Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Posting


__ADS_3

Arsen semakin dibuat sibuk karena tugas yang sangat menumpuk, ditambah ia memiliki pesaing bisnis dan musuh yang cukup licik. Sejak kemarin, ia tidak bisa menembus dan menerobos data dua teman sekolahnya dulu, bahkan ia terblokir saat melakukan pem-broswsingan.


Hans sebagai asisten pribadinya juga, beberapa berkas harus segera ia tangani untuk membantu Arsen, Vindo juga masih setia di samping Arsen mengotak atik laptop untuk membantunya.


“Tuan Muda, kurasa ini bukan lah satu atau dua orang, tapi mereka berkelompok. Anda ingat 'kan, saat kita menjebak Jonathan dulu, kita melakukannya dengan sangat teliti dan penuh perencanaan bersama Tuan Besar Andrean. Bagaimana kalau kini, kita juga bekerja sama dengan Papa Tuan Muda?” usul Vindo.


“Ya, aku akan membicarakan ini nanti dengan Papa pertama dan Papa ke-dua!” jawab Arsen masih sibuk melihat laptopnya.


“Kita fokus 'kan saja dulu pada produk kita yang tiba-tiba menghilang di Lawsen, dan aplikasi game terbaru yang mirip dengan Arbluefire. Apakah ada orang dalam yang menjadi kaki tangan mereka, atau seseorang yang berkhianat dari awal. Masalah data ini, kita pikirkan setelahnya!” ucap Arsen, menutup kurva perdagangan dan grafik rencana yang telah ia susun.


Matanya sudah berkantung, bola matanya telah memerah, wajahnya tampak kusut, ia kurang tidur, bahkan makan sambil bekerja, membuat tengkuk dan punggungnya sakit.


Vindo berdiri. “Biar saya pijit Tuan Muda!” tawar nya.


“Tidak usah! Kau juga capek, sama sepertiku, kau juga begadang dan duduk di sampingku sejak kemarin. Lebih baik panggil tukang pijit profesional.”


Vindo pun menghubungi sekretaris, meminta seorang pemijit pria untuk datang ke ruangan. Arsen berjalan dan bersandar di sofa, dengan menggerakkan badannya untuk melakukan peregangan. Meraih hp, kemudian melihat status media Roselia.


Gadis berkacamata itu tengah tersenyum dengan caption, ‘Welcome to university!’ Arsen juga ikut tersenyum, rasa lelah yang dideritanya hilang seketika setelah melihat foto Roselia. Ia tak pernah memberikan like atau komentar di sosial media, namun dia selalu mengikuti apapun yang di-posting oleh Roselia.


Ia menggeser beberapa foto, lalu senyuman itu menjadi buruk, Roselia berfoto dengan menempelkan pipi dengan Rayyan. Arsen menggertakkan giginya karena kesal.


‘Apa-apaan anak ini! Bukannya dia akan kuliah di universitas yang lain? Kenapa dia juga kuliah di sini?’ gumam Arsen.

__ADS_1


Pemuda tampan dengan bola mata hitam yang sipit itu sengaja mengusulkan Roselia kuliah di sana agar bisa berjauhan dengan Rayyan, tetapi siapa sangka anak laki-laki itu juga memilih kuliah di tempat yang sama dengan Roselia. Arsen berdecih beberapakali, kepalanya mulai berdenyut, badannya kembali terasa letih karena rasa kesal.


“Lucas, kau dari mana saja?” Arhen menatap tajam Lucas dengan tangan yang bersidekap. Ia bersandar di dinding dengan kesal.


Lucas tak menjawab, ia langsung meraih tangan Arhen, agar segera masuk kembali ke dalam hotel, karena kini mereka telah berada di parkiran hotel. Lucas tampak berkeringat dan tergesa-gesa, lalu barulah Arhen sadar, jika Lucas diburu dan dikejar oleh para fansnya.


“Oh, tidak!” Arhen pun juga ikut berlari kencang bersama Lucas. “Sial, mereka menerobos ya? Mereka terlalu agresif!”


Akhirnya mereka telah kembali masuk, para satpam mengunci pintu kaca hotel dengan cepat, mulai menenangkan para fans yang terkurung di luar, Arhen dan Lucas bernafas lega karena mereka telah melewati parkiran dan koridor panjang, kini mereka tengah berada di ruangan resepsionis. Dua orang satpam mengiringi mereka dan mengantar ke kamar, karena ada beberapa tamu yang melihat Arhen, terlihat juga antusias dan berbinar, walaupun tidak terlalu barbar seperti fans di luar, mereka hanya khawatir jika di hotel menjadi ricuh karena kemunculan artis papan atas itu.


“Terima kasih!” ucap Lucas dan Arhen kepada kedua satpam.


“Sama-sama Tuan. Ini adalah tugas kami, tetapi apakah bisa kami berfoto dengan Anda?” Dua satpam itu bertanya penuh harap.


“Hm, baiklah!” jawab Arhen. Dua satpam itu berfoto dengan Arhen, awalnya mereka gantian satu persatu, kemudian minta bantuan pada Lucas berfoto bertiga dengan Arhen.


Setelah masuk, Arhen mulai mencerca Lucas. “Kenapa kau keluar lama dan sampai bertemu para fans?”


“Padahal aku jarang menunjukan diri di kamera, tetapi para fans Anda mencari-cari, mereka sampai mengenali dan mengejarku, meminta fotoku, sampai aku lelah. Lihat ini? Aku sampai hanya bisa membeli ini, aku menjadi tidak bebas, mengesalkan, ck!” Lucas berdecak kesal dengan menunjuk tentengannya yang sedikit.


“Ya, itu karena kau tampan! Coba kau tak tampan, mereka tak begitu menggila, hehehe!” Arhen terkekeh.


“Ah, sudahlah!” Lucas menarik handuk dan hendak mandi. “Jangan keluar dan ... jangan macam-macam! Aku mau mandi!” Lucas menatap Arhen.

__ADS_1


“Ya, sana mandi!” usir Arhen mengibaskan tangannya. Ia mengambil kotak kecil yang selalu ia bawa, sebuah gelang yang telah lama ia simpan, dari seorang gadis manis berambut panjang yang hitam di kampung ibunya. Gadis kecil yang telah menolongnya di sungai. Ia tersenyum mengingatnya, lalu menggunakan gelang itu.


“Hm, aku tak sabar ingin bertemu denganmu, Aini! Bagaimana ya, kabarmu? Kamu pasti bertambah cantik dan manis, sejak kecil saja kamu paling cantik di kampung. Tunggulah, aku hanya sebulan di Jakarta, setelah semua ini selesai, aku akan datang.” Dia berbicara sendiri sambil mengelus gelang yang ia pegang, gelang rajutan dari benang.


Ya, Arhen memang lebih dulu pulang ke Indonesia, ia akan di Jakarta kurang lebih selama sebulan, lalu di susul oleh Arsen dan Ardhen kemudian setelah urusan mereka selesai, begitu pula Ibu dan Ayahnya bersama keluarga yang lain.


Dia merebahkan tubuhnya di ranjang, sambil memainkan hpnya. Membuka sosial media miliknya, tak ada satupun postingan dari dua saudara laki-lakinya ataupun ayahnya. “Cih, dasar pria-pria kaku!” Arhen bergumam sambil terkekeh. Lalu memoto dirinya dengan wajah yang tampak penuh, terlihat sangat tampan.


“Jika kalian mencintai diriku, tolong berikan aku seribu cinta dan katakan cinta padaku!” Begitulah caption yang dia tulis untuk postingan umum.


Seperti biasa, saudara dan ayahnya tidak membalas di komentar, tetapi kakak laki-laki nya Arsen langsung membalas di pesan masuk secara pribadi. “Jangan sok kegantengan!”


“Ahahaha!” Arhen tertawa keras. “Dasar!” gumamnya masih terkekeh. Kemudian seperti biasa, Ibunya, Sakinah akan membalas di komentar.


“Sebaik-baiknya cinta adalah milik Allah, sebaik-baiknya cinta karena Allah.”


Arhen membalas komentar itu dengan tersenyum, “Sebaik-baiknya cinta adalah Ibu, sebaik-baiknya cinta adalah ibu, sebaik-baiknya cinta adalah ibu, sebaik-baiknya cinta adalah ayah, sebaik-baiknya cinta adalah saudara, sebaik-baiknya cinta adalah keluarga, sebaik-baiknya cinta adalah orang yang mencinta karena Allah.”


“Siapa juga yang cinta padamu!” Tiba-tiba akun lain dengan profil makanan, nama yang tidak jelas membalas komentar Arhen.


“Simpan saja rayuanmu pada wanita bodoh!” Satu lagi seseorang membalas komentarnya dengan gambar kartun lutfi.


“Jangan kau goda istriku, Son! She is my mine!” Andrean langsung masuk ke dalam obrolan komentar itu.

__ADS_1


“Ahahahha! Dasar, aku menjadi senang menjahili mereka!” Arhen terkekeh, ia tahu jika Ardhen dan Arsen yang berbalas komentar itu menggunakan akun fake. Lalu, ratusan komentar juga memberondong masuk ke dalam postingannya, para fans juga menyusup ke dalam obrolan komentar Sakinah diantara keluarganya.


Beginilah Arhen, senang menggoda mereka, tiga pria itu selalu posesif pada Sakinah dan adiknya Jamila.


__ADS_2