
“Hati-hati Tuan Muda!” Pelayan Abraham dengan sigap membantu memegang kue.
“Hai, Tuan Muda Abraham! Anda sudah datang!” sapa Tuan Samber.
“Tu-Tuan Samber! Senang berjumpa dengan Anda!” Abraham menundukkan badannya, merukuk beberapa kali.
“Aku sangat menyukai Anda. Anda adalah idola saya!” lanjutnya.
“Aku senang sekali di idolakan oleh Tuan Muda Abraham, tidak disangka aku cukup pupoler juga, apa karena aku tampan ya?” ucapnya terkekeh dengan kenarsisannya.
Tuan Samber memilih duduk, “Mari silahkan duduk!”
Mereka pun duduk bersama dalam satu meja bundar.
Abraham Holt memotong kue nya, meletakkan dipiring, lalu menyodorkan pada Tuan Samber.
“Hm, cukup enak! Kue yang cukup berkualitas!”
“Baiklah, mulai hari ini, setiap pulang sekolah, Anda bisa datang kemari setiap hari! Tentu saja, Anda harus membaca syarat dan ketentuan ini dulu. Jika Anda setuju, Anda bisa menandatanganinya dan datang kemari!”
“Iya, saya Akan meminta Papa untuk menandatanganinya.” sahut Abraham penuh semangat.
“Baguslah!”
Begitulah cerita kenapa bisa kue Abraham diperjual belikan di Vend Beutique! Ngomong-ngomong, Tuan Samber siapa?
Tuan Samber adalah anak Kepala Pelayan di Mansion Van Hallen! Ardhen bertemu dengannya pertama kali di Resto milik Alex bawahan Dedrick. Pria yang ia panggil ‘Paman Koki’. Ia bekerja sebagai koki tetap di resort Alex dan memasak dibeberapa tempat jika diundang.
Semenjak Alex memutuskan pergi bersama Dedrick ke Amerika, resort itu diserahkan pada keluarganya. Tuan Samber merasa tidak cocok bekerja di sana, hingga Alex menyarankannya pada Tuan Muda Arsen yang penuh ambisi.
**
Di sebuah aula hotel bintang lima.
Beberapa tamu undangan, juru kamera dan wartawan sibuk dengan aktivitas mereka. Ada yang memoto, mempersiapkan pertanyaan dan lainnya.
Jimi berjalan di dampingi oleh Hans, sedangkan Berend tidak ikut, pria bertato itu hanya berada dibelakang layar. Berend ditugaskan untuk mendekatkan diri pada perusahaan-perusahan lainnya, bisa dibilang sebagai mata-mata.
Beberapa pengawal dan dua Bodyguard khusus mendampingi Hans dan Jimi.
Jimi dengan wajah barunya yang berjambang, berjalan memakai sebuah tongkat, ia sesekali memelintir ujung kumisnya agar terlihat sedikit sangar.
Semua orang mendadak diam setelah Hans dan Jimi berada di kursi mereka diatas pentas.
Hans berdiri dengan gagahnya, mengucapkan beberapa patah kata. “Terimakasih atas kehadiran para tamu undangan.”
__ADS_1
“Perkenalkan, beliau adalah Tuan Jiming Ho Chen, keturunan Cina Belanda.” tutur Hans berbohong, jelas-jelas Jimi keturunan Indonesia-Cina.
“Beliau adalah wali dari Tuan Muda Arsen Ares!” lanjut Hans menjelaskan lagi.
Cepret! Cepret! Suara orang-orang mengambil foto terdengar.
“Silahkan Tuan!” Jimi sedikit merungkuk dan membuka sedikit tangannya.
Jimi berjalan ke depan, meraih mik yang disodorkan Hans padanya.
“Terimakasih kepada semua para tamu undangan. Saya, Jiming Ho Chen, hari ini resmi memperkenalkan diri pada kalian. Perusahaan kami baru berdiri beberapa bulan terakhir ini, tetapi sangat berkembang atas bantuan kalian semua, para rekan bisnis, karyawan dan karyawati, konsumen dan masyarakat lainnya. Tanpa kalian, perusahaan kami tidak ada apa-apanya.”
“Esok adalah peluncuran pertama produk kami yang akan ikut even jewerly award! Semoga kalian menyukai dan mendukungnya.”
“Rancangan kalung yang akan kami persembahkan pada even jewerly award tahun ini, khusus buatan Tuan Muda Arsen. Kami berharap, kalian menyukainya.” tutur Jimi dengan berwibawa.
“Apakah Tuan Arsen akan hadir di dalam acara even jewerly ini Tuan Jimi?” tanya salah seorang wartawan.
“Iya, apakah akhirnya kami bisa melihat wajah Tuan Muda Arsen.” timpal yang lainnya.
“Maaf, sepertinya tidak, Tuan Muda kami sangat pemalu, ia sedang belajar dan menunggu dewasa. Hanya saya yang akan hadir sebagai walinya, tapi tenang saja, Tuan Muda Arsen pasti akan menonton acaranya.” jawab Jimi tegas sembari tersenyum.
Terlihat banyak wajah kecewa. Mereka sangat penasaran dengan tampang Arsen, pemuda yang masih berumur dibawah 17 tahun. Ya, setidaknya mereka berpikir, Arsen masih berumur 14 atau 15 tahunan lah. Tidak terpikir jika Arsen masih berumur 7 tahun, apalagi mereka terpikir Arsen dari keluarga Van Hallen.
Bukankah di dunia ini, banyak yang bernama Arsen? Jadi Arsen Ares bagi mereka adalah anak muda hebat yang pemalu. Sedangkan Arsen Ryker Van Hallen, anak laki-laki kecil yang mungkin memiliki keterbelakangan mental, wajah cacat atau lainnya karena keluar menggunakan topeng bersama ibunya saat pesta 7 tahun umurnya.
**
Tuan Samber datang sebagai guru pembina, ia diundang oleh sekolah Ardhen. Mata semua murid begitu terpukau, siapa yang tidak mencintai koki hebat seperti dia, lucu, hebat, masakan enak, riasannya bagus, tampan lagi.
Menu yang ia ajarkan hari ini terlihat mudah, namun sedikit susah dilakukan.
Asam pedas gurami madu! Ikan gurami dipotong dua bagian badannya, bagian kepalanya tetap utuh. Tulang kecilnya harus dicabut dibagian daging. Sedangkan tulang besarnya yang membentuk badan ikan dibiarkan utuh.
Ikan itu digoreng sebentar menggunakan bumbu dan sedikit tepung beras yang dicampur dengan kemiri. Lalu, bumbu asam pedasnya dimasak hingga mendidih, barulah ikan yang tadi sudah digoreng dimasukkan ke dalam kuah asam pedas. Dicicipi rasa, ditunggu hingga kuah sedikit mengental.
Disajikan di dalam piring yang sudah dirias dengan sayur salada, ikan gurami diangkat, dituangkan madu diatasnya dengan berliku, lalu kuah asam pedas diletakkan disampingnya. Kemudian dirias sesuai selera dan siap disajikan.
Terdengar simple, namun cukup hati-hati mengangkat dan meletakkan ikan, memotong dan menggorengnya. Jika ikan terlalu matang, tentu dagingnya akan terasa seperti goreng ikan, bukan lagi asam pedas. Ikan digoreng agar dagingnya tidak lembek saat disajikan.
Ada beberapa murid yang gagal, namun Ardhen, Cleo dan Abraham murid yang memang selalu hebat dalam memasak, mereka berhasil dalam sekali coba.
“Para Tuan Mudaku tidak diragukan lagi!” Tuan Samber mengelus kepala Abraham dan Ardhen saat dua anak laki-laki itu mencicipi masakannya.
“Makasih Tuan Samber, makasih Paman Koki!” ucap Ardhen dan Abraham serempak.
__ADS_1
“Lanjutkan belajarnya, aku harus memeriksa masakan yang lainnya dulu!” ucap Tuan Samber, kedua anak laki-laki itu mengangguk sopan.
Cleo mendekat. “Kalian terlihat akrab!” ucapnya menepuk bahu Abraham dan Ardhen.
“Kita bertiga emang akrab 'kan?” Ardhen malah balik bertanya.
“Maksudku bukan itu! Tapi kalian dengan Tuan Samber!” celetuk Cleo.
Ia adalah Cleo Nathan salah satu teman Ardhen di sekolah, ia juga berbakat dalam memasak. Ayah dan Ibunya bekerja dalam bidang arsitek, namun ia mewarisi keahlian dari neneknya yang juga jago memasak. Ia juga sangat mengidolakan Tuan Samber.
“Ooooh.” jawab Ardhen.
“Kenapa jawabannya seperti itu?” Cleo merangkul Ardhen dan Abraham dengan kuat, hampir mencekik leher kedua anak laki-laki itu.
“Tanya pada Abraham saja!”
“Loh, kenapa aku? Tanya Ardhen saja!”
Mereka berdua saling melempar jawaban!
“Baiklah, kalian tak mengaku!” Cleo semakin mengeratkan rangkulannya dileher kedua temannya itu.
“Ampun!” Ardhen mengangkat tangannya.
Uhuk! Uhuk! Mereka berdua terbatuk-batuk!
“Abraham bekerja dengan Tuan Samber di Vend Beutique, membuat kue!” jawab Ardhen disela batuknya.
“Apa?!” seru Cleo terkesiap.
“Hei! Itu-” Abraham langsung menghentikan ucapannya.
Syarat dalam perjanjian, jangan pernah membuka mulut dalam hal apapun tentang Arsen.
“Itu apa?” tanya Cleo mendelik. “kau curang sekali Abraham, kau tidak mengajak kami berdua! Kau juga kenapa tak menceritakannya padaku! Apa kau takut dengan bocah berbadan besar ini? 'Kan ada aku!” lanjut Cleo.
“I-itu, aku ingin membuka usaha kue juga.” Ardhen menggaruk kepala, seharusnya ia hati-hati dalam bicara, ia lihat wajah Abraham memerah.
‘Maaf!’ Begitulah kira-kira ucapan yang ia lontarkan melalui pandangan mata saat ia melihat Abraham.
“Ayo, kita bergabung dengan Abraham kalau begitu. Vend Beutique akhir-akhir ini sangat terkenal!” ajak Cleo penuh semangat, tak membaca expresi kedua wajah temannya itu.
“Ada syarat tertentu dan harus mendapatkan undangan ke sana, dari perusahaan Ar3s.” jelas Abraham hati-hati.
“Hah?! Jadi, Vend Beutique itu milik Arsen Ares dari perusahaan Ar3s? Wah, benar-benar keren, aku ingin sekali meminta tanda tangannya. Dia adalah idolaku juga setelah Tuan Samber.” racau Cleo sembari menupang kedua tangannya di dagu.
__ADS_1
Abraham dan Ardhen sama-sama melongo. Mereka berdua kurang yakin, Arsen sepertinya tidak akan suka dengan orang berprilaku imut seperti itu.