
“Sayang, apa kau tega padaku?” Arhen memakai wajah memelas.
“Iya, kenapa tidak! Kau saja juga tega padaku!”
“Nuraini Putri, Istriku tercinta, bagaimana mungkin aku tega pada dirimu yang sangat aku cintai ini?” Memeluk Aini.
“Tega kok, kau berniat melupakanku! Mm, bukan, lebih tepatnya, kau benar-benar melupakanku!” Aini mencoba melepaskan pelukan Arhen.
“Tidak, mana mungkin, aku hanya sedikit meragu, tetapi akhirnya aku ingat 'kan?” Arhen tersenyum ceria, mengecup pipi Aini lembut.
“Kau ingat tidak, saat kita di pematang sawah, aku terjatuh karena terkejut melihat ular tikus yang berwarna hitam itu melintas di depanku, badanku yang tercebur ke dalam sawah, membuatku terlihat buruk karena lumpur sawah?” tanya Aini menatap Arhen.
“Hehehe, ingat dong, Sayang,” jawab Arhen. Dia memeluk Aini semakin erat, menghirup aroma tubuh Aini dan sesekali mengecup lehernya.
“Lalu, kau pegang tanganku seperti ini!” Aini memegang kedua tangan Arhen, menggoyangkannya ke depan dan belakang, mempraktekkan adegan mereka di masa lalu.
“Kau berkata, aku selalu cantik di matamu, seperti apapun aku, bahkan jika seluruh kulitku keriput, gigiku ompong, rambutku botak, kau akan selalu mengenal diriku, kau menegaskan aku paling tercantik diseluruh dunia,” lanjut Aini.
“Setelahnya kita berpisah, jangankan kulitku keriput, aku gundul, dan ompong, aku sedikit dekil dan berkulit hitam saja dengan rambut pendek begini, kau tak lagi mengenalku, apalagi memuji aku cantik diseluruh dunia!” Aini melepaskan pelukan Arhen.
“Heh?” Arhen tersenyum kecil, dia mengingat kenangan itu dengan jelas. Benar sih, dia hanya memikirkan Aini yang cantik seperti bertemu di desa, tak pernah terbayangkan oleh dirinya, Aini yang cantik di masa lalu, jadi sedikit....
Akan tetapi, bukan berati dia tidak mencintai gadis kecilnya itu yang seperti boneka berbi, rambut panjang berwarna hitam, lebat, lurus, dengan poni, dan memakai bendo, hanya saja ekpektasinya masih sama, masih mengingat Aini yang cantik. Bukan salah dia juga 'kan? Pikir Arhen tersenyum kecil mengelus tengkuknya.
“Dasar playboy ulung, tukang drama, gombal sana sini!” Mendengar Aini berkata seperti itu, Arhen malah terkekeh.
“Jangan tertawa seperti itu! Aku akan memu-”
“Aku akan memukul kepalamu!” ucap Arhen serempak dengan ucapan Aini, sedangkan Aini tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Ya udah, pukul aja, Sayang. Nih, kepalaku, mau kepala atas apa bawah?” goda Arhen.
“Dasar mesum!”
“Mesum sama kamu seorang, kok!” Arhen langsung memangku Aini kembali ke atas ranjang.
“Maafkan aku Sayang, mulai detik ini, aku akan mengingat dengan jelas, wajah dan tubuh istriku, makanya, aku harus melihat dengan sangat jelas setiap incinya dan harus lebih sering berkolaborasi dengan tubuh istriku ini, agar aku semakin hafal,” tutur Arhen dengan senyuman nakal.
“Kolaborasi apaan? Maunya,” cibir Aini.
Akhirnya perlahan tapi pasti, Arhen bisa bermanja-manja kembali dengan Aini, sangat mudah meluluhkan wanita yang sudah jatuh cinta padanya. Dengan sejuta pesona, keindahan tubuh, dan wajahnya, Aini tak bisa menolak panah asmara itu. Mereka pun menghabiskan cinta manis di atas ranjang kembali.
***
Di sudut kota. Pemuda berkulit gelap dengan gigi yang mengkilat putih, menatap tajam infokus di ruangan yang terlihat gelap. Di sana ada duduk 5 orang pria berpakaian rapi dengan jas hitam. Mereka baru saja membahas pencapain mereka di layar infokus itu.
“Aku tidak akan memaafkan baji*ngan itu! Dia harus merasakan akibatnya, nyawa dibalas dengan nyawa! Harta di balas dengan harta, kehilangan dibalas dengan kehilangan. Setiap darah yang menetes keluar, setiap rasa perih yang tertancap, aku akan membalasnya 10 kali lipat!” Pemuda berkulit gelap itu berkata lantang.
“Kami akan membantu, kami juga mempunyai dendam yang sama. Mereka semua harus musnah!” Pria paruh baya dengan perut buncit, ada noda bintik-bintik di wajahnya menyahuti.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Pria paruh baya lainnya, rambutnya keriting berwarna coklat, hidungnya mancung dan ukurannya besar.
“Aku sudah menyusun rencana dengan rapi, kalian tenang saja, aku sudah menyusupkan beberapa orang di setiap perusahaan mereka, tinggal kalian melanjutkan rencana selanjutnya,” sahut Pemuda berkulit hitam itu dengan tersenyum licik, ada kilatan kebencian dan dendam di matanya.
“Kalau begitu, kami akan mengikuti!” jawab beberapa pria berjas lainnya.
“Nih, kalian lihat denah ini!” Pemuda berkulit hitam pekat itu membanting kertas denah di atas meja.
Pria-pria paruh baya mengambilnya satu persatu. Itu adalah denah mansion keluarga Van Hallen.
__ADS_1
“Lalu ini!” Membanting kembali beberapa lembar foto yang baru diberikan pengawalnya.
Di sana ada beberapa foto keluarga Van Hallen, ada Ardhen, Arhen, Lucas, Arsen, Xander Pim, Barend Elmo, Vindo, Hans, Roselia, Andrean, David, Sakinah dengan cadarnya, Jamila dengan cadarnya, Jay dan King, serta Dedrick, Alex, dan Calista.
Mereka semua mengambil foto-foto itu dan menatapnya.
“Mereka semua saling berhubungan! Anak ini mungkin saja anak pengawal Andrean atau Arsen, karena selalu dekat dan melindungi anak perempuannya!” Pemuda berkulit gelap itu mengangkat foto Jay. Dia tidak bisa melacak informasi tentang Jay, dia anak siapa dan dia berasal darimana.
“Bocah ini anak sulung Dedrick, kita semua bisa melihat, dia selalu di bawa di acara penting dan diperkenalkan, dia pintar dari adik laki-lakinya yang lemah!” Kemudian dia melempar foto adik King yang masih kecil. “Anak kecil ini tak perlu kita habisi!”
“Dua orang ini berbahaya dan cukup kuat!” Dia menunjuk foto Barend Elmo dan Xander Pim. “Mereka bukan orang biasa, mereka terlatih, banyak membunuh orang-orang sebelumnya!” jelasnya.
“Sedangkan dua orang ini, kita semua tahu! Mereka asisten pribadi yang serba bisa, kita harus melenyapkan atau memisahkan mereka terlebih dahulu dari Andrean dan Dedrick!”
“Lalu dua wanita berpakaian aneh ini, kita bisa menculik mereka saat yang satunya keluar dan berangkat ke sekolah. Jam 10 pagi, mansion akan sepi karena pergantian pengawal. Kita akan meretas sistem dan cctv dengan berkomunikasi bersama pelayan yang sudah masuk menyelinap ke mansion itu!”
“Jadi? Tiga anak ini kita culik dan habisi saat mereka berangkat atau pulang sekolah?” tanya Pria berbadan jangkung, rambut hitam keriting yang ia ikat kuncir.
“Saat mereka berangkat ke sekolah!” jawab pemuda berkulit hitam.
Mereka mengangguk setuju dan kembali melanjutkan rencana jahat mereka yang beberapa waktu terakhir ini telah memporak-porandakan tiga perusahaan besar yang dimiliki keluarga Van Hallen. Hanya satu yang belum mereka porak-porandakan, karena mereka tidak mengetahuinya.
Perusahaan sawit yang ada di desa Sakinah serta perusahaan kecil yang di jalankan Roqa di Amerika. Karena dua perusahaan itu hanya iseng dikelola oleh Wizza semasa hidupnya.
...----------------...
Wah, udah tampak dong sedikit gambaran ending cerita?
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar manisnya😍 serta saweran vote dan hadiahnya... hihihihi 😁😁😁😁😁
__ADS_1