
Di Mansion Van Hallen.
Mansion itu, kini tengah berduka, keluarga, teman dan para pelayat tengah berkumpul di sana. Tubuh Sekar tengah terbujur di dalam peti, wanita paruh baya itu terlihat sangat cantik dengan riasan dan dibaluti pakaian kesayangannya. Matanya tertutup, terlihat sangat damai.
Wizza duduk jauh di sudut, sedangkan Andrean dan Dedrick tertunduk lesu di dekat peti itu.
Beberapa hari yang lalu, wanita itu masih tersenyum dan bercerita dengan bahagianya. Ia bahkan menceritakan betapa lucu dan nakalnya Andrean dan Dedrick dulu, pada Calista dan Sakinah. Ia meminta Dedrick dan Calista menikah di ruangannya, di dalam kamar rawat inap rumah sakit.
“Ma, kenapa harus menikah sekarang? Permintaan Mama membuat aku menjadi takut....” lirih Dedrick.
“Mama baik-baik saja, Nak. Mama hanya ingin kalian menikah segera, agar tak ada halangan lagi, barulah setelah kalian sah jadi suami istri, kita akan mengadakan resepsi besar-besaran nanti, bukan hanya buat kamu, tetapi juga buat adikmu, Andrean dan Sakinah.” tutur Sekar lembut.
Pernikahan pun dilaksanakan di ruangan itu, awalnya memang Dedrick protes, namun akhirnya dia setuju.
Setelah menikah beberapa hari, Calista dan Sakinah begitu setia menemani mertuanya. Sedangkan Dedrick dan Andrean sibuk mengurus masalah di kantor, kekacauan di pernikahan kemarin dan lainnya.
“Kalian berdua harus akur, ya! Calista, cintailah dan selalu bersama Dedrick, percayalah, dia sangat menyayangimu. Sakinah, aku senang, kamu begitu dewasa dan berlapang dada selama ini bersama putraku, teruslah bertahan dan cintai dia. Kalian berdua, jadilah kekuatan satu sama lain.” Sekar memegang tangan kedua menantunya, menyatukan kedua tangan itu.
“Andrean dan Dedrick memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalian berdua adalah wanita yang paling pantas di samping mereka. Kamu dewasa dan bijak,” Ia menatap Sakinah lembut. “kamu gigih dan pintar.” Sekar menoleh pada Calista, tersenyum, kemudian mengelus punggung tangan kedua menantunya itu.
“Tolong jaga mereka berdua, ya-”
“Ma, apa yang Mama katakan?! Kenapa Mama berkata seperti itu? Perkataan Mama membuat pikiranku panjang berkelana.” gumam Calista pelan.
Sekar tersenyum. “Ini ... hanya sebuah ucapan biasa, jangan berpikir aneh-aneh,” katanya.
Perkataan itu masih jelas teringat oleh Calista dan Sakinah. Seolah itu adalah sebuah pesan dari ibu mertua sebelum ia pergi pada Sang Pencipta.
Calista memeluk Dedrick. “Honey, tegakkan lah kepalamu, bersandarlah dikursi. Tubuhmu bisa sakit jika ditekuk seperti ini terus. Mama akan sedih, jika kamu seperti ini.” Pria itu masih diam, seolah tak mendengar apapun.
Sakinah hanya menggenggam tangan Andrean, ia tak berkata apapun. Ia juga pernah merasakan sakit seperti itu, kehilangan seorang ibu. Lebih sedih lagi, ia kehilangan ibu karena mendengarkan ia hamil anak diluar nikah.
Arsen, Arhen dan Ardhen hanya bisa diam, mereka bertiga memakai topeng mata, duduk cukup jauh dari peti itu. Mereka melihat Dedrick dan Calista, lalu Sakinah yang memakai cadar terus menggenggam tangan Papanya, Andrean
“Kak, kasihan sekali Papa-papa kita.” bisik Ardhen pada Arhen.
“Ya, tentu saja. Apa kamu tak bisa bayangkan, jika seandainya Mom yang meninggal?” jawab Arhen.
“Hm....” Wajah Ardhen langsung sendu, ia langsung membayangkan hal buruk, kemudian menangis.
__ADS_1
“Hei, tenanglah, jangan menangis begini!” Arhen jadi khawatir karena Ardhen menangis dengan suara yang cukup keras.
“Huwaaa! Huhuhuhu!” Suara Ardhen semakin menjadi.
Mendengar suara tangisan Ardhen yang kencang, membuat Sakinah, Andrean dan Dedrick mengangkat kepalanya dan menoleh pada anak laki-laki itu.
Sakinah cepat berdiri dan menghampiri putra bungsunya. “Sayang, kenapa menangis? Tidak boleh menangisi yang sudah meninggal dengan suara begini, nanti Grandmanya sedih.” ucap Sakinah lembut, ia belai rambut putranya itu, kemudian ia kecup pipinya.
“Sudah, jangan menangis lagi. Mari kita berdo'a agar Grandma tenang dan bahagia di alam sana.” bujuk Sakinah.
Ardhen memeluk erat Sakinah. “Adik sangat sayang sama Mom, Adik gak mau ditinggalin, Mom gak boleh pergi, ya.”
Sakinah menatap Arhen, kemudian Arsen, tampak jari jempol Arsen menunjuk ke arah Arhen. “Ka-ka-kakak gak bermaksud nakut-nakutin Adik kok, Mom. Kakak cuma bilang, kalau Mom meninggal pasti kita bersedih kayak Papa.” jelas Arhen gelagapan.
Plak! Jitakan mendarat di kening mulusnya dari Arsen. “Memangnya kau tak menangis, jika Mom meninggal? Hm?!”
“A-abang kok ngomong gitu,” sendu Arhen.
“Lihat, kau saja sedih mendengarnya. Makanya jangan bicara sembarangan. Perkataan adalah do'a. Berdo'alah supaya kita sekeluarga diberikan kesehatan, kemudahan, kebaikan, keberkahan, kemuliaan, kekayaan, panjang umur dalam kebahagiaan.”
“Aamiin.” sahut Sakinah. Kemudian, ia mengelus kepala ketiga putranya.
Di mansion milik Irfan, polisi tengah memborgolnya, membawanya masuk ke dalam mobil.
“Kakek!” teriak Frans sambil menangis. “Jangan bawa kakekku!!” Ia mendorong tubuh polisi itu dengan tangan kecil mungilnya. “Ma, Pa, tolong kakek, mereka semua jahat dan ingin membawa kakek!” seru anak laki-laki itu menoleh pada kedua orangtuanya.
“Kakek,” rengeknya bergelayut. “jangan bawa kakekku!” makinya, ia memelototi para polisi, namun polisi masih membawa Irfan.
__ADS_1
“Pak, tunggu, sebentar!” Irfan memohon. Ia kemudian berhenti dan menoleh kehadapan Frans, lalu berjongkok.
“Sayang, jagoan Kakek, kesayangan Kakek. Jangan menangis, jangan khawatir, kakek hanya perlu melakukan pekerjaan penting. Jadi, jangan khawatir. Kakek akan segera pulang, ayo, peluk kakek.” pinta lelaki tua itu, ia merasa sedih harus berpisah dengan cucu kesayangannya.
Frans langsung menghambur dan memeluk erat Irfan. “Kakak akan segera pulang dan membawa oleh-oleh, kamu harus rajin-rajin belajar, supaya mendapatkan nilai terbaik dan mendapatkan juara.” tuturnya lembut.
“Iya, Kek. Pasti! Aku akan juara. Kakek harus menepati janjinya, ya!”
“Iya, kakek pergi dulu.” pamit Irfan, lalu berdiri dan membalikkan tubuhnya, masuk ke dalam mobil polisi.
Putra Irfan hanya bisa menatap kepergian ayahnya. Ia dan sang istri sudah berkali-kali mengingatkan, janganlah memiliki dendam dan kebencian lagi, jangan terlalu percaya pada Jonathan sekertaris nya itu. Akan tetapi, sang ayah selalu saja tak mendengarkan mereka berdua.
“Sayang, apakah aku harus memohon pada Paman Wizza dan putra-putranya agar bisa meringankan tuntutan ini?”
“Apakah menurutmu mereka bisa memaafkannya?” Bukannya jawaban, tetapi sang istri malah balik bertanya pada sang suami.
Dia menghela nafasnya kasar. “Ah, entahlah....” gumamnya. Kemudian ia berjalan ke arah Frans yang masih berdiri di depan gerbang, menatap arah mobil yang membawa Irfan menghilang.
“Ayo, kita masuk, Nak. Mobil nya sudah tak tampak lagi.” ajak sang ayah.
__ADS_1
“Papa dan Mama jahat! Aku benci kalian! Hanya Kakek yang paling terbaik, kalian membiarkan Kakek dibawa oleh polisi itu. Jahat! Aku benci kalian!” serunya dengan mata melotot, kemudian berlari masuk ke dalam mansion, menjauhi kedua orangtuanya.