
Di Perusahaan Antaman Wizgold, David berjalan mengiringi Arsen dan Vindo ke dalam ruangan Andrean. Di dalam ruang itu sudah ada Dedrick dan asisten pribadinya telah berkumpul.
Arsen dan Vindo langsung duduk di sofa, setelahnya David kembali sibuk dengan aktivitasnya.
Arsen menyapa Dedrick sebentar untuk berbasa-basi, lalu mereka mulai berbincang tentang kejadian baru-baru ini. Bukan hanya game Arbluefire dan Lawsen yang diserang, namun juga perusahaan yg dipimpin oleh Andrean dan Dedrick. Alex, bersama kawan-kawan nya juga telah bekerja sama, begitu pula dengan Arsen dan Vindo. Dua pemuda ini juga sangatlah genius dalam bidang IT.
“Menurut informasi yang aku dapatkan, selama ini hanya dua orang temanku yang genius bidang IT, adapun yang lainnya tak terlalu pandai dalam hal seperti ini. Aku telah mencoba masuk ke data mereka, tetapi langsung diblokir, apakah besar kemungkinan mereka pelakunya, Pa?” Arsen mengutarakan pendapatnya.
“Lalu, jika sebaya dengan Papa, Alex dan teman-temannya lah yang mahir IT. Kemungkinan besar dua pemuda itu sih!” Dedrick pun setuju dengan pendapat Arsen.
“Kalau Papa meragu, bisa jadi dia hanya dibantu mengunci data, sedangkan yang lainnya mengerjakan yang lain, karena tidak mungkin dua anak itu akan mahir dan merusak sistem perusahaan kita,” Andrean menimpali perkataan Dedrick dan Arsen.
“Aku pun juga terpikir seperti itu, Pa! Akan tetapi, saat itu aku bisa membobol perusahaan Papa!” Arsen tersenyum.
Dedrick dan Alex terkikik. Bagaimana tidak, saat itu, dulu nya Andrean begitu sombong, termasuk mereka juga sih, bahkan mereka saling ejek, tak menyangka lawan mereka hanya anak berumur 7 tahun.
“Itu 'kan dulu, sekarang Papa sudah memperbaiki kekurangan kami dan telah memperketatnya!” Andrean membela diri.
**
Ardhen dan Cleo berwajah sedih sepulang mengantarkan Abraham dari bandara. Anak itu benar-benar pergi ke Jepang, walaupun Ardhen telah mengatakan dia tak ada perasaan apapun pada Rufia, dia telah menolak gadis itu dengan tegas.
Akan tetapi Abraham berkata, bukan masalahnya pada Ardhen atau Rufia, namun salah itu ada pada dirinya sendiri. Ia yang telah jatuh hati, ia yang harus menanggungnya sendiri. Dia ingin belajar menjadi dewasa, menjadi seseorang yang bisa mengikhlaskan perasaan. Jika nanti, cinta itu masih ada, maka ia akan berjuang.
“Sudah, jangan bersedih lagi. Kita tak bisa memaksakan cinta 'kan? Aku paham dan mengerti perasaan kalian berdua. Kau juga tahu 'kan, kalau aku pernah di tolak wanita yang aku incar di Italia. Lalu, aku juga pernah menolak cinta seorang gadis, karena aku tak punya rasa padanya. Ini semua bukan salahmu, Rufia atau Abraham, tetapi ini takdir dari Tuhan.” Cleo menepuk pundak Ardhen dan merangkulnya saling menguatkan.
__ADS_1
“Hm,” Ardhen hanya bergumam.
“Aku yakin dia tidak akan lama di Jepang. Kita akan mengusiknya, percayalah padaku!” Cleo menyunggingkan senyuman resenya.
“Apa kau punya rencana?” Ardhen menatap Cleo, dia curiga sahabatnya ini akan melakukan suatu hal, dilihat dari senyumannya.
“Hahaha! Nanti kau juga tahu, sekarang ayo kita kembali ke kantor, banyak tugas yang harus dikerjakan, bukankah sebentar lagi kau akan pulang ke Indonesia menyusul Kak Arhen, ayo!”
“Ayo!” Dua sahabat itu pun segera kembali ke kantor dengan bersemangat.
**
Siang hari tadi, Arhen telah melakukan beberapakali pemotretan dan kunjungan fans di aula. Para wartawan dan fans pilihan telah berfoto dan memberikan beberapa hadiah untuknya, mulai dari cemilan, kue, pakaian, aksesoris, perhiasan, bunga, dan lainnya.
Kini, Ia sedang berada di room hotel yang tengah mengadakan party. Ia menjadi salah satu tamu undangan dari acara ulang tahun pernikahan CEO perusahaan dari produk yang ia ambasadori. Ia memakai pakaian formal dengan jas berwarna silver, sedangkan Lucas memakai jas berwarna coklat muda.
Ada seseorang datang mendekat dan meminta tolong pada Lucas, lalu seorang wanita juga datang mendekat ke arah Arhen. “Ayo, kita mencari makanan dan minuman dulu di sana!” ajak seorang pria yang sejak tadi telah berdiri di samping Arhen.
Arhen pun mengikuti, memilih duduk santai di kursi yang telah di sediakan, di samping pria itu ada seorang wanita yang tadi baru datang saat Lucas pergi. Wanita itu terlihat cantik dan sexsy, sepertinya dia bukan Indonesia asli, setidaknya darah campuran, karena bola matanya biru dengan rambut pirang.
“Ayo, kita minum!” Pria itu memberikan air yang terlihat bening namun memiliki gelembung gas. Tanpa pikir panjang, Arhen mengambil gelas itu dengan tersenyum.
“Thanks!” Arhen dan pria itu mengadukan gelas mereka sampai berbunyi, tring!
Arhen langsung meminum minuman itu, dahinya mengernyit, rasa asam yang aneh, menusuk ujung lidahnya.
__ADS_1
“Mau tambah?” tanya pria itu.
“Ah, ini masih tersisa!” tolak Arhen, ia memang baru meneguk setengah gelas, karena rasanya yang asam kecut dan sangat menusuk lidah karena gasnya, ia merasa tak kuat.
Tak lama, Arhen merasakan tubuhnya aneh, kepalanya mulai terasa pusing dan lantai terasa bergoyang, ia mulai memegang kepalanya.
“Anda tidak apa-apa Tuan?” Suara wanita terdengar bertanya, sejak tadi padahal gadis itu hanya diam duduk di samping pria yang menyodorkan minuman.
“Hm, aku tak apa-apa. Aku ke toilet dulu!” Arhen berpamitan.
Arhen sedikit berlari dengan terhuyung, ia bukan ke toilet, namun menuju ke arah kamarnya. Di sepanjang jalan ia melepaskan jasnya dan melemparnya sembarangan. Lalu, terhuyung-huyung menggapai dinding koridor, mencoba merogoh hp di sakunya, tapi tangannya tiba-tiba saja gemetar, lututnya juga terasa bergetar.
“Ah, minuman apa tadi itu? Bukan alkohol 'kan? Soalnya warnanya putih, alkohol sedikit kuning!” Ardhen berkata sendiri dengan terhuyung-huyung, tangannya satu merogoh hp, dengan tangan bergetar ia akhirnya mendapatkan hpnya.
Ia masih berjalan sambil mengetik nama Lucas untuk ia panggil, tetapi karena tangannya gemetar, hp itu pun terjatuh. Dia berusaha merukuk mengambil hp yang jatuh, namun ia malah tersungkur.
“Ya Allah, beri aku kekuatan! Aku harus bisa menghubungi Lucas dan kembali ke kamarku!”
Arhen berusaha mengambil dan menelpon, tetapi tangannya yang gemetar itu tak bisa terkendalikan. Hingga ia mendengar suara langkah kaki, seorang wanita yang memakai baju pelayan hotel.
“No-Nona, to-tolong saya! Tolong antarkan sa-saya ke kamar!” Arhen menyebutkan nomor kamarnya, gadis pelayan itu memopong tubuhnya yang besar dan tinggi menuju kamar.
Setelah tepat di depan kamar. “Ah, Nona tolong ambil kunci di kantong celana saya, tangan saya gemetar, saya tidak bisa meraihnya,” Arhen menahan rasa aneh yang sejak tadi menjalar ditubuhnya.
Saat pelayan itu mencari dan mengambil kunci kamar hotel, ia merasakan sensasi geli yang luar biasa, hingga belalai gajahnya pun berkedut. Setelah mendapatkan kunci, pelayan itu segera membuka dan membantu Arhen masuk.
__ADS_1
Pelayan itu menutup pintu dengan kakinya sambil memopong tubuh Arhen, membaringkannya di atas ranjang.