
Arsen langsung pergi ke sekolah Roselia. Ia menghubungi Roselia agar menemuinya di depan gerbang sekolah. Wanita itu segera menemui Arsen terburu-buru, tampilannya yang biasa saja, jauh dari kata cantik apalagi idola sekolah ini. Rambutnya diikat kuncir tinggi, menggunakan kacamata yang cukup tebal kacanya, gaya yang cukup culun, tetap Arsen suka.
Arsen memberikan sebuah kotak besar yang isinya coklat dan mainan kunci bear yang berwarna warni dibungkus dengan sangat bagus. “Ini untukmu, kau bisa makan sepuasnya, jika kurang, kau bisa memintanya lagi. Satu lagi, ini untukmu.” Arsen memberikan satu tangkai bunga mawar setelah Roselia mengambil kotak besar itu.
“Ah? Te-terimakasih, Tuan Muda.” Roselia mengambilnya dengan agak susah karena harus memeluk kotak besar yang cukup berat itu.
“Kalau begitu, aku harus berangkat ke kantor lagi! Belajarlah dengan baik!” Kemudian Arsen berlalu pergi dengan coolnya.
“Apa-apaan ini? Bagaimana aku harus membawa kotak besar ini ke dalam kelas? Lalu bunga ini? Tahu begini, aku bawa tas, biar bisa menyimpannya. Bagaimana kalau teman-teman melihat aku memegang bunga? Pasti aku akan diolok-olok!” Roselia berkata sendiri.
Arsen tersenyum sendiri, merasa bangga karena sudah memberikan banyak coklat dan mainan kunci pada Roselia.
“Cih, satu coklat mana cukup, kamu akan puas memakan banyak coklat itu, dan juga bisa memilih memakai mainan kunci yang mana yang kamu suka secara bergantian.” gumamnya, masih tersenyum-senyum sendiri.
Xander Pim hanya bisa melongo melihat pemandangan itu. ‘Jadi, bunga itu untuk adiknya Tuan Muda Hans, apakah Tuan Muda Arsen suka pada Nona Roselia?’ Bodyguard Arsen itu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Waktu terus berputar, hingga jam sekolah pun berakhir. Roselia mengambil titipan kotak dan bunga yang ia titipkan di ruangan satpam tadi, lalu pulang dengan taksi langganan yang telah diatur oleh Hans.
Sesampainya di apartemen, seorang Satpam memberikan buket bunga mawar 99 tangkai padanya, sangat besar. “Nona Ros, ada paket kiriman untuk Anda!” panggilnya dan menyerahkan bunga itu.
“Hah?” Roselia kebingungan. “Untukku Pak? Apa tidak salah? Dari siapa?” tanyanya.
“Tadi seorang kurir mengantarnya Nona, dia tidak memberitahu siapa pengirimnya, hanya mengatakan untuk Nona Roselia saja,” jawab sang satpam.
Roselia pun mengambil bunga itu, membawanya ke dalam apartemen, meletakkannya di atas meja ruang nonton. Lalu, mengganti pakaiannya dan makan.
Setelah itu, ia menatap bunga itu lama, berpikir keras. “Apakah Kakak yang mengirim bunga ini? Soalnya Arhen dan Rayyan sudah memberiku coklat dan bunga.” Ia berkata sendiri. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya Arsen. Bahkan kotak dan bunga yang diberikan Arsen tadi, tergeletak di meja belajarnya. Ia tak berniat membuka kotak besar yang diberikan Arsen tadi. Lalu, memilih tiduran di sofa sambil memandang buket bunga mawar 99 tangkai.
Langit sudah mulai gelap, Roselia rupanya sudah tertidur pulas di sofa, Hans merapikan tubuh adiknya yang tertidur terkulai, meletakkan bantal di kepala Roselia.
Hans juga menatap mawar 99 tangkai itu sekilas, lantas beranjak pergi dari sana untuk membersihkan diri.
Di desa Sakinah.
Sebuah rumah tampak sedang berduka, banyak yang berkumpul dan mengaji di sana. Ada beberapa orang dari Pekanbaru, Jambi dan Jakarta yang pulang, sepertinya itu sanak keluarga famili yang sedang meninggal.
Seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang lebat menangis memeluk adik laki-lakinya yang kini kelas 5 SD. Seorang mayat laki-laki terbujur ditengah rumah, sebentar lagi mayat itu akan dimandikan oleh saudaranya.
__ADS_1
Ia adalah ayah gadis cantik itu. Ibunya telah lama meninggal saat melahirkan adik laki-laki nya. Kini, sang Ayah pun juga menghadap Sang Pencipta dengan cara yang sama seperti Ardi almarhum suami Sakinah.
Ayah gadis cantik itu bekerja merambah dan menebang pohon dengan mesin sinso. Mesinnya terjepit di pohon yang sangat besar, hingga mesin itu rusak, sedangkan pohon besar sudah terpotong setengah badan, hingga angin yang meniup-niup pohon itu membuat pohon itu roboh dengan cara terbelah. Belahan pohon itu menendang tubuh ayah sang gadis hingga beliau meninggal di tempat.
Setelah mayat sang ayah dikuburkan, keluarga mereka mulai bermusyawarah, siapa yang akan merawat mereka, kedua adik kakak itu. Ada yang berniat membagi mereka, tetapi adik laki-lakinya langsung menangis dan menolak berpisah dengan sang kakak.
“*Kalau model itu, rancak Uda sajo yang mambao Aini Jo Andika ka Jakarta. Bisa menolong manggaleh sakali, pas pulang sekolah! Kalau Aden karajo di PT, urang rumah den Ndak karajo, baranak ketek, kami pun susah Da*,” ujar salah satu keluarganya.
(Aku bekerja di PT, kami susah, istriku tak bekerja, lebih bagus Abang bawa ke Jakarta saja, bisa membantumu berjualan, jika mereka pulang sekolah)
“*Aden karajo wiraswasta, Da. Kadang dapek kadang indak. Aini SMA, Andika SD. Kalau surang-surang, den usahoan, kalau baduo, indak talok di den doh Da*,” jelas saudara lainnya.
“*Kalau alah model tu kecek kalian, bialah, Aden bao Andika Jo Aini ka Jakarta*.” sahut Kakak pertama.
(Jika seperti itu, baiklah, Aini dan Andika akan kubawa ke Jakarta)
Seminggu setelah Ayahnya dikuburkan, Aini dan Andika di bawa ke Jakarta, rumahnya dihuni oleh Tantenya yang paling kecil, ia juga baru menikah, sehingga tidak mampu merawat dan menyekolahkan mereka berdua.
Eric berlari tergesa-gesa saat mendengar Aini akan pergi ke Jakarta.
“*Aini, iyo ka pai ka Jakarta*?” Eric berdiri di hadapan Aini yang sedang menyandang tasnya dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
(Aini, benarkah dirimu akan pergi ke Jakarta)
“*Iyo, Ric. Makdang nan talok merawat Jo manyekolahkan kami nyoh, Uncu pun Jo Acik baru menikah, ndak do bapitih manyekolahkan kami*.” jawab Aini lesu.
(Iya, Ric. Paman pertamaku yang sanggup merawat dan menyekolahkan, Bibi terkecil dan suaminya baru menikah, mereka tak memiliki uang untuk menyekolahkan kami,)
“*Aini, Iko nomor hp den. Aden Ndak bisa maagiah apo-apo kini doh, den baharok bisa Wak basuo baliak*....” lirih Erick.
(Aini, ini nomor hp ku. Aku tak bisa memberikan apa-apa sekarang. Aku berharap, kita akan bertemu kembali....)
“Iyo,” jawab Aini, kemudian ia mengambil kertas yang berisi nomor Aini.
Aini perlahan berjalan bersama Andika ke dalam mobil travel, Pamannya telah menunggu. Ia tersenyum dan berpamitan pada Eric. Ia tidak memiliki hp, berbeda dengan beberapa anak di desa ini yang sebagian telah memiliki hp. Aini seorang gadis sederhana yang hanya memiliki seorang ayah yang memiliki penghasilan pas. Jadi, ia tak punya hp, makanya Eric berharap, jika nanti Aini punya Hp, gadis itu akan menelfonnya.
Eric menatap mobil yang ditumpangi Aini sampai habis dengan pandangan lesu.
*Plak*! Tiba-tiba saja bahunya di tepuk. Entah sejak kapan Kakak laki-lakinya berada disampingnya, ia sampai tak menyadarinya.
“Kakak!”
“*Saba, kalau jodoh indak kamano, Ndak kalari gunung dikaja, indak ka kakariang lauik ditimbo, kok nyo bajodoh, tabangnyo kasarung juo*.” Edi mengacak rambut Eric yang sudah remaja.
__ADS_1
...----------------...