Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Gaun


__ADS_3

“Ada apa?!!” Sakinah berlari ke kamar anak-anaknya.


“Gak ada apa-apa kok, Mom.” Bergegas Arsen menutup laptop.


“Ada apa?! Apa kalian melakukan sesuatu?!” Sakinah curiga, Ia berjalan mendekat ke arah mereka.


“Sini laptopnya, Bang!” perintahnya tegas.


Ia buka laptop itu, hanya terlihat coretan-coretan. Kemudian menatap mereka bertiga penuh selidik.


“Kami hanya menggambar kok sama Abang, Mom. Tapi Abang curang, cuma itu aja kok. Benar 'kan Dik?” ucap Arhen.


“Iya, Mom.” jawab Ardhen.


“Sudah, kalian jangan ajak Ardhen main laptop dulu. Mom udah bilang 'kan, kamu harus banyak-banyak istirahat biar cepat sembuh, jangan main hp ataupun laptop dulu. Kalian berdua juga, kurangi main hp dan laptop. Sini hp dan laptopnya! Nanti malam baru boleh main lagi.”


“Iya, Mom.” Arhen dan Arsen menyerahkan hp dan laptop pasrah.


“Kalian bantu Mom lipat kain itu!” Sakinah menunjuk sekeranjang kain.


Ardhen menutup mulutnya tersenyum, ia memilih membaringkan tubuhnya.


“Kalau kami yang lipat gak rapi, Mom.” Arhen beralasan.


“Gak masalah, kalian harus belajar mandiri, perlahan, seperti melipat dan merapikan pakaian, menyusun alat-alat pribadi kalian. Apa Abang dan Kakak mau lihat Mom kelelahan dan capek? Terus sakit, lalu mati.”


“Enggak Mom, Kakak gak mau.” Arhen langsung memeluk Sakinah, sedangkan Arsen langsung bergegas berjalan ke keranjang, melipat pakaian mereka.


“Pintar, ya sudah, Mom lanjutkan lagi beres-beresnya di dapur. Setelah melipat pakaian, kalian harus tidur.”


“Iya, Mom.”


_______________


Surat menyurat sudah selesai diurus oleh Andrean, Ia juga telah mendaftar menikah.


“Andrean.” ucap Andrean bersalaman dengan seseorang yang memakai baju batik bercorak kuning keemasan. Perutnya sedikit buncit, memiliki jambang tipis.


“Jhoni Solehin.” balasnya menyalami tangan Andrean.


“Apakah David sudah menceritakan jika aku mohon bantuan Pak Jhoni? Aku membutuhkan data itu untuk melindungi anak-anakku. Bukan untuk melakukan suatu kejahatan.”


“Aku melakukan kesalahan pada wanita yang aku sukai, berjanji akan menikahinya kala itu, membuatnya hamil, karena kami tidak seiman aku tidak kunjung menikahinya. Saat itu aku tak tahu dia hamil. Sekarang, aku menyesal, aku sudah melakukan khitan dan pindah agama. Mohon bantuan Pak Jhoni membuatkan data surat nikah kami di tanggal 7 tahun yang lalu....” ucap Andrean pelan, menghiba, mengarang cerita. Lalu, menyodorkan amplop coklat yang penuh dengan uang seratus ribuan.


“Saya mengerti tentang perasaan Tuan Andrean, Pak David juga sudah menjelaskan pada saya.”


“Saya tak enak hati rasanya mengambil pemberian Tuan Andrean.”


“Ah, tak apa Pak Jhoni. Ini hanya untuk membeli tinta saja,” Andrean menambahkan satu amplop coklat lagi. “Ini untuk mentraktir minum kopi teman-teman Pak Jhony.” Andrean tersenyum penuh makna.


“Saya tak enak hati, makasih banyak Tuan Andrean.” ucap Pak Jhoni, tangannya meraih dua amplop coklat itu, memasukkan ke dalam tasnya dengan senyuman sumringah.


“Tiga hari lagi saya akan menikah, mohon Pak Jhoni mengatur semuanya ya.”

__ADS_1


“Tentu saja Tuan Andrean, jangan khawatir.”


Setelah mereka selesai berbincang, Pak Jhoni pergi. Kini, Andrean menyandarkan tubuhnya di sofa. Menelfon sang pemilik surga, Ibunya, Sekar.


‘Bagaimana? Apa semuanya sudah selesai?’ tanyanya di seberang sana.


“Sudah Ma, tiga hari lagi aku menjadwalkan pernikahan kami.”


‘Baguslah, aku akan segera mengajaknya membeli dress pernikahan kalian.’


“Ya, terserah Mama saja. Udah ya, Mom.”


Andrean melonggarkan pakaiannya, membuka satu buah kancing atas kemejanya.


“Kamu sudah mendapatkan kabar dari Alex?” Ia menatap David yang masih setia berdiri disampingnya.


“Tuan Dedrick sudah menyelesaikan permasalahan di Belanda, tetapi ada kabar terbaru, Beliau mendengarkan Pak Irfan membahas tentang kerangka kalung secara diam-diam, begitulah penjelasan Tuan Alex pada saya Tuan.” ujar David.


“Kerangka kalung?” Andrean berpikir. Ia meraba dadanya yang ada bekas luka.


“Ya sudah, ayo kita kembali ke penginapan. Aku ingin beristirahat dan berenang.”


___________


Sore hari.


Rumah Sakinah kedatangan tamu, Sekar turun dari dalam mobil yang di dampingi dua pengawal, salah satunya merangkap menjadi supir. Arhen berlari masuk ke dalam kamar mengadukan pada Arsen.


“Bang, ada Nenek, gimana nih? Pasti nanti dia masuk ke dalam kamar untuk melihat Ardhen.” ucap Arhen.


“Maksud Abang bagaimana? Aku tidak paham.”


“Maksud Abang, dia akan mengatakan kalau dia anak Miss Billa dan Daddy Jimi.” sambung Ardhen.


“Bukan sepenuhnya berbohong juga, bukankah dari dulu, Miss dan Daddy menyebut dirinya Ibu dan Ayah kedua kita?”


“Hm, Benar, Bang!” sahut Arhen mengangguk setuju. “Kalau begitu, aku paham sekarang.


Sekar masuk ke dalam kamar Ardhen, ia menatap Arsen. Tersenyum ramah.


“Bagaimana keadaanmu sekarang, Sayang?” Ia usap kepala Ardhen.


“Kamu juga bagaimana Arhen, apakah di Sekolah menyenangkan?”


“Aku lebih baik sekarang Nek.”


“Di Sekolah menyenangkan, teman-teman baik, Guru juga mengajarkan dengan ramah.” jawab Arhen.


“Baguslah. Hai, kamu temannya Ardhen dan Arhen ya, namamu siapa?” Ia menatap Arsen.


“Iya, namaku Arsen,” jawab Arsen.


“Wah, nama kalian hampir mirip.” Sekar tersenyum.

__ADS_1


Deg! Deg! Arhen dan Ardhen berdebar. Sedangkan Arsen terlihat santai.


“Oh, ya. Bolehkan Nenek pinjam Momi kalian? Nenek akan meninggalkan seorang Paman yang baik untuk menjaga kalian.


“Jef! Sini!” Sekar memanggil pengawalnya.


“Nah, kenalin, ini namanya Paman Jefri. Nenek akan membeli baju bersama Momi kalian, boleh ya?”


Tiga anak laki-laki itu menatap Jefri. “Baiklah Nek, tapi belikan kami cemilan ya.” ucap Arhen.


“Tentu saja.” Sekar memeluk Arhen.


Cukup lama, Sakinah masuk juga ke dalam kamar, ia melihat Sekar terlihat akrab dengan ketiga putranya.


“Boleh Mom pergi sama Nenek?” tanyanya menatap ketiga putranya.


“Ya, boleh, Mom. Nenek sudah minta izin.” jawab Ardhen, “kami bersama Paman Jefri di rumah. Mom jangan khawatir.”


_____________________


Sekar dan Sakinah telah sampai di butik, Pemilik butik menyambut mereka antusias, membantu Sakinah memakai dan mencoba beberapa gaun.


“Ya ampun, cocok banget!”


“Aduh! Ini juga cocok.”


“Kalau wanitanya sudah cantik, semua gaun terlihat cocok saat dipakai, ya.”


Berkali-kali pujian keluar dari Pemilik butik dan dua orang karyawannya. Apakah benar-benar memuji atau hanya supaya dagangannya laku.


“Kamu pilih yang mana, Kinah?” tanya Sekar.


“Ini.” Ia memegang gaun yang terlihat sederhana namun sangat anggun, tidak terlalu ramai dengan manik-manik dan permata rias di badan gaun itu.


“Baiklah, sekarang ayo pilih sepatu.”


Pemilik toko menyodorkan beberapa sepatu yang selaras dengan gaun yang dipilih Sakinah tadi.


“Yang ini aja.” Sakinah memilih.


“Ok, lalu pakaian untuk prianya sekalian, Bu?” tanya Pemilik butik. Sekar mengangguk. Lalu menyodorkan foto Andrean.


“Tinggi badan 185 cm, berat badan 70 kg. Kira-kira yang mana ya, pakaian yang selaras dengan gaun pengantin perempuannya?” tanya Sekar.


Pemilik Butik menyodorkan beberapa pakaian.


“Coba ini dulu Bu, jika tidak sesuai bisa ditukar, khusus untuk Ibu.” ucap Pemilik Butik tersenyum ramah.


Mereka pun akhirnya melakukan transaksi jual beli.


Sekar menyerahkan barang belanjaannya pada pengawal, laki-laki itu membawa kantong belanjaan.


“Ayo kita beli makanan untuk anak-anak.” ajak Sekar. Mereka pun membeli makanan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2