Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Cerita


__ADS_3

Pagi tadi.


Kelas di tempat Arhen belajar ribut, dua Minggu lagi akan di adakan pentas seni skala besar untuk pelantikan bangunan baru serta merayakan prestasi murid-murid sekolah ini serta murid alumninya yang telah sukses.


Arhen sebagai murid baru menjadi salah satu pemain dalam pentas seni itu, ia menjadi pangeran ditokoh pria kedua. Frans menjadi tokoh antagonis sedangkan tokoh utamanya kakak kelas mereka.


“Hei, salam kenal ya, aktingmu bagus, sudah lama latihannya?” sapa Kakak kelas itu setelah mereka latihan.


“Hai, Kak. Salam kenal juga.” jawab Arhen.


“Ku dengar kau baru masuk ke sekolah ini, tetapi sudah mendapatkan peran utama di beberapa latihan, bahkan sekarang kau juga terpilih.” tutur kakak kelas itu lagi.


Ia adalah anak perempuan kelas 6 Dasar, ia dipasangkan dengan tokoh utama pria kelas 7 Dasar. Di sekolah tempat Arhen bersekolah, kelasnya dari kelas 1 sampai kelas 7. Rata-rata yang sekolah di sini adalah anak pintar, menyukai seni peran. Hampir semua lulusan sekolah ini menjadi sutradara, produser film, artis, model, kameraman dan lainnya.


Setelah anak perempuan bertanya pada Arhen, pemain tokoh pria utama pasangan anak perempuan itu juga menyapa Arhen sembari menepuk dan menyemangatinya.


“Cih! Dasar bermuka dua, penjilat! Jilat sana sini!” ucap Frans sinis melihat dari kejauhan.


“Hei, Kalian Berdua, letakkan ini di sana!” perintahnya pada temannya.


Dengan patuh ke dua temannya meletakkan minumannya di depan sana. Lalu saat Arhen hendak berjalan, Frans menyandungnya, berharap Arhen jatuh dan terkena minumannya.


‘Dasar Manusia iri hati! Kalau mainan seperti itu sih terlalu gampang untukku! Aku bahkan lebih sulit dari itu kalau bermain dengan Abang!’ gumam Arhen.


Arhen mengelak dan melompat saat ia hendak menyandungnya.


Yang kedua, setelah itu ia meletakkan permen karet di bangku Arhen.


“Cih, mainan kuno!” gumam Arhen. “Anak kecil darimana yang tak bisa makan permen karet ini, hingga sampahnya berwarna coklat, apa makannya pakai tangan ya?” teriak Arhen mengejek.


Semua murid menoleh pada teman Frans yang suka makan permen karet.


“Hei, Kau! Bersihkan sampah makananmu! Kenapa jorok jadi orang! Atau mau aku laporkan pada Guru!” ancam salah satu perempuan yang mengagumi Arhen membentak teman Frans.


“Iya nih! Membuang sampah sembarangan tidak pada tempatnya akan mendapatkan denda!” sambung yang lain.


Yang kedua gagal kembali.


Selanjutnya saat Arhen hendak pulang, Frans menghadang langkah Arhen, lalu berpura-pura jatuh dan membenturkan keningnya. Teman-temannya langsung berteriak menuduh Arhen mendorongnya.

__ADS_1


Semua orang mengerubungi, sampai Guru datang.


“Hei, aku tidak mendorongnya! Jangan memfitnah deh!” Arhen membela diri.


Frans dan Arhen di bawa ke ruang guru, pihak sekolah menelfon keluarganya karena Frans bersikeras mengatakan Arhen mendendam padanya, mendorongnya karena cemburu.


“Hei, apa yang membuat aku cemburu padamu? Itu mustahil! Aku, Arhen Ryker Van Hallen tak akan pernah cemburu pada siapapun! Aku punya segalanya!” ucap Arhen berteriak pada Frans.


“Aku, Abbey Frans Hallen juga tidak akan takut pada apapun!” balas Frans berteriak kembali.


Pihak sekolah tak ingin menyinggung salah satu keluarga berpengaruh ini, makanya menunggu kedatangan keluarga mereka yang lebih dewasa untuk berdiskusi karena kedua anak ini tak ingin berdamai.


David sebagai perwakilan Arhen telah datang, kemudian Ibu Frans juga telah datang ke sekolah.


Mereka berdua bertanya apa yang terjadi, jawaban kedua anak itu berbeda, yang satu bilang mendorong, yang satu tidak.


Arhen ingat saat Sakinah bercerita tentang kisah Nabi dan Rasul, salah satunya kisah Nabi Yusuf As.


Pada suatu hari, Zulaikha, istri majikan tempat Nabi Yusuf As bekerja, mencoba menggodanya. Zulaikha tertarik pada ketampanan Nabi.


Di dalam kamar, ia mengurung Nabi dan dirinya, lalu mengajak Nabi melakukan perbuatan kotor. Nabi menolak dan hendak pergi, tetapi Zulaikha menariknya paksa dan berteriak, bahwa ia dijahati oleh Nabi Yusuf As.


Begitulah salah satu kisah nabi yang di ceritakan Sakinah yang diingat Arhen.


Satu hal yang dipetik dari kisah itu oleh Arhen. Karena baju di punggungnya yang robek, bukan berada di depan, di daerah dadanya, berarti Zulaikha yang memaksa. Jika di dada barulah Zulaikha yang dipaksa.


Sama seperti halnya sekarang, jika benar Arhen mendorong Frans, pasti anak itu jatuhnya kebelakang, karena posisi Arhen menghadap ke depan dan mereka menghadap saling berlawanan, sedangkan Frans jatuhnya kedepannya, yang artinya ia jatuh sendiri atau dengan sengaja menjatuhkan diri pada Arhen.


Arhen menjelaskan dengan tegas seperti itu. David, Ibu Frans dan guru mendengar penjelasan masing-masing. Pada akhirnya mereka tetap saling bermaaf-maafan.


Rupanya mereka sepupu, Kakek mereka adik kakak, begitulah finish kisah mereka.


_____________


“Sekarang tidurlah, nanti akan Kakek bangunkan saat sudah sampai di Mansion kita.” ucap Irfan lembut penuh sayang pada Frans.


“Aku masih ingin mendengar cerita Kakek tentang keluarga sombong itu!”


“Nanti saja Kakek ceritakan, sekarang Kakek harus menyelesaikan sesuatu.” Irfan menekan tombol di kursi mobilnya, hingga kursi itu turun dan membuat Frans lebih nyaman tidur. Ia letakkan bantal penyangga agar lebih empuk.

__ADS_1


“Kakek janji besok cerita ya!”


“Iya, Kakek janji!” balas Irfan, kemudian ia mengambil laptopnya. Sibuk merencanakan sesuatu.


Saat perkenalan Arhen di sekolah saat itu, Frans sudah memiliki rasa cemburu tinggi saat teman-teman lebih memuji anak baru dari pada dirinya.


Ia menceritakan itu saat pulang sekolah pada Irfan, menyebutkan nama kepanjangan Arhen, membuat Irfan tersentak kaget.


Arhen Ryker Van Hallen, nama lengkap dengan menyandang nama dua keluarga. Keluarga Ryker milik Ibu kandung Wizza, sedangkan Hallen milik keluarga besar Ayah mereka.


‘Anak ini akan menjadi hambatan kedepannya! Siaaalan!’ rutuk Irfan.


Ia meminta Frans menjahili Arhen, mencuci otak cucunya tentang betapa buruk dan tidak adilnya kehidupan padanya.


Wizza, anak-anak Wizza, bahkan sekarang cucu Wizza yang bernama Arhen itu juga sama ungkapnya pada Frans, membuat anak laki-laki kecil itu semakin membenci Arhen.


Kini, Irfan sedang memerintah beberapa orang untuk menyusun rencananya dan menyelidiki siapa Arhen dengan lebih jelas.


Arhen itu anak Andrean atau Dedrick?


Sebenarnya antara anak Dedrick atau Andrean sama saja, sama-sama akan mengganggu posisi yang ingin diincarnya, tapi lebih berbahaya jika Arhen anak Dedrick yang sah.


‘Aku harus menyusun rencana seapik mungkin!' gumamnya.


**


Akhirnya ia sampai di Mansion, pelayan laki-laki menggendong Frans ke dalam kamarnya.


Irfan mengumpulkan ketiga anaknya, memarahi dan memaki-maki mereka yang kerjanya tidak bagus.


“Tapi, Pa-”


“Tidak ada tapi-tapi, kau ini sama dengan istrimu lemah! Ini alasan anakmu Frans selalu saja dibully oleh keluarga Wizza itu. Kemarin ia di dorong, keningnya terluka, istrimu malah menghardiknya bukan membela. Sekarang masih sama, cucu Wizza itu menembaknya, istrimu masih memarahi cucuku. Dasar kau tak berguna tak bisa mendidik istri!”


“Tapi Frans yang salah Pa. Kita harus mendidiknya sedari awal, agar ia mengetahui salahnya bukan membela yang salah.” lawan Ibu Frans yang datang tiba-tiba saat Irfan berbicara pada ketiga anaknya.


“Dasar menantu tak berguna! Kau ajarkan istrimu yang bodoh itu!” tunjuknya pada Ayah Frans, putranya sendiri.


Lalu ia berjalan pergi masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2