
Aini masih setia menunggu Arhen, menanti pemuda tampan itu sadar.
Tak lama sampai berhari-hari, Arhen akhirnya sadar, namun wajahnya masih dibungkus dengan perban, beberapa tubuhnya juga masih terlilit perban karena bekas luka bakar yang membuat kulitnya meradang.
Aini menggenggam tangan Arhen lembut, menatap Arhen yang hanya terlihat bola matanya yang biru ke abu-abuan. Dia mendudukkan tubuh Arhen dengan sangat hati-hati sambil memutar pemutar ranjang agar bagian kepala ranjang sedikit tinggi.
“Kamu mau minum?” tanya Aini, Arhen memberikan kode dengan mengedipkan bola matanya dua kali, Aini menyodorkan gelas dengan sedotan.
Aini tersenyum saat melihat Arhen meminum air dari sedotan itu.
“Wa-jahku ha--”
“Ssst! Kamu tidak boleh bicara dulu Arhen, luka di bagian rahangmu masih sangat dalam, jika kamu paksakan bergerak, bisa lecet dan berdarah. Aku percaya, setelah sembuh, wajahmu pasti akan baik-baik saja kok!” Aini berkata lembut.
“Hai!” sapa Eric yang tiba-tiba menongol tanpa mengucapkan salam. “Kau sudah tambah sehat ya!” lanjut Eric lagi, sambil berjalan lebih mendekat ke arah ranjang Arhen.
Dia duduk saling berhadapan dengan Aini, sedangkan di tengah-tengah mereka ada ranjang Arhen dan Arhen yang terbaring.
__ADS_1
“Dokter bilang, kau baik-baik saja, jadi aku ingin mengatakan sesuatu yang akan membuatmu terkejut. Sesuatu yang memaksamu harus berlapang dada dan kuat,” tutur Eric.
“Eric....” lirih Aini dengan sorot mata melarang.
“Aini, sekaranglah saatnya kita harus memberitahu Arhen, karena setelah ini dia akan melakukan operasi di bagian wajahnya karena berbahaya. Jika tidak di operasi, bagian kulit yang terbakar itu akan infeksi. Oleh karena itu, aku akan mengatakan semua ini, jadi dia bisa memutuskan hal yang lebih baik lagi!” tegas Eric.
Arhen menatap Eric dan Aini bergantian. Mereka berdua manusia yang sama-sama dia kenal sejak kecil. Pria yang benar-benar gentle. Walaupun dia marah dan cemburu, jiwanya sangat besar, menolong, merawat dan menghormati Aini sebagai istri orang lain. Sedangkan Aini, wanita lembut yang suka menyimpan hal-hal dalam hati.
“Tapi Arhen belum bisa banyak bicara Rik! Bagian rahangnya masih terluka!” protes Aini.
“Jangan terlalu berlebihan Aini, jika dia bergerak ringan seperti berbicara tidak apa-apa, berbicara banyak dan tertawa lebar yang tidak boleh, lagian aku hanya menjelaskan saja, tidak akan membuat dia banyak bicara hingga rahangnya bergerak terus!” cetus Eric.
“Kecelakaan dan penyeranganmu dilakukan dengan sengaja, sekarang Lucas masih bersembunyi, menjauhkan diri darimu agar media tidak meliput, dan tidak ada seorang pun yang tahu keberadaanmu, dan--- digosipkan kau sudah meninggal dunia. Lucas tidak mengkonfirmasi apapun tentang kecelakaan itu, dia pura-pura lupa dan masih bungkam.” kata Eric.
“Ya, aku tahu itu. Lucas sudah menghubungiku tadi pagi. Dia tida bisa melihat keadaanku.”
“Berita sedihnya-- Arsen dan Papamu Andrean masih koma sampai hari ini. Ardhen masih tidak diketahui keberadaannya, karena kami belum dapat kabar, tidak bisa menerima informasi apapaun dari sana secara langsung. Informasi itu kami dapatkan dari media. Lalu--- berita lebih menyedihkan lagi--- Ibumu, Kakak Papamu, Dedrick, serta Asisten pribadi dan adik asisten pribadi Arsen meninggal dunia karena kebakaran mansion, tapi Lucas tidak percaya akan kasus kebakaran mansion itu,” jelas Eric. Dia menatap Arhen yang hanya diam.
__ADS_1
Hening, sunyi. Aini menatap takut-takut. Dia sangat khawatir, suaminya itu baru saja sadar, tapi sudah mendengar kabar yang menyedihkan.
10 menit berlalu dalam diam, Arhen tak bergerak, dia hanya diam dan mengeluarkan nafasnya dengan teratur. Hingga dia bertanya, “Lalu?”
Aini dan Eric menatap Arhen. “Kamu dan Aini harus bersembunyi. Aku punya pemikiran, bagaimana jika wajahmu sedikit dirubah, agar mereka tidak bisa mengenali kamu lagi. Bukankah kamu ingin berhenti dari dunia hiburan dan ingin hidup bahagia, bebas, bersama Aini?”
“Baiklah, aku setuju. Rubah sedikit wajahku saat melakukan operasi nanti!” jawab Arhen dengan datar. Lalu, dia memilih menjatuhkan tubuhnya di ranjang perlahan, memejamkan mata.
Aini dan Eric tahu, perasaan apa yang dia rasakan sekarang.
“Semuanya sudah dikuburkan?” Dia bertanya masih dengan mata tertutup.
“Sudah.”
Arhen kembali hening, dia memiringkan wajahnya. Aini dan Eric tahu, Arhen tengah menyembunyikan air matanya.
“Karena kau sudah setuju, aku akan kembali ke luar.” Erick beranjak pergi.
__ADS_1
“Ah, iya. Aku juga ingin merapikan buku-buku yang kubaca ini dulu.” Aini berdiri dan membelakangi Arhen. Memberikan dia waktu untuk mengeluarkan air matanya.