Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Mulus


__ADS_3

“Nona sangat cantik, kenapa Anda menutupi seluruh tubuh Anda?” tanya Clara sembari memijat Sakinah lembut.


“Maksudnya gaya pakaianku?” tanya Sakinah pada Clara.


“Iya Nona, kenapa Anda menutupi kecantikan Anda?”


Sakinah terkekeh kecil, Clara pun juga ikutan terkekeh. Sebenarnya ia tak tau apa yang sedang ia tertawa 'kan, hanya melihat Sakinah terkekeh ia juga ikutan.


“Saya hanya memakai pakaian yang dianjurkan Agama saya.” jawab Sakinah serius saat menghentikan tawanya. “apa kamu mengira aku memiliki penyakit yang harus ditutupi?” tanya Sakinah.


“Maaf, maafkan saya, Nona.” jawabnya merasa bersalah.


“Tidak apa-apa Clara, sekarang kau sudah mengetahuinya 'kan? Sudah tak penasaran lagi?” Sakinah tersenyum dan melirik Clara.


Clara masih memijat punggung, bahu dan lengan Sakinah dengan minyak urut aromaterapi. “Maaf, apakah Anda tidak merasa gerah saat menggunakan pakaian seperti itu Nona? Kenapa agama Anda memaksa pakaian yang merepotkan seperti itu?” tanya Clara sopan.


“Didalam Agama kamu pasti ada ketentuan tertentu saat kamu hendak ke Gereja pada hari minggu 'kan? Pasti ada ketentuan tertentu saat berdoa dan menyembah Tuhanmu 'kan? Sama, diagamaku juga. Setiap Agama itu sebenarnya sama, sama-sama mengajarkan kebaikan, tergantung orangnya mau berbuat baik atau tidak.”


“Masalah pakaianku ini adalah anjuran untuk kebaikan, orang yang beragama Muslim banyak yang tidak memakai hijab, memakai pakaian seksi, tidak semuanya memakai pakaian berhijab seperti ini. Namun, sebaik-baiknya pakaian harus menutupi tubuh, karena dengan bentuk lekuk tubuh yang tertutup, pandangan mata yang bersyahw*t pun bisa terhindar, seperti perempuan yang tertarik pada perempuan, laki-laki yang berniat menyet*buhi perempuan.”


“Begitu banyak perselingkuhan, ingin mencicipi rumput tetangga yang lebih hijau dari bunga mawar dirumah sendiri. Itu karena tubuh yang tidak ditutupi dengan baik, jadi memancing niat buruk dengan jerat pesona tubuh.” jelas Sakinah panjang lebar.


“Tubuh wanita yang paling menggoda menurutmu apa Clara?” Sakinah bertanya pada Clara.


“Dada perempuan.” jawab Clara.


“Salah.”


“Bok*ngnya yang besar.” sahut Clara lagi.


“Salah.” Sakinah kembali menyalahkan jawabannya.


Clara tampak berpikir keras. “Anunya.” ucap Clara pelan, ia bahkan malu untuk menyebutnya.


“Salah.”


Lagi dan lagi, Sakinah menyalahkan jawabannya.

__ADS_1


“Ditubuh wanita, yang menggoda adalah seluruh anggota tubuhnya, Clara.” jawab Sakinah. Clara mengernyitkan keningnya.


“Kenapa jawabannya seperti itu? Seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Sebaik-baiknya pakaian adalah menutupinya. Mungkin Pria A akan mengatakan sexsy di bibir, hidung mancungnya yang kecil, dada dan bok*ngnya yang montok, sedangkan pria B mengatakan ia tergoda dengan jari lentiknya, bulu tangannya yang tersusun halus dan rapi, betisnya yang mulus, putih berisi.”


“Lalu Pria C tertarik dengan senyumannya, bahkan saat mengingat senyuman itu otaknya langsung traveling membayangkan miliknya dihisap seperti es krim. Kemudian Pria D membayangkan bola mata yang cantik itu sedang mengedipnya, menggoda dan mengajaknya keranjang. Kita tak akan pernah tahu, kapan seorang pria akan berpikiran mesum saat melihat anggota tubuh kita.”


Clara terdiam, bahkan sampai tangannya yang memijit juga ikut terhenti.


“Clara, ada orang yang memiliki hasrat sangat tinggi, ada yang bisa menahan dan tidak. Kenapa orang bisa saling menyukai sesama jenis? Itu karena mereka melihat yang tak seharusnya mereka lihat, yang tak seharusnya mereka rasakan. Apakah menurutmu Tuhan menciptakan rasa pada sesama jenis? Lalu kenapa Tuhan menciptakan Nabi Adam dan Siti hawa?”


Clara terdiam lama, Sakinah juga, hingga suara Kinah kembali memecah suasana hening.


“Hehehe. Aku jadi melenceng kemana-mana. Apakah kamu mengerti dengan maksudku Clara?” tanya Kinah.


“Aku mengerti Nona. Bolehkah aku bertanya satu hal lagi?” tanya Clara.


“Tentu, katakan saja. Jika aku tahu aku akan menjawabnya sebisaku.”


“Apakah di Muslim itu harus poligami? Memiliki istri lebih dari satu. Lalu, apa Anda akan meminta Tuan Muda Andrean menikah kembali?”


Wajah Sakinah tampak serius, terdiam cukup lama, keningnya berkerut. Clara yang melihat reaksi itu segera berucap, “Maaf, maafkan kelancangan saya Nona.”


“Zaman dahulu, begitu banyak perang, anak-anak berumur 12 tahun sudah dinikahkan. Banyak para suami yang wafat di Medan perang, banyak janda terkejut, janda muda, janda banyak anak. Makanya ada anjuran poligami. Tetapi, ada syaratnya, mampu berlaku adil.”


“Orang-orang dulu poligami untuk melindungi janda itu, sedangkan sekarang banyak poligami karena gatalnya. Istri pertama aja gak cukup belanja malah minta nambah istri kedua. Aku sih gak setuju, hehehehe. Coba bayangin, istri mana yang akan merasa adil saat suaminya menikah kembali?”


“Andrean mungkin bisa adil dalam berbagi harta jika dia poligami, tapi apakah dia akan adil dalam berbagi perasaan? Lagian alasan untuk poligami apa? Aku dalam keadaan sehat, bisa memberikan keturunan.”


“Menurutku secara pribadi, jika tak ada masalah, kenapa harus poligami? Apakah tak ada rasa cinta lagi? Atau tak memiliki iman di dada sehingga ingin nambah istri?”


Clara tersenyum kecil. “Apa Anda sedang cemburu Nona?”


“Cemburu pada siapa?” tanya Sakinah.


“Cemburu pada imajinasi Anda sendiri. Sepertinya anda sedang membayangkan Tuan Muda Andrean akan menikah kembali.” ucap Clara terkekeh kecil.


“Eh? Kamu ada-ada saja Clara.” Sakinah juga ikutan terkekeh.

__ADS_1


‘Apa tadi aku terlihat menggebu-gebu?’ gumamnya.


_____________


Entah berapa lama Clara memijat Sakinah, kini wanita itu telah tertidur pulas. Clara meninggalnya dan menutup pintu kamar itu dengan rapat.


Sore hari.


Andrean pulang lebih awal, ia langsung masuk ke dalam kamar.


!!!


Punggung mulus dengan bahu seputih susu, betis dan paha yang begitu indah dan seksi. Suguhan dunia yang tak bisa ia tolak. Pipi Andrean memerah, debaran jantungnya tak bisa ia atur, badannya terasa panas dingin.


“Dasar wanita ini, dia sengaja ya?” Bergumam-gumam sendiri. Bergegas ia tutupi tubuh Sakinah dengan selimut.


Bukannya tertutup sempurna, malah ia terkesima menatap wajah cantik Istrinya itu. Leher jenjang yang begitu menggoda, ingin ia tinggalkan tanda merah di sana.


Plak! Sakinah berputar, tak sengaja tangannya menapik wajah Andrean yang menatapnya sangat lekat.


“Awwh!” Andrean meringis.


Sakinah tidur sangat nyenyak, tak bangun sedikit pun, mungkin karena selesai dipijit ia sangat nyaman. Posisi tubuhnya kini tertelentang, membuat Andrean bisa melihat tubuhnya yang lebih menggoda.


Belahan dadanya yang menggoda iman naik turun sesuai dengan deru nafasnya yang keluar masuk.


Wajah polosnya, bibirnya, semuanya membuat Andrean tak kuasa menahan gejolak. “Shiiiit!” umpat Andrean memaki pikirannya.


Andrean segera meraih handuk.


Membuka semua pakaian, segera masuk ke dalam kamar mandi. Bukannya mandi, otaknya malah traveling. Membayangkan wajah cantik itu menyapu seluruh tubuhnya, bermain-main dengan ayam jagonya, berandai-andai memainkan dada yang tadi ia lihat belahannya itu.


Tangannya memegang kepala ayam jago, matanya terpejam dengan satu tangan bertumpu ke dinding. Ia mendesah, membayangkan adegan-adegan liar dengan objek fantasi istrinya sendiri.


Lagi, lagi gerakan memompa kepala ayam jago semakin cepat, entah berapa lama ia melakukannya, urat tangan dan lehernya bahkan sampai menegang, hingga suara lenguhan menghantarkan ia kesurga ciptaannya sendiri.


Tubuhnya terasa lemas, serta ayam jago yang tadi mengamuk, kini sudah kembali tertidur dengan perlahan.

__ADS_1


“Ah, sudah sangat lama aku tidak begini!” rutuknya, pergelangan tangannya terasa pegal. Sudah sangat lama ia tak bermain solo. Biasanya, akan ada banyak wanita yang siap membuka lebar kaki untuknya.


...***...


__ADS_2