jangan bilang Abang berniat membuat pabrik?” Arhen menatap Arsen penuh selidik.


“Dad! Abang berencana membuat pabrik? Memangnya ada anak kecil yang buat pabrik?!”


“Cih! Cerewet!” Arsen berdecak lidah.


“Belum, Arsen hanya sedang belajar, bukankah calon Papa kalian seorang CEO disebuah perusahaan?”


“Andrean CEO, Bang? Bukannya Papa Dedrick yang CEO? Waktu itu....” Arhen bergumam, ia mengetuk-ngetuk keningnya dengan telunjuk, mengingat informasi yang diberikan Arsen kala itu.


“Dia Manager Personalia. Dedrick yang menjadi CEO.”


“Oh begitu,” Jimi menganggukan kepalanya seraya terus menyetir. “Kita jadi ke Pabrik itu atau kemana?” tanyanya lagi.


“Kita ke sana Dad.” jawab Arhen dan Arsen kompak.


Selang beberapa menit, mereka telah sampai.


Ada dua orang berpakaian satpam memeriksa mereka, setelah pemeriksaan selesai, mereka diizinkan masuk.


Alasan Jimi masuk untuk melakukan promo pemasaran. Ya, itu memang alasan pertama dan alasan kedua untuk Arsen belajar meneliti tentang sebuah pabrik.


Jimi dan Arhen sibuk melakukan pemotretan disetiap sudut, di tempat alat-alat yang sudah tak difungsikan lagi, sedangkan Arsen menatap setiap inci alat-alat itu sembari berpikir.


“Dad, sepertinya, ini pabrik untuk pengolahan besi ya?” tanya Arsen.


“Iya, kan ini pabrik untuk pembuatan kapal.”


“Apa ada pabrik elektronik seperti ditempat Mom bekerja? Atau penampahan perhiasan?”


“Kalau itu, Daddy belum menemukan yang tidak beroperasi untuk kita masuki, ada pun yang sudah tidak beroperasi, tapi kita dilarang masuk.” jelas Jimi.


Arsen duduk, ia mengeluarkan buku, membuat beberapa coretan dan goresan, sedangkan Jimi dan Arhen melanjutkan aktivitas mereka.


‘Aku berharap pria yang menikah dengan Mom cukup pintar, walaupun hatiku lebih percaya pada Papa Dedrick....’ desah Arsen bergumam.

__ADS_1


...***...


__ADS_2