
“Sst! Hei!” Billa mencolek tangan Sakinah.
Sakinah menoleh, lalu berbisik. “Billa?” tanyanya. Ia kurang yakin, takut salah orang. Namun melihat tadi ada Hans dan Xander Pim, ia berpikir pasti orang tua yang bertongkat itu adalah Jimi dan Billa yang sedang di-make up sedemikian rupa.
“Siapa lagi Nyonya Jiming Ho Chen kalau bukan Nyonya Shalsabilla yang cantik dan bahenol.” balas Billa berbisik juga.
“Wah, Missel dan Misella benar-benar lihai dalam merias!” Sakinah mengacungkan jempolnya.
“Ya, lihat, itu mereka!” Billa menunjuk dua arah banci itu, mereka duduk di kursi tamu VIP, berbeda dengan Billa dan Kinah yang berada dibangku VVIP.
“Mereka berdua diundang juga?” tanya Sakinah.
“Sebenarnya sih tidak terlalu penting, mereka sebenarnya duduk di kursi biasa, sama dengan tata rias dibelakang itu. Tetapi, mereka menggunakan nama keluarga Van Hallen dan Arsen Ares sebagai perancang mereka. Lalu, membeli kartu VIP.” jelas Billa.
“Oh, begitu.” Billa tersenyum tipis.
“Ya, mereka berdua ingin melihat anak-anak kita di catwalk!” Billa mengucapkannya dengan penuh semangat. Menunggu dua anak kecil tampan itu.
“Apa kau berdebar?” Billa memegang jemari tangan Sakinah.
“Lumayan.” jawab Kinah.
“Astaga, aku malah gemetaran sejak tadi, bahkan lututku, tidak kah kau merasakan betapa dinginnya telapak tanganku?”
“Hehehe, jangan gugup seperti itu Bu Guru! Biasanya kamu selalu percaya diri.” ucap Sakinah tersenyum.
“Oh, sahabat sejatiku, kau sekarang terlihat sangatlah anggun, benar-benar Nyonya Muda kaya raya!”
Plak! Sakinah menepuk pelan punggung tangan Billa yang menggenggam jemari tangannya.
“Jangan mengejekku! Kamu ngomong apa sih Bil?! Kamu juga wanita anggun, cerdas dan percaya diri. Kemana Billa yang kukenal itu sekarang?”
“Itulah! Jimi ada di sana, kedua putra kerenku akan tampil. Aku jadi berdebar dan tak percaya diri!”
__ADS_1
“Itu hanya debaran senang dan bangga. Lalu, sedikit cemas terjadi sesuatu sama mereka. Ayo, kita berdo'a, semoga semuanya baik-baik saja!” tutur Sakinah lembut, mengelus punggung tangan Billa menenangkan.
Billa mengangguk.
Beberapa peserta, pemimpin atau perwakilan perusahaan mulai memperkenalkan diri dengan berpidato pendek, mulai dari masalah suara dukungan, hingga tiba pada waktunya Andrean.
“Terimakasih saya ucapkan kepada semua penyelenggara acara even jewerly, kepada semua instansi terkait, pada keluarga tercinta yang hadir menemani tespesialnya. Saya Abbe Andrean Van Hallen dari perusahaan Antaman Wizgold baru pertamakali menjadi pemimpin perusahaan untuk mengikuti even ini, namun sebelumnya perusahaan kami selalu mengikuti even yang dipimpin oleh CEO kita sebelumnya Sekar Ayu.”
“Saya merasa percaya diri akan mendapatkan hasil terbaik, namun jika seandainya perusahaan kami tidak mendapatkan posisi 5 besar, saya akan menyerahkan suara kepada seseorang yang telah memberikan saya hadiah yang sangat indah, saya dan istri saya selalu memakainya, bahkan sekarang kami juga memakainya.” Andrean mengangkat tangannya, menunjuk sebuah cincin permata biru yang ia kenakan.
“Wah, CEO perusahaan Antaman Wizgold diberikan perhiasan yang selalu ia kenakan, ini berita besar!” Semua wartawan sangat menantikan ucapan Andrean selanjutnya.
“Terimakasih untuk Tuan Arsen Ares, saya akan menyumbangkan suara untuk mendukung Anda, jika saya tergeser dibawah 5 besar. Hanya sekian dari saya, terimakasih.” Andrean lantas berlalu pergi dengan gagahnya.
“Arsen Ares? Wah, dua perusahaan besar mendukungnya, hal yang sangat langka!”
“Ke-kenapa Andrean bisa mendukung juga?” Irfan bertanya-tanya.
“Apakah Tuan Arsen Ares juga bersekutu dan mulai bekerjasama dengan Antaman Wizgold? Bisa jadi, buktinya Tuan Muda Arsen Ares memberikan hadiah cincin pada sepasang suami itu!” ucap salah satu wartawan. Mereka mulai berbisik-bisik, hingga pembawa acara menyelesaikan pidato dari 15 perwakilan dari perusahaan besar itu.
Beberapa model melenggak-lenggok, menunjukkan pesona tubuh dan perhiasan yang mereka pakai. Satu-satu perusahaan mulai memperagakannya, hingga perusahaan Irfan. Ia sangat antusias dan bangga melihat cucu kesayangannya Frans tampil begitu memukau. Anak cilik itu benar-benar tampan, namun sedikit congkak!
Setelahnya, perusahaan lain juga lanjut memperagakan, hingga sampai digiliran Arhen dan lainnya dari perusahaan Antaman Wizgold!
“Selanjutnya, mari kita saksikan perhiasan dari perusahaan Antaman Wizgold!” seru Pembawa acara.
Beberapa model pria dan wanita dewasa mulai berjalan di catwalk, melenggak-lenggok, memamerkan perhiasan dengan mengangkat tangan ke dagu, agar bisa cincin dan gelang tersekpos. Lalu, memainkan kalung, jam tangan dan berbagai macam gaya lainnya.
Sekarang giliran Arhen, anak tampan itu berjalan paling di depan bak raja, lalu yang lain mengikuti dari belakang, ia mulai memegang tangkai kacamata yang terbuat dari intan berlian, melepasnya, mengibas rambutnya kebelakang, sungguh tampan memesona, memamerkan ada cincin dan jam tangan indah bertengger di tangannya.
Berjalan maju ke depan, memasukkan sebelah tangannya di saku, yang satu lagi seolah menepuk jasnya, kemudian melepas jasnya, memangku jas itu, menunjukkan kemeja putih, mempertontonkan kalung yang sangat indah dilehernya tergantung, lalu anting disebelah telinga kirinya berkilau.
Selanjutnya yang lain juga maju ke depan, dilanjutkan dengan Arhen yang berjalan kebelakang dengan memesona!
__ADS_1
Semua bertepuk tangan dengan gemuruh, siapa yang tidak tahu dengan bocah cilik yang tampan itu, dia adalah Arhen Ryker Van Hallen, sangat populer! Wajah tampannya, sikapnya yang ramah dan menggoda, senyuman maut dan kedipan matanya membuat orang-orang menjerit.
Cup! Arhen mengedip dan memberikan tanda kiss bye melalu tangan dan terakhir menunjuk gerakan saranghae kepada semua penonton.
“Wow, dia sangat menggemaskan, sangat tampan, kawaiiiii!!! Saranghaeeee!”
“Oh, Tuan Muda Arhen, cepatlah besar, aku bersedia menjadi istrimu.” jerit beberapa.oramg yang sudah terpesona tak sadar akan umurnya. Mungkin saja saat Arhen menjadi dewasa, dia sudah jadi tante-tante atau emak-emak daster!
“Kinah, kau lihat! Putra kedua kita sangatlah keren!” ucap Billa.
“Iya.”
Ardhen tersenyum bangga, ia senang melihat Kakak laki-lakinya tampil, begitu banyak orang yang mengidolakannya, lalu Mom dan Miss yang begitu terpukau. Ia sangat menantikan kehadiran Kakak sulungnya Arsen dengan perasaan berdebar-debar.
“Tuan Muda Arhen,” bisik anak laki-laki kecil yang berada disampingnya Ardhen.
“Iya, ada apa?!”
“Aku ingin buang air kecil.” bisiknya.
“Baiklah, tunggu sebentar!” Ardhen menelfon seseorang.
Tak lama, seorang pengawal menghampirinya.
“Tolong antarkan Tuan Muda Arsen ke toilet, pastikan aman dan jaga dengan sangat baik!” perintah Ardhen.
“Baik, Tuan Muda!” jawab pengawal itu.
“Kemana anak itu?” tanya Billa setelah melihat anak laki-laki itu berjalan bersama seorang pengawal.
“Ingin buang air kecil Mom, Miss, makanya aku minta pengawal menemani, takutnya nanti terjadi apa-apa.” jawab Ardhen.
“Oh, begitu!” Billa dan Kinah kompak menjawab.
__ADS_1
“Baiklah, sekarang mari kita saksikan perhiasan memukau dan kalung utama sebagai even jewerly milik dari perusahaan Ar3s!” sorak Pembawa acara kembali berseru dengan mik yang dipegangnya.
Semua orang bertepuk tangan dengan bergemuruh menantikannya!