
Berend menebak-nebak sejak tadi. “Apa menurut kalian ini sudah 25 meter?” tanyanya berbisik-bisik.
Mereka sama-sama ragu. “Baiklah, tinggi kamu berapa?”
“187 cm Tuan.” jawabnya.
“Bagus, sekarang ayo kita mulai dari awal masuk.” ucap Berend sambil berjalan ke tempat semula bersama pengawalnya. “Kalian tetapi di sana!” sambungnya lagi pada bawahan yang lain.
“Berbaringlah!”
Pengawal itu lama terdiam, Berend kembali berucap. “Aku akan mengukur dengan tubuhmu sampai 25 meter!” ucap Berend. “berarti kita membutuhkan 2500 cm!” gumam Berend.
“Hm, aku harus mengukur tubuhmu sebanyak 13 kali ditambah 36 cm.”
Berend pun menyuruh pengawalnya tidur sebanyak 13x. Ya, karena ia sungguh tak memiliki alat ukur ataupun bisa menebak dengan benar, takutnya, ia salah gali. Bukannya tempat Vindo, malah tempat sarang musuh berkumpul.
Setelah 13 kali, ia letakkan tangannya, ia perkirakan setidaknya tangannya cukup untuk 30 cm.
“Ayo, lubangi perlahan!” perintah Berend pada pengawalnya.
Mereka melubanginya dengan pisau, jujur saja, mereka tak pernah berpikir akan dikondisi seperti ini, jadi mereka hanya membawa pisau dan pistol saja.
“Bagus, perlahan.”
Vindo merasakan ada getaran aneh dikursinya, lalu ia melihat cahaya diikat pinggangnya semakin jelas. Ia mencoba menyembunyikannya dengan bergerak-gerak.
“Hei Bocah! Apa yang kau lakukan?!”
Berend bisa mendengar jelas suara orang, mereka sesaat berhenti menggali. Tak ingin ketahuan!
Vindo berkata sedikit berteriak. Ia curiga jika sesuatu telah terjadi setelah melihat tanda diikat pinggangnya.
“Paman, aku sejak tadi diikat di ruangan ini, bahkan diletakkan disudut paling kiri, sedangkan Paman ada 3 meter disebelah kanan. Badanku terasa gatal karena diikat dengan tali di kursi ini. Ditengah ini, sekitar 2 meter dari tempat saya diikat ada meja panjang. Apakah saya tidak bisa dibaringkan di sana? Saya sedikit ngantuk.”
“Hei, diam! Kau bisa bicara pelan! Tak perlu bersorak! Kau kira kami tuli!” pekik salah satu preman itu kemudian memukul Vindo.
“Woy! Apa yang kau lakukan. Boss tidak menyuruh kita melukainya! Apa kau ingin bayaran kita dibayar kurang!”
“Sudahlah, abaikan saja anak kecil bodoh ini!”
Vindo pura-pura menangis dalam ketakutan. Lalu mengetukkan kakinya 3 kali.
“Hm, kalian lubangi juga 4 meter dari sini, di sebelah sana!” pinta Berend.
“Siap Tuan.”
~~
“Apa lensa yang kau pakai masih bisa menembus kaca mobil ini untuk melihat mereka?” tanya Arsen.
Pengawal menggeleng yang artinya tidak bisa.
__ADS_1
“Paman, aktivkan mode pengintai!” pintanya pada pengawal yang dikemudi.
“Baik, Tuan Muda.”
Empat tanda seperti teropong berukuran sangat kecil, panjangnya hanya sepanjang telunjuk, diameter lingkarannya hanya sebesar kelereng. Alat itu muncul di setiap sudut.
“Lihatlah melalui alat itu, Kalian berdua bisa mengintai pergerakan dari sini.” ucap Arsen. Kemudian dia melanjutkan melihat Tap iPad dan notebooknya.
“Cih, kurvanya malah meleset dari perkiraan ku!” Arsen mengetuk dagunya, berpikir.
“Baiklah, kalau begitu, saatnya bermain-main!”
Arsen menekan tombol, sehingga muncul meja kecil didepannya, kemudian ia ambil tasnya yang berada di bangku depannya. Ia keluarkan laptop kesayangannya.
Ia hidupkan laptop itu, ia otak atik benda itu.
“Hehehehe, enter! Send! Selamat menikmati harimu yang menyenangkan Paman!” ucapnya dengan senyuman devil.
“Tu-tuan Muda!!”
“Hm?” jawab Arsen tanpa menoleh.
“Mereka mendekat kemari dengan membawa senjata.”
“Berapa jauh?”
Pengawal itu mengedipkan matanya 5 kali. Lensa itu bekerja, ia melacak titik fokus subjek yang ia lihat.
“Oh.” Arsen mematikan laptopnya. Kemudian menyimpannya kembali.
“Paman, tolong siapkan makananku! Aku lapar.” pinta Arsen, membuat pengawal terperangah.
“Kenapa bengong?” tanya Arsen melihat pengawal itu hanya diam dengan mulut menganga.
“I-iya, akan saya siapkan Tuan Muda.”
Pengawal segera menarik langit-langit mobil, ia ambil beberapa kotak bingkisan. Di dalam kotak, ada ayam goreng, sosis, telur bulat. Di kotak satu lagi ada roti dan saus sambal dan keju. Sedangkan dikotak satu lagi ada beberapa buah utuh.
Pengawal mengambil piring dan sendok, menyiapkan makanan dalam piring itu, lalu memotong buah apel dan mangga.
“Paman, aktivkan ring!” perintah Arsen disela makannya.
“Siap!”
Arsen makan dengan lahap. “Jangan gugup, makanlah buah ini. Arsen menyodorkan buah apel yang belum dikupas pada mereka berdua.
Tak lama, para preman itu sudah dekat. “Jangan pernah buka pintu apalagi kaca mobil!” ucap Arsen dengan tatapan tajam.
“Iya.” jawab mereka.
Toktoktok! “Hei, kalian! Kalian siapa?! Buka kaca mobil!” Terdengar mereka mengetok kaca mobil sambil berseru.
__ADS_1
“Hei, buka pintu! Jangan sampai kami melakukan tindakan kekerasan baru menyesal!” teriaknya dari luar.
“Paman, aktivkan protection!” perintah Arsen.
Pengawal pun melakukannya.
Dan benar saja, para preman mulai menembaki mobil, tak satupun peluru mereka menembus kaca ataupun dinding mobil, kemudian mereka mengarahkan pada ban mobil, juga tidak bisa! Karena Arsen telah mengaktifkan mode ring, ban mobil akan ditutupi dan disembunyikan oleh ban besi di dalamnya. Sedangkan badan mobil telah dilindungi dengan mode protection.
“Sial! Mobil apa ini? Ahahah! Mobil ini sepertinya mogok! Bagaimana mungkin mobil rodanya besi keras!” sungutnya kesal disela tawanya.
“Kalau begitu, kita bunuh saja mereka!” Salah satu diantara mereka hendak membuka mesin mobil, hendak memutuskan kabel-kabel mobil, lalu membakarnya!
Namun ... saat pria itu mencoba membuka, ia langsung kesetrum!
“Aaaaaaaa!!!” teriaknya dengan badan bergetar.
“Sial! Tembak!!” seru mereka. Mereka menembaki dengan membabi buta sampai peluru mereka habis.
Peluru mereka habis, Arsen pun juga telah selesai makan. Ia keluarkan benda kecil bening berwarna kuning, lebih terlihat seperti vitamin rambut!
“Paman, masukkan ini di lubang tombol ring!” Arsen memberikannya pada pengawal yang duduk dikemudi.
“Setelah itu tekan aktivkan!”
Pengawal menekan tombol aktiv, keluarlah asap berwarna ungu dari seluruh ban, membuat 8 preman itu terbatuk dan sesak nafas. Perlahan mereka berjatuhan.
“Kalian berdua keluarlah, borgol mereka!”
“Baik, Tuan.”
Arsen tersenyum kecil dan mengangguk. “Benda kecil yang hebat, tak disangka cara kerjanya seperti ini! Tak sia-sia aku menghabiskan 21 juta untuk ini! Ini semua akan semakin berkembang!”
Para pengawal memborgol dan mengikat mereka yang telah pingsan secara bersama dan meletakkannya di badan mobil rongsokan yang terletak dipojok kanan mobil mereka, kira-kira 10 meter dari jarak mobil mereka.
Dua pengawal itu kembali masuk ke dalam mobil.
“Beres?”
“Sudah Tuan Muda.”
“Bagus, tunggulah, mereka akan datang lebih banyak dan lebih ganas lagi!”
~~
Berend telah menggali dua buah lubang dengan sangat pelan. Mereka yang berada dibawah telah kepanasan dan berkeringat, menghabiskan waktu hampir dua jam karena harus bekerja lambat dan pelan agar tak ketahuan.
Hingga akhirnya, mereka sudah membuat lubang kecil.
“1, 2, 3!” ucap Berend bersiap.
Mereka sama-sama meruntuhkan dan membuat lubang besar, lalu langsung beradu tembak dengan mereka yang berada dalam ruangan itu, sedangkan Vindo saat mengetahui Berend telah membuat lubang kecil, ia langsung menjatuhkan diri dan berguling dengan kursinya ke arah meja panjang yang berjarak 2 meter dari dia diikat tadi untuk melindungi diri dari baku tembak!
__ADS_1