Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Roqa


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Krek! Pintu jeruji besi itu di buka. “Silahkan Tuan Irfan, Anda sudah bebas, ada yang menjamin Anda dan mencabut tuntutan.” terang polisi penjaga jeruji besi yang membuka pintu itu.


Dengan wajah yang masih tercengang, Irfan berjalan keluar. Di sana ia lihat seorang pria tua yang sangat ia kenal.


“Selamat Tuan, Anda bebas.” Seorang polisi berjabat tangan dengannya.


Irfan dan Pria Tua itu berjalan dengan diam, sampai di depan mobil. Seorang sopir dan satu orang bodyguard berdiri di sana, ia membukakan pintu, mempersilahkan kedua Tuan itu untuk masuk ke dalam.


Hening, tak ada ucapan terimakasih, ataupun pertanyaan, marah atau makian. Kurang lebih perjalanan itu berlangsung satu jam lebih, hingga mobil masuk ke sebuah tanah yang sangat Irfan ketahui. Tanah pemakaman milik keluarga Van Hallen.


Mobil berhenti, sopir dan bodyguard kembali membukakan pintu. Pria tua itu keluar dari dalam mobilnya, namun Irfan menahannya dengan bertanya. “Kenapa kau membebaskanmu?”


Pria tua itu adalah Wizza, ia hanya menghela nafasnya, tak berniat menjawab, kemudian berlalu pergi meninggalkan Irfan sendirian.


Tak berselang lama, Irfan pun akhirnya memilih turun dari mobil dan berjalan ke arah Wizza yang tengah berjongkok mengelus nama di salib, kuburan yang masih terlihat baru dengan taburan bunga.


Irfan berdiri di samping Wizza yang berjongkok, tepat di depan pusara yang bersebelahan dengan Sekar. Wajahnya berubah suram, nama yang tercetak di salib itu ia sebut pelan. “Roqa Van Den.” gumamnya.


Tak lama, Wizza pun berdiri sejajar dengan Irfan, mereka berdua diam tanpa menangis, namun raut wajah mereka berdua terlihat buruk.


“Apa kau tahu, kenapa istriku mati?” tanya Wizza menatap lurus ke pusara.


Irfan tak menjawab, namun Wizza masih berkata lagi. “Jika disuruh memilih, aku ingin menggantikan dia mati. Sungguh picik rasanya dengan membunuh seorang wanita yang bukan tandingan.”


“Aku tidak membunuhnya, aku sama sekali tidak tahu apa-apa.” jawab Irfan.


“Aku tidak menuduhmu, tapi kau tahu kejadiannya 'kan?” tanya Wizza lagi, masih menatap lurus pusara di depannya.


“Aku tidak seburuk itu berniat membunuh keluarga sendiri. Jika pun aku ingin, hanya sebatas kehancuran kalian.” sahutnya juga menatap lurus pusara yang ada dihadapannya.


Pusara yang sudah ditumbuhi rumput hijau dan terlihat terawat di samping pusara Sekar.


Wizza menoleh dan memutar tubuhnya menghadap Irfan, kemudian mengelus pucuk kepala pria tua itu.


Deg! Deg! Telinga Irfan memerah. Debaran di dadanya semakin kuat.

__ADS_1


Masih ia ingat, waktu dulu...


Irfan yang berumur 6 tahun tengah menangis karena ditertawakan temannya, ia berlari dan terjatuh.


“Hahaha, dasar cengeng!”


“Huuuuu!! Lemah, dasar anak mami! Lari gitu aja jatuh! Huuuu!”


“Dasar penangis, hahahaha!” ejek teman-temannya di lapangan bermain anak-anak.


“Hei! Apa yang kalian lakukan!” Terdengar suara menghardik pada mereka. Ia adalah Wizza yang berumur 11 tahun.


“Kau tidak apa-apa, Dik?” tanya Wizza lembut, ia berjongkok melihat lutut Irfan terluka. “Ayo, bangunlah, mari duduk di sana.” ajak Wizza, ia menggenggam tangan Irfan.


“Paman, tolong, ya, ambilkan obat!” perintah Wizza pada bodyguardnya.


Wizza memberi obat dan menutupnya dengan plaster. “Kenapa bisa terjatuh? Apa anak-anak tadi mendorongmu?” tanya Wizza. Irfan menjawabnya dengan menggeleng.


“Aku lambat dan lemah...” jawab Irfan lesu akhirnya. Wizza mengelus pucuk kepalanya.


Beberapakali mereka pun bermain bersama, Irfan sangat senang, ia sangat nyaman dan bahagia bersama Wizza, begitupula Wizza juga senang bersama Irfan. Namun, kebahagiaan itu tak berjalan lama, saat Ayah Wizza membawa Ibu Irfan dan Irfan ke rumahnya.


Sorot mata tajam penuh kebencian menyambut Irfan, jangankan usapan lembut penuh kasih sayang, tetapi makian dan dorongan yang di dapatkan Irfan dari Wizza. Sejak saat itu, Irfan dan Wizza tak pernah berbaikan, tak pernah lagi ia rasakan sentuhan di pucuk kepalanya lagi. Jika boleh memilih, ia tak ingin seperti ini.


“Dasar anak-anak! Kenapa telingamu memerah, padahal sudah tua!” ucap Wizza mengejek Irfan.


“Kak-” Irfan menghentikan ucapannya, ia melihat Wizza, pria tua di depannya itu masih sama seperti Wizza berumur 11 tahun yang ia kenal waktu itu. Sudah lama sekali tangan itu tak menyentuh rambutnya.


“Kenapa? Kau tak ingin memanggilku Kakak lagi? Dasar anak-anak!” Wizza jongkok, mendekat ke pusara wanita bernama Roqa itu, lalu mencabut rumput liar, membiarkan rumput hijau yang indah tumbuh di sana tanpa diganggu rumput liar.


Irfan diam, menatap Wizza yang berjongkok di pusara istrinya.


“Awalnya ... aku mengira kau dendam, berpikir membalas istri dengan istri. Tetapi, aku salah.” Wizza berdiri, menepuk-nepuk tangannya, lalu menghapus sisa tanah ditangannya dengan sapu tangan.


“Maaf, ya...” ucap Wizza kembali, ia menepuk pundak Irfan.


Pria tua itu masih bergeming. “Apa kau tahu, Dik? Aku sangat mencintai istriku. Sungguh.” lanjut Wizza lagi.

__ADS_1


“Apa kau mencintai Roqa seperti itu juga? Rasanya sangat sakit di sini.” tunjuk Wizza di dadanya. “Rindu yang tak ada obatnya.” Ia menghela nafas panjang.


Dada Irfan terasa berat, pikirannya berkecamuk. Ia tak tahu dan tak bisa menebak semua maksud dan tujuan Wizza membawanya ke pusara dan berbicara banyak hal.


Hubungan mereka telah lama berakhir. Ada pun mereka saling bertemu, penuh dengan kebencian dan saling menjatuhkan.


Wizza menghirup nafas panjang, kemudian membuangnya, dadanya terasa remuk, kerongkongan terasa tercekat. Berat.


Ia mengeluarkan sesuatu dari jasnya. “Lihatlah, apa kau masih ingat dengan benda ini?” Wizza menunjukkan kalung cantik ke hadapan Irfan.


Irfan tentu saja sangat tahu tentang kalung itu, dadanya berdebar tak karuan. “Apa Kakak masih mencintai dia?” Irfan malah balik bertanya.


Wizza tersenyum kecut. “Ya, aku sangat mencintainya, dulu.” jawab Wizza jujur.


Dua pria tua itu kembali menghela nafas panjang. Terjerumus dalam pikiran masing-masing.


•••


Brug! Irfan meninju wajah Wizza yang sedang tersenyum senang pulang berkencan dengan Roqa.


“Sialaan!” Pukulan pun melayang ke wajah Irfan dari Wizza.


Brug! Brak! Brug! Dua pria yang beranjak remaja itu saling memukul dan berkelahi.


Entah berapa lama mereka saling pukul, hingga kepala pelayan melihatnya. “Tuan Muda, hentikan!” Ia melerai keduanya.


Dua anak remaja itu berkelahi di jalan tak jauh dari gerbang Mansion. Untung saja kepala pelayan berjalan mencek sekitar, kalau tidak, entah bagaimana jadinya dua remaja laki-laki itu.


“Hei, tolong saya, melerai mereka!” teriak Kepala Pelayan kepada satpam yang berjaga di dalam di dekat pagar gerbang.


Mereka melerai, sehingga dua remaja itu berhenti.


“Ada apa ini?! Kenapa kalian sampai berkelahi seperti ini?!” tanya Ayah Wizza dengan intonasi tinggi.


Wajah keduanya babak belur. Keduanya sama-sama meringis kesakitan saat diobati. “Jawab! Ada apa?!” bentak Ayah Wizza.


Dua remaja itu tak ada yang berniat menjawab sepatah katapun. Mereka berdua saling diam.

__ADS_1


__ADS_2